Saya bangga sekali pada ts andriani dhania, semoga semua dokter punya paradigma dan semangat yang sama dengan ts dr. Andriani, mari sehatkan dan cerdaskan bangsa !! Powered by Telkomsel BlackBerry®
-----Original Message----- From: Andriani Dhania <[email protected]> Date: Fri, 13 Feb 2009 20:25:00 To: <[email protected]> Subject: [parentsguide] Hak-hak kita di dunia medis : a true life. part 2... Dear Moms, Masih menyinggung tentang kejadian gak enak di email sebelumnya. Sejak saya koas di rumah sakit sampai menjadi dokter sampai saat ini saya sering mendapati kejadian yang kurang mengenakkan, bahkan saya pernah mengalami sendiri. Contohnya : Sebagai pasien, anda mempunyai beberapa hak dan kewajiban jika berada di rumah sakit atau praktek dokter. Salah satunya adalah hak bertanya tentang diri anda. Seperti diagnosis penyakit, apa terapi yang akan dilakukan dan prognosis dari penyakit anda. Anda sangat berhak sekali “cerewet” kepada paramedis sejak dari pendaftaran sampai dokter spesialis yang menangani anda. Sudah sering saya melihat ada paramedis yang jengkel jika ada pasien yang cerewet, tiap hari bertanya tentang perkembangan penyakitnya, bahkan hal sepele sekalipun. Jadi bukan hal yang aneh jika ada paramedis yang berkata, “Gitu aja kok pake nanya !” di belakang pasien. Justru karena yang namanya pasien itu orang yang awam dengan medis, makanya mereka sering bertanya karena mereka tidak tahu. Kalau mereka paham, mereka bukan pasien, tapi mereka adalah dokter. Jadi, cuek aja jika sewaktu anda-anda ini sering bertanya kepada paramedis tapi disambut dengan wajah cemberut atau ucapan yang sekadarnya, karena itu memang hak anda. Jadi, ucapan bahwa “Saya berhak bertanya dan tahu apa penyakit saya karena saya bayar mahal disini !” Itu tidak tepat, karena pasien yang gratis pun juga punya hak yang sama, dan itu tidak dibatasi oleh uang. Sampai saat ini saya masih tergelitik setiap melihat fenomena tulisan dokter di resep obat yang acakadul, amburadul, cakar ayam, dsb. Dulu, saya sering diberitahu kalo para dokter melakukan hal itu supaya pasien tidak paham dengan obat yang ditulis atau para dokter sengaja melakukan itu karena hanya apoteker yang tahu makna tulisan cakar ayam itu. Dan ternyata rasa penasaran saya terbayar sewaktu ada kuliah dimana dosennya mengatakan bahwa tulisan jelek di resep itu justru malah menyengsarakan apoteker dan meningkatkan angka kesalahan pemberian obat. Memangnya kenapa jika pasien bisa membaca obat yang ditulis oleh dokter ? Justru, anda-anda harus aktif bertanya jika dokter memberikan resep. Apa nama obatnya, apa fungsinya, berapa kali dosisnya, apa efek samping yang akan timbul, dsb. Ini juga positif untuk dokter ybs karena bisa untuk meningkatkan ilmunya lebih baik dan bisa belajar berkomunikasi yang lebih baik dengan pasien. Untuk sementara Cuma ini yang bisa saya sampaikan. Saya tidak bermaksud menulis dengan sudut pandang yang berat sebelah karena saya sendiri adalah seorang paramedis. Saya hanya menyampaikan kejadian sehari2 yang sering saya temui selama ini.

