"Sebentar,ya, Coleh, gumam A Fatih kepada mainan truknya yang sedang ia
cuci. Aku tersenyum geli.,mainan  truk  dibilang soleh. Di lain waktu,
adiknya yang baru berusia 7 bulan menangis, spontan ia menghampiri adiknya
dan berkata : "Kenapa cayang? Kenapa colehah?'. Dan yang paling menggelikan,
suatu saat ia sedang menarik mainan truknya melewati tangga. Dan truk itu
terjatuh, "Aduh,maaf,ya, katanya dengan spontan kepada truk.

Kadang saya terharu campur heran mendengarnya celotehan-celotehannya.
Rasanya saya tidak pernah menyuruh dia mengatakan semua itu. Saya hanya
membiasakan diri meminta maaf kepada anak-anak saya (walaupun dia masih bayi
dan belum bisa bicara)  untuk semua kesalahan yang saya lakukan. Misalnya
ketika saya menyenggolnya, atau tak  sengaja menginjak mainannya, saya
biasanya berkata, "Maafin, Ummi, ya, sayang..Dan sesudah bisa berbicara,A
Fatih  biasanya menjawab,   "Heeh..,sambil tersenyum.

Untuk panggilan, saya selalu berusaha menyebut anak-anak dengan sholeh dan
sholehah, sebagai doa untuk mereka. Ternyata sebutan itu ditiru oleh
anak-anakku
 dan pengasuhnya , dan seiring repetisi  dan konsistensi, hal itu
terinternalisasi dalam diri mereka. Sehingga, ketika tantenya mengatakan A
Fatih anak jocong (karena rambutnya jocong) ia protes, " Bukan,… bukan anak
jocong, A Fatih anak  coleh!.

Dari pengalaman ini saya belajar, betapa dashyatnya energi  keteladanan.
Tanpa kita *cape-cape* menyuruh, anak akan melakukan yang kita inginkan.

dr. Ariani
-- 
Blog Parenting Islami
http://ParentingIslami.Wordpress.com

Kirim email ke