Bogor, Jurnal Bogor


Sebenarnya penggunaan istilah flek paru yang seringkali diberitahukan
dokter terhadap pasien merupakan sebuah penyamaran untuk penyakit
tuberculosis (TBC). Penggunaan istilah flek ini sungguh tidak mendidik
pasien, sehingga pasien menjadi tidak patuh meminum obatnya.



“Sebaiknya dokter berterus terang menyatakan bahwa si pasien sakit TB
tanpa perlu menyamarkan dengan istilah flek. Jika memang TB ya katakan
saja TB. Penjelasan yang tidak utuh justru menciptakan terapi tidak
adekuat,” tegas dr. Arifianto dari Yayasan Orangtua Peduli kepada
Jurnal Bogor, kemarin.



Istilah flek yang kurang menakutkan membuat pasien berpikir bahwa ini
hanya sebuah penyakit yang tak perlu dikhawatirkan. Padahal TB harus
diobati minimal enam bulan, tanpa adanya putus obat yang berisiko
menciptakan resistensi kuman Mycobacterium tuberculosis penyebab TB.
“Penderita TB yang sudah kebal terhadap obat jauh lebih membahayakan,
baik bagi dirinya sendiri (risiko perberatan dan komplikasi penyakit)
maupun orang lain (jika menularkan),” terangnya.



Memang cukup sukar mendiagnosis TB pada anak dibandingkan orang
dewasa. Dengan ilmu kedokteran yang terus berkembang, dokter dan
dokter spesialis anak yang tidak memperbaharui ilmunya, seringkali
menggunakan perangkat yang tidak tepat dalam mendiagnosis TB pada
anak.



“Mereka mendiagnosa berdasarkan pada keluhan spesifik seperti batuk
lama, berat badan sukar naik, serta demam hilang dan timbul. Belum
lagi bila dilihat pada gambaran rontgen penuh flek akibat sukar
membedakan gambarannya dengan batuk dan pilek biasa, dokter langsung
mendiagnosis TB dan mengobatinya,” jelas Arifianto.



Padahal obat TB anak yang terdiri atas tiga kombinasi obat berbeda
mempunyai efek samping, dan harus dimetabolisme di hati dan ginjal.
Jika penggunaannya tidak tepat, bisa menimbulkan efek samping yang
lebih buruk dibandingkan keuntungannya minum obat. “Setidaknya dokter
di Indonesia bisa menggunakan panduan Gerakan Terpadu Penanggulangan
TBC Nasional (GERDUNAS TBC) mengenai alur deteksi dini dan rujukan TB
pada anak,” kata Arifianto.



Hal-hal yang mencurigakan TBC :

1.     Mempunyai sejarah kontak erat dengan penderita TBC yang BTA positif

2.     Terdapat reaksi kemerahan lebih cepat (dalam 3-7 hari) setelah
imunisasi dengan BCG.

3.     Berat badan turun tanpa sebab jelas atau tidak naik dalam 1
bulan meskipun sudah dengan penanganan gizi yang baik (failure to
thrive).

4.     Sakit dan demam lama atau berulang, tanpa sebab yang jelas.

5.     Batuk-batuk lebih dari 3 minggu.

6.     Pembesaran kelenjar limfe superfisialis yang spesifik.

7.     Skrofuloderma.

8.     Konjungtivitis fliktenularis.

9.     Tes tuberkulin yang positif (>10 mm).

10.  Gambaran foto rontgen sugestif TBC.

Dengan setidaknya tiga dari gejala di atas, seorang anak boleh memulai
terapi obatnya.



Namun sayangnya, tidak semua dokter dan dokter spesialis anak
mengetahui dan mau menggunakan panduan ini. Masih banyak yang lebih
mengandalkan pada pembacaan rontgen satu posisi saja misalnya, tanpa
melakukan tes tuberkulin (uji Mantoux). “Padahal panduan ini disusun
mengadaptasi WHO yang merancangnya khusus untuk di negara berkembang
melalui berbagai penelitian dan pengujian lapangan,” ujarnya.



Hal terakhir yang tidak kalah penting adalah obat TB gratis di semua
Puskesmas. Pasien tidak harus berobat ke dokter spesialis yang
meresepkan obat paten dengan harga di atas seratus ribu rupiah sekali
datang. Padahal penyakit ini sering ditemukan pada sosioekonomi
menengah ke bawah yang selalu berpikir dua kali bila mau berobat.



Untuk mengetahui lebih jauh tentang kesehatan anak seperti TBC pada
Anak, Anda bisa mengikuti PESAT (Program Edukasi Kesehatan Anak Untuk
Orang Tua) pada 6 dan 7 Juni 2009 di Aula Dinas Kesehatan Kota Bogor.
Bagi yang berminat bisa menghubungi Jovanca (08170448107), Diana
(08129284098) atau Dina (0251 7123011).


      

Kirim email ke