Artikel bagus nih, saya copy dari rubrik Kompasiana (kompas.com), ditulis
oleh william_eight.

 

BELAJAR PADA WORTEL, TELUR DAN KOPI

 

Seorang anak mengeluh pada ayahnya mengenai kehidupannya dan menanyakan
mengapa hidup ini terasa begitu berat baginya. Ia tidak tahu bagaimana
menghadapinya dan hampir menyerah. Ia sudah lelah untuk berjuang. Sepertinya
setiap kali satu masalah selesai, timbul masalah baru. Ayahnya, seorang
koki, membawanya ke dapur. Dengan bijak dia menunjukkan suatu rahasia pada
anaknya. Ia mengisi 3 panci dengan air dan menaruhnya di atas api.

 

Setelah air di panci-panci tersebut mendidih. Ia menaruh wortel di dalam
panci pertama, telur di panci kedua dan ia menaruh kopi bubuk di panci
terakhir. Ia membiarkannya mendidih tanpa berkata-kata. Si anak membungkam
dan menunggu dengan tidak sabar, memikirkan apa yang sedang dikerjakan sang
ayah. Setelah 20 menit, sang ayah mematikan api. Ia menyisihkan wortel dan
menaruhnya di mangkuk, mengangkat telur dan meletakkannya di mangkuk yang
lain, dan menuangkan kopi di mangkuk lainnya.

 

Lalu ia bertanya kepada anaknya, "apa yang kau lihat, nak?" "wortel, telur
dan kopi" jawab si anak. Ayahnya mengajaknya mendekat dan memintanya
merasakan wortel itu. Ia melakukannya dan merasakan bahwa wortel itu terasa
lunak. Ayahnya lalu memintanya mengambil telur dan memecahkannya. Setelah
membuang kulitnya, ia mendapati sebuah telur rebus yang mengeras. Terakhir,
ayahnya memintanya untuk mencicipi kopi. Ia tersenyum ketika mencicipi kopi
dengan aromanya yang khas. Setelah itu, si anak bertanya, "apa arti semua
ini, ayah?"

 

Ayahnya menerangkan bahwa ketiganya telah menhadapi 'kesulitan' yang sama,
melalui proses perebusan, tetapi masing-masing menunjukkan reaksi yang
berbeda. Wortel sebelum direbus kuat, keras dan sukar dipatahkan, tetapi
setelah direbus wortel menjadi lembut dan lunak. Telur sebelumnya mudah
pecah, cangkang tipisnya melindungi isinya yang berupa cairan, tetapi
setelah direbus, isinya menjadi keras. Bubuk kopi mengalami perubahan yang
unik. Setelah berasa di dalam rebusan air, bubuk kopi merubah air tersebut.

 

"Kamu termasuk yang mana?" tanya ayahnya. "Ketika kesulitan mendatangimu,
bagaimana kau menghadapinya? Apakah kamu wortel, telur atau kopi?"  Apakah
kamu adalah wortel yang kelihatannya keras, tapi dengan adanya penderitaan
dan kesulitan, kamu menyerah, menjadi lunak dan kehilangan kekuatanmu."

 

"Apakah kamu adalah telur, yang awalnya memiliki hati lembut? Dengan jiwa
yang dinamis, namun setelah adanya kematian, patah hati, perceraian atau
pemecatan maka hatimu menjadi keras dan kaku. Dari luar kelihatan sama,
tetapi apakah kamu menjadi pahit dan keras dengan jiwa dan hati yang kaku?"

 

"Ataukah kamu adalah bubuk kopi? Bubuk kopi merubah air panas, sesuatu yang
menimbulkan kesakitan, untuk mencapai rasanya yang maksimal pada suhu 100
derajat Celcius. Ketika air mencapai suhu terpanas, kopi terasa semakin
nikmat. Jika kamu seperti bubuk kopi, ketika keadaan menjadi semakin buruk,
kamu akan menjadi semakin baik dan membuat keadaan di sekitarmu juga
membaik."

 

Itulah nasehat bijak dari ayahnya. Hal itu juga pastinya berhubungan dengan
diri kita semua. Apakah kita memiliki semangat gigih dalam menghadapi suatu
masalah. Semuanya ditentukan oleh diri kita sendiri untuk mewujudkan masa
depan yang lebih baik.

 

"Ada raksasa dalam setiap orang dan tidak ada sesuatupun yang mampu menahan
raksasa itu kecuali raksasa itu menahan dirinya sendiri..."

 

Kirim email ke