Saya juga turut prihatin untuk Ibu Prita. Seharusnya RS Omni / Dokter yang menuntut melakukan introspeksi diri bukannya malah menuntut. Kalau memang para dokter/ RS merasa sudah melakukan hal yang benar kenapa harus kebakaran jenggot?? Melakukan kesalahan bukan sesuatu yang hina, Presiden aja yang ketahuan Bohong selingkuh masih di hormati orang :P yang penting NGAKU, MINTA MAAF, INTROSPEKSI DIRI dan yang terakhir TIDAK AKAN MENGULANGI LAGI !!
Aneh juga di indonesia ini.. baru meng-posting keluhan ke milist aja sudah di gembor2xkan.. gimana kalau di posting ke youtube.com yah? BTW saya jadi ter-ingat dengan kasus wartawan salah satu TV yang makan di restoran cepat saji jepang yang juga di tuntut karena menemukan poop nya tikus.. :D *hehehehe* gimana lanjutan ceritanya yah.. --- In [email protected], fanny.tanudihar...@... wrote: > > Hah? Email kaya gini kok bisa dimasukkan penjara tuh gimana sih?? > Ini sih bukan menjelekkan nama tapi menceritakan kronologis yg ibu prita > alami. > Kalo yg semacam ini dianggap menjelekkan nama baik, trus seharusnya bagaimana > kita sebagai konsumen minta diperlakukan dengan baik? > Saya hidup di indonesia sering sekali merasakan hal2 yang tidak > sesuai,birokrasi yang berbelit,dirugikan secara emosional, penggunaan data > customer yg tidak pada tempatnya,tetapi sampai saat ini tidak tahu harus > mencari keadilan dimana? > Ketika sudah berhadapan dengan sebuah institusi,bawaannya males aja,lebih > baik menghindar. > Apa ini yang diharapkan? > Yah,jangan mengatakan kalo pasien "borjuis" dengan pergi ke luar negeri untuk > berobat. > Ketika lebih banyak yang meragukan, apa tidak sebaiknya ada "tinjauan ulang" > "instropeksi"? Daripada menyalahkan orang lain, merugikan, apalagi sampai > membuat dengan susah dengan memenjarakannya. > Kerabat saya juga banyak yang dokter,saya rasa adanya "oknum" yang membuat > adanya persepsi yang salah... > Semoga keadaan semakin baik,bukan hanya di kancah politik,tetapi sampai ke > birokrasi yang berbelit jadi terurai... > Powered by Telkomsel BlackBerry® > > -----Original Message----- > From: Trivita Kartikasari <viie...@...> > > Date: Wed, 3 Jun 2009 21:49:37 > To: <[email protected]> > Subject: Bls: [parentsguide] [info] Isi e-mail Ibu Prita > > > > Inilah Isi Email Prita > Mulyasari Yang Saat Ini Ditahan di LP Wanita Tangerang > > > > > > > > > > > > > Kasus > Prita Mulyasari yang sedang menghangat belakangan ini patut menjadi > perhatian > bersama disaat kemajuan teknologi bisa menyapa siapa saja. Bermula dari > surat > pembaca dan email yang tersebar diberbagai millis, kini Prita Mulyasari > ditahan sejak 13 Mei 2009 di LP Wanita Tangerang, Banten dan harus > menghadapi persidangan pidana. Dia dijerat Pasal 27 Undang-Undang nomor > 11 > tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik. Prita digugat > oleh RS > Omni karena dia mengeluh tentang pelayanan RS itu lewat email. > > Inilah isi lengkap email Prita Mulyasari yang dimuat di surat pembaca > detik > pada Sabtu, 30/08/2008 11:17 WIB dengan judul RS Omni Dapatkan Pasien > dari > Hasil Lab Fiktif > > Jakarta - Jangan sampai kejadian saya ini akan menimpa ke nyawa manusia > lainnya. Terutama anak-anak, lansia, dan bayi. Bila anda berobat > berhati-hatilah dengan kemewahan rumah sakit (RS) dan title > international karena > semakin mewah RS dan semakin pintar dokter maka semakin sering uji coba > pasien, penjualan obat, dan suntikan. > > Saya tidak mengatakan semua RS international seperti ini tapi saya > mengalami > kejadian ini di RS Omni International. Tepatnya tanggal 7 Agustus 2008 > jam > 20.30 WIB. Saya dengan kondisi panas tinggi dan pusing kepala datang ke > RS > OMNI Internasional dengan percaya bahwa RS tersebut berstandard > International, yang tentunya pasti mempunyai ahli kedokteran dan > manajemen > yang bagus. > > Saya diminta ke UGD dan mulai diperiksa suhu badan saya dan hasilnya 39 > derajat. Setelah itu dilakukan pemeriksaan darah dan hasilnya adalah > thrombosit saya 27.000 dengan kondisi normalnya adalah 200.000. Saya > diinformasikan dan ditangani oleh dr Indah (umum) dan dinyatakan saya > wajib > rawat inap. dr I melakukan pemeriksaan lab ulang dengan sample darah > saya > yang sama dan hasilnya dinyatakan masih sama yaitu thrombosit 27.000. > > dr I menanyakan dokter specialist mana yang akan saya gunakan. Tapi, > saya > meminta referensi darinya karena saya sama sekali buta dengan RS ini. > Lalu > referensi dr I adalah dr H. dr H memeriksa kondisi saya dan saya > menanyakan > saya sakit apa dan dijelaskan bahwa ini sudah positif demam berdarah. > > Mulai malam itu saya diinfus dan diberi suntikan tanpa penjelasan atau > izin > pasien atau keluarga pasien suntikan tersebut untuk apa. Keesokan pagi, > dr H > visit saya dan menginformasikan bahwa ada revisi hasil lab semalam. > Bukan > 27.000 tapi 181.000 (hasil lab bisa dilakukan revisi?). Saya kaget tapi > dr H > terus memberikan instruksi ke suster perawat supaya diberikan berbagai > macam > suntikan yang saya tidak tahu dan tanpa izin pasien atau keluarga > pasien. > > Saya tanya kembali jadi saya sakit apa sebenarnya dan tetap masih sama > dengan > jawaban semalam bahwa saya kena demam berdarah. Saya sangat khawatir > karena > di rumah saya memiliki 2 anak yang masih batita. Jadi saya lebih memilih > berpikir positif tentang RS dan dokter ini supaya saya cepat sembuh dan > saya > percaya saya ditangani oleh dokter profesional standard Internatonal. > > Mulai Jumat terebut saya diberikan berbagai macam suntikan yang setiap > suntik > tidak ada keterangan apa pun dari suster perawat, dan setiap saya > meminta > keterangan tidak mendapatkan jawaban yang memuaskan. Lebih terkesan > suster > hanya menjalankan perintah dokter dan pasien harus menerimanya. Satu > boks > lemari pasien penuh dengan infus dan suntikan disertai banyak ampul. > > Tangan kiri saya mulai membengkak. Saya minta dihentikan infus dan > suntikan > dan minta ketemu dengan dr H. Namun, dokter tidak datang sampai saya > dipindahkan ke ruangan. Lama kelamaan suhu badan saya makin naik kembali > ke > 39 derajat dan datang dokter pengganti yang saya juga tidak tahu dokter > apa. > Setelah dicek dokter tersebut hanya mengatakan akan menunggu dr H saja. > > Esoknya dr H datang sore hari dengan hanya menjelaskan ke suster untuk > memberikan obat berupa suntikan lagi. Saya tanyakan ke dokter tersebut > saya > sakit apa sebenarnya dan dijelaskan saya kena virus udara. Saya tanyakan > berarti bukan kena demam berdarah. Tapi, dr H tetap menjelaskan bahwa > demam > berdarah tetap virus udara. Saya dipasangkan kembali infus sebelah kanan > dan > kembali diberikan suntikan yang sakit sekali. > > Malamnya saya diberikan suntikan 2 ampul sekaligus dan saya terserang > sesak > napas selama 15 menit dan diberikan oxygen. Dokter jaga datang namun > hanya > berkata menunggu dr H saja. > > Jadi malam itu saya masih dalam kondisi infus. Padahal tangan kanan saya > pun > mengalami pembengkakan seperti tangan kiri saya. Saya minta dengan paksa > untuk diberhentikan infusnya dan menolak dilakukan suntikan dan > obat-obatan. > > Esoknya saya dan keluarga menuntut dr H untuk ketemu dengan kami. Namun, > janji selalu diulur-ulur dan baru datang malam hari. Suami dan > kakak-kakak > saya menuntut penjelasan dr H mengenai sakit saya, suntikan, hasil lab > awal > yang 27.000 menjadi revisi 181.000 dan serangan sesak napas yang dalam > riwayat hidup saya belum pernah terjadi. Kondisi saya makin parah > dengan membengkaknya leher kiri dan mata kiri. > > dr H tidak memberikan penjelasan dengan memuaskan. Dokter tersebut malah > mulai memberikan instruksi ke suster untuk diberikan obat-obatan kembali > dan > menyuruh tidak digunakan infus kembali. Kami berdebat mengenai kondisi > saya > dan meminta dr H bertanggung jawab mengenai ini dari hasil lab yang > pertama > yang seharusnya saya bisa rawat jalan saja. dr H menyalahkan bagian lab > dan > tidak bisa memberikan keterangan yang memuaskan. > > Keesokannya kondisi saya makin parah dengan leher kanan saya juga mulai > membengkak dan panas kembali menjadi 39 derajat. Namun, saya tetap tidak > mau > dirawat di RS ini lagi dan mau pindah ke RS lain. Tapi, saya membutuhkan > data > medis yang lengkap dan lagi-lagi saya dipermainkan dengan diberikan data > medis yang fiktif. > > Dalam catatan medis diberikan keterangan bahwa bab (buang air besar) > saya > lancar padahal itu kesulitan saya semenjak dirawat di RS ini tapi tidak > ada > follow up-nya sama sekali. Lalu hasil lab yang diberikan adalah hasil > thrombosit saya yang 181.000 bukan 27.000. > > Saya ngotot untuk diberikan data medis hasil lab 27.000 namun sangat > dikagetkan bahwa hasil lab 27.000 tersebut tidak dicetak dan yang > tercetak > adalah 181.000. Kepala lab saat itu adalah dr M dan setelah saya > komplain dan > marah-marah dokter tersebut mengatakan bahwa catatan hasil lab 27.000 > tersebut ada di Manajemen Omni. Maka saya desak untuk bertemu langsung > dengan > Manajemen yang memegang hasil lab tersebut. > > Saya mengajukan komplain tertulis ke Manajemen Omni dan diterima oleh > Og(Customer Service Coordinator) dan saya minta tanda terima. Dalam > tanda > terima tersebut hanya ditulis saran bukan komplain. Saya benar-benar > dipermainkan oleh Manajemen Omni dengan staff Og yang tidak ada > service-nya > sama sekali ke customer melainkan seperti mencemooh tindakan saya > meminta > tanda terima pengajuan komplain tertulis. > > Dalam kondisi sakit saya dan suami saya ketemu dengan Manajemen. Atas > nama Og > (Customer Service Coordinator) dan dr G (Customer Service Manager) dan > diminta memberikan keterangan kembali mengenai kejadian yang terjadi > dengan > saya. > > Saya benar-benar habis kesabaran dan saya hanya meminta surat pernyataan > dari > lab RS ini mengenai hasil lab awal saya adalah 27.000 bukan 181.000. > Makanya > saya diwajibkan masuk ke RS ini padahal dengan kondisi thrombosit > 181.000 > saya masih bisa rawat jalan. > > Tanggapan dr G yang katanya adalah penanggung jawab masalah komplain > saya ini > tidak profesional sama sekali. Tidak menanggapi komplain dengan baik. > Dia > mengelak bahwa lab telah memberikan hasil lab 27.000 sesuai dr M > informasikan > ke saya. Saya minta duduk bareng antara lab, Manajemen, dan dr H. Namun, > tidak bisa dilakukan dengan alasan akan dirundingkan ke atas (Manajemen) > dan > berjanji akan memberikan surat tersebut jam 4 sore. > > Setelah itu saya ke RS lain dan masuk ke perawatan dalam kondisi saya > dimasukkan dalam ruangan isolasi karena virus saya ini menular. Menurut > analisa ini adalah sakitnya anak-anak yaitu sakit gondongan namun sudah > parah > karena sudah membengkak. Kalau kena orang dewasa laki-laki bisa terjadi > impoten dan perempuan ke pankreas dan kista. > > Saya lemas mendengarnya dan benar-benar marah dengan RS Omni yang telah > membohongi saya dengan analisa sakit demam berdarah dan sudah diberikan > suntikan macam-macam dengan dosis tinggi sehingga mengalami sesak > napas. Saya tanyakan mengenai suntikan tersebut ke RS yang baru ini dan > memang saya tidak kuat dengan suntikan dosis tinggi sehingga terjadi > sesak > napas. > > Suami saya datang kembali ke RS Omni menagih surat hasil lab 27.000 > tersebut > namun malah dihadapkan ke perundingan yang tidak jelas dan meminta > diberikan > waktu besok pagi datang langsung ke rumah saya. Keesokan paginya saya > tunggu > kabar orang rumah sampai jam 12 siang belum ada orang yang datang dari > Omni > memberikan surat tersebut. > > Saya telepon dr G sebagai penanggung jawab kompain dan diberikan > keterangan > bahwa kurirnya baru mau jalan ke rumah saya. Namun, sampai jam 4 sore > saya > tunggu dan ternyata belum ada juga yang datang ke rumah saya. Kembali > saya > telepon dr G dan dia mengatakan bahwa sudah dikirim dan ada tanda terima > atas > nama Rukiah. > > Ini benar-benar kebohongan RS yang keterlaluan sekali. Di rumah saya > tidak > ada nama Rukiah. Saya minta disebutkan alamat jelas saya dan mencari > datanya > sulit sekali dan membutuhkan waktu yang lama. LOgkanya dalam tanda > terima > tentunya ada alamat jelas surat tertujunya ke mana kan? Makanya saya > sebut > Manajemen Omni pembohon besar semua. Hati-hati dengan permainan mereka > yang > mempermainkan nyawa orang. > > Terutama dr G dan Og, tidak ada sopan santun dan etika mengenai > pelayanan > customer, tidak sesuai dengan standard international yang RS ini > cantum. > > Saya bilang ke dr G, akan datang ke Omni untuk mengambil surat tersebut > dan > ketika suami saya datang ke Omni hanya dititipkan ke resepsionis saja > dan pas > dibaca isi suratnya sungguh membuat sakit hati kami. > > Pihak manajemen hanya menyebutkan mohon maaf atas ketidaknyamanan kami > dan > tidak disebutkan mengenai kesalahan lab awal yang menyebutkan 27.000 dan > dilakukan revisi 181.000 dan diberikan suntikan yang mengakibatkan > kondisi > kesehatan makin memburuk dari sebelum masuk ke RS Omni. > > Kenapa saya dan suami saya ngotot dengan surat tersebut? Karena saya > ingin > tahu bahwa sebenarnya hasil lab 27.000 itu benar ada atau fiktif saja > supaya > RS Omni mendapatkan pasien rawat inap. > > Dan setelah beberapa kali kami ditipu dengan janji maka sebenarnya > adalah > hasil lab saya 27.000 adalah fiktif dan yang sebenarnya saya tidak perlu > rawat inap dan tidak perlu ada suntikan dan sesak napas dan kesehatan > saya > tidak makin parah karena bisa langsung tertangani dengan baik. > > Saya dirugikan secara kesehatan. Mungkin dikarenakan biaya RS ini dengan > asuransi makanya RS ini seenaknya mengambil limit asuransi saya > semaksimal > mungkin. Tapi, RS ini tidak memperdulikan efek dari keserakahan ini. > > Sdr Og menyarankan saya bertemu dengan direktur operasional RS Omni (dr > B). > Namun, saya dan suami saya sudah terlalu lelah mengikuti permainan > kebohongan > mereka dengan kondisi saya masih sakit dan dirawat di RS lain. > > Syukur Alhamdulilah saya mulai membaik namun ada kondisi mata saya yang > selaput atasnya robek dan terkena virus sehingga penglihatan saya tidak > jelas > dan apabila terkena sinar saya tidak tahan dan ini membutuhkan waktu > yang > cukup untuk menyembuhkan. > > Setiap kehidupan manusia pasti ada jalan hidup dan nasibnya > masing-masing. > Benar. Tapi, apabila nyawa manusia dipermainkan oleh sebuah RS yang > dipercaya > untuk menyembuhkan malah mempermainkan sungguh mengecewakan. > > Semoga Allah memberikan hati nurani ke Manajemen dan dokter RS Omni > supaya > diingatkan kembali bahwa mereka juga punya keluarga, anak, orang tua > yang > tentunya suatu saat juga sakit dan membutuhkan medis. Mudah-mudahan > tidak > terjadi seperti yang saya alami di RS Omni ini. > > Saya sangat mengharapkan mudah-mudahan salah satu pembaca adalah > karyawan > atau dokter atau Manajemen RS Omni. Tolong sampaikan ke dr G, dr H, dr > M, dan > Og bahwa jangan sampai pekerjaan mulia kalian sia-sia hanya demi > perusahaan > Anda. Saya informasikan juga dr H praktek di RSCM juga. Saya tidak > mengatakan > RSCM buruk tapi lebih hati-hati dengan perawatan medis dari dokter ini. > > Salam, > > Prita Mulyasari > > Alam Sutera > > prita.mulyasari@ yahoo.com Alamat e-mail ini diproteksi dari spambot, > silahkan > aktifkan Javascript untuk melihatnya > > 081513100600 > > > > > > ________________________________ > Dari: Mira Marselina <mira.marsel...@...> > Kepada: [email protected] > Terkirim: Kamis, 4 Juni, 2009 07:05:08 > Topik: [parentsguide] [info] Isi e-mail Ibu Prita > > > > > > > Mohon maaf sebelumnya, ada yang punya isi e-mailnya ibu prita nggak ? > Thanks. > ------------ --------- --------- --------- --------- --------- --------- -- > This message contains confidential information and is intended only for the > addressee named. If you are not the named addressee (or authorised to receive > for the addressee), you must not disseminate, distribute or copy this > email.Please notify the sender immediately by e-mail if you have received > this e-mail by mistake and delete this e-mail from your system > > > > Jatuh cinta itu seperti apa ya rasanya? Temukan jawabannya di Yahoo! > Answers! http://id.answers.yahoo.com >

