Udah bayar mahal, sakit juga ga sembuh malah disuntikin ga jelas, giliran 
komplain malah dipenjara??? Pihak RS ktnya keberatan dgn judul email dgn kata2 
"penipuan" dan "hati2 dgn dokter...." harusnya sih walaupun mungkin ada unsur 
kesalahan dlm email yg ditulis ibu Prita (mnrt kacamata hukum ktnya) harusnya 
pihak RS bisa sedikit lebih bijak....coba dibaca dulu apakah isinya benar2 
menjelek2an RS dgn maksud menjatuhkan nama baiknya ataukah ini benar2 ungkapan 
kekecewaan seorang pasien yg sdh berobat disana? Wajar rasanya kalau ibu Prita 
marah kepada pihak RS, yg dia minta hanyalah kejelasan, dan sdh seharusnya 
pihak RS bisa memberikan itu kpd pasien, kalau tdk bisa kasih penjelasan yg 
benar bahkan dipingpong kesana kemari wajar donk orang merasa ditipu...kita kan 
berobat disana bayar!
Akibatnya malah jadi bumerang buat pihak RS......, emang ga ada jalan lain 
sampe harus dipenjara? Pernah ga sih kepikir kalo kita jadi ibu Prita? Dari ibu 
RT dan karyawan biasa, skrg statusnya jadi tahanan kota, kalo mnrt sy sih 
justru pihak RS yg sdh mencemarkan nama baik seseorang.....
Buat ibu Prita....sabar bu, dan jgn kuatir....pendukung anda buanyak buanget!
 


--- On Thu, 6/4/09, [email protected] <[email protected]> wrote:


From: [email protected] <[email protected]>
Subject: Re: Bls: [parentsguide] [info] Isi e-mail Ibu Prita
To: [email protected]
Date: Thursday, June 4, 2009, 7:54 AM








Emang bikin eneg urusan beginian. Koq sebagai warga bukannya di lindungi sih. 
Hak kita sebagai manusia itu gimana sih disini? Nyawa di gampangin bgt, apa krn 
dah kebykkan org? Maaf yah, sy kesel dan sedih bgt deh dng kasus ibu prita, org 
mau minta keadilan malahan di adilin! Gimana sih?!

Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT


From: fanny.tanudihardja@ yahoo.com
Date: Thu, 4 Jun 2009 07:08:10 +0000
To: <parentsguide@ yahoogroups. com>
Subject: Re: Bls: [parentsguide] [info] Isi e-mail Ibu Prita



Hah? Email kaya gini kok bisa dimasukkan penjara tuh gimana sih??
Ini sih bukan menjelekkan nama tapi menceritakan kronologis yg ibu prita alami.
Kalo yg semacam ini dianggap menjelekkan nama baik, trus seharusnya bagaimana 
kita sebagai konsumen minta diperlakukan dengan baik?
Saya hidup di indonesia sering sekali merasakan hal2 yang tidak 
sesuai,birokrasi yang berbelit,dirugikan secara emosional, penggunaan data 
customer yg tidak pada tempatnya,tetapi sampai saat ini tidak tahu harus 
mencari keadilan dimana?
Ketika sudah berhadapan dengan sebuah institusi,bawaannya males aja,lebih baik 
menghindar.
Apa ini yang diharapkan?
Yah,jangan mengatakan kalo pasien "borjuis" dengan pergi ke luar negeri untuk 
berobat.
Ketika lebih banyak yang meragukan, apa tidak sebaiknya ada "tinjauan ulang" 
"instropeksi" ? Daripada menyalahkan orang lain, merugikan, apalagi sampai 
membuat dengan susah dengan memenjarakannya.
Kerabat saya juga banyak yang dokter,saya rasa adanya "oknum" yang membuat 
adanya persepsi yang salah...
Semoga keadaan semakin baik,bukan hanya di kancah politik,tetapi sampai ke 
birokrasi yang berbelit jadi terurai...
Powered by Telkomsel BlackBerry®


From: Trivita Kartikasari 
Date: Wed, 3 Jun 2009 21:49:37 -0700 (PDT)
To: <parentsguide@ yahoogroups. com>
Subject: Bls: [parentsguide] [info] Isi e-mail Ibu Prita







 Inilah Isi Email Prita
Mulyasari Yang Saat Ini Ditahan di LP Wanita Tangerang 




  





  

Kasus
Prita Mulyasari yang sedang menghangat belakangan ini patut menjadi
perhatian
bersama disaat kemajuan teknologi bisa menyapa siapa saja. Bermula dari
surat
pembaca dan email yang tersebar diberbagai millis, kini Prita Mulyasari 
ditahan  sejak 13 Mei 2009 di LP Wanita Tangerang, Banten dan harus
menghadapi persidangan pidana. Dia dijerat Pasal 27 Undang-Undang nomor
11
tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik. Prita digugat
oleh RS
Omni karena dia mengeluh tentang pelayanan RS itu lewat email. 

Inilah isi lengkap email Prita Mulyasari yang dimuat di surat pembaca
detik
pada Sabtu, 30/08/2008 11:17 WIB dengan judul RS Omni Dapatkan Pasien
dari
Hasil Lab Fiktif 

Jakarta - Jangan sampai kejadian saya ini akan menimpa ke nyawa manusia
lainnya. Terutama anak-anak, lansia, dan bayi. Bila anda berobat
berhati-hatilah dengan kemewahan rumah sakit (RS) dan title
international karena
semakin mewah RS dan semakin pintar dokter maka semakin sering uji coba
pasien, penjualan obat, dan suntikan. 

Saya tidak mengatakan semua RS international seperti ini tapi saya
mengalami
kejadian ini di RS Omni International. Tepatnya tanggal 7 Agustus 2008
jam
20.30 WIB. Saya dengan kondisi panas tinggi dan pusing kepala datang ke
RS
OMNI Internasional dengan percaya bahwa RS tersebut berstandard
International, yang tentunya pasti mempunyai ahli kedokteran dan
manajemen
yang bagus.

Saya diminta ke UGD dan mulai diperiksa suhu badan saya dan hasilnya 39
derajat. Setelah itu dilakukan pemeriksaan darah dan hasilnya adalah
thrombosit saya 27.000 dengan kondisi normalnya adalah 200.000. Saya
diinformasikan dan ditangani oleh dr Indah (umum) dan dinyatakan saya
wajib
rawat inap. dr I melakukan pemeriksaan lab ulang dengan sample darah
saya
yang sama dan hasilnya dinyatakan masih sama yaitu thrombosit 27.000.

dr I menanyakan dokter specialist mana yang akan saya gunakan. Tapi,
saya
meminta referensi darinya karena saya sama sekali buta dengan RS ini.
Lalu
referensi dr I adalah dr H. dr H memeriksa kondisi saya dan saya
menanyakan
saya sakit apa dan dijelaskan bahwa ini sudah positif demam berdarah. 

Mulai malam itu saya diinfus dan diberi suntikan tanpa penjelasan atau
izin
pasien atau keluarga pasien suntikan tersebut untuk apa. Keesokan pagi,
dr H
visit saya dan menginformasikan bahwa ada revisi hasil lab semalam.
Bukan
27.000 tapi 181.000 (hasil lab bisa dilakukan revisi?). Saya kaget tapi
dr H
terus memberikan instruksi ke suster perawat supaya diberikan berbagai
macam
suntikan yang saya tidak tahu dan tanpa izin pasien atau keluarga
pasien. 

Saya tanya kembali jadi saya sakit apa sebenarnya dan tetap masih sama
dengan
jawaban semalam bahwa saya kena demam berdarah. Saya sangat khawatir
karena
di rumah saya memiliki 2 anak yang masih batita. Jadi saya lebih memilih
berpikir positif tentang RS dan dokter ini supaya saya cepat sembuh dan
saya
percaya saya ditangani oleh dokter profesional standard Internatonal. 

Mulai Jumat terebut saya diberikan berbagai macam suntikan yang setiap
suntik
tidak ada keterangan apa pun dari suster perawat, dan setiap saya
meminta
keterangan tidak mendapatkan jawaban yang memuaskan. Lebih terkesan
suster
hanya menjalankan perintah dokter dan pasien harus menerimanya. Satu
boks
lemari pasien penuh dengan infus dan suntikan disertai banyak ampul. 

Tangan kiri saya mulai membengkak. Saya minta dihentikan infus dan
suntikan
dan minta ketemu dengan dr H. Namun, dokter tidak datang sampai saya
dipindahkan ke ruangan. Lama kelamaan suhu badan saya makin naik kembali
ke
39 derajat dan datang dokter pengganti yang saya juga tidak tahu dokter
apa.
Setelah dicek dokter tersebut hanya mengatakan akan menunggu dr H saja.

Esoknya dr H datang sore hari dengan hanya menjelaskan ke suster untuk
memberikan obat berupa suntikan lagi. Saya tanyakan ke dokter tersebut
saya
sakit apa sebenarnya dan dijelaskan saya kena virus udara. Saya tanyakan
berarti bukan kena demam berdarah. Tapi, dr H tetap menjelaskan bahwa
demam
berdarah tetap virus udara. Saya dipasangkan kembali infus sebelah kanan
dan
kembali diberikan suntikan yang sakit sekali. 

Malamnya saya diberikan suntikan 2 ampul sekaligus dan saya terserang
sesak
napas selama 15 menit dan diberikan oxygen. Dokter jaga datang namun
hanya
berkata menunggu dr H saja. 

Jadi malam itu saya masih dalam kondisi infus. Padahal tangan kanan saya
pun
mengalami pembengkakan seperti tangan kiri saya. Saya minta dengan paksa
untuk diberhentikan infusnya dan menolak dilakukan suntikan dan
obat-obatan. 

Esoknya saya dan keluarga menuntut dr H untuk ketemu dengan kami. Namun,
janji selalu diulur-ulur dan baru datang malam hari. Suami dan
kakak-kakak
saya menuntut penjelasan dr H mengenai sakit saya, suntikan, hasil lab
awal
yang 27.000 menjadi revisi 181.000 dan serangan sesak napas yang dalam
riwayat hidup saya belum pernah terjadi.  Kondisi saya makin parah
dengan membengkaknya leher kiri dan mata kiri. 

dr H tidak memberikan penjelasan dengan memuaskan. Dokter tersebut malah
mulai memberikan instruksi ke suster untuk diberikan obat-obatan kembali
dan
menyuruh tidak digunakan infus kembali. Kami berdebat mengenai kondisi
saya
dan meminta dr H bertanggung jawab mengenai ini dari hasil lab yang
pertama
yang seharusnya saya bisa rawat jalan saja. dr H menyalahkan bagian lab
dan
tidak bisa memberikan keterangan yang memuaskan. 

Keesokannya kondisi saya makin parah dengan leher kanan saya juga mulai
membengkak dan panas kembali menjadi 39 derajat. Namun, saya tetap tidak
mau
dirawat di RS ini lagi dan mau pindah ke RS lain. Tapi, saya membutuhkan
data
medis yang lengkap dan lagi-lagi saya dipermainkan dengan diberikan data
medis yang fiktif. 

Dalam catatan medis diberikan keterangan bahwa bab (buang air besar)
saya
lancar padahal itu kesulitan saya semenjak dirawat di RS ini tapi tidak
ada
follow up-nya sama sekali. Lalu hasil lab yang diberikan adalah hasil
thrombosit saya yang 181.000 bukan 27.000. 

Saya ngotot untuk diberikan data medis hasil lab 27.000 namun sangat
dikagetkan bahwa hasil lab 27.000 tersebut tidak dicetak dan yang
tercetak
adalah 181.000. Kepala lab saat itu adalah dr M dan setelah saya
komplain dan
marah-marah dokter tersebut mengatakan bahwa catatan hasil lab 27.000
tersebut ada di Manajemen Omni. Maka saya desak untuk bertemu langsung
dengan
Manajemen yang memegang hasil lab tersebut.

Saya mengajukan komplain tertulis ke Manajemen Omni dan diterima oleh
Og(Customer Service Coordinator) dan saya minta tanda terima. Dalam
tanda
terima tersebut hanya ditulis saran bukan komplain. Saya benar-benar
dipermainkan oleh Manajemen Omni dengan staff Og yang tidak ada
service-nya
sama sekali ke customer melainkan seperti mencemooh tindakan saya
meminta
tanda terima pengajuan komplain tertulis. 

Dalam kondisi sakit saya dan suami saya ketemu dengan Manajemen. Atas
nama Og
(Customer Service Coordinator) dan dr G (Customer Service Manager) dan
diminta memberikan keterangan kembali mengenai kejadian yang terjadi
dengan
saya. 

Saya benar-benar habis kesabaran dan saya hanya meminta surat pernyataan
dari
lab RS ini mengenai hasil lab awal saya adalah 27.000 bukan 181.000.
Makanya
saya diwajibkan masuk ke RS ini padahal dengan kondisi thrombosit
181.000
saya masih bisa rawat jalan. 

Tanggapan dr G yang katanya adalah penanggung jawab masalah komplain
saya ini
tidak profesional sama sekali. Tidak menanggapi komplain dengan baik.
Dia
mengelak bahwa lab telah memberikan hasil lab 27.000 sesuai dr M
informasikan
ke saya. Saya minta duduk bareng antara lab, Manajemen, dan dr H. Namun,
tidak bisa dilakukan dengan alasan akan dirundingkan ke atas (Manajemen)
dan
berjanji akan memberikan surat tersebut jam 4 sore. 

Setelah itu saya ke RS lain dan masuk ke perawatan dalam kondisi saya
dimasukkan dalam ruangan isolasi karena virus saya ini menular. Menurut
analisa ini adalah sakitnya anak-anak yaitu sakit gondongan namun sudah
parah
karena sudah membengkak. Kalau kena orang dewasa laki-laki bisa terjadi
impoten dan perempuan ke pankreas dan kista. 

Saya lemas mendengarnya dan benar-benar marah dengan RS Omni yang telah
membohongi saya dengan analisa sakit demam berdarah dan sudah diberikan
suntikan macam-macam dengan dosis tinggi sehingga mengalami sesak
napas.  Saya tanyakan mengenai suntikan tersebut ke RS yang baru ini dan
memang saya tidak kuat dengan suntikan dosis tinggi sehingga terjadi
sesak
napas. 

Suami saya datang kembali ke RS Omni menagih surat hasil lab 27.000
tersebut
namun malah dihadapkan ke perundingan yang tidak jelas dan meminta
diberikan
waktu besok pagi datang langsung ke rumah saya. Keesokan paginya saya
tunggu
kabar orang rumah sampai jam 12 siang belum ada orang yang datang dari
Omni
memberikan surat tersebut. 

Saya telepon dr G sebagai penanggung jawab kompain dan diberikan
keterangan
bahwa kurirnya baru mau jalan ke rumah saya. Namun, sampai jam 4 sore
saya
tunggu dan ternyata belum ada juga yang datang ke rumah saya. Kembali
saya
telepon dr G dan dia mengatakan bahwa sudah dikirim dan ada tanda terima
atas
nama Rukiah. 

Ini benar-benar kebohongan RS yang keterlaluan sekali. Di rumah saya
tidak
ada nama Rukiah. Saya minta disebutkan alamat jelas saya dan mencari
datanya
sulit sekali dan membutuhkan waktu yang lama. LOgkanya dalam tanda
terima
tentunya ada alamat jelas surat tertujunya ke mana kan? Makanya saya
sebut
Manajemen Omni pembohon besar semua. Hati-hati dengan permainan mereka
yang
mempermainkan nyawa orang. 

Terutama dr G dan Og, tidak ada sopan santun dan etika mengenai
pelayanan
customer, tidak sesuai dengan standard international yang RS ini
cantum. 

Saya bilang ke dr G, akan datang ke Omni untuk mengambil surat tersebut
dan
ketika suami saya datang ke Omni hanya dititipkan ke resepsionis saja
dan pas
dibaca isi suratnya sungguh membuat sakit hati kami. 

Pihak manajemen hanya menyebutkan mohon maaf atas ketidaknyamanan kami
dan
tidak disebutkan mengenai kesalahan lab awal yang menyebutkan 27.000 dan
dilakukan revisi 181.000 dan diberikan suntikan yang mengakibatkan
kondisi
kesehatan makin memburuk dari sebelum masuk ke RS Omni. 

Kenapa saya dan suami saya ngotot dengan surat tersebut? Karena saya
ingin
tahu bahwa sebenarnya hasil lab 27.000 itu benar ada atau fiktif saja
supaya
RS Omni mendapatkan pasien rawat inap. 

Dan setelah beberapa kali kami ditipu dengan janji maka sebenarnya
adalah
hasil lab saya 27.000 adalah fiktif dan yang sebenarnya saya tidak perlu
rawat inap dan tidak perlu ada suntikan dan sesak napas dan kesehatan
saya
tidak makin parah karena bisa langsung tertangani dengan baik. 

Saya dirugikan secara kesehatan. Mungkin dikarenakan biaya RS ini dengan
asuransi makanya RS ini seenaknya mengambil limit asuransi saya
semaksimal
mungkin. Tapi, RS ini tidak memperdulikan efek dari keserakahan ini. 

Sdr Og menyarankan saya bertemu dengan direktur operasional RS Omni (dr
B).
Namun, saya dan suami saya sudah terlalu lelah mengikuti permainan
kebohongan
mereka dengan kondisi saya masih sakit dan dirawat di RS lain. 

Syukur Alhamdulilah saya mulai membaik namun ada kondisi mata saya yang
selaput atasnya robek dan terkena virus sehingga penglihatan saya tidak
jelas
dan apabila terkena sinar saya tidak tahan dan ini membutuhkan waktu
yang
cukup untuk menyembuhkan. 

Setiap kehidupan manusia pasti ada jalan hidup dan nasibnya
masing-masing.
Benar. Tapi, apabila nyawa manusia dipermainkan oleh sebuah RS yang
dipercaya
untuk menyembuhkan malah mempermainkan sungguh mengecewakan. 

Semoga Allah memberikan hati nurani ke Manajemen dan dokter RS Omni
supaya
diingatkan kembali bahwa mereka juga punya keluarga, anak, orang tua
yang
tentunya suatu saat juga sakit dan membutuhkan medis. Mudah-mudahan
tidak
terjadi seperti yang saya alami di RS Omni ini. 

Saya sangat mengharapkan mudah-mudahan salah satu pembaca adalah
karyawan
atau dokter atau Manajemen RS Omni. Tolong sampaikan ke dr G, dr H, dr
M, dan
Og bahwa jangan sampai pekerjaan mulia kalian sia-sia hanya demi
perusahaan
Anda. Saya informasikan juga dr H praktek di RSCM juga. Saya tidak
mengatakan
RSCM buruk tapi lebih hati-hati dengan perawatan medis dari dokter ini. 

Salam, 

Prita Mulyasari

Alam Sutera

prita.mulyasari@ yahoo.com Alamat e-mail ini diproteksi dari spambot,
silahkan
aktifkan Javascript untuk melihatnya 

081513100600 







Dari: Mira Marselina <mira.marselina@ tokiomarine. co.id>
Kepada: parentsguide@ yahoogroups. com
Terkirim: Kamis, 4 Juni, 2009 07:05:08
Topik: [parentsguide] [info] Isi e-mail Ibu Prita




Mohon maaf sebelumnya, ada yang punya isi e-mailnya ibu prita nggak ? 
Thanks.
------------ --------- --------- --------- --------- --------- --------- -- 
This message contains confidential information and is intended only for the 
addressee named. If you are not the named addressee (or authorised to receive 
for the addressee), you must not disseminate, distribute or copy this 
email.Please notify the sender immediately by e-mail if you have received this 
e-mail by mistake and delete this e-mail from your system


Lebih aman saat online. 
Upgrade ke Internet Explorer 8 baru dan lebih cepat yang dioptimalkan untuk 
Yahoo! agar Anda merasa lebih aman. Gratis. Dapatkan IE8 di sini! 















      

Kirim email ke