-----Original Message----- From: dyah christanti Sent: Wednesday, July 01, 2009 2:13 PM
Tepat setahun sudah,saya baru kembali memberanikan diri untuk sharing di sini. Rasanya remuk redam,jika kami kembali mengingat peristiwa setahun lalu. Sebuah tindakan IRUD yg mengancam nyawa anak kami. Saat itu adalah masa kegelapan bagi kami,karena belum mengenal milis ini. Yang saya tahu hanyalah "asi is the best", selebihnya NOL. Seorang sahabat di kantor,memang sudah mengajak saya untuk join milis sehat (maaf ya ika,baru tahu bahwa you're right girl!). Tapi karena kesombongan saya,selalu saya tolak & saya tertawakan. Baru menyesal,ketika tahu betapa tercerahkannya kami akan ilmu yg sudah kami dapat. Saat itu,anak saya banyu usianya menjelang 9bulan. Sekitar akhir juni tahun lalu, anak saya demam tinggi. Suhunya 39 derajat. Rewelnya luar biasa. Saya sudah memberikan obat penurun demam,tapi demamnya tak kunjung turun. Saya masih ingat, saat itu maghrib,demamnya pun bertambah tinggi. Saya ukur 40,5 derajat. Saya gendong & susui banyu. Namun tiba-tiba, banyu kejang-kejang. Kami semua panik luar biasa. Saya pun menangis histeris melihatnya. Meskipun hanya sebentar, kami tetap panik,ini kejadian kejang demam pertama kalinya. Saya juga tidak tahu bahwa kejang demam tidak berbahaya. Saya masih menunggu suami saya pulang kerja, untuk membawa banyu ke dokter. Setelah kejang demam,saya berikan obat penurun demam,dengan harapan banyu tidak lagi demam. Kembali saya susui banyu & memang banyu menjadi tenang,tertidur lelap di gendongan. Menjelang pukul 9 malam,suami saya baru tiba di rumah. Saat itu,demamnya banyu juga berangsur-angsur naik lagi. Demam kembali mencapai 40 derajat,panik kembali melanda kami. Takut terjadi hal2 yg tidak diinginkan,kami membawa banyu ke sebuah UGD RS dekat rumah. Kami menceritakan yg terjadi kepada dokter. Setelah dilakukan pemeriksaan,banyu diberikan stesolid rectal. Bodohnya kami yg tidak tahu. Padahal kejang demam sudah lewat 4jam yg lalu. Dokter menyarankan agar banyu dirawat inap. Namun,karena kamar penuh,kami disarankan untuk mencari RS lain. Suami saya menolaknya dengan alasan rumah kami sangat dekat dari RS, sehingga jika terjadi sesuatu hal,kami dapat segera membawa banyu ke RS tsb. Akhirnya dokter UGD tsb memberikan resep yg isinya luminal+CTM+oradexan (puyer) & stesolid rectal, serta amoxicillin syrup (puyer yg disirupkan) dgn wejangan dokter bahwa obat harus dihabiskan. Pulanglah malam itu ke rumah. Hingga esok harinya,banyu aktif ceria,tidak demam & muncul batpil. Saya tetap meminumkan semua obat (kecuali stesolid) termasuk AB. Sore harinya,banyu kembali rewel luar biasa,padahal tidak ada demam. Hingga malamnya,banyu sangat rewel. Saya lihat di lengan banyu ada ruam merah yg tebal. Saya & ibu berpikir mungkin ini tampek & akhirnya kami pakaikan diapers serta baju tangan panjang. Entah naluri seorang ibu,rasanya janggal melihat ruam tsb. Saya foto ruam tsb dgn mggunakan kamera hp saya. Sepanjang malam,banyu sering tiba2 bangun & menjerit2. Kami panik,tapi belum terpikirkan untuk ke RS. Sampai akhirnya esok paginya tepat 1 Juli 2008,saya membuka baju & hendak mganti diapers banyu. Saya kaget,shock & histeris melihat tubuh banyu yg melepuh & banyak luka terbuka seperti sabetan golok. Larilah kami ke sebuah RS di Jakarta pusat, krn kami pikir RS dekat rumah pasti msh penuh. Di RS tsb,banyu di diagnosa STEVEN JOHNSON SYNDROME & harus dirawat. Saya tidak tahu apa2 ttg penyakit tsb,sampai akhirnya penjelasan dokter & hasil browsing seadanya lewat hp,membuat saya semakin tersayat2. Dari hasil browsing,banyak kasus SJS yg nyawanya tidak tertolong. Nyawa anak saya sedang dipertaruhkan.. Ya Tuhan.... Dokter tdk memperbolehkan saya memberikan asi & mengganti dgn sufor pilihan beliau. Saya mengiyakan,tapi selalu kucing2an untuk memberikan asi. Ibu saya selalu bjaga2 mengintip di kaca pintu agar dpt segera memberi tahu saya, jika dokter/suster menuju ke kamar anak saya. Kondisi banyu pun semakin memburuk & saya selalu tidak tahan setiap banyu menjerit2 kesakitan. Di depan banyu,saya tidak berani menangis. Tapi tanpa sepengetahuannya,saya menangis tersayat2,hingga pada suatu titik pasrah "Tuhan,jika memang Engkau berkehendak hanya sampai di titik ini kami menjaganya, maka kami ikhlas karena kami memang tidak dapat menjaga amanah-Mu dengan baik." Saya tidak tahu,berapa banyak dukungan moriil dari teman-teman & keluarga, bahkan dari orang yg tdk kami kenal untuk menguatkan kami. Tapi sejak kepasrahan itu,justru semangat kami makin tinggi. Kami terus pompa semangat hidup untuk banyu. Banyu mendapatkan kompres larutan burowi,infus,suntikan immunoglobin,suntikan AB,lacto-b,ryzen drops,zinckid,steroid,dll. Lagi2 saya tidak tahu apapun tentang treatmen tsb. Seluruh badan banyu jika dipegang seperti lilin yg lumer meleleh,matanya tidak bisa membuka,telinganya lengket. Tapi saya yakin,banyu anak yg kuat & mampu btahan. Hingga akhirnya,lukanya pun semakin mengering meski saat itu terlihat seperti tanah kering yg retak, matanya juga perlahan2 bisa terbuka kembali. Dehidrasi bisa dilawan oleh banyu,minumnya luar biasa banyak. Semangat hidupnya jg luar biasa tinggi. Hingga tgl 9 juli,banyu diperbolehkan pulang. Kami senang & bahagia bukan main,meski sempat beberapa lama pasca dirawat, anak kami menjadi komoditas dokter yg mengatasnamakan alergi. Hingga akhirnya sahabat saya,meminjamkan buku Q & A (yg jd lecek gara2 saya baca. Maaf ya ka..). Rasanya saya mendapat tamparan yg luar biasa keras. Bodohnya saya.. Akhirnya sejak saat itu,saya bkenalan dgn milis sehat & bunda wati (I love you so much bunda). Ikut Pesat 9 Jakarta dgn suami (thanks panitia),meski cuma 1 sesi. Trimakasih bunda wati,doc's & sp's atas ilmu2nya yg membuat saya & suami kini menjadi sadar & makin mantap utk terus belajar, memperbaiki kesalahan kami di masa lampau. Mudah2an bisa ikut full sesi Pesat 10 (amien.). Maaf ya menuh2in inbox,tapi saya bharap sharing IRUD saya bisa membuka mata batin kita semua seberapa bahayanya IRUD. Cukup kami yg melakukan tindakan bodoh, jangan ada lagi orangtua yg bertindak sama. Kami adalah contoh orangtua yg buruk, tapi semoga kisah kami ini dapat menjadi "early warning" agar kita bisa menerapkan pola pengobatan yg rasional. Salam, Dyah *yg msh nangis jg saat ngetik email ini

