Hai bunda semua,

Semoga semua bunda dlm keadaan sehat agar bisa menjaga & merawat buah hati kita 
dg baik. Sebagai ibu baru aku kurang begitu pahat ttg IRUD. Kebetulan 1 bln yg 
lalu putriku (8bln) panas tinggi smp 40,tp tidak kejang. Di rumah sdh aku kasih 
obat penurun panas, turun sih tp naik lg. Krn panik (anakku smp merintih) aku 
bawa ke UGD (wkt itu hr minggu,tengah mlm). Lalu diberi obat yg dimasukkan ke 
dubur (maaf). Tp tetep panas tinggi. Besok sorenya berangsur baek. Nah mgkn 
bisa minta sharingnya tindakan IRUD yg mengancam nyawa anak itu yg seperti apa 
yah? Maaf kl sudah pernah dibahas. Mgkn bisa japri aja. Soalnya baca pengalaman 
mbak dyah jd deg2an nih. Thanks.

 salam hangat,
Ema Ria

mau kerja di rumah ato mau dapet penghasilan tambahan?
please visit : www.dbc-tjantique.com ato www.ematjantique.blogspot.com
ato HP : 0812 9666 358





________________________________
From: Lylyana sujatna <[email protected]>
To: [email protected]
Sent: Thursday, July 2, 2009 12:05:04 PM
Subject: Re: [parentsguide] sharing IRUD yg mengancam nyawadari milis sebelah





Yup setuju dengan mommy omera,

Akhir april lalu, anak aku jg sempat panas tinggi n kejang, n untung nya 
kejadiannya di pagi hari sebelum saya n suami pergi kerja, wah kita langsung 
panik n pergi ke RS terdekat (Siloam kebon Jeruk) n cukup salut sich setiba 
disana langsung di tangani dengan sigap oleh dokter jaga n susternya. dan 
walaupun kejang nya sudah berhenti, tetap disarankan rawat inap sich, untuk 
observasi selama 1 hari, kuatir ada terulang lagi kejang nya.
jadi yah mungkin saran dari aku, kalo memang anak panas sudah lebih dari 39,5 n 
dikasih obat penurun panas tapi nga turun2 juga, better langsung bawa ke dokter 
atas rs terdekat, jangan di tunda sejam pun, soalnya daripada terlambat, bisa 
nyesal seumur hidup dech. And percaya dech kalo naluri seorang ibu tuh tajam n 
sensitif banget, jadi kalo memang udah merasa ada sesuatu yang nga beres, 
better langsung cepetan bawa ke dokter dech.

Mommy abigail




________________________________
From: "ira.soviawati@ yahoo.co. id" <ira.soviawati@ yahoo.co. id>
To: parentsguide@ yahoogroups. com
Sent: Wednesday, July 1, 2009 9:58:02 PM
Subject: Re: [parentsguide] sharing IRUD yg mengancam nyawadari milis sebelah


Mama Dyah yg luar biasa..
Thanks sharingnya..
Kebayang perasaan takut kehilangan buah hati yg luar biasa.. Sangat2 bisa 
merasakan..

Mommy, pastinya ini bukan saat yg tepat utk mengkritik, dan saya jg ga ada 
maksud utk mengkritik.. Saya hanya ingin mengajak kepada semua mom and dad utk 
cepat tanggap melakukan pertolongan. . Krn waktu itu berjalan tanpa mengenal 
mundur atau melambat..

Membaca sharing mommy, jantung saya mo copot.. Rasanya hati ini teriak2, cepet2 
lari, cari rs, dimana aja.. Sendiri pun tdk masalah.. Ada banyak orang yg siap 
sedia mensupport, dokter, suster, pasien lain, kerabat, teman, jika mmg suami 
tidak memungkinkan utk datang lebih cepat..

And I pray so hard that banyu is in his best health ever today..

Big love,
Mommy Omera n Kanzara 

Powered by Telkomsel BlackBerry®
________________________________
From:  "hoesana" 
Date: Wed, 1 Jul 2009 14:51:31 +0700
To: <motherandbabyclub@ yahoogroups. com>; <asiforb...@yahoogro ups.com>; 
<parentsguide@ yahoogroups. com>; <ghfriendship@ yahoogroups. com>
Subject: [parentsguide] sharing IRUD yg mengancam nyawadari milis sebelah

 
-----Original Message-----
From: dyah  christanti
Sent: Wednesday, July 01, 2009 2:13 PM


Tepat setahun sudah,saya baru kembali memberanikan diri
untuk sharing di  sini. 

Rasanya remuk redam,jika kami kembali mengingat
peristiwa  setahun lalu. 

Sebuah tindakan IRUD yg mengancam nyawa anak kami. 

Saat
itu adalah masa kegelapan bagi kami,karena belum mengenal milis  ini. 

Yang saya
tahu hanyalah “asi is the best”, selebihnya NOL. 

Seorang sahabat di
kantor,memang sudah mengajak saya untuk join milis  sehat 

(maaf ya ika,baru tahu
bahwa you’re right girl!). 

Tapi  karena kesombongan saya,selalu saya tolak &
saya tertawakan. 

Baru  menyesal,ketika tahu betapa tercerahkannya kami akan ilmu
yg sudah kami  dapat.

Saat itu,anak saya banyu usianya menjelang 9bulan. 

Sekitar
akhir juni tahun lalu, anak saya demam tinggi. Suhunya 39  derajat. Rewelnya
luar biasa. 

Saya sudah memberikan obat penurun  demam,tapi demamnya tak kunjung
turun. 

Saya masih ingat, saat itu  maghrib,demamnya pun bertambah tinggi. 

Saya
ukur 40,5 derajat. Saya  gendong & susui banyu. Namun tiba-tiba, banyu
kejang-kejang.
Kami  semua panik luar biasa. Saya pun menangis histeris
melihatnya. 

Meskipun hanya sebentar, kami tetap panik,ini kejadian kejang  demam
pertama kalinya. 

Saya juga tidak tahu bahwa kejang demam tidak  berbahaya. 

Saya
masih menunggu suami saya pulang kerja, untuk membawa  banyu ke dokter. 
Setelah kejang demam,saya berikan obat penurun  demam,dengan
harapan banyu tidak lagi demam.
Kembali saya susui banyu  & memang banyu
menjadi tenang,tertidur lelap di gendongan. 

Menjelang pukul 9 malam,suami saya
baru tiba di rumah. 

Saat  itu,demamnya banyu juga berangsur-angsur naik lagi. 

Demam kembali  mencapai 40 derajat,panik kembali melanda kami. 

Takut terjadi
hal2 yg  tidak diinginkan,kami membawa banyu ke sebuah UGD RS dekat rumah. 

Kami
menceritakan yg terjadi kepada dokter. 

Setelah dilakukan  pemeriksaan, banyu
diberikan stesolid rectal. 

Bodohnya kami yg  tidak tahu… Padahal kejang demam
sudah lewat 4jam yg lalu.
Dokter  menyarankan agar banyu dirawat inap. 

Namun,karena kamar penuh,kami  disarankan untuk mencari RS lain. 

Suami saya
menolaknya dengan alasan  rumah kami sangat dekat dari RS,
sehingga jika terjadi
sesuatu hal,kami  dapat segera membawa banyu ke RS tsb. 

Akhirnya dokter UGD  tsb
memberikan resep yg isinya 

luminal+CTM+ oradexan (puyer)  & stesolid rectal,
serta amoxicillin syrup (puyer yg disirupkan)
dgn  wejangan dokter bahwa obat
harus dihabiskan.
Pulanglah malam itu ke rumah.  Hingga esok harinya,banyu
aktif ceria,tidak demam & muncul  batpil.
Saya tetap meminumkan semua obat
(kecuali stesolid) termasuk  AB.
Sore harinya,banyu kembali rewel luar biasa,padahal tidak
ada demam. 

Hingga malamnya,banyu sangat rewel. Saya lihat di lengan banyu  ada
ruam merah yg tebal. 

Saya & ibu berpikir mungkin ini tampek  & akhirnya
kami pakaikan diapers serta baju tangan panjang.
Entah  naluri seorang
ibu,rasanya janggal melihat ruam tsb. 

Saya foto ruam  tsb dgn mggunakan kamera
hp saya. Sepanjang malam,banyu sering tiba2 bangun  & menjerit2. 

Kami panik,tapi
belum terpikirkan untuk ke RS. 

Sampai akhirnya esok paginya tepat 1 Juli 2008,saya
membuka baju  & hendak mganti diapers banyu.
Saya kaget,shock & histeris
melihat  tubuh banyu yg melepuh & banyak luka terbuka seperti sabetan golok. 

Larilah kami ke sebuah RS di Jakarta pusat, krn kami pikir RS dekat  rumah pasti
msh penuh. 

Di RS tsb,banyu di diagnosa STEVEN JOHNSON  SYNDROME & harus
dirawat.
Saya tidak tahu apa2 ttg penyakit tsb,sampai  akhirnya penjelasan
dokter 

& hasil browsing seadanya lewat  hp,membuat saya semakin tersayat2. 

Dari hasil browsing,banyak kasus SJS  yg nyawanya tidak tertolong. 

Nyawa anak
saya sedang dipertaruhkan….  Ya Tuhan....

Dokter tdk memperbolehkan saya memberikan asi  &
mengganti dgn sufor pilihan beliau. 

Saya mengiyakan,tapi selalu  kucing2an untuk
memberikan asi. 

Ibu saya selalu bjaga2 mengintip di  kaca pintu agar dpt segera
memberi tahu saya,
jika dokter/suster menuju ke  kamar anak saya. 

Kondisi banyu
pun semakin memburuk & saya selalu  tidak tahan setiap banyu menjerit2
kesakitan. 

Di depan banyu,saya  tidak berani menangis. 

Tapi tanpa
sepengetahuannya, saya menangis  tersayat2,hingga pada suatu titik pasrah
“Tuhan,jika memang Engkau  berkehendak hanya sampai di titik ini kami 
menjaganya,
maka
kami ikhlas  karena kami memang tidak dapat menjaga amanah-Mu dengan baik.”
Saya tidak  tahu,berapa banyak dukungan moriil dari
teman-teman & keluarga,
bahkan  dari orang yg tdk kami kenal untuk menguatkan
kami. 

Tapi sejak  kepasrahan itu,justru semangat kami makin tinggi. Kami terus
pompa semangat  hidup untuk banyu.
Banyu mendapatkan kompres larutan  burowi,infus, suntikan
immunoglobin, suntikan AB,lacto-b,ryzen  drops,zinckid, steroid,dll.
Lagi2 saya tidak tahu apapun tentang treatmen  tsb.

Seluruh badan banyu jika dipegang seperti lilin yg  lumer
meleleh,matanya tidak bisa membuka,telinganya lengket. 

Tapi  saya yakin,banyu
anak yg kuat & mampu btahan. 

Hingga  akhirnya,lukanya pun semakin mengering
meski saat itu terlihat seperti tanah  kering yg retak,
matanya juga perlahan2
bisa terbuka kembali. 

Dehidrasi bisa dilawan oleh banyu,minumnya luar  biasa
banyak.
Semangat hidupnya jg luar biasa tinggi.
Hingga tgl 9  juli,banyu diperbolehkan pulang. 

Kami senang
& bahagia bukan  main,meski sempat beberapa lama pasca dirawat,
anak kami
menjadi komoditas  dokter yg mengatasnamakan alergi.
Hingga akhirnya sahabat saya,meminjamkan  buku Q & A (yg
jd lecek gara2 saya baca. Maaf ya ka….). 

Rasanya  saya mendapat tamparan yg luar
biasa keras. Bodohnya saya….
Akhirnya sejak  saat itu,saya bkenalan dgn milis sehat &
bunda wati (I love you so much  bunda). 

Ikut Pesat 9 Jakarta dgn suami (thanks
panitia),meski cuma 1  sesi.
Trimakasih bunda wati,doc’s & sp’s atas ilmu2nya 

yg
membuat saya & suami kini menjadi sadar & makin mantap utk  terus
belajar,
memperbaiki kesalahan kami di masa lampau. Mudah2an bisa  ikut full sesi
Pesat 10 (amien…).
Maaf ya menuh2in inbox,tapi saya bharap  sharing IRUD saya 

bisa membuka mata batin kita semua seberapa bahayanya  IRUD. 

Cukup kami yg
melakukan tindakan bodoh, jangan ada lagi  orangtua yg bertindak sama.
Kami adalah
contoh orangtua yg buruk, 

tapi semoga kisah kami ini dapat menjadi “early warning”
agar kita  bisa menerapkan pola pengobatan yg rasional.

Salam,
Dyah
*yg msh  nangis jg saat ngetik email ini



   


      

Kirim email ke