Sesudah perhelatan besar -
Yang tertinggal dari Forum Sosial Dunia Porto Alegre 2005
 
Yanuar Nugroho
Peneliti, PREST, the University of Manchester, Inggeris
[EMAIL PROTECTED]
 
 
Perhelatan itu baru saja usai. Forum Sosial Dunia (World Social Forum)
yang kelima diselenggarakan di Porto Alegre, Brasil (26-31 Jan 2005) 
dan
dihadiri oleh ribuan aktivis LSM dari seluruh dunia (termasuk belasan
dari Indonesia). Di perhelatan itu, 11 tema besar diusung dan digagas
dalam ratusan lokakarya dan seminar paralel. Intinya satu, 
mendengungkan
dan mendesakkan cita-cita "Another world is possible" - bahwa sebuah
dunia yang lain, yang lebih adil dan damai, itu mungkin.
 
Dengan berbagai turunannya dalam rupa forum-forum sosial di tingkat
regional dan bahkan lokal, FSD menjadi fenomena gerakan sosial
masyarakat sipil hari-hari ini. Di Indonesia sendiri, beberapa kelompok
tengah menggagas kemungkinan menyelenggarakan Forum Sosial Indonesia
(FSI). Tentu selalu ada pro dan kontra di kolong langit ini -dan 
gagasan
FSI bukanlah perkecualian. Namun mungkin baik jika saat ini, sesudah
perhelatan di Porto Alegre ini usai, kita memikirkan kembali soal-soal
alasan adanya (raison d'etre) forum-forum semacam ini. Kalau tidak, ia
hanya akan menjadi 'kecelakaan sejarah' gerakan sosial itu sendiri.
 
Alternatif
 
Susan George, seorang rujukan kondang dari Inggris, mencatat bahwa 
dalam
lima tahun terakhir ini forum-forum sosial telah berhasil mengubah
lanskap politik dunia (The Guardian, 15/10/04). Berawal dari Porto
Alegre, Brasil tahun 2000, FSD pertama-tama dan terutama ditujukan 
untuk
menantang gagasan neoliberal yang didoktrinkan melalui Forum Ekonomi
Dunia (FED) di Davos. Sejak itu, ide akan forum sosial ini 
beranak-pinak
dan berbagai forum sosial lokal dan regional bermunculan di berbagai
negara dan kawasan.
 
Namun, ibarat pertempuran yang diriuhkan dengan pekik perang melawan
neoliberal, dalam perjalanannya hingga FSD kelima ini nampaknya malah
pasukan neoliberal Davos cenderung terlupakan karena dianggap tidak
relevan dengan gagasan 'another world is possible' itu. Padahal, mereka
masih ada di sana. Modal, ideologi dan berbagai aturannya masih
menguasai dunia dan bahkan menciptakan kesenjangan sosial yang makin
besar, melawan demokrasi dan membawa seluruh penghuni planet ini ke
jurang kehancuran. Ideologi Davos telah menciptakan apa yang disebut
ekonom profetik Indonesia B. Herry-Priyono (2004) sebagai 'korpokrasi',
yaitu kontrol dan pembentukan hidup bersama kita oleh karakteristik
akumulasi laba dari korporasi-korporasi (raksasa dan transnasional) 
yang
kini kekuasaannya sudah melebihi negara (Basis, 06/04).
 
Begitu mengerikankah neoliberal ini? Sampai-sampai Professor Klaus
Schwab, pendiri dan ketua eksekutif FED, menutup pertemuan di Davos,
Swiss (26-30 Jan 2005) dengan mendesak dan mengingatkan agar para
pemimpin ekonomi dunia menjalankan "tanggung jawab pribadi, tanggung
jawab global dan tanggung jawab pada generasi selanjutnya.". Hanya
dengan itu, menurutnya, dunia ini bisa dipertahankan. Jelas tak ada 
yang
baru dengan apa yang diucapkan Prof. Klaus. Semua orang tahu itu. Tapi
bahwa itu diucapkan pendukung sejati neoliberal, jelas 'ada 
apa-apa'nya.
Karena, dalam ideologi neoliberal "satu-satunya tanggung jawab bisnis
adalah memupuk laba sebanyak-banyaknya", demikian sabda Friedman 
(2002),
sang guru ekonomi yang banyak dirujuk kapitalis modern saat ini.
 
Dalam Lugano Report (1999), dituturkan oleh Susan George bahwa kini
atmosfir pun dikorbankan demi keuntungan jangka pendek dari ekonomi
industri BBM; keragaman hayati global berkurang dengan kecepatan yang
belum pernah terjadi sebelumnya sejak enampuluh lima juta tahun yang
lalu. Pendeknya seluruh ekosistem dunia dalam bahaya kehancuran. Maka,
bahkan kapitalis yang paling cerdas pun harus menyadari bahwa akumulasi
laba tanpa tanggung jawab ini tidak bisa diteruskan. Namun, laporan
Lugano  itu mengatakan, ".tak ada manfaatnya meminta korporasi
transnasional mengurangi praktik itu - maka kita harus melawannya."
 
Kita -tahu bahwa 'globalisasi' adalah istilah yang diciptakan untuk
menyampaikan harapan tentang situasi dunia yang 'inklusif dan
terintegrasi secara ekonomi'. Tak ada yang salah dengan ide itu, tetapi
fakta bicara lain. Di ruang-waktu yang diremuk gagasan neoliberal ini,
'globalisasi' telah menjadi harapan semu yang justru berarti 
sebaliknya:
penolakan dan peminggiran ratusan juta orang yang hanya bisa sedikit
berkontribusi -atau malah tak bisa berkontribusi-pada produksi dan
konsumsi planet ini. Dan ini dilakukan dengan sangat efektif melalui
gagasan sederhana namun kejam: komodifikasi (artinya penjual-belian)
atas hampir semua hal.
 
Lima tahun terakhir ini kita menyaksikan bagaimana privatisasi, salah
satu pilar globalisasi, telah secara sistematis mengubah status kita
dari 'warga negara' (citizen) menjadi sekedar 'konsumen' (consumer)
dalam berbagai aspek hidup. Ambillah contoh air, jasa pendidikan, atau
jasa kesehatan. Dan lihatlah bagaimana komersialisasi lewat privatisasi
atas aspek-aspek ini telah merajam hidup banyak orang miskin yang tidak
punya akses terhadapnya. Laporan Badan Pembangunan Dunia PBB (2004)
mengatakan bahwa bagi lebih dari tiga milyar manusia di muka bumi ini,
tidak punya uang berarti tidak punya akses terhadap pangan, kesehatan,
pendidikan dan air - dan karenanya praktis tidak punya akses terhadap
hidup!
 
Kini kita bisa melihat mengapa forum-forum sosial sangat menentang
pandangan Davos tentang globalisasi. Tapi tantangan terhadap tentangan
ini juga sangat serius. Pertama, tentu para kamerad FSD tidak boleh
melupakan fakta bahwa punggawa neo-liberal masih ada di sana dan bahkan
kini menjadi lebih digdaya dari sebelumnya. Kedua, karena itu harus ada
strategi yang lebih baik untuk secara efektif memobilisasi gerakan ini
hingga kesetimbangan poros kekuatan itu sendiri berubah sebagai syarat
perlu mengubah tatanan dunia yang tak adil ini.
 
Strategi
 
Tak bisa disangkal, sejak Porto Alegre 2000 hingga 2005, forum-forum 
ini
berhasil menyediakan ruang bagi diskusi dan debat atas berbagai
pandangan anti neoliberal. Forum-forum ini telah memberi masukan
berharga bagi berbagai gerakan sosial dengan analisis yang tajam dan
usulan-usulan aksi. Dan dunia menyaksikan bahwa hari-hari ini, gerakan
anti privatisasi dan penghapusan utang, misalnya, telah meluas seluas
bola dunia. Kita mungkin masih ingat bagaimana jutaan orang
berdemonstrasi di seluruh penjuru bumi menentang perang AS atas Irak.
Jelas, kita semua tahu bahwa demonstrasi itu sendiri tak bisa
menghentikan perang, tetapi bahwa harian macam New York Times
menyebutnya sebagai "adidaya kedua" (the second super-power) 
(17/02/03),
itu adalah capaian tersendiri untuk sebuah gerakan yang baru berumur
lima tahun - jika kita hitung sejak 'perang' melawan WTO di Seattle,
November 1999.
 
Maka, pasca perhelatan di Porto Alegre ini, kita nampaknya perlu
menerapkan semangat, gairah dan kebulatan tekad yang sama atas
'peperangan' melawan para punggawa neoliberal itu. Masing-masing kita
harus punya daftar 'medan perang' itu, dimana kita punya segumpal
keyakinan kita akan 'menang'. Memperhatikan kinerja dunia saat ini
nampaknya daftar itu akan mencakup, misalnya, kontrol atas praktik
korporasi melalui audit sosial; akuntabilitas bisnis; redistribusi
kesejahteraan; penghapusan hutang negara-negara miskin; penolakan atas
rekayasa genetik makhluk hidup dan menarik keluar berbagai layanan 
dasar
seperti air dan kesehatan dari WTO dan GATS. Daftar ini masih akan
panjang - apalagi jika selain melawan watak 'akumulasi laba' korporasi
kita juga menghadapi sifat 'otoritarian represif' negara. Tetapi,  yang
terpenting adalah menentukan medan perang yang bisa kita menangkan. Ini
penting, karena resistensi dibangun atas kemenangan-kemenangan, 
walaupun
kecil.
 
Yang tidak kita perlukan adalah ritual-ritual yang kini menjadi jargon
kosong. Kita memang membutuhkan semacam platform untuk menentukan ke
arah mana kita bergerak (tanggungjawab ekologis, keadilan sosial, hak
asasi manusia, demokrasi, dll.) dan apa yang kita lawan (kemiskinan,
perang, rasisme, privatisasi serampangan, konsumerisme, dll.). Tapi,
pengulangan tema-tema ini jelas bukanlah fungsi utama forum-forum
sosial. Peran sebuah forum sosial seharusnya adalah untuk
mengidentifikasi komunitas civic atau kelompok-kelompok masyarakat 
sipil
(baik di level global, regional, atau lokal) yang bekerja dalam isu 
yang
serupa  dan menghubungkan mereka sebelum forum itu dimulai sehingga
mereka bisa menentukan agenda mereka sendiri dan, ketika akhirnya
bertemu di forum, tinggal menjalankannya.
 
Kita sudah melihat bagaimana banyak orang dari akademisi hingga 
politisi
dari hari ke hari makin yakin dan berani bilang, bahwa organisasi
masyarakat sipil (untuk tidak semata menyebut organisasi
'non-pemerintah', karena ada 'non-' yang lain, misalnya 'non-bisnis')
adalah salah satu aktor penting dalam menentukan kebijakan pembangunan.
Banyak universitas sudah membuka program studi tentang pembangunan
dengan paradigma yang lebih progresif. Banyak badan publik membuka 
pintu
dialog dengan berbagai organisasi masyarakat sipil. Makin banyak 
lulusan
perguruan tinggi yang bermutu yang secara sengaja memilih meniti karir
di 'jalur' organisasi masyarakat. Sebagai sebuah 'sektor kerja', dunia
organisasi masyarakat sipil sedang dan pasti akan terus berkembang.
 
Studi terkini menyebutkan bahwa sektor ini secara global bernilai
sekitar 1 triliun dollar dengan pekerja dan aktivis sejumlah 19 juta
orang (Sustainability.com, 2003). Tak hanya itu, indikator pembangunan
dunia menyebutkan bahwa organisasi masyarakat sipil di negara maju 
telah
menyalurkan hampir 10,5 milyar dollar hibah ke mitra-mitranya di
negara-negara berkembang tahun 2001. Ini wajar karena 83.6% organisasi
masyarakat sipil yang berorientasi internasional ada di negara maju
(World Development Indicator, 2003). Hal inilah yang harus dimanfaatkan
sebagai strategi untuk membuat aliansi-aliansi yang makin bermutu dan
produktif. Karena, tak bisa disangkal, soal kemandirian finansial
organisasi masyarakat di negara-negara berkembang masih sangat rendah.
Maka memang perlu 'inovasi manajerial dan strategik' yang lebih setara
dan progresif.
 
***
 
Semoga para aktivis (termasuk dari Indonesia) yang hadir di FSD kelima
kemarin ini menyadari arti keberadaan perhelatan itu sendiri sebagai
sebuah strategi. Lebih penting lagi, menyadari bahwa perjuangan
organisasi masyarakat butuh strategi yang lebih dinamis. Dalam
pengamatan saya yang terbatas, perhelatan di Porto Alegre ini berbeda
dengan FSD-FSD sebelumnya. Bedanya adalah pada keberanian untuk
mengurangi sebanyak mungkin sesi pleno yang biasanya penuh dengan
'umbaran jargon'. Lebih banyak konsentrasi dan energi difokuskan pada
seminar dan lokakarya, dan tentu ini baik untuk menyusun strategi
bersama.
 
Tentu saja, semoga forum sosial yang akan diadakan di Indonesia tahun
ini (kalau jadi) juga menggunakan strategi yang tidak hanya sama tapi
lebih dinamis. Karena, kita tahu setelah perhelatan ini usai, gairah
saja tak akan cukup.
 
(***)

 



JALESVEVA YAYAMAHE


Yahoo! Groups Sponsor
ADVERTISEMENT


Yahoo! Groups Links

Kirim email ke