Juni tahun lalu ketika buku ini terbit, saya langsung memesan 10 kopi.  Terus terang, saya tidak tahu, seperti apa tulisan Mas Agus Pakpahan ini.  Semuanya sungguh berawal dari rasa hormat saya pada pengabdian beliau kepada para petani, khususnya bagaimana beliau berhasil menggalang para petani tebu dalam menghadapi para mafia gula.  Perjuangan panjang yang melelahkan, yang terkristalkan dalam pembentukan APTRI... istilah yang beliau selalu dengungkan adalah meningkatkan kolektif bargaining para petani tersebut.
 
Collective bargaining, collective bargaining, collective bargaining... itu yang terus terngiang di telinga saya tipis ini...
 
Meskipun sampai hari ini, hampir setahun kemudian, saya belum juga selesai membaca buku yang sangat filosofis itu, setiap kali memberikan buku tersebut kepada sahabat yang saya anggap dapat membawakan misi buku itu, saya kembali memegang (sekarang kopi terakhir, karena 9 lainnya sudah diberikan) buku itu... dan kembali membaca kata pengantar dan halaman kulit belakang buku itu.  Itu pun sudah sangat membangkitkan kembali semangat bekerja saya.
 
Gak ingin berpanjang2 lagi, saya kutipkan satu paragraf kulit belakang tersebut:
 
'Ia menyatakan, bahwa petani adalah "kaki" yang membuat negeri ini tegak berdiri dan pertanian merupakan "jantung" kehidupan Indonesia.  Buku "Petani Menggugat" merupakan gugatan moral, etika dan sekaligus pula desakan petani agar Indonesia menempatkan petani dan pertanian sebagai persoalan negara, bukan sekedar persoalan sektoral'.
 
Itu saja.
Semoga demikian.
 
Salam dari Bogor.
Merdeka!!!!
 
Imam Soeseno
 
 
 
 


JALESVEVA YAYAMAHE



Yahoo! Groups Links

Kirim email ke