Jumat, 29 April 2005

PT Pelni 53 Tahun
Mencari Kiat untuk Bertahan

RASANYA tak ada lagi orang yang mau menanam modal di industri angkutan penumpang laut karena tidak lagi memberi celah keuntungan yang memadai. Hal itu terutama setelah terbukanya usaha angkutan penerbangan yang membuat tarifnya menjadi sangat murah.

WALAUPUN demikian, bisnis angkutan laut masih sangat menjanjikan, khususnya angkutan barang antarpulau jarak jauh. Terlebih setelah turunnya Instruksi Presiden Nomor 5 Tahun 2005 mengenai Pemberdayaan Industri Pelayaran Nasional menyangkut cabotage yang mulai menyingkirkan peran kapal-kapal berbendera asing.

Perang tarif di angkutan udara mampu membuat industri angkutan penumpang darat dan laut tidak hanya pingsan, tetapi juga sampai bergelimpangan, mati. Mahalnya harga bahan bakar minyak (BBM) untuk pesawat yang mengindikasikan kenaikan tarif Rp 75.000 per jam penerbangan tidak membuat tarif pesawat beranjak naik karena persaingan yang mulai tajam.

Sudah banyak perusahaan otobus, terutama jarak jauh antarpulau, yang mati atau mengurangi armadanya karena tak kuat bersaing dengan angkutan udara. Sama dengan kereta api yang harus memotong tarifnya hampir separuh untuk jarak Jakarta-Surabaya atau Jakarta- Yogyakarta pergi-pulang.

Kapal-kapal penumpang cepat, yang semula jadi pilihan banyak orang dalam perjalanan antarpulau, kini kursi-kursinya kosong. Hanya kapal penumpang penyeberangan yang jarak tempuhnya sangat dekat yang masih berjalan normal karena lebih berfungsi sebagai jembatan antarpulau.

Kelas-kelas utama kapal-kapal penumpang PT Pelni sudah sejak tiga tahun terakhir hampir tak pernah diisi penumpang. Semua kelas kosong pada trayek jarak jauh karena jangankan tarif kelas utama, tarif kelas ekonominya saja tak banyak beda dengan tarif angkutan udara, sementara masa perjalanan bisa 30 kali lebih lama.

Menurut catatan, jumlah penumpang yang diangkut BUMN ini paling tinggi terjadi pada tahun 2000, yang mencapai 8,6 juta orang. Angka ini menurun terus, terbalik dibandingkan dengan naik pesatnya penumpang pesawat, menjadi hanya 7,3 juta tahun 2001 dan menukik terus sampai tinggal 4,1 juta tahun 2004.

Pendapatannya pun menurun drastis walau kecepatan penurunan kerugiannya ditahan dengan berbagai penghematan. Tahun 2000, Pelni meraih pendapatan sebesar Rp 1,088 triliun dengan laba konsolidasi sampai Rp 54,5 miliar. Tahun 2001 pendapatan naik menjadi Rp 1,3 triliun, tetapi laba menurun menjadi Rp 24 miliar. Tahun berikutnya terus turun dan tahun 2004 dengan pendapatan Rp 1,287 triliun BUMN itu merugi sampai Rp 382 miliar. Jumlah pendapatan itu pun sudah termasuk PSO (public service obligation) dari pemerintah yang tahun lalu besarnya Rp 220 miliar.

Kemampuan menyetorkan dividen kepada negara juga menurun, sampai terhenti sama sekali sejak tahun 2003. Pajak- pajak yang dibayarkan makin merosot sejalan dengan makin sedikitnya penumpang dan dikuranginya jumlah kapal penumpang dari 30 menjadi 28, kapal barang dari 22 menjadi 4 kapal saja.

Pelni dalam ulang tahunnya yang ke-53 tanggal 28 April kemarin memang sedang dalam masalah besar. Masalah antara hidup dan mati, dalam masa kebimbangan apakah bisnis ini ditutup saja, alih usaha, atau diteruskan dengan semangat bertahan hidup (survival).

Jalan paling mudah, PT Pelni ditutup saja lalu pindah ke usaha lain sehingga negara tidak ikut menanggung rugi materi yang berkelanjutan serta menyuramkan nasib 5.607 karyawannya. Tidak hanya itu, bagaimana pula nasib masyarakat di pulau-pulau terpencil yang selama ini mengandalkan transportasi laut, khususnya dari singgahnya kapal-kapal Pelni?

Dari 141 pelabuhan di Indonesia, Pelni menyinggahi 80 pelabuhan dengan 1.300 ruas pelayaran, 99 persen di antaranya merupakan ruas yang tidak komersial. Tak ada pilihan bagi BUMN itu sebab ia menjadi salah satu perangkat negara untuk merekat persatuan bangsa yang penduduknya tersebar di 17.000 pulau.

Dan, menghubungi pulau- pulau kecil, membuat penduduknya tidak lagi terkucil dan terpencil, merupakan salah satu misi sosial politiknya. Misi inilah yang kalau "diuangkan" tak akan membuat BUMN itu selalu mendapat cap perusahaan yang terus-terusan merugi.

JIKA dilihat hasil riset Institut Teknologi Surabaya belum lama ini, menurut catatan Direktur Utama PT Pelni Isnoor Haryanto, singgahnya kapal- kapal Pelni ikut menumbuhkan ekonomi masyarakat setempat. Ini berarti, jika kapal Pelni tidak masuk lagi, pertumbuhan ekonomi masyarakat pulau-pulau terpencil itu akan tersendat, bahkan terhenti.

Apalagi kebanyakan pulau itu tidak pernah disinggahi kapal lain dan Pelni merupakan satu-satunya perusahaan pelayaran yang menyinggahinya. Jelas, jika perusahaan pelayaran swasta tak mau meliriknya, pasti ruas atau pelabuhan itu tidak ekonomis.

Tak ada satu perusahaan pun yang mau melayari kawasan Pulau Tujuh di Riau sebab memang tidak menguntungkan. Pelni, sesuai dengan misi sosial politisnya, menyinggahi Blinyu, Kijang, Letung, Tarempa, Natuna, Midai, Serasan, dan Sampit.

Sama kondisinya dengan pulau-pulau terpencil di Sulawesi Utara, misalnya Tahuna, Miangas, dan Lirung, tetapi Pelni punya pesaing kapal-kapal kayu pelayaran rakyat. Di kawasan ini bahkan Pelni tidak bisa bersaing karena hanya singgah paling cepat dua minggu sekali, sementara kapal kayu ada hampir tiap hari.

Faktor lain, kapal kayu berangkat dari pelabuhan Kota Manado, tetapi kapal Pelni berangkat dari Bitung, sekitar 50 kilometer dari Manado. Besaran tarif kapal Pelni-terutama untuk kelas ekonomi-yang ditetapkan pemerintah sehingga lebih murah dibandingkan dengan kapal-kapal kayu tadi tidak juga membuatnya lalu jadi dambaan masyarakat.

Tidak cuma di Sulawesi Utara atau di Natuna Pelni tidak mampu bersaing, meskipun data menunjukkan bahwa rute pendek merupakan rute padat penumpang. Catatan Pelni dari tahun ke tahun menyebutkan, sekitar 72 persen penumpang Pelni naik di rute jarak sangat dekat mulai dari 42 mil hingga 615 mil serta 21 persen lainnya di rute dekat dengan jarak di bawah 1.188 mil.

Sisanya di rute menengah, jauh, dan sangat jauh. Tahun 2000, penumpang untuk rute sangat jauh, antara 2.334 mil sampai 2.907 mil, mencapai 402 orang, tahun 2003 tercatat tinggal 113 orang dan tahun 2004 hanya ada 93 orang.

Rute sangat dekat inilah yang membuat kapal-kapal Pelni masih bisa terisi 40-50 persen penumpang karena tak akan tersaingi oleh pesawat udara. Misalnya antara Namlea atau Ternate ke Ambon, atau Tanjung Priok ke Midai. Menukik tajam dibandingkan dengan tiga tahun lalu ketika kapal-kapal Pelni terisi sampai 150 persen, bahkan pernah sampai 500 persen dalam masa kerusuhan Maluku.

Padahal untuk dapat impas, pengisian kapal tipe 2.000 penumpang harus 90 persen, tipe 1.000 penumpang 115 persen, dan tipe 500 penumpang harus terisi sedikitnya 150 persen. Masalahnya, tarif yang dihitung dari biaya operasi menjadi sangat murah, itu pun kalau ditekan lagi belum tentu memindahkan penumpang udara ke laut sebab masih relatif tinggi.

DARI seluruh komponen biaya kapal, sekitar 42 persen merupakan biaya BBM, yang porsinya makin tinggi jika harga BBM naik lagi mengikuti harga di dunia. Komponen biaya ini, selain juga biaya pelabuhan, penyusutan, dan biaya asuransi, tidak bisa dikendalikan dan ditekan sebab diatur oleh pihak lain. Terkadang ada biaya yang "tak masuk akal" ketika kapal yang mampu manuver sendiri dengan adanya mesin samping tetap harus menggunakan jasa kapal tunda untuk sandar.

Beda dengan biaya anak buah kapal, pemeliharaan, pemasaran, dan biaya penumpang yang dapat dikendalikan manajemen sehingga bisa ditekan. Risikonya, jumlah pelayaran pun dikurangi, rute ditata kembali agar lebih efisien tanpa menghapus pelabuhan-pelabuhan tujuan yang tidak menguntungkan.

Dari 30 kapal penumpangnya, dua di antaranya sudah dikeluarkan dari daftar kapalnya. KM Kambuna sejak tahun lalu diserahkan kepada TNI AL, sementara KM Wilis yang berkapasitas 500 penumpang hari- hari ini sudah memulai pelayarannya di Senegal, Afrika barat.

KM Wilis dicarter Pemerintah Senegal selama 1,5 tahun untuk angkutan dalam negerinya, dan PT Pelni mendapat sewa yang lumayan besar daripada dioperasikan di dalam negeri. Dengan awak orang Maroko, Pelni mempertahankan empat awak kapal, yaitu nakhoda, mualim 1, kepala kamar mesin, dan ahli listrik.

Namun, kebijakan manajemen yang menghapuskan 18 kapal barangnya patut disayangkan, terutama ketika angkutan barang mulai menggeliat lagi dengan adanya inpres tadi. Di sisi lain, manajemen mengakui bahwa angkutan barang juga memiliki potensi pasar yang bagus sehingga diupayakan memodifikasi kapal-kapal penumpangnya menjadi kapal 3 in 1, yaitu untuk angkutan penumpang, kontainer, dan kendaraan.

Dengan modifikasi yang tiap kapal membutuhkan sekitar Rp 27 miliar itu, sebagian dek penumpang akan dijadikan tempat kendaraan dan kontainer. Keuntungannya, selama kapasitas angkut kontainer tidak sampai 100 buah, kapal-kapal tadi tetap mendapat prioritas sandar di dermaga penumpang. Beda dengan kapal barang yang selalu menunggu urutan yang bisa berhari-hari sebelum mendapat tempat sandar.

Kabarnya, Pelni sudah mendapat investor untuk modifikasi itu dan bulan Mei modifikasi dapat dilakukan untuk KM Ciremai. Dengan cara ini, manajemen yakin Pelni akan meraih pendapatan yang lebih baik di tahun-tahun mendatang melihat kenyataan bahwa kapal-kapal ro-ro (roll on-roll off) ke jurusan timur selalu dipenuhi angkutan kendaraan.

Namun, rencana memanfaatkan kapal-kapal Pelni untuk wisata di Sulawesi, Celebes Cruise, belum dilanjutkan walau kapal sudah dicat putih. Demikian pula kerja sama dengan Lion Air yang belum ada kabar berita kelanjutannya.

Menekan biaya dengan memanfaatkan bahan bakar alternatif tampaknya harus menjadi pilihan karena makin mahalnya solar. Ini sejalan dengan kecenderungan dunia yang mulai menggunakan gas alam cair (liquefied natural gas/LNG).

Kapal-kapal tanker LNG dari Timur Tengah ke Jepang, misalnya, dalam perjalanan berangkat menggunakan LNG yang diambil dari lambungnya sendiri dan ketika pulang menggunakan solar. Modifikasi demikian sudah dilakukan banyak perusahaan untuk kapal- kapal mereka, setidaknya dengan mesin dual mode, bisa menggunakan solar atau gas, dengan memasang konverter.

Tangki gas tentu saja tak bisa dicampur isinya dengan solar sehingga untuk kapal-kapal dual ini perlu ada tangki gas tersendiri. Saat ini banyak kontainer gas yang berupa tabung besar dalam satu rangka yang dapat dipindah-pindahkan.

Penggunaan bahan bakar gas, selain menghemat biaya sampai 40 persen dibandingkan dengan solar, juga bersih sehingga tidak mengotori lingkungan. Biaya pengadaan peralatan, antara lain, berupa konverter juga tidak terlalu mahal ketimbang hasil yang didapatkan beberapa tahun ke depan.

PT Pelni tak punya pilihan lain jika ingin tetap mempertahankan bisnisnya, juga jika pemerintah tidak ingin kehilangan perangkat sosial politiknya. Peran tanggap darurat seperti pengerahan kapal ke Aceh dan Nias sudah ditunjukkan Pelni sebagai perangkat pemerintah beberapa waktu lalu.

Menggenjot pendapatan dengan menghapus diskon tidak terlalu populer, tetapi menyediakan kapal yang juga mengangkut barang dan kontainer merupakan pilihan jitu. Namun, membuat perusahaan efisien dengan menekan biaya, antara lain biaya BBM, akan merupakan langkah strategis.

Tanpa upaya-upaya itu, PT Pelni tak akan bertahan lama.

Moch S Hendrowijono Wartawan, Berdomisili di Cisarua, Bandung



JALESVEVA YAYAMAHE



Yahoo! Groups Links

Kirim email ke