|
Yth.
Pak Budiman dan Pak Jonson
Rasanya kalau keprihatinan kita sangat
berdasar; kalau kita terlambat untuk sesegera mungkin mengantisipasi
ketertinggalan pelaut Indonesia, saya sudah berkunjung ke negara yang banyak
memakai jasa pelaut semisal Yunani.
Dari beberapa informasi yang saya peroleh
langsung dari pemilik atau ship manager; mengatakan bahwa kekurang
percayaan pelaut Indonesia atas diri mereka (English Technical
Knowledge) adalah salah satu penyebab dari berpindahnya pengguna jasa
pelaut Indonesia; dan juga kesulitan pelaut Indonesia untuk memperoleh visa
Amerika setelah 11/9 attack.
Yang sebelum kejadian dimaksud; kita bisa
dengan mudah memperoleh visa Amerika.
Ada beberapa kapal yang langsung mengganti
pelaut Indonesia; semisal pelaut2 Philipna, Ukraina, Georgia, Rumania, Bulgaria;
India, Pakistan dllnya.
Memang benar; bilamana senior officer datang
dari Greek/ Yunani; akan sangat membantu sekali; karena pengalaman kami, senior
officer dari Greek/ Yunani sangat menyukai pelaut2 Indonesia; cuma sayang sekali
pada saat kesempatan itu masih ada di tangan kita; tidak kita manfaatkan secara
positif dan terarah.
Sudah barang tentu; bilamana senior officer
datang dari negara seperti Ukraina; Georgia dll; mereka pun mempunyai
kepentingan nasional mereka; yaitu mereka akan berusaha sekuat mereka agar
pelaut2nya juga bisa bekerja di atas kapal.
Ini adalah tantangan kita bersama untuk mencari
solusi terbaik demi kalangsungan pelaut Indonesia bekerja di atas kapal
berbendera asing.
Kita bukan mencari kambing hitam, akan tetapi
ini suatu fakta di lapangan, bahwa pelaut kita harus segera meningkatkan diri;
agar punya PD yang bisa diandalkan di pasar internasional.
Pak Budiman dan Pak Jonson; saya sangat
sependapat dengan input dari bapak2 demi kemajuan pelaut
Indonesia, mari kita bersama-sama untuk mencari formula yang baik demi
kemajuan pelaut Indonesia.
Pak Budiman, alhamdulillah stand-by
crew Angkatan I telah menyeselesaikan MARINE ENGLISH; ini semua di
laksanakan demi penambahan PD dan Technical English Knowledge para pelaut yang
kami berangkatkan di kapal-kapal berbendera asing.
Mudah-mudahan ME yang kami laksanakan ini bisa
memacu pelaut Indonesia untuk berbenah diri dan mengembangkan kemampuan diri
yang ada.
Wassalam,
haidir al'afanie
----- Original Message -----
Sent: Monday, February 20, 2006 11:27
AM
Subject: [pelaut] Keprihatinan "KITA"
thdp kualitas PELAUT-RI
Dear Pak Budiman dan rekan-rekan pelaut serta para praktisi / pemerhati
Pelaut.
Tergerak hati saya untuk urun rembug, setelah membaca kata keprihatinan
yang disampaikan oleh Pak Budiman yang berbudi luhur memikirkan "pelaut" yang
luput dari perhatian banyak pihak.
Saya sendiri termasuk kelompok "ora mudeng" karena saya baru enam tahun
terakhir bergelut dengan urusan pelaut, sebelumnya selama 14tahun saya bekerja
di perusahaan penerbangan Nasional yang notabene beda jauh dengan bidang yang
saya geluti sekarang ini.
Beberapa perbedaan yang menyolok adalah :
TECHNICAL SKILL, Semua Pilot yang memiliki license / lulus sesuai
grading-nya, dipastikan bisa menerbangkan pesawat sesuai standar international
yang berlaku, sedangkan Pelaut meskipun memiliki license yang sama technical
skill-nya tidak standar. Contoh paling konkrit : sama-sama ANT-1 ada yang
trampil oleh gerak armada, tetapi banyak juga yang seluruh badannya
"bergetar"! saat memegang tanggungjawab sebagai Nahkoda ditambah lagi
kemampuan memimpin (leadership)-nya banyak yang ala Juragan / Mandor.
Sedangkan sesuai dengan tuntutan zaman tuntutan pekerjaan sebagai seorang
"Master" juga dituntut memiliki kemampuan me-manajemen-i (Managerial) kapal
sesuai zamannya. rasanya sedih kalo pada saat proses recruitment ada Master
yang GATEK, nggak ngerti Microsoft Office, bahasa inggrisnyapun dibawah
rata-rata........
MANAGERIAL SKILL, duh............ tuntutan yang satu ini sulit sekali
kami dapatkan, berpengalaman sebagai Master tidak lantas memiliki Managerial
Skill yang cukup untuk me-manage seluruh business process di atas kapal.
LEADERSHIP, masih banyak perwira kita yang memimpin mengandalkan
Kekuasaan (Power), dan bukan karena Leadership style sesuai tuntutan
zaman.
Saran untuk menyempurnakan beberapa "ketidak sempurna'an" tersebut,
disarankan para Perwira berusaha menambah ketrampilan dan pengetahuan mel!
alui lembaga-lembaga pendidikan MANAGEMENT SUMBER DAYA. Menurut hemat saya
belum cukup dengan apa yang sudah dimiliki melalui pemenuhan STCW '95 saja,
perlu ilmu tambahan untuk kesempurna'an diri, meskipun ada pepatah No body
perfect !!! tapi apa salahnya kita mencoba improvisasi untuk meningkatkan
"VALUE" diri kita ? agar memiliki nilai jual yang tinggi atau setidak-tidaknya
setara dengan nilai / hasil survey BIMCO / ITF ?!!
Best regards,
-Jon-
YBBN <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Salam
Pelaut,
Dari hasil survey diatas, masih
terlihat bahwa secara umum pasar akan kekurangan tenaga Perwira dan
kelebihan tenaga bawahan (Support).
Dari pengalaman dilapangan,
khususnya di Indonesia hal ini
sudah terasa. Iklan lowongan kerja banyak mencari Perwira, terutama
Management Level. Ini adalah kesempatan bagi semua Pelaut
Indonesia
terutama Perwira agar jangan terlena dan terus mempersiapkan diri. Saya
turut senang sekarang sudah banyak Perwira termasuk Perwira Mesin yang sudah
banyak mengenal computer alias tidak gaptek lagi. Ini adalah hasil nyata
dari perkembangan dan antisipasi 10 tahun terakhir. Kekurangan mendasar
menurut saya adalah kurangnya rasa PERCAYA DIRI. Contoh kecil, dari
pengalaman penerimaan cadet tahun lalu, mereka yang hasil tes bahasa
Inggrisnya bagus ternyata gagal karena ketika tatap muka dengan orang asing
langsung blank. Mari kita pelajari fenomena! ini dan dengan segala kebesaran
hati menerimanya sebagai fakta dan bagaimana memperbaikinya. Saya yang
kebetulan juga didaulat untuk aktip dibidang Peningkatan Mutu Pendidikan
Pelaut Swasta, merasa sangat berkepentingan.
Baru baru ini, bekas cadet saya
yang tidak diragukan kemampuannya, menolak untuk menjadi Mualim I. Belum
lagi menyikapi surat resmi
dari Jepang yang mempertanyakan hal yang sama kepada pemegang ANT I yang
belum siap jadi Nakhoda. Ini tentunya tidak bersifat umum. Tapi marilah kita
bersama sama menanggulangi masalah ini. Paling tidak sumbang saran positip
dan berdiskusi secara santun. Sudah lelah rasanya kita (Pelaut) selama ini
tidak ada yang memperhatikan, yang berkepentinganp! un umumnya tidak
mengetahui permasalahan Pelaut. Ya jelas ora mudeng
Masih panjang cerita ini,
silahkan disambung.
Salam
Budiman
Brings words and photos together (easily) with PhotoMail
- it's free and works with Yahoo! Mail.
JALESVEVA YAYAMAHE
SPONSORED LINKS
YAHOO! GROUPS LINKS
|