TO. Capt.Darul M.

Capt,saya seorang pelaut yang masih banyak memerlukan pelajaran mengenai 
jurusan saya di bagian deck,
kalau bisa saya sarankan capt,di dalam situs indonesianseafarer di cantumkan 
pelajaran dan buku2 tentang pelayarn baik deck atau mesin dengan demikian kita 
semua pelaut indonesia yang ada dimanapun dapat memesan buku yang kita mau 
melalui situs GPI/ISS,
dengan mentransfer sejumlah uang yg telah di tentukan oleh management GPI/ISS.
Saran saya ini dapat membantu GPI/ISS dalam pencarian dana juga.


Sekian dan terima kasih.


Best Regards


Muhammad Fadly



----- Pesan Asli ----
Dari: Darul M <[EMAIL PROTECTED]>
Kepada: [email protected]
Terkirim: Senin, 18 Agustus, 2008 11:27:46
Topik: [pelaut] Menyiapkan diri -----tanya saja - Bawahan nggak diperhatikan ?


Om Mod.
 
Saya mau melihat dari sudut marketing, boleh kan om? 
Marilah kita lihat sejenak kesiapan pelaut Indonesia dalam sudut
pandang marketing (pemasaran). Kalau kita mau menjual produk, maka produk kita
harus mempunyai nilai lebih dari produk lain. Kalau tidak lebih, tapi mempunyai
kelabihan khusus yang tidak dipunyai oleh produk lain. Ini dalam ilmu marketing
disebut sebagai atribut.
 
Misalnya, produk kita adalah roti, coba lihat, donat bisa
menciptakan roti yang bolong, seperti ban mobil. Sehingga kelihatan lain dari
yang lain. Pada hal itu kan adalah roti goreng juga.
 
Sebelumnya perlu diketahui adalah tentang apa itu produk? Produk
adalah sesuatu yang dideliver (diserahkan) kepada konsumen, dimana si pemakai
produk tersebut mendapat kan manfaat terhadap produk yang dibelinya. Produk ada
yang nyata seperti ballpoint, pensil dll. Ada juga produk yang berupa jasa,
yang tidak dapat dilihat, seperti misalnya jasa transportasi (tempat duduk di
bus, kereta api atau pesawat), jasa perlindungan berupa asuransi atau juga body
guard. Jasa tenaga kerja, dimana produknya berupa jasa mengerjakan sesuatu.
 
Selanjutnya tenaga kerja, sebetulnya itu kan juga berupa produk.
Yaitu produk jasa yang bersifat tenaga kerja. Jadi kalau kita menjualnya, sudah
barang tentu jelas apa yang kita akan deliver kepada sipemakai? Seberapa tinggi
kualitas yang kita dapat deliver? Apa yang dapat kita deliver yang melebihi
dari standar minimum yang ada. Kelebihan inilah yang disebut atribut tadi.
 
Banyak orang Indonesia, sewaktu mencari kerja, bila ditanya bisa
mengerjakan apa? Maka akan dijawab semua bisa, pada hal dia semua pekerjaan
tidak bisa dilakukan dengan standar minimumnya saja. Mencari kerja seharusnya
menetukan dulu apa yang dapat dikerjakan dan hal tersebut mempunyai bukti dan
kalau dapat sertifikat.
 
Ada yang bisa mencapai standar minimum dan bahkan melebihinya,
tapi tidak mempunyai sertifikat yang sesuai keterampilannya tersebut. Hal yang
begini jadi sulit menembus proses seleksi administrasi. Seleksi administrasi
saja sudah tidak tembus, tidak mungkin lagi untuk mengikuti proses selanjutnya.
 
Misal seorang yang melamar sebagai tukang las, apa memang bisa
mengelas? Apa ada sertifikat las? Mempunyai sertifikat keselamatan kerja atau
nggak? Dan banyak lagi, atribut lainnya.
 
Demikian juga untuk pelaut, misalnya seorang A/B apa sudah
mempunyai keterampilan minimum? Apa sudah mempunyai sertifikat yang sesuai
(STCW)? Apa keterampilan yang dia miliki sesuai dengan sertifikat yang dipegang
(BST, Watchkeeping) ? Dua yang terkhir ini minimum lho.
 
Sekarang BST, apa saja isinya? Apa memang sudah dikuasai dengan
baik? Isinya kan ada 4 atau 5 katagori (lupa tolong perbaiki jika salah, sudah
20 tahun didarat soalnya), yaitu: Menyelamatkan diri dilaut, alat keselamatan, 
fire
knowledge dan firefighting, relationship on board.
 
Kalau 3 yang awal sudah banyak dibahas dan diketahui dan bisa
dipraktekan sebelum kekapal, tapi yang terakhir ini sangat diperlukan, sebab 
banyak
bagi yang baru, terutama kapal asing, akan terjadi nanti “culture shock”
(kegamangan kebudayaan). Dimana dikapal akan bertemu bermacam budaya dari
bermacam negara. Bermacam daerah saja bisa-bisa juga mengalami culture shock
ini. Apalagi bermacam negara, bangsa dan agama yang kelakuannya juga kadang
beraneka ragamnya. Standard hak asasi manusianya juga bermacam. Coba bayangkan,
jika berkomunikasi juga tidak sanggup atau kurang lancar. Sangat diperparah
lagi kalau alat komunikasi utama saja tidak dikuasai, yaitu “Bahasa
Inggris”. Bagaimana sanggup mengatasi culture shock ini dengan “bisu”
alias tidak dapat berbicara dalam bahas Inggris.
 
Sekarang coba bertanya kepada diri sendiri, coba mengukur diri
sendiri, Apakah saya sudah menyiapkan diri dengan baik, sesuai standard yang
dimintakan oleh STCW? Apakah saya sudah berusaha dengan sekuat tenaga untuk
memperbaiki kemampuan diri saya?
 
Dalam suatu pertanyaan sesudah memukul gong 8 kali pada jam
08:08:08 tanggal 08-08-08 (persemian GPI): Kenapa pelaut Indonesia dilecehkan
diluar negari? Jawabannya adalah hal yang diatas tersebut, yaitu penyiapan
diri, sebenar-benarnya siap. Dalam arti siap melakukan pekerjaan dengan benar
dan melebihi yang diinginkan oleh pengguna jasa tenaga kerja tsb. Serta dapat
menunjukan sertifikat yang sesuai dan dikeluarkan oleh institusi yang mempunyai
standard sesuai STCW dan bersertifikat pula.
 
Jikalau suluruh komponen yang berhubungan dengan kepelautan ini
telah melebihi standar minimumnya, niscaya penghargaan terhadap pelaut tersebut
akan meningkat. Tugas kita bersamalah untuk memperjuang harkat dan martabat
pelaut Indonesia ini. Kalau kita bersam kita pasti bisa.
 
Salam
Darul
http://7samudra. wordpress. com
 
From:[EMAIL PROTECTED] com
[mailto:pelaut@ yahoogroups. com] On Behalf Of bbudiman
Sent: 18 Agustus 2008 8:08
To: [EMAIL PROTECTED] com
Subject: [SPAM][pelaut] Re: tanya saja - Bawahan nggak diperhatikan ?
 
Mungkin cuma miskom aja ya. Tapi kira kira
dalam hal apa ya kurang
diperhatikannya.

1. Lowongan kerja tentunya sesuai dengan keperluan masing masing
perusahaan. Saya kebetulan nyari OILER dengan Visa Amerika sampai
sekarang belum dapat. Beberapa hari lalu saya lihat lowongan yang
nyari AB dan Oiler. Kalau kebetulan banyaknya perwira ya karena memang
diseluruh dunia yang kurang perwira. 

2. Mungkin sekarang masalahnya bagaimana bawahan bisa bersaing
diantara rekan rekannya yang lain.

a. Kemampuan bahasa Inggris. Khusus untuk hal ini, mereka yg ingin
ditest kemampuan bahasa Inggrisnya dgn Marlin English test bisa datang
ke kantor pt tenaga baru nuansa persada (tlp 021-4754578/ 9). lihat
situs kami di www.tbnp.co. id SEMUANYA GRATIS

b. Tambahan keterampilan sesuai permintaan. Untuk offshore banyak yg
minta sudah ada BOSIET/HUET. Apakah ini perlu diambil atau nungguin
disekolahkan. Kalau sekolah sendiri lumayan mahal karena sekitar 4,5 juta.

c. COR Flag state lain. Terkadang ada perusahaan yang maunya Pelaut
yang sudah punya Panama atau Liberia dll. Kembali lagi, mau nunggu
dibuatin perusahaan atau mau buat sendiri. Cukup mahala. Untuk Panama
bagi Ratings kapal cargo sekitar usd200an.

Mungkin ada tambahan lain. Silahkan sharing yang positip agar Pelaut
Indonesia tambah jaya.

Intinya, saya rasa tidak ada yang membedakan bawahan dan
atasan/perwira. Semua penting. Hanya masalah kesempatan saja. 

Salam saya untuk semua.
Bang Momod

--- In [EMAIL PROTECTED] com,
"dadse_skn" <[EMAIL PROTECTED] .> wrote:
>
> 
> SELAMAT ULANG TAHUN NEGRIKU INDONESIA TERCINTA
> 
> SEKIAN BANYAK INFORMASI MENGENAI LOWONGAN PELAUT DI MILIS INI, 
> TAPI JARANG YANG MEMBERITAKAN BAWAHAN ALIAS ABK. SAYA MOHON KPD PARA 
> PRAWIRO-PRAWIRO SUPAYA IKUT MEMPERHATIKAN NASIB PELAUT BAWAHAN AGAR
> SEMUA PELAUT INDONESIA JAYA DI SEGALA JABATAN.
> 
> TERIMA KASIH

    


      
___________________________________________________________________________
Yahoo! Toolbar kini dilengkapi dengan Search Assist. Download sekarang juga.
http://id.toolbar.yahoo.com/

Kirim email ke