Buat rekan-rekan yang baca postingan saya dan mengomentari bahwa saya
melecehkan kaum ABK, tolong baca sekali dengan teliti lagi postingan saya. Saya
tidak pernah melecehkan kaum ABK yang merupakan kasta saya sendiri, dan saya
tidak pernah jadi perwira alias officer. Usia saya saat ini sudah 72 tahun,
malang melintang di dunia pelayaran sejak tahun 1957 di Koninklijke Paketvaart
Maatschapij (KPM) sebagai kelasi, panjarwala, jurumudi, serang. Waktu KPM
dilikuidasi dan dinasionalisasi, pindah ke PELNI, ketika PELNI dimiliterisasi
karena campaign Trikora merebut Irian Barat dan Dwikora ganyang Malaysia saya
ikutan berseragam abu2 ALRI dan jagain senapan mesin 12,7 mm yang dilas ke
platform di atas anjungan. Sekali lagi saya tidak pernah jadi officer. Tahun
1969 pernah ikut kursus di KUTIP di Melawai, tapi jalur saya memang nasibnya
tidak untuk jadi officer, ya tidak jadilah. Que sera sera !.
Cuma anak saya yang nomor 3 rupanya berbakat jadi officer, dia lulusan Teknika
PLAP waktu masih di Ancol, Alhamdullilah sekarang masih berlayar di perusahaan
asing.
Seorang kopral bisa jadi sangat paham menembakkan senapan mesin,tetapi seorang
kolonel tentu lebih paham memenangkan pertempuran (how to win the battle), dan
seorang jenderal pasti lebih mengerti memenangkan perang (how to win the war).
Ini bukan masalah diskriminasi kasta profesi atau feodalisme, tapi kenyataannya
memang demikian, semua ada jalurnya.
Captain2 ANT-I belum tentu semahir saya dalam tali temali, dan waktu di Tanjung
Harapan captain sendiri sudah muntah kuning saya masih tegar, tetapi anyhow
seorang captain sejak masih kadet di AIP sudah dilatih untuk menjadi leader,
ini yang membedakan dengan seorang crew ABK.
Adalah kenyataan yang tidak bisa dipungkiri bahwa pimpinan KPI yang mantan
oiler ini samasekali tidak punya pamor untuk berunjuk gigi keluar. Cuma jago
kandang, to hit inside, ngegebrak2 para anggota supaya rajin bayar iuran tapi
sudah itu almost zero.
Anak saya dulu rajin bayar iuran KPI hampir 10 tahun, tapi sekarang tidak lagi,
tanda keanggotaan KPInya pun sudah dilemparnya ke tong sampah karena ia bilang
samasekali tiada manfaatnya.
Pimpinan KPI yang dulu2 masih berpamor, ketuanya yang pertama Captain Kojongian
(alm.) ; nakhoda Pelayaran Besar ex KPM juga, lalu Letkol CAM Sudiono ; ahli
mesin pelayaran niaga yang juga Pamen dinas Pelayaran Angkatan Darat (PELAD),
kemudian ada Pak Jen Haryantho (alm.) markonis Djakarta Lloyd yang juga
purnawirawan Kapten TNI-AD dari CHB (corps perhubungan/komunikasi-elektronika).
Tahun 1970an saya kalau kapal lagi sandar di Priok, saya sering malang
melintang main ke kantor KPI (waktu itu namanya masih PPI / Persatuan Pelaut
Indonesia), kantornya di dalam kompleks AIP, Gunung Sahari Ancol.
Mengenai figur pimpinan KPI yang sekarang, anak saya cuma berkomentar pendek :
"Petruk jadi raja, rumongso biso nanging ora biso rumongso !" (merasa bisa tapi
tidak bisa merasa).
Cuma titelnya saja sekarang keren betul "Presiden Kesatuan Pelaut Indonesia" !,
masih betah to mas ? ora lengser keprabon mandheg pandhito ?.
------------------------------------
1. Moderator tidak bertanggung jawab atas kebenaran isi dan/atau identitas
asli pengirim berita.
2. ATTACHMENT akan dibanned, krmkan ke pelaut-owner atau upload ke FILE.
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/pelaut/
<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional
<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/pelaut/join
(Yahoo! ID required)
<*> To change settings via email:
[email protected]
[email protected]
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[email protected]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/