Nice comment.., I'm really like it...
--- On Sun, 10/10/10, almajusi999 <[email protected]> wrote: From: almajusi999 <[email protected]> Subject: [pelaut] Masa depan Kesatuan Pelaut Indonesia To: [email protected] Date: Sunday, October 10, 2010, 3:01 AM Buat rekan-rekan yang baca postingan saya dan mengomentari bahwa saya melecehkan kaum ABK, tolong baca sekali dengan teliti lagi postingan saya. Saya tidak pernah melecehkan kaum ABK yang merupakan kasta saya sendiri, dan saya tidak pernah jadi perwira alias officer. Usia saya saat ini sudah 72 tahun, malang melintang di dunia pelayaran sejak tahun 1957 di Koninklijke Paketvaart Maatschapij (KPM) sebagai kelasi, panjarwala, jurumudi, serang. Waktu KPM dilikuidasi dan dinasionalisasi, pindah ke PELNI, ketika PELNI dimiliterisasi karena campaign Trikora merebut Irian Barat dan Dwikora ganyang Malaysia saya ikutan berseragam abu2 ALRI dan jagain senapan mesin 12,7 mm yang dilas ke platform di atas anjungan. Sekali lagi saya tidak pernah jadi officer. Tahun 1969 pernah ikut kursus di KUTIP di Melawai, tapi jalur saya memang nasibnya tidak untuk jadi officer, ya tidak jadilah. Que sera sera !. Cuma anak saya yang nomor 3 rupanya berbakat jadi officer, dia lulusan Teknika PLAP waktu masih di Ancol, Alhamdullilah sekarang masih berlayar di perusahaan asing. Seorang kopral bisa jadi sangat paham menembakkan senapan mesin,tetapi seorang kolonel tentu lebih paham memenangkan pertempuran (how to win the battle), dan seorang jenderal pasti lebih mengerti memenangkan perang (how to win the war). Ini bukan masalah diskriminasi kasta profesi atau feodalisme, tapi kenyataannya memang demikian, semua ada jalurnya. Captain2 ANT-I belum tentu semahir saya dalam tali temali, dan waktu di Tanjung Harapan captain sendiri sudah muntah kuning saya masih tegar, tetapi anyhow seorang captain sejak masih kadet di AIP sudah dilatih untuk menjadi leader, ini yang membedakan dengan seorang crew ABK. Adalah kenyataan yang tidak bisa dipungkiri bahwa pimpinan KPI yang mantan oiler ini samasekali tidak punya pamor untuk berunjuk gigi keluar. Cuma jago kandang, to hit inside, ngegebrak2 para anggota supaya rajin bayar iuran tapi sudah itu almost zero. Anak saya dulu rajin bayar iuran KPI hampir 10 tahun, tapi sekarang tidak lagi, tanda keanggotaan KPInya pun sudah dilemparnya ke tong sampah karena ia bilang samasekali tiada manfaatnya. Pimpinan KPI yang dulu2 masih berpamor, ketuanya yang pertama Captain Kojongian (alm.) ; nakhoda Pelayaran Besar ex KPM juga, lalu Letkol CAM Sudiono ; ahli mesin pelayaran niaga yang juga Pamen dinas Pelayaran Angkatan Darat (PELAD), kemudian ada Pak Jen Haryantho (alm.) markonis Djakarta Lloyd yang juga purnawirawan Kapten TNI-AD dari CHB (corps perhubungan/komunikasi-elektronika). Tahun 1970an saya kalau kapal lagi sandar di Priok, saya sering malang melintang main ke kantor KPI (waktu itu namanya masih PPI / Persatuan Pelaut Indonesia), kantornya di dalam kompleks AIP, Gunung Sahari Ancol. Mengenai figur pimpinan KPI yang sekarang, anak saya cuma berkomentar pendek : "Petruk jadi raja, rumongso biso nanging ora biso rumongso !" (merasa bisa tapi tidak bisa merasa). Cuma titelnya saja sekarang keren betul "Presiden Kesatuan Pelaut Indonesia" !, masih betah to mas ? ora lengser keprabon mandheg pandhito ?. [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------------------ 1. Moderator tidak bertanggung jawab atas kebenaran isi dan/atau identitas asli pengirim berita. 2. ATTACHMENT akan dibanned, krmkan ke pelaut-owner atau upload ke FILE. Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/pelaut/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/pelaut/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: [email protected] [email protected] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [email protected] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
