KABURNYA BATAS KEBENARAN ?

 

Siapa
sih yg tak kenal dengan Parmin. Ada suatu citra khusus yg sama, muncul dibenak
orang muda SDA ketika mendengar nama Parmin. Reaksi fisik kita pun tersenyum
seketika. Tapi kini, citra itu jadi berubah oleh karena berita yg santer
belakangan ini, yg membuat tiba-tiba saja SDA DKI Konfrens sontak kaget
bercampur rasa tak percaya. Pasalnya Majalah Warta Pemuda Advent,  mengumumkan 
bahwa Parmin masuk di dalam
Nominasi Sepuluh Pria Terseksi tahun 2008, karena selain Ganteng, tulis Majalah
tersebut, dia juga romantis, penuh Kasih dan pandai memperlakukan perempuan
layaknya seorang wanita. Tak heran, banyak wanita yg ”glepek-glepek” bila
berada di dekat Parmin, tulis Majalah itu lagi.

Bagi
orang yg tak percaya dan punya waktu, mereka akan mencari tahu tentang
kebenaran berita tersebut. Apakah benar pakar multi media itu ganteng? Seksi? 
Romantis?

Apakah Majalah Warta Pemuda
Advent itu ada? Kapan terbitnya?

Semua
pertanyaan itu mengacu kepada keinginan untuk mencari Kebenaran, sehingga
diperlukanlah Konfirmasi dan Klarifikasi.

Belum lagi dingin rasa kaget
warga SDA DKI, sudah muncul lagi kekagetan yg baru, yakni berita tentang
seorang Gembala yg mempunyai koleksi film Bokep di memori Laptopnya. Parahnya
lagi, justru "bangkai" itu ketahuannya di depan puluhan pasang mata
Jemaatnya sendiri. Tak pelak lagi, Pendeta itu pun bak orang
kebakaran jenggot, pucat dan grogi tak karuan. Barangkali ini hal yg memalukan,
oleh karena ditemukannya penyimpangan ”dedikasi” dari sosok yg berordonansi
sebagai panutan, pamong atau Teladan. 

Berita
semacam ini ternyata tak sendirian, justru akhir-akhir ini beberapa topik yg
menyangkut mempermalukan orang, pembongkaran aib, semakin santer bermunculan
bahkan laku keras bak kacang goreng. Sumbernya pun dari orang yg itu-itu saja.
Benar atau salah perbuatan tersebut hanya waktulah yg mengungkapnya. Namun
apapun pesannya tetap dipertanyakan kebenarannya dan diinginkan jawabannya utk
keabsahan dari topik tsb.

Semua
postingan yg ada di milis ini, membutuhkan kebenaran. Baik
dari segi kebenaran jawaban ataupun berita. Benarkah itu semua? 

Usaha
mencari jawaban yg tepat, pada dasarnya adalah usaha untuk mengenal
keterbatasan-keterbatasan kita sendiri, bahkan untuk mengenali diri kita
sendiri. Hanya orang yg mengenal dirinyalah, kemudian akan dapat
jawaban-jawaban yg tepat untuk dirinya sendiri. Barangkali itulah makanya kita
sering menemukan orang yg sengaja mempersoalkan suatu kebenaran, pada hal untuk
memilih jawaban-jawaban yg nyangkut di hatinya yaitu yg menyenangkan dirinya.
Bahkan ada usaha untuk merevisi suatu kebenaran, dengan merombak kebenaran
milik Ellen GW misalnya. Itu bukan kabar baik tapi mimpi buruk.

Secara
manusiawi, kita semua sepaham bahwa kebenaran berbeda-beda. Karena kita memang 
tak sama. Mulut kita banyak, isi kepala kita lain-lain. Panutan kita beragam. 
Dan kecenderungan-kecenderungan kita pun beragam
serta bisa berubah-ubah. Persepsi, opini & selera kita pun sering
bertentangan. Bahkan jalan yg kita tempuh juga bisa benar-benar bertolak
belakang pada hal kita anggap itu sudah benar tadinya.

Biarpun
tak nyambung & lari dari konteks, tapi kita masih saja terus mencoba untuk
membicarakan tentang kebenaran itu  di
satu media yg bernama milis. Dengan ruangan yg lain-lain. Pakai laptop, PC, HP
canggih, Blackberry & Ipod yg masing-masing berbeda-beda ukuran &
kualitasnya. Bahkan bahasa yg kita pakai untuk membahas pun tak langsung
bertegur sapa, sehingga sulit menebak apakah teman kita berteriak, berbisik
datar atau bersuara lembut. Sehingga acap kali temperamen pembaca spontan
menjadi liar. 

Seorang
temanku yg tak satukalipun wajahnya masuk televisi, berkata :”kita seakan-akan
sejumlah anak-anak yg baru pandai ngomong lalu mencoba berkomunikasi dengan
cara berebutan melempar pertanyaan & menguasai sebuah jawaban. Atau
barangkali kita semacam orang yg baru satu minggu (sebentar)  di Amerika, lalu 
ketika ada teman kita yg
belum pernah ke Amerika & bertanya tentang Amerika maka kita bercerita
seakan-akan kita sudah bertahun-tahun disana.

Sebuah
subjek seringkali dikerubuti oleh banyak anggota milis untuk meletakkan jawaban
benarnya. Sehingga tak jarang dijumpai para penjawab merasa jawabanya tepat, &
benar.

Beradu
kebenaran ibarat perlombaan. Tidak selamanya yg lebih kuat, yg lebih dewasa, yg
lebih panjang tulisannya yg menang. Tidak selamanya yg lebih lihai, yg lebih
ngotot, yg lebih getol, yg lebih bandel, yg lebih kurang ajar yg kemudian
keluar sebagai pemenang. Alangkah eloknya bila kemenangan tidak lagi berarti
menonjol di depan sendirian. Jadikanlah satu kemenangan adalah perasaan bahwa
kita semua, bersama-sama, sudah bisa mengatasi perbedaan. 

Kebenaran
yg selalu "dipertengkarkan", yg senantiasa tidak terpecahkan itu,
paling tidak sudah membuat kita bertemu. Saling menunjukkan apa yg kita anggap
lebih benar . Lalu melihat apa yg sudah dibangga-banggakan oleh orang lain
sebagai yg paling benar. 

Dalam
kebenaran kita melihat ketidak benaran- ketidak benaran. Dan itu semakin
meyakinkan kita pada kebenaran kita sendiri, sehingga semakin kukuh juga betapa
tak samanya kebenaran kita.

Kita
sudah menghasilkan banyak definisi, banyak visi tentang kebenaran. Tetapi kita
masih saja terus mencarinya. Bukan ke arah kebenaran itu sendiri tetapi justru
ke daerah lain yg berbeda arahnya. Sehingga muncullah kebenaran yg baru.

Sungguh
mengejutkan, karena kebenaran seringkali nampak sebagai seorang penipu,
penghasut yg ulung. Ia sangat licin, lembut bahkan juga ganas dan tidak kenal
ampunan. Merasa bahwa tindakkan mempermalukan Gembala kepada umum, melebihi
dari empat mata adalah suatu kebenaran. Metode pendekatan empat mata pun
terabaikan, karena dianggap bukan suatu kebenaran lagi.

Kita sering tak ada
waktu membedakan kebenaran yg sakit dan kebenaran yg waras. Sering tak ada
waktu untuk membedakan penjawab yg terganggu & penjawab yg sehat,
bahkan  pelempar topik yg kecewa & yg
diberkati. Sehingga tak jarang kita mengutamakan perasaan
dari pada logika saat-saat menghadapi keadaan ini. 

Tindakan mempermalukan
terkadang dianggap benar, patut dan sudah zamannya, pada hal tanpa kita sadari
hal itu justru dapat merusak mental, kepercayaan & kepatuhan kita terhadap
sang Panutan. Kalau sudah begini hancurlah kita.

Untunglah kita punya
bang Ucok, orang yg lebih menghargai tidakkan memuja bang Parmin dari pada
menjatuhkan wibawa sang Pemimpin. Walaupun tak benar, mengatakan bang Parmin
Ganteng adalah suatu pujian yg merupakan tindakan terpuji. Itu lebih baik
daripada mengatakan kpd khalayak ramai, bahwa Pendeta itu, Ketua Jemaat itu,
Tokoh Masyarakat itu selingkuh, korupsi, nonton bioskop, merokok dan agen
Narkoba, misalnya. Sebab tak semua pembaca di milis ini mampu mencerna semua
itu dgn baik. Itulah barangkali, makanya Allah meminta kita agar jangan
mengabaikan asas pendekatan empat mata tersebut.

”Kebenaran
adalah sesuatu yg spele. Kecil & ringkas seperti KTP. Kita simpan di dalam
dompet bersama kartu nama, kartu kredit, kartu ATM dan SIM. Ia baru kita 
tujukkan kalau ada razia, untuk menunjukkan identitas. Padahal
seharusnya seperti Cinta sejati, kebenaran sejati pun tak pernah mati” kata
seorang Seniman terkenal Indonesia .

”Kebenaran seperti obat bius. Kalau sudah memakai
label kebenaran, kita  tiba-tiba merasa
suci lalu beringas. Seolah-olah ungkapan Berani karena Benar sudah tepat 
sasaran” kata seorang
Budayawan terkenal di Asia.

”Kebenaran adalah Ellen GW”, kata bang Ucok, si
pemikir SDA yg masih bau kencur dibanding Seniman dan Budayawan tadi.

Sudah waktunya kini untuk menyeleksi kebenaran itu,
untuk melihat kebenaran secara proporsional, cerdas, agar tidak menjadi tiran
& menghancurkan bukit sejarah yg akan kita bangun di masa depan, sebagai
sejarah kemenangan umat SDA sedunia.

 

 

Rgds,

 

Kocu Ratuhapis




      

Kirim email ke