--- On Mon, 9/1/08, Smel <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
From: Smel <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: Fw: fried chciken pinggir jalan
To: "Sintya" <[EMAIL PROTECTED]>, "Ira" <[EMAIL PROTECTED]>, "iin lidiawati"
<[EMAIL PROTECTED]>, "Merry Iroth" <[EMAIL PROTECTED]>, "Rumond" <[EMAIL
PROTECTED]>, "sien sien" <[EMAIL PROTECTED]>, "yo" <[EMAIL PROTECTED]>, "yoyo"
<[EMAIL PROTECTED]>, "onne" <[EMAIL PROTECTED]>, "Mei Ling" <[EMAIL
PROTECTED]>, "Nugroho Yulianto" <[EMAIL PROTECTED]>, "hutomo nugroho" <[EMAIL
PROTECTED]>, "Stefanus Hery" <[EMAIL PROTECTED]>, "dd" <[EMAIL PROTECTED]>, "ci
yung" <[EMAIL PROTECTED]>
Date: Monday, September 1, 2008, 2:28 AM
--- On Fri, 8/29/08, Darmawan Triosa <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> From: Darmawan Triosa <[EMAIL PROTECTED]>
> Subject: fried chciken pinggir jalan
> To: "riama" <[EMAIL PROTECTED]>, "G Sitorus"
<[EMAIL PROTECTED]>, "Sakti" <[EMAIL PROTECTED]>,
"edbert" <[EMAIL PROTECTED]>, "Ester
Melliana" <[EMAIL PROTECTED]>, [EMAIL PROTECTED],
"winn" <[EMAIL PROTECTED]>, [EMAIL PROTECTED]
> Date: Friday, August 29, 2008, 8:47 AM
> Hati2 Bagi Yg Suka Mkn Fried Chiken Pinggir Jalan
>
> Hari Minggu, 10 Agustus 2008
>
> pukul 16.30
>
> Sepulang dari ITC, aku menyempatkan diri untuk membeli
> makan malam, s eka
> ligus makanan buat sahur. Niatnya sih mau puasa Senin-Kamis
> seperti biasa.
> Karena bosan dengan lauk yang itu-itu saja (aku harus beli
> lauk yang bisa
> tahan sampe besok pagi, jadi biasanya ya paduan ayam goreng
> ma perkedel atau
> ayam goreng ma orek tempe ), aku ingin mencoba ayam goreng
> kremes (baca:
> KFC-KFCan atawa KFC palsu yang dijual di pinggir jalan)
> deket kosku. Memang
> selama 10 bulan lebih tinggal disana, aku tidak pernah beli
> di situ (kalo
> dulu sih gara-gara duitnya mepet). Maka aku membeli satu
> potong dada atas Rp
> 3800,- dan satu potong punggung Rp 2000,-. Rencananya
> bagian punggung
> kupakai buat lauk makan malam sedang bagian dada yang
> dipakai buat lauk
> sahur.
> Aku sempat bertanya pada penjualnya, " Ada sayap ga
> Mas?" karena di daftar
> terantum menu tersebut. Masnya menjawab, "Sudah habis,
> Mbak".
> Sempat terbersit curiga, siang-siang kok udah habis,
> padahal kayanya
> sepi-sepi aja. Jangan-jangan memang ga jual. Ah, sudahlah,
> aku tak terlalu
> memusingkan hal tersebut.
>
> Pukul 17.30
>
> Sehabis sholat ashar, karena masih males mandi, aku ingin
> mencicipi
> "makanan" yang sudah kubeli. Keadaan kamar waktu
> itu remang-remang karena
> lampunya belum kunyalakan. Kubuka kantong kertas pembungkus
> dan kulongok ke
> dalamnya. Tampaknya baik-baik saja. Rupa ayam goreng tepung
> biasa. Aku
> mengambil potongan yang lebih kecil, karena menurut
> dugaanku, itulah yang
> bagian punggung. Mencoba mencuil sedikit, tapi kok susah.
> Ya sudah,
> kugigitlah sedikit daging itu. Kukunyah, kok rasanya agak
> kenyal ya?
> Berlemak dan aneh. Jangan-jangan ayam mati?
> Aku mulai deg-degan. Apalagi setelah melihat samar,
> potongan b eka s yang
> kugigit berbentuk bulat, yang bisa kubayangkan bahwa semula
> dia berbentuk
> gilig. Emang ada bagian tubuh ayam yang berbentuk gilig? Di
> punggung pula?
>
> Dengan panik kunyalakan lampu kamar. Dalam keadaan yang
> lebih terang, aku
> periksa lagi potongan daging itu. Benar, bentuknya seperti
> pipa, dengan
> diameter sedikit lebih besar dari 0,5 cm. Masa bagian
> tenggorokan saluran
> napas -yang biasanya ada di leher- kebawa sampe punggung?
> Jadi, "ekor"?!
> Itulah kesimpulan yang akhirnya muncul.
> Deg..deg... Aku mengambil piring dan bersiap mengoperasi
> "daging punggung"
> itu.
>
> Untuk sekedar mengingatkan, selama 10 tahun lebih aku
> bergaul dengan ayam,
> dan sempet bergaul akrab dengan angsa dan burung puyuh.
> Bagi yang mengenalku
> dengan baik, tak disangkal, Nur adalah seorang penggemar
> unggas. Berb eka l
> latar belakang itu, meski bukan lulusan kedokteran hewan,
> aku cukup mengenal
> dengan baik anatomi tubuh dan segala seluk beluk hewan ini.
>
> Waktu beli tadi, aku membayangkan "punggung"
> adalah "rongkong" dalam bahasa
> Jawa. Ini adalah salah satu bagian favoritku setelah sayap.
> Jika anda meminta bagian ini, anda akan mendapatkan banyak
> s eka li tulang
> (tulang rusuk dan taju pedang kalo di manusia), sedikit
> daging yang menempel
> di tulang, dan sedikit s eka li kulit. Namun waktu ayam
> goreng itu kubelah
> dan kuhilangkan bagian tepungnya, AKU SAMA SEKALI TIDAK
> MENEMUKAN TULANG!
> Yang ada malah bagian kulit yang lebar s eka li, dengan
> lemak dan sedikit
> daging putih yang menempel. Bila dihubungkan dengan bagian
> yang kupikir
> sebagai "ekor", maka bisa dibayangkan kalo itu
> adalah bagian pantat dari...
> SEEKOR TIKUS!! Memang beberapa hari sebelumnya aku mendapat
> email dari Mbak
> Kosku tentang daging tikus yang diolah sedemikian rupa agar
> mirip daging
> ayam, lalu dijual bebas di masyarakat. Tapi ga pernah
> kusangka, kejadian
> serupa akan secepat ini kualami sendiri. Hiks!
>
> Udah mulai mual-mual, aku meneruskan pembedahan. Kuteliti
> kulit luas itu.
> Dari pengalaman, aku sangat ragu kalo kulit kasar itu
> pernah ditumbuhi bulu.
> Sebaliknya, dengan keyakinan 80% aku bisa bilang bahwa
> jejak pori disana
> adalah b eka s tumbuh rambut!
>
> Dengan lemas, kumulai pembedahan ke potongan daging kedua:
> potongan dada
> atas. Jika anda makan bagian dada ayam, anda akan menemukan
> sebuah tulang
> rawan berbentuk segitiga yang khas. Namun setelah
> memutilasi dan
> menghancurkannya, aku tidak menemukan tulang itu. Yang ada
> malah sebentuk
> tulang kecil yang aneh (berasa tidak pernah liat di tubuh
> ayam, dan susah
> membayangkan bagian tubuh ayam yang mana yang memilikinya)
> . Di bagian
> daging, biasanya daging dada ayam itu berserat, yang bila
> kita khancurkan
> akan menjadi serpihan (susah bilangnya, bayangin aja daging
> yang biasa ada
> di soto ayam deh). Namun setelah kuambil selembar, kut eka
> n pake jari,
> daging itu tetap utuh karena terikat oleh lemak. Padahal
> setahuku daging
> bagian dada adalah yang paling sedikit lemaknya.
>
> Yaiks, intinya, hari itu hampir saja aku makan daging
> tikus!! (udah gigit
> ekornya dikit sih, astaghfirullah! !) Hiiii, sampai s eka
> rang masih
> merinding kalo inget..
>
> Yah, meskipun mungkin daging tikus bisa bikin kulit cantik
> ( kan Sandra Dewi
> tu makannya aneh-aneh, jadi kulitnya mulus), tiada niatanku
> mendapatkan
> kulit cantik dengan cara itu. Buhuhu...
>
> Jadi temans, aku sarankan agar hati-hati bila beli ayam
> goreng, apalagi yang
> dibalut tepung tebal, karena tepung itu menyamarkan bentuk
> aslinya. Mending
> yang digoreng biasa atau ayam bakar, atau beli di tempat
> yang terjamin
> kebersihannya.
>
> Kesimpulan: sedikit tips yang bisa membantumu mbedain
> daging ayam dengan
> daging tikus
> 1. Dari segi daging, sama-sama putih dan rasanya
> benar-benar mirip,
> tapi daging tikus lebih banyak lemaknya dan seratnya halus
> (kalo ayam
> sedikit lebih kasar).
> 2. Periksa kulitnya, apakah berpori besar atau kecil. Kalau
> kecil,
> kemungkinan yang pernah tumbuh adalah rambut, bukan bulu!
> 3. Cek tulangnya (agak susah ya kalo ini), misal bagian
> dada ya ada si
> tulang rawan, kalo di paha ya tulang paha yang besar itu,
> kalo punggung ya
> tulang rusuk, dsb.
> 4. Jangan tertipu dengan harga murah (itu kan buatmu
> sendiri...mwehehehe).
> 5. Coba cek apakah si penjual tersebut pernah jual sayap
> apa ga. Kalo
> ga pernah jual, anda patut curiga karena seperti kita tahu,
> salah satu ciri
> khas unggas adalah bagian sayap, yang tentunya tidak
> mungkin bisa
> dipalsukan. ?????ز)?h?g??