Jujur ya lips..ini sekedar meluruskan... HS itu bukan Harris Sipahutar. Kalau pun ada yg mengatakan HS adalah Harris Sipahutar, itu hanya oknum yg sengaja bikin aku terkenal. Dan aku sudah memaafkan itu orang. Lagi pula, aku tak paham mengenai saham-menyaham. Seandainya pun aku paham mengenai saham, barangkali tak akan ku bahas di milis ini, bisa ditegur moderator (bro Echel) aku nantinya. Sdh jelas kan Lips? Omonganku ini hanya kita berdua saja yg tahu, jangan bilang siapa2, oke?
Salam, Harris Sipahutar --- On Fri, 11/14/08, Philips Marbun <[EMAIL PROTECTED]> wrote: From: Philips Marbun <[EMAIL PROTECTED]> Subject: Re: [PemudaAdvent] ANEH?? To: [email protected] Date: Friday, November 14, 2008, 12:39 PM HS siapa ya Bro? Kasihan sekali selalu berpikir negatif pada pemimpinnya. .. :( 2008/11/14 Richan S <richansitumorang@ gmail.com> SAHAM?? bang hs wrote: Sri Mulyani dan SBY bermain sandiwara menipu nasabah dengan ber-pura2 berbeda pendapat. SBY pura2 suspensi dan Sri Mulyani pura2 melepas suspensinya, tujuannya agar kontradiksi antara Sri Mulyani dan SBY menjadi perhatian masyarakat yang diharapkan akan memborong saham2 yang diperdebatkannya. Namun memang SBY dan Sri Mulyani keduanya buta akan permainan saham sehingga hasilnya kocar kacir, harga sahamnya bukan jadi naik tapi jadi jeblok karena orang jadi enggak percaya sama saham yang bisa dicampuri oleh kekuasaan yang seharusnya diserahkan kepada pasar. Orang akan curiga, kenapa cuma satu macam saham saja yang diributin untuk disuspensi dan kemudian dilepas lagi suspensinya ??? Saham yang disuspensi itu artinya tidak boleh dijual di BEI, artinya kalo tidak boleh dijual tentunya akan jadi rebutan, maklum kalo dalam pasaran jual beli loakan memang barang sedikit harga naik, sayangnya kedua petinggi ini memang benar2 buta, bahwa pasar saham sangat beda dengan permainan jualan minyak. Kalo dagangan minyak justru barang ditahan/disuspensi harga memang pasti naik, bedanya adalah orang yang sudah beli minyak maka minyaknya tidak bisa dikembalikan karena biasanya digunakan sebagai kebutuhan. Beda dengan saham yang bukan barang untuk digunakan melainkan sebagai tabungan yang diharapkan bisa dijual lagi dengan harga yang lebih tinggi. Demikianlah, kalo barang dagangan biasa disuspensi harganya naik, maka beda dengan stock saham yang bila disuspensi akan mengagetkan para pemilik saham ini sehingga berusaha cepat2 menjualnya yang akibatnya harga saham itu jatuh kejurang. Memang dikala ekonomi baik, bisa jadi dengan disuspensi maka harga sahamnya akan naik, tapi dikala ekonomi krisis seperti ini, maka pemilik saham justru ber-bondong2 menjualnya karena tidak peracya kepada pemerintah yang ternyata bisa melakukan suspensi. Memang permainan saham merupakan barang baru di Indonesia. Akibat berbagai permainan2 spekulative yang dilakukan oleh pejabat pemerintah ini, maka krisis ekonomi makin tidak terkontrol. hs -- Salam, Philips Marbun Pulomas

