hi Bro Nobel.. salam kenal...,

Nobel wrote:
kebeneran, saya seorang pianis gereja kita di Makassar. Saya seorang
penggemar musik Jazz, dimana dianggap aliran musik pembangkit gairah (
agak berlebihan sih rasanya)..hehehe. kadangkala ketika saya main
piano di gereja, kepinginnya memasukkan unsur2 musik yang saya
senangi, tetapi herannya saya tidak sanggup untuk itu...saya pernah
mencampur sedikit unsur jazz kedalam lagu2 perbaktian, tapi hasilnya
tidak begitu mengangkat baik bagi pianist apalagi jemaat....lalu
sepulangnya dari gereja, g lalu berpikir apa music yang baik buat
gereja ya?..Pengetahuan saya mengenai musik tidaklah begitu lebar
seperti para pakar musik di milis ini. Saya hanya coba mengambil
bagian kecil.

nobel wrote:
wah bro rendah hati.. apalagi saya yang pengetahuan musiknya seujung
kuku ya.. hehe.. tapi mari kita diskusi bersama-sama (hehehe)

1. Mengenai instrumen.

Nobel wrote
Gambus, Ceracap, kecapi, sangkakala. alat2 ini dipakai dalam
perbaktian tapi bukan untuk pengiring nyanyian. Pada jaman perjanjian
lama, orang2 lebih kenal chanting (mengaji). pada saat itu belum ada
nada (do re mi fa sol...dst) jadi instrumen ini hanya sekedar
panggilan untuk berbakti. Pemakaian drum dalam
gereja..mmmhhh...mengenai pemakaian drum dalam gereja, saya bukan tipe
yang menolak dan lebih pasti bukan tipe yang setuju. menurut saya
mengapa harus memakai drum? 

Sugih wrote: saya bukan mengharuskan semua gereja harus memakai drum
bro.. tapi membuka pikiran kita untuk berhenti menjudge bahwa drum,
alat-alat musik, dan cara penyembahan orang lain itu salah... kenapa
harus memakai drum? kalo saya memiliki berkat yang lebih, saya ingin
menggunakan semua jenis alat musik. saya ingin dalam sebuah kebaktian,
semua dipersiapkan dengan maksimal mungkin karna semua pujian itu
untuk Tuhan.. kalo saya bisa menggunakan drum, rebana, dsb untuk
memuji Tuhan lebih dashyat lagi, kenapa ngga? seorang wanita
menggunakan minyak termahal untuk membasuh kaki Tuhan Yesus, bukankah
itu suatu pemborosan? tapi apa yang Yesus bilang? apa kita harus
menghemat kalo kita mampu memberikan yang terbaik buat Tuhan? masa
keyboard, Piano, LCD, laptop bisa kebeli tapi alat musik lain ngga? 

nobel wrote:
alasan para imam membunyikan sangkakala dan gambus adalah untuk
memberi timing dalam perbaktian, kapan mereka harus menunduk, kapan
mereka selesai. Drum secara sifat dasar adalah memberikan beat, dan
tidak dapat bercampur dengan suara. Lain halnya dengan biola, piano,
kecapi dan beberapa alat musik yang memakai string yang dapat
bercampur dan memberikan harmonisasi kepada instrumen yang paling
penting dalam kehidupan kita yaitu suara kita sendiri. Apakah perlu
untuk memakai drum demi membuktikan bahwa kita bukanlah sekelompok
orang aneh, Fanatik atau panggilan sejenisnya? 

sugih wrote:
maaf bro, saya kurang stuju kalo instrumen utama dalam sebuah
penyembahan adalah suara.. bagaimana dengan orang yang suaranya fals?
kasian banget.. kalo saya lebih meyakini yang utama adalah hati dalam
menyembah.. kalo suasana, keadaan memicu kita untuk menyerahkan hati
kita sepenuhnya, itulah yang saya yakin Tuhan harapkan atau inginkan...

mendingan uang untuk beli drum disumbangkan kepada yang membutuhkan,
membantu jemaat, dsb. kembali kepada seorang wanita yang mengurapi
Tuhan dengan minyak termahal.. saya ga berani main2 dalam hal ini..
percaya ato ga, kenapa persembahan di gereja luar begitu besar? kenapa
orang-orang kaya di gereja luar cenderung lebih rendah hati? terbukti
dari orang-orang "kaya Advent" yang mau nyumbang kalo diminta bawain
khotbah, atau tampil di depan mimbar... sebenarnya karena kita
tanggung dalam memberikan sepenuhnya milik kita kepada Tuhan.. 

2. Is it to Show You or Jesus ? What is Your purpose?
nobel wrote:
hehehehe....susah ya memang. Kita memang ga mau dipanggil selebriti
dalam gereja, krn terlalu sering menyanyi, terlalu sering main piano,
ditambah pujian yang kadang memerahkan telinga. Dear brother, Musik
yang dimainkan di gereja Advent, terkadang terlalu polos, tetapi di
dalam kepolosannyalah kita menemukan kesederhanaan kristus. Kristus
tidak memakai alat musik apapun untuk membuat dirinya populer, tapi
melalui hidupnya/lahirnya dalam kesederhanaan dan kabar injil
keselamatan ke seluruh dunia. Mengapa kita harus memakai instrumen
yang lengkap? mengapa kita tidak menjaga kesederhanaan itu dengan
dibekali pengetahuan, bakat, dan talenta yang berasal daripada Tuhan?
Yang sederhana itu belum tentu jelek.........apa ya
contohnya.....tunggu gw pikir dulu....mmmhhh...Cinnamon (cuman pake 3
gitar) kadang pake drum tapi jarang. biar sederhana kedengaran cool,
bisa jadi hits lagi.

sugih wrote: 
ya saya setuju mengenai prinsip kesederhanaan mas nobel.. tapi apa
dengan begitu kita berhak mengklaim bahwa ini yang benar dan cara
penyembahan yang menggunakan drum, dan memakai cara menyembah berbeda
itu salah? apa dasarnya?

apa yang anda bayangkan tentang Tuhan? apakah Dia tenang, suka clasic?
apakah anda yakin Tuhan ga pernah nyanyi bersorak-sorai untuk
menyenangkan hati-Nya? apakah anda yakin Tuhan ga pernah
melompat-lompat untuk menyatakan ekspresinya? apakah Tuhan ga pernah
teriak? Tuhan ga pernah menangis?

apakah anda pernah mendengar ilustrasi bagaimana "Imajinasi setiap
orang akan Tuhan Yesus di seluruh dunia ini?" apakah yang ada di benak
orang lain akan seperti apakah Tuhan Yesus itu? 

kita adalah gambaran Tuhan.. jadi yang ada dalam diri kita itu
sebenarnya mengadopsi dari yang Tuhan lakukan...

nobel wrote:
Kadang2 kita berpikir mendingan seperti para pemuda yang di bethany,
para pemuda di gereja lain, dimana mereka bisa mengekspresikan pujian
mereka dalam segala bentuk...well, kalau menurut anda mereka bisa
menangis, mereka bisa menangis sejadi2nya sampai terjatuh, pingsan,
atau merasa sangat sedih itu karena mereka sudah tersentuh secara
psikologis. 

sugih wrote:
saya sering ikut kebaktian mereka.. saya ga tau orang lain. tapi bagi
saya sendiri saya ga mengutamakan ekspresi saya.. tapi bagaimana saya
memang bisa merasakan kehadiran Tuhan, saya bisa merasakan Tuhan masuk
dalam hati saya...
dan apakah salah kalo kita tersentuh secara psikologis? 

nobel wrote:
Musik adalah suatu media sentimentil, bisa membawa mood seseorang
hanyut. Nada yang diulang2 bisa mendatangkan efek hipnotis. Saya
melihat suatu fenomena ini, pada waktu mereka menyanyi mereka menutup
mata, dan mereka tidak akan berhenti untuk mengulang bait2 dengan
kata2 yang menyentuh sampai ada beberapa yang menangis. Pada waktu ada
yang menangis, maka yang lain akan terbawa2.

sugih wrote: 
apa yang anda lakukan dengan seseorang yang berkomunikasi dengan anda,
dimana orang yang hadir itu adalah benar-benar idola anda, benar2
seorang yang luar biasa, yang anda benar-benar kagumi? bukankah kita
ingin ngobrol terus sama dia, ingin bicara terus sama dia, ingin
mengulang2 kata "saya kagum sama kamu",.. jadi prinsip pengulangan
bukan suatu yang salah bagi saya.. kalo prinsip pengulangan salah..
tolong lihat reff pada lagu sion anda.. bukankah kata-katanya sama dan
diulang2? seperti pengormatan kepada raja di suatu kerajaan.. apakah
hanya sekali orang bilang "sembah raja"? setahu saya bila orang-orang
mengagungkan rajanya mereka akan ucapkan berulang-ulang kali..

saya cenderung melihat, kita memandang pujian udah ga objektif lagi..
kita mencoba mencari-cari kejelekan-kejelekan dari musik luar advent..
saran saya sesekali.. coba datang ke gereja lain.. lihat dan belajar
dari sana.. buka hati dan rasakan Tuhan memang masuk ke dalam hatimu...

jangan pernah memegang kebenaran secara membabi buta tanpa melihat
keadaan sekeliling, tanpa mencari tau kebenaran-kebenaran lain yang
ada di sekeliling kita.. 

nobel wrote:
Pada saat anda mendengar We Are The Champion, apa reaksi anda?? pada
saat anda mendengar lagu Via Dolorosa, apa reaksi anda? Musik adalah
wadah yang paling efektif untuk membawa perasaan (e.g Soundtrack, dll)
tapi apakah melihat mereka begitu, berarti mereka sungguh2, ataukah
melihat gereja kita yang menyanyi separuh suara dan nafas artinya
tidak sungguh2 ??

sugih wrote:
saya ga mau menghakimi di gereja luar mereka sungguh-sungguh dan di
gereja kita ga sungguh-sungguh.. namun, percaya.. melalui pengalaman
saya.. saya lebih sungguh-sungguh bernyanyi kepada Tuhan di gereja
luar ketimbang saya menyanyi di gereja sendiri.. dan bukan hanya saya
seorang.. 

saya hanya memberikan indikator.. bisa anda terima, bisa juga ngga..
perhatikan dalam kebaktian.. apa yang anda lihat kepada orang2 di
gereja anda? sekeliling anda? apabila orang mengobrol, ngantuk, sudah
jelas mereka ga akan pernah mendengar Firman Tuhan..  meski Firman
Tuhan yang dibawakan di gereja luar sangat minim pengetahuannya. tapi
saya bisa menyerap makna yang disampaikan melakui Firman Tuhan itu...
duh sulit memang kalo membagikan pengalaman kepada orang2 yang emang
ga pernah terjun langsung dan merasakan langsung.. 

nobel wrote:
Tidak ada yang bisa menilai kedalaman hati seseorang, hanya Tuhan yang
bisa. Menurut saya pribadi, Kita pemuda Advent, kadang2 tidak serius
kepada pujian yang kita sampaikan. Kadang2 kita merasa, kita diatas
angin, kita yang paling ter ter..bukan begitu bro S? kita kadang
berpikir orang2 yang diluar sana hanyalah mengada2 membuat2, sampai
membuat kita sendiri seperti mayat berjalan ketika bernyanyi. Kalau
anda menganggap menyanyi tidak memerlukan ekspresi, maka anda salah. 

sugih wrote:
saya bersyukur karna setidaknya anda menyadari banyak orang yang
kadang-kadang ga serius kepada pujian yang disampaikan..

nobel wrote:
kita pribadilah yang perlu untuk dirubah, bukan instrumen dalam
gereja, bukan ritme lagu, bukan tata cara perbaktian. 

sugih wrote:
sudah jelas bro, saya juga kita semua yang harus dirubah.. saya hanya
menawarkan media aja bro.. media yang dapat membawa anak-anak muda di
gereja kita agar lebih bisa merasakan kehadiran Tuhan di tengah
perbaktian.. kenapa harus ada KPA, kenapa harus ada sekolah sabat,
kenapa harus ada piano dalam gereja? itu adalah media Tuhan berbicara
dalam hati kita.. agar kita lebih bisa merasakan kehadiran-Nya di
tengah-tengah perbaktian..

Nobel wrote:
Kalau para orang tua sadar akan ini, maka para orang tua haruslah
memberikan contoh kepada anak2 muda kita ini supaya mereka dapat
memuji Tuhan dengan segenap hati dan segenap akal budinya. Berikanlah
pujian kepada Tuhan dari lubuk hati yang terdalam. May GBU All...

Sugih wrote:
setuju bro... kadang orang tua yang sering memberikan contoh ga baik..
sepertinya harus ada sekolah sabat "orang tua" supaya mereka sadar
bahwa mereka adalah contoh untuk orang-orang yang lebih muda.. hehe

Syalom juga semua...
Regards, Sugih Bastian



Kirim email ke