Dikutip dari : Laporan Perkembangan Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium 
Indonesia
 
 
Boks 1. Garis Kemiskinan Nasional
Ukuran Garis Kemiskinan Nasional adalah jumlah rupiah yang diperlukan oleh 
setiap individu untuk makanan  setara 2.100 kilo kalori per orang/hari dan 
untuk memenuhi kebutuhan nonmakanan berupa perumahan, pakaian, kesehatan, 
pendidikan, transportasi, dan aneka barang/jasa lainnya. 
Biaya untuk membeli 2.100  kilo kalori/hari disebut sebagai Garis Kemiskinan 
Makanan, sedangkan biaya untuk membayar kebutuhan  minimum non-makanan disebut 
sebagai Garis Kemiskinan Non-Makanan. Mereka yang pengeluarannya  lebih rendah 
dari garis kemiskinan disebut sebagai penduduk yang hidup di bawah garis 
kemiskinan atau  penduduk miskin.
Standar kemiskinan yang digunakan BPS bersifat dinamis, disesuaikan dengan 
perubahan/pergeseran pola  konsumsi agar realistis. 
Proporsi penduduk di bawah garis kemiskinan pada 1996 memiliki dua angka untuk  
menunjukkan berbedanya kriteria yang digunakan, yaitu standar 1996 dan standar 
1998 (BPS, Statistik Indonesia  2002). 
Perubahan standar terjadi bukan hanya karena pergeseran pola konsumsi tetapi 
juga karena  perluasan cakupan komoditas yang diperhitungkan dalam kebutuhan 
minimum, antara lain karena adanya  kewajiban belajar sembilan tahun.
 
Tantangan
 
Disparitas. 
Masalah kemiskinan di Indonesia bukan  hanya jumlahnya yang besar tetapi juga 
disparitas  yang tinggi antar wilayah, provinsi, ataupun kabupaten  dan kota, 
dan kemiskinan transien yang serius,  yaitu sejumlah besar penduduk akan 
tergolong  miskin bila terjadi sesuatu perubahan keadaan/kebijakan. 
Disparitas antarwilayah terlihat, misalnya, dari  keadaan di DKI Jakarta dan di 
Papua. Hampir setengah  dari penduduk Papua hidup di bawah garis kemiskinan  
nasional, sedangkan penduduk miskin di  DKI Jakarta hanya 3,4 persen (Tabel 
1.1).
 
Penduduk marjinal.
Tantangan lain adalah terdapat  sejumlah besar penduduk yang pendapatannya/  
pengeluarannya sedikit di atas garis kemiskinan. 
Kelompok  ini sangat rentan untuk masuk kategori penduduk  miskin bila terdapat 
perubahan kebijakan.
Sebagai contoh, jumlah proporsi penduduk miskin  bertambah cukup besar jika 
garis kemiskinan dinaikkan  sedikit saja 
(Boks 3).
 
 
      Boks 3. Pengaruh Perubahan Garis Kemiskinan
 





Wilayah

Kriteria 1996

Kriteria 1998


Garis Kemiskinan

Penduduk Dibawah  Garis Kemiskinan

Garis 
Kemiskinan

Penduduk Dibawah  Garis Kemiskinan


Rupiah per bulan

Juta

Persen

Rupiah per
 bulan

Juta

Persen


Urban

38.246

7.2

9.7

42.032

9.6

13.6


Rural

27.143

15.3

12.3

31.366

24.9

19.9


Total

 

22.5

11.3

 

34.5

17.6
 
 
 


      

Kirim email ke