Pak Risfan dan rekan2 ysh, Tentunya milis ini kita kembangkan dengan niat yang suci, hati yang bersih, dan muka yang jernih. Temanya tidak terbatas perencanaan, tetapi kita harapkan keseluruhan aspek yang menyangkut pembangunan perkotaan. Partisipasi yang diharapkan tentunya obligasi moral dan intelektual dari berbagai pelaku, untuk mewujudkan kesepahaman kita bersama. Serta mencairkan berbagai bahasa teknis dan kebijakan, karena bahasa pembangunan itu adalah Bahasa Indonesia <http://groups.yahoo.com/group/referensi/message/358> juga, jadi seharusnya setiap orang dapat memahami dan mengerti komunikasi ini.
Hidden agendanya pernah saya ungkapkan dalam kopi darat, yaitu 'memurahkan' segala ide dan gagasan pembangunan, serta menjadikan setiap orang 'touchable'. Diferensiasi antar milis diharapkan kita memiliki ruang yang cukup untuk berkomunikasi. Milis Perkotaan ini dimoderatori oleh Pak Dwiagus, Milis Referensi oleh Pak Eko BK, dan Milis Futurologi oleh Cak Andri. Sebenarnya ada Milis Kebudayaan yang dimoderatori oleh Bang Zaid, serta Milis Permukiman yang dulu dimoderatori oleh Bang Jehan. Terima kasih atas dukungan bapak dan rekan-rekan selama ini. Salam. -ekadj, dan back-office safri- --- In [email protected], "risfano" <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Pak Djarot, Bang Ekadj dan Rekan-rekan ysh, > > Sebagai selingan diskusi Nilai/Harga Tanah, saya ingin menyisipkan > Bab tentang "nilai-nilai" dalam pengertian lain. > > Dunia "perencanaan" adalah dunia yang menciptakan komunitas- > komunitasnya. Baik itu komunitas 'darat' maupun virtual. Komunitas > yang berbeda punya wacana, paradigma, bahkan dalam pengertian > terbatas 'budaya' yang beda pula. > > Dalam tiap wacana komunitas tentu muncul 'sistem nilai', > ukuran 'mulia atau rendah' yang beda pula. Kalau komunitas itu > dinamis maka akan terjadi 'perebutan', 'persaingan', yang > menimbulkan debat. Tapi kalau kurang dinamis, atau struktur 'kuasa' > antar anggota jelas dikenali, maka dinamika tidak terjadi, karena > mayoritas ya 'manut' saja. > > Kalau mengambil kasus milist 'perkotaan' dan 'referensi' ini > misalnya. Untuk lingkungan atau komunitas kecil ini saja, Wacana > Perencanaan yang berkembang menunjukkan strukturnya. > > Sebagai contoh. Kalau dibandingkan dengan wacana perencanaan di > sekolah (PWK), maka komunitas 2 milist ini lebih didominasi > aspek 'penataan ruang'nya. Sehingga norma-norma dan variabel yang > dominan adalah nilai ruang. Padahal wacana yang dikembangkan di > sekolah, dan di dunia kerja umumnya, pengertian perencanaan > pembangunan daerah dan kota (PWK) jauh lebih luas dari itu. Adanya > dominasi wacana yang bias 'penataan ruang' itu, membuat wacana lain > serasa 'menyimpang'. > Dari sisi lain ini sebetulnya merugikan, karena pembahasan mengenai > housing (perumahan & permukiman), pertanahan, masalah banjir, > masalah kemiskinan dan pegangguran perkotaan, dst. Menjadi sesuatu > yang seolah "di luar planning". > > Kalau ambil contoh lebih spesifik, milist "perkotaan", yang dibuat > untuk difersifikasi, menampung diskusi di referensi yang spesifik > bicara tentang kota. Milist ini seharusnya bisa menarik. Namun > karena anggotanya juga member 'referensi' sementara wacana dominan > di referensi bias 'menistakan' perencanaan kota (dianggap anti > keadilan regional), maka diskusi di 'perkotaan' ini jadi tidak > berkembang. Padahal ada 400an kota di negeri ini yang layak dibahas, > misalnya. > > Ada juga kasus, seorang arsitek yang sudah alih profesi menyatakan > bahwa "arsitek profesi perusak". Ini semestinya bisa jadi topik > diskusi. Tapi itu namanya dominasi. Yang terjadi adalah norma si > dominan. Saat ditonjolkan juga tokoh arsitek pro-rakyat ala Romo > Mangun, Hasan Purbo, ada pendapat 'jangan me-mistifikasi mereka > lah'. Lalu itu jadi 'kebenaran'. > > Contoh lain, adalah wacana yang berumur paling panjang di dunia > perencanaan, bahwa 'kebenaran' datang dari pemerintah. Ada > anggapan "negara = pemerintah" itu sendiri. (Istilah Jawa nya dunia > priyayi). Swasta itu dikonotasikan nista dan serakah. Sedang > komunitas masyarakat adalah obyek penertiban. Seiring dengan > reformasi struktur dominasi 'kebenaran' ini semenjak reformasi dan > demokratisasi mulai mencair, ditandai dengan banyaknya penggunaan > istilah 'partisipasi' dalam perencanaan. Namun tentu untuk generasi > tertentu masih kuat. > > Ini adalah contoh latihan kompetisi atau perjuangan merebut wacana > yang hasilnya seolah menentukan nilai baik/buruk suatu pendapat atau > tindakan. Sekali lagi perlu disadari, itu bukan kebenaran universal, > ya setempat itu saja. > > Saya pikir pengenalan analisis Wacana Perencanaan ini tak ada > salahnya diketahui, karena sebagai Planner pekerjaannya adalah > berpindah dari satu komunitas (pusat, departemen, daerah, kota, > dinas ini/itu, forum ini/itu) yang punya wacana, paradigma, norma > spesifik disamping yang universal PWK. Karena kalau tidak > menyadarinya, skenario yang ada tinggal: ngotot saja, manut atau > frustrasi. Padahal mestinya bisa negosiasi untuk mencari titik temu. > Sehingga ada perluasan wacana, masing-masing berusaha memahami nilai- > nilai yang dianut masing-masing, jangan sebaliknya kian menyempit. > > Salam, > Risfan Munir >
