Bapak2&ibu Yth,

Saya memang bbaru gabung disini, jadi masih adaptasi dengan forum yang ingin 
didiskusikan. Sementara saya masih bingung karena memang fokus perkotaan sangat 
luas, dari yg bersifat toeritical,empirical sampai pada istilah2 yang ngetrend. 
Jadi maaf kalau saya blm masuk. Mungkin awalnya saya bisa sharing apa yg pernah 
saya teliti, dan itu pula seberapa member yg interest.
Ok sementara demikian , terimakasih saya diterima dal komunitas ini, mudah2 
saya dapat kontribusi dg baik

Salam
Rima

--- On Sat, 11/8/08, modreferensi <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
From: modreferensi <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: [perkotaan] Re: Nilai tanah
To: [email protected]
Date: Saturday, November 8, 2008, 4:48 PM










    
            

Pak Djarot, kelihatannya Ibu Rima sudah bergabung dengan kita, namun

masih mempelajari dulu bahan-bahan yang ada. Sebenarnya bisa melihat

arsip di milis ini melalui browser yahoogroups. com. Ada beberapa file

yang saya kirim sebagai attachment tentunya tidak bisa dilihat.



Fokus saya sebenarnya pada penataan kawasan (neighbourhood unit) dengan

satuan persil. Tahap sekarang baru sampai pada land evaluation, nantinya

akan sampai pada beberapa teknik replotting, contribution, dan land

readjustment. Penafsiran lebih lanjut saya harapkan dapat dikembangkan

untuk 'pengaturan' zonasi hingga 'peraturan' zonasi', serta restruktur

internal kota. Namun saya akan lanjutkan lagi insya Allah awal tahun

depan.



Bila Ibu Rima punya pendekatan dan perspektif lain (konotasi/denotasi? ),

tentunya tidak harus bersifat reaktif, dapat diketengahkan sebagai bahan

pembelajaran bagi kita bersama. Salam.



-ekadj



--- In [EMAIL PROTECTED] ps.com, Djarot Purbadi <[EMAIL PROTECTED] .> wrote:

>

> Pak saya belum memeriksa secara teliti, apakah beberapa tanggapan dari

mbak Rima sudah masuk milis ini. Beliau mengingatkan, apakah fokusnya

tentang tanah, lahan, ruang atau spasialitas, atau yang lain lagi.

Tampaknya fokus panjenengan pada lahan atau persil ya....

>

> Salam,

>

>

>

> Djarot Purbadi

>

>

>

>

> --- On Wed, 11/5/08, - ekadj [EMAIL PROTECTED] wrote:

> From: - ekadj [EMAIL PROTECTED]

> Subject: [perkotaan] Re: Nilai tanah

> To: [EMAIL PROTECTED] ps.com

> Cc: [EMAIL PROTECTED] ups.com

> Date: Wednesday, November 5, 2008, 9:03 AM

>

>

>

>

>

>

>

>

>

>

>

> Pak Djarot ysh, babakan ini sebenarnya merupakan evaluasi persil,

berupa konversi nilai lahan untuk memperoleh Indeks Persil. Akumulasinya

nanti akan menentukan 'nilai kawasan'. Bila Pak Djarot memperhatikan

formulasi sebelumnya yaitu 'Nilai Jalan', maka sebenarnya seluruh

konsideran ketataruangan telah tertuang di dalam itu, seperti faktor

ketersediaan infrastruktur, jarak lokasi, dst.

>

>

> Kita sebenarnya dapat memahami bila sekecil apapun pengembangan

infrastruktur atau perubahan pemanfaatan ruang, impact-nya akan menjalar

ke seluruh kawasan. Dampaknya yang terutama adalah perubahan nilai

lahan. Sehingga bila menghitung nilai lahan suatu persil maka kita perlu

pula menghitung 'nilai kawasan'.

>

>

> Saya belum punya rumusan untuk 'skala kawasan efektif' yang berada

dalam 'range perubahan', sehingga perhitungannya juga efektif. Namun

kira-kira saja serta sedikit pengalaman lapangan: jarak maksimal radius

2 km (jarak tempuh maksimal jalan kaki di iklim tropis) atau berada

dalam luasan < 30 Ha. Mungkin ini dapat diuji lebih lanjut.

>

>

> Memang Jepang mengkuantifisir seluruh pertimbangan keruangan. Saya

pernah menanyakan perihal fengshui, fushui, dan sejenisnya; namun mereka

menjawab bila masyarakat Jepang saat ini sudah tidak mempercayai hal-hal

seperti itu. Di kita hal-hal seperti ini masih diperhitungkan sebagai

'nilai'. Namun bisa saja koefisien ini nanti kita tambahkan dalam

formulasi. Terlampir saya sampaikan gambar simulasi Dynamic Tower di

Dubai yang saat ini mulai dibangun. Setiap lantai bergerak dengan

kecepatan berbeda-beda. Nah kalau sudah begini, bagaimana dengan

pertimbangan orientasi?

>

>

> Demikian pak, mohon pertimbangan lebih lanjut. Salam.

>

> -ekadj

>

> 2008/11/5 Djarot Purbadi [EMAIL PROTECTED] com

>

>

>

>

>

>

>

>

>

>

> Pak Ekadj, penjelasan yang sudah diberikan menurut kesan saya

cenderung kepada harga tanah, bukan nilai tanah. Saya kira persoalannya

memang rumit, sebab minimal dua dimensi terkait di dalamnya, yaitu

kualitatif dan kuantitatif. Bagaimana Pak, apakah demikian ?

>

>

> Salam,

>

> Djarot Purbadi

>

>

>

>

> --- On Wed, 11/5/08, - ekadj [EMAIL PROTECTED] com> wrote:

>

>

> From: - ekadj [EMAIL PROTECTED] com>

> Subject: Re: [perkotaan] Nilai tanah

> To: [EMAIL PROTECTED] ps.com

>

> Cc: [EMAIL PROTECTED] ups.com, planologi-untar@ yahoogroups. com

> Date: Wednesday, November 5, 2008, 12:01 AM

>

>

>

>

>

>

>

>

> Pak Risfan dan rekan2 ysh,

> Saya lanjutkan lagi cara perhitungan Indeks Persil untuk kasus c]

Persil sudut (hook) di perumahan :

>

> Dengan depth = 15m, maka DSDR = 100%

>

> - Untuk front street: 1000 * 100% = 1.000 unit/m2

>    Indeks Persil utama = 180 m2 * 1000 unit/m2 = 180.000 unit

>

> - Untuk side frontage, digunakan tabel 2-1 terlampir, yaitu

menambahkan koefisien keuntungan, yaitu 0,5 m sehingga Indeks Persil

tambahan :

>

> 800 unit/m2 * 15 m * 0,5 m = 6.000 unit

>

> Indeks Persil total = 180.000 + 6.000 = 186.000 unit

> Indeks Persil per m2 = 186.000 unit / 180 m2 = 1033,33 = 1033 unit/m2

> Koreksi Indeks Persil total = 180 * 1033 = 185.940 unit

>

> Kita lanjutkan untuk kasus d] Persil dua muka pada permukiman di

antara 2 jalan berbeda :

>

> Dengan depth = 15m, maka DSDR = 100%

>

> - Untuk front street: 1000 * 100% = 1.000 unit/m2

>    Indeks Persil utama = 180 m2 * 1000 unit/m2 = 180.000 unit

>

> - Untuk rear frontage, digunakan tabel 2-2 terlampir, yaitu

menambahkan koefisien keuntungan, yaitu 0,075 m sehingga Indeks Persil

tambahan :

>

> 800 unit/m2 * 15 m * 0,075 m = 900 unit

>

> Indeks Persil total = 180.000 + 900 = 180.900 unit

> Indeks Persil per m2 = 180.900 unit / 180 m2 = 1005 unit/m2

>

> Untuk kasus dua muka yang terletak pada 1 jalan, maka digunakan

koefisien pada kolom kanan tabel 2-2.

>

> Demikian sementara waktu pak. Salam.

>

> -ekadj

>

>

> 2008/11/4 - ekadj [EMAIL PROTECTED] com>

>

>

> Pak Risfan yang baik,

> Saya memang mau istirahat dulu, insya Allah tahun depan mau dimulai

lagi.

>

> Dari contoh bapak memang ada perbedaan nilai dari aspek 'pemanfaatan

lahan', dan seharusnya hal ini ada cara untuk mengukurnya. Dari

pelajaran yang saya peroleh memang tidak menghitung nilai per zona di

dalam suatu kawasan; tapi langsung kepada perhitungan nilai persil.

Persil itupun bisa berbeda nilainya bila terletak pada zona yang

berbeda. Untuk itu diperlukan suatu konversi yang menyetarakan

perhitungan, baik secara: 1 pemanfaatan ruang di dalam persil

berdasarkan zona; maupun 2 lebar (depth) persil dari sisi jalan.

>

>

> Saya diberikan tabel konversi (DSDR = depth successive decrease ratio)

terlampir, yang pernah saya tanyakan kebenaran angkanya, dan dijawab

bila hal itu telah diperoleh dari pengalaman Jepang yang panjang, dan

bersifat universal; jadi tinggal menggunakan saja. Saya kira ini semacam

tabel logaritma yang dulu biasa kita gunakan pada waktu SMA. Dan bila

ditelisik, memang rasionalitasnya bisa ketemu.

>

>

> Dalam praktek kita melihat pada kenyataannya bentuk persil

berbeda-beda, dan juga ada aspek posisi dari jalan. Sehingga dalam

contoh terlampir saya sampaikan beberapa representasi: a] persil

berbentuk biasa, b] persil tidak beraturan, c] persil sudut (hook), d]

persil dua muka, e] persil terisolasi, dan f] persil berbentuk bendera.

Kita ambil contoh luasan masing-masing bentuk persil adalah sama, yaitu

180 m2. Dari perbedaan lokasi dan bentuk itu dapat dibuktikan 'nilai

lahan' yang berbeda.

>

>

> Beberapa asumsi lain adalah Nilai Jalan adalah 1000 unit/m2. Nilai

Jalan ini kita peroleh dari rumus sebelumnya yang pernah saya kirim.

Nilai Jalan yang dimaksud adalah 'Indeks Nilai Jalan' yang dihitung

berdasarkan tiap persil, sehingga satuannya adalah unit/m2.

>

>

> Evaluasi terhadap persil (Indeks Persil) dihitung berdasarkan Indeks

Nilai Jalan * Fitur Persil (DSDR).

>

> Saya coba contoh perhitungan untuk kasus a] Persil biasa (perumahan) :

>

> Bila depth = 15m, maka DSDR = 100%

> - Indeks Persil per m2 = 1000 * 100% = 1000 unit/m2

> - Indeks Persil total = 180 m2 * 1000 unit/m2 = 180.000 unit

>

> Kita coba untuk contoh b] Persil tidak beraturan :

>

> Untuk bagian A besar (120 m2), depth = 15 m, maka DSDR = 100%

> - Indeks Persil per m2 = 1000 * 100% = 1000 unit/m2

> - Indeks Persil total A = 120 m2 * 1000 unit/m2 = 120.000 unit

>

> Untuk bagian B kecil (60 m2), depth = 10 m, maka DSDR = 98,2%

> - Indeks Persil per m2 = 1000 * 98,2% = 982 unit/m2

> - Indeks Persil total B = 60 m2 * 982 unit/m2 = 58.920 unit

>

> Sehingga Indeks Persil total A dan B = 120.000 + 58.920 = 178.920

unit,

> atau Indeks Persil per m2 = 178.920 / 180 = 994.

>

> Untuk perhitungan pada posisi hook dll, akan coba saya sambung kelak.

>

> Demikian dulu sementara waktu pak. Salam.

>

> -ekadj

>

>

> 2008/11/2 Risfan M [EMAIL PROTECTED] com

>

>

>

>

>

>

>

> Bang Eka dan rekans ysh,

>

> Bang Eka, bagaimana kelanjutan kajian Anda dkk tentang "nilai tanah"?

Ini sebiknya dilanjutkan terus. Suka atau tidak, tata ruang selalu

mempengaruhi dan dipengaruhi nilai tanah. Mau tak mau logika "land rent"

memang berlaku. Ujungnya ke 'harga tanah' juga.

>

>

> Kalau penataan ruang, terutama di perkotaan, menganggap faktor

nilai/harga tanah itu tak ada (cateris paribus), maka akibatnya bisa

menguntungkan fihak tertentu saja (yang tahu harga), sementara ada pihak

yang berisiko dizalimi.

>

>

> Pada "satu hektar" tanah yang sama, seorang developer bisa melihatnya

sebagai "emas coklat", sementara petani pemiliknya hanya melihatnya dari

sisi "harga gabah" yang tidak naik-naik (sulit diharap untuk

menyekolahkan anak, apalagi ongkos pergi haji). Maka kita tahu arah

trend peruntukannya kemana. Bagaimana pula pandangan peerencana?

Bagaimana kemungkinan pelaksanaan pemanfaatan ruangnya?

>

>

> Sebagian dari perencana mungkin menganggap pembicaraan "harga tanah"

sesuatu yang "tabu". Tapi adalah kenyataan, baik individu atau lembaga

pemerintah" untuk mendapatkan site/lokasi ya harus menghitung "harga

tanah" itu.

>

> Karenanya perlu kesadaran bahwa penataan ruang mempengaruhi "harga

tanah", karenanya kalau bisa kepentingan publik dan masyarakat lemah

"diamankan" akan ikut menimati dinamikanya. Jangan justru membuat Pemda

tak bisa membangun Puskesmas, sekolah dan sarana lain, karena naiknya

"harga tanah" yang direncanakannya sendiri.

>

>

> Salam,

> Risfan Munir




      

    
    
        
         
        
        








        


        
        


      

Kirim email ke