Bagi sebagian mahasiswa Indonesia di luar negeri yang untuk pertama
kalinya menyambut 1 Ramadhan di negeri orang akan menciptakan
romantika tersendiri.
Berpisah jauh dari keluarga membuat hidup bak sebatang kara. Apalagi
mereka tinggal di lingkungan yang mempunyai latar belakang dan adat
istiadat yang jauh berbeda.
Perasaaan kesendirian bercampur kerinduan yang mendalam, membuat
guliran air mata di pipi tidak terelakkan lagi. Malah sampai menangis
terisak-isak sendirian di apartemen.
Terbayang oleh mereka, beragam keindahan berpuasa di tanah air
bersama keluarga.
Saat-saat disuruh ibunda berbelanja ke pasar untuk keperluan berbuka
puasa dengan berjalan kaki..
Saat-saat membantu ibunda menanak nasi, membuat kolak, sampai
menyiapkan makan.
Saat-saat di mana mereka disuruh ayahanda membangunkan adik-adik
untuk makan sahur.
Saat-saat mereka mengantar ayahanda pergi membeli makanan menjelang
adzan maghrib.
Setiap kali bayangan kesibukan orangtua menghinggapinya, hati mereka
seakan-akan ingin kembali pulang ke tanah air. Ingin membantu.
Terlebih kalau diingat, ibunda maupun ayahandanya sudah berusia
lanjut.
Bukan itu saja.
Muncul pula keinginan mereka untuk mengirimkan ini dan itu saat
tangisan mereka itu belum terhenti. Karena mereka tahu betul, apa
yang
keluarga mereka butuhkan, khususnya dalam menghadapi bulan Ramadhan.
Ya ...
Bayangan tinggal bayangan.
Keinginan pun tinggal keinginan.
Mereka belum bisa mengwujudkan semuanya. Maklum, mereka belum
berpenghasilan. Mereka pun bisa ke luar negeri karena bea siswa untuk
biaya sekolah dan uang saku yang pas-pasan.
Nasrullah Idris
---------------------