At 09:38 AM 12/19/1998 +0700, Nasrullah Idris wrote:
----------------------------------------------------
> Bagi sebagian mahasiswa Indonesia di luar negeri
>yang untuk pertama kalinya menyambut 1 Ramadhan di negeri
>orang akan menciptakan romantika tersendiri.
> Berpisah jauh dari keluarga membuat hidup bak sebatang
>kara. Apalagi mereka tinggal di lingkungan yang mempunyai
>latar belakang dan adat istiadat yang jauh berbeda.
> Perasaaan kesendirian bercampur kerinduan yang
>mendalam, membuat guliran air mata di pipi tidak terelakkan
>lagi. Malah sampai menangis terisak-isak sendirian di apartemen.
... deleted ...
IA: Wah Kang Acu jadi sentimentil gini yah ? ;-)
> Muncul pula keinginan mereka untuk mengirimkan ini dan
>itu saat tangisan mereka itu belum terhenti. Karena mereka tahu
>betul, apa yang keluarga mereka butuhkan, khususnya dalam menghadapi
>bulan Ramadhan.
> Ya ...
> Bayangan tinggal bayangan.
> Keinginan pun tinggal keinginan.
> Mereka belum bisa mengwujudkan semuanya. Maklum, mereka belum
>berpenghasilan. Mereka pun bisa ke luar negeri karena bea siswa untuk
>biaya sekolah dan uang saku yang pas-pasan.
IA: Wah kalau yang model gini sih namanya mahasiswa pasif. ;-)
Udah tahu duit beasiswa nggak cukup, mbok ya cari kerja sambilan tho.
Jadi Research Assistant kek, Teaching Assistant kek, atau kerja
lainnya. Nganter koran juga boleh. Kalau ada niat ... bisa lah. ;-)