Cuplikan ttg. Hati Nurani: Dari dulu kita lebih tertarik dan mengagumi bintang di langit, bintang panggung, bintang lapangan, tetapi enggan memandang cahaya bintang di hati. Sejak zaman purba bintang di langit selalu menarik perhatian manusia. Bagi para pelaut ataupun musafir di padang pasir beberapa bintang tertentu bisa berperan sebagai kompas, memberikan pedoman untuk menentukan arah perjalanan agar tidak tersesat jalan. Sementara itu, kata Immanuel Kant, kita melupakan bintang di hati yang perannya memberikan petunjuk moral. Dalam setiap diri kita terdapat nurani, yaitu cahaya lembut yang selalu memancarkan kebajikan Ilahi, hanya saja volume dan frekuensinya berbeda-beda karena tidak semua orang konsisten menggosok cermin hati sebagai reflektor nurani agar seluruh pikiran dan perilakunya mendapat bimbingan terang Ilahi. Mata, telinga dan pikiran kita lebih banyak diarahkan ke luar tetapi sedikit sekali diarahkan ke dalam, mendengarkan hati nurani yang terbebas dari interest dan ambisi pribadi yang menimbulkan pola hubungan win-lose. Sumber: http://www.kompas.com/kompas-cetak/9901/18/UTAMA/dial01.htm -- Indi Soemardjan Be my guest: http://pagina.de/indradi
