Paus adalah betul2 seorang yang mampu berpikiran terbuka.
Paus berkata:
"Di dalam agama kita, terdapat sebuah tingkat kesepakatan untuk dapat
secara berdaya guna menunjukkan belas kasih kepada sesama. Bukankah di
sini terdapat sebuah bidang datar yang luas untuk membangun kerja sama
antara umat Kristiani dan kaum Muslimin?" katanya.
Ah, andai saja kita semua bisa berniat baik seperti halnya Paus ini. :)
Selamat membaca dan mohon maaf lahir batin untuk semua pembaca surat
listrik ini.
INDI
----------
Senin, 18 Januari 1999
Pesan Damai Idul Fitri
dari Paus
Jakarta, Kompas
Kasih Tuhan kepada bangsa
manusia bersifat universal, melampaui
batas-batas politik,
perbedaan ras, kebudayaan, maupun agama.
Kasih Tuhan juga
melampaui batas-batas pilihan politik atau ideologi,
tak terikat kepada
situasi sosial tertentu. Karena itu atas dasar iman
kepercayaan, kita
dipanggil untuk saling mengasihi.
Demikian salah satu isi
pesan Idul Fitri pimpinan Gereja Katolik di
Roma, Paus Johannes
Paulus II kepada kaum Muslimin Indonesia
melalui Ketua Dewan
Kepausan untuk Dialog Antarumat Beragama,
Kardinal Francis Arinze
dari Roma yang diterima Kompas hari
Minggu (17/1).
Paus juga mengungkapkan,
kasih sejati terdapat pada inti cara
bertindak orang beriman.
"Orang-orang Kristiani maupun Muslim
tidaklah selalu (saling)
mengasihi dan menghormati sebagaimana
dituntut oleh Tuhan.
Sayang, bahwa kurangnya kasih timbal balik ini
tidak saja merupakan
sebuah fakta sejarah di masa lampau, akan
tetapi juga bagian dari
kenyataan masa kini," ungkap Paus asal
Polandia ini.
Meskipun demikian, kata
Paus, tetaplah penting mencatat dan
menyampaikan berbagai
macam situasi di mana orang-orang
Kristiani dan Muslim
menjalankan hidup yang damai dan membawa
berkah.
"Contoh-contoh semacam
itu mendorong kita untuk mengusahakan
semua yang mungkin kita
lakukan sehingga orang-orang Kristiani
dan Muslim di mana saja
dapat hidup bersama dengan damai,"
katanya.
"Kita dipanggil untuk
memeriksa hakikat hubungan kita, baik pada
masa lalu maupun masa
sekarang ini, dan lebih-lebih untuk
mengambil keputusan agar
hubungan semakin sesuai dengan
kehendak Tuhan: menjadi
saksi kebaikan dan belas kasihan-Nya,
khususnya bagi anggota
masyarakat yang lebih lemah," ungkap
Paus, dalam pesan
tertulisnya.
Saat istimewa
Idul Fitri setelah bulan
(puasa) Ramadhan, menurut Paus Johannes
Paulus II, adalah
saat-saat istimewa bagi Tuhan dan sekaligus bagi
bangsa manusia.
"Teristimewa bagi Tuhan,
karena hari-hari raya secara lebih kuat dan
dalam bentuk kebersamaan
mengingatkan kita pada kehadiran dan
tindakan Tuhan dalam
sejarah manusia dan dalam hidup pribadi serta
keluarga kita
masing-masing," ungkapnya.
"Hari raya seperti itu
menjadi istimewa bagi kita umat manusia,
karena juga menjadi
kesempatan untuk beristirahat, untuk
berdoa dan refleksi,
menjadi saat untuk diri sendiri dan juga untuk
bertemu dengan handai
taulan, sahabat dan tetangga."
Tuhan, menurut Paus,
mengasihi semua manusia tanpa kecuali. Ia
adalah sumber segala
kasih dalam keluarga, masyarakat dan dunia.
"Hanya dari Tuhan sajalah
kita belajar saling mengasihi tanpa
pamrih, tanpa
mengharapkan balas jasa di dunia".
"Tuhan itu Maha
Penyayang. Ia dekat kepada hamba-hamba-Nya. Ia
mendengarkan doa mereka.
Maka dari itu, dapatlah kita katakan
bahwa kepercayaan kepada
Tuhan mengajak kita untuk bersikap
baik terhadap
saudara-saudari kita," kata pimpinan umat Katolik ini
pula.
Paus juga menyoroti arti
sedekah, baik dalam arti sehari-hari
maupun dalam arti yang
lebih luas dan lebih dalam. "Sedekah dalam
kesempatan Idul Fitri
memiliki makna penting yang istimewa:
kepedulian kepada para
yatim-piatu, lanjut usia, penderita sakit,
perantau".
"Sedekah juga merupakan
keterlibatan untuk memajukan martabat
manusia dan keberpihakan
kepada hak-hak asasi manusia,
keterlibatan kepada
perkembangan, kepada pergumulan melawan
kejahatan di dalam
masyarakat kita seperti buta aksara, pengaruh
obat terlarang,
penyalahgunaan anak-anak di bawah umur dan
kekerasan terhadap kaum
perempuan," kata Paus.
Sedangkan memaafkan,
berdamai, membuka kembali dialog yang
terputus, memajukan
perdamaian, pendidikan untuk menghormati
lain, menurut Paus, itu
semua merupakan cara mengungkapkan
kasih.
"Di dalam agama kita,
terdapat sebuah tingkat kesepakatan untuk
dapat secara berdaya guna
menunjukkan belas kasih kepada
sesama. Bukankah di sini
terdapat sebuah bidang datar yang luas
untuk membangun kerja
sama antara umat Kristiani dan kaum
Muslimin?" katanya.
Melawan kasih
Sedangkan tentang
tindakan yang melawan kasih, menurut Paus,
ada bermacam-macam
ragamnya. Dari melalaikan kebutuhan orang
lain, menolak kewajiban
untuk setia kawan, sikap benci, diskriminasi
berdasarkan jenis
kelamin, keturunan dan agama, semua bentuk
ketidakadilan dalam
segala bentuknya.
"Di dalam agama kita
masing-masing terdapat arah yang kuat
menuju titik temu yang
sama dalam mengutuk kesalahan-kesalahan
semacam itu," ungkap Paus
pula.
Paus Johannes Paulus II
tidak hanya menyampaikan pesan damai
Idul Fitri ini atas nama
dirinya, akan tetapi juga atas nama pribadi
dan seluruh umat Katolik
di dunia. (sha)
--
Indi Soemardjan
Be my guest: http://pagina.de/indradi