Dari seorang kawan.....
============
Jumat, 22 Januari 1999
Jakarta, Jawa Pos
Kerusuhan yang terjadi di Ambon ternyata membuat gerah Ketua Umum PB NU KH Abdurrahman Wahid. Gus Dur _panggilan cucu pendiri NU ini_ merasa gerah karena peristiwa di Ambon itu akibat upaya mencampuradukkan kepentingan agama dengan politik. __Jadi, peristiwa Ambon ini mengingatkan seluruh pemimpin di Indonesia agar menjauhkan agama dari politik,__ ujar Gus Dur kepada Jawa Pos di Jakarta kemarin.
Gus Dur menyatakan, mencampuradukkan agama dengan politik akhirnya akan merugikan seluruh warga bangsa, baik yang pro maupun kontrareformasi. Gus Dur sendiri mengamati pemisahan agama dari politik atau kekuasaan itu belum berlangsung sempurna saat ini. Akibat tidak tegasnya pemisahan tersebut, ujar cucu pendiri NU itu, kekuatan-kekuatan politik, baik yang pro maupun kontrareformasi, bisa dijebak untuk saling berkonfrontasi.
__Ini sudah nggak bener. Kalau negara kita belum bisa independen dari kehidupan agama, kenyataannya memang begitu. Tapi, itu tidak berarti agama boleh dipakai untuk kepentingan politik oleh penguasa atau para penentangnya. Bagaimanapun, agama tidak boleh dipakai untuk kepentingan politik," ujar Gus Dur.
Apakah kerusuhan Ambon terkait dengan pemanfaatan isu agama untuk kepentingan politik? Tanpa berbelit-belit, Gus Dur mengiyakan pertanyaan itu. Bahkan, ketua Forum Demokrasi kelahiran Jombang itu mengaku memperoleh laporan tentang penggerak dan sebab-sebab kerusuhan di Ambon.
Dalam laporan yang sampai ke dirinya, disebutkan bahwa penggerak kerusuhan Ambon tinggal di Jakarta. Uniknya lagi, Gus Dur menuturkan orang tersebut bertempat tinggal di Ciganjur, tak jauh dari rumahnya.
__Saya nggak usah ngomong siapa dia. Anak buahnya ya orang-orang begituan (preman, Red)," kata Gus Dur. Dia menambahkan, menjelang Idul Fitri, sekitar 160 orang lebih anak buah penggerak kerusuhan itu, yang seluruhnya anak-anak Maluku, pulang ke Ambon. Sampai di sana, mereka melihat orang Kristen mulai ditendangin dari pekerjaan mereka. Melihat kejadian itu, ujar Gus Dur, para anak buah penggerak kerusuhan itu marah, lalu mulai membikin persoalan.
Begitulah, tutur Gus Dur, karena tidak bisa membalas dendam kepada pemimpinnya, mereka membalas kepada rakyat Islam biasa di Ambon. __Kita kasihan pada kaum muslimin di sana. Mereka tidak memiliki kesalahan sedikit pun. Mereka hanya jadi korban pertarungan para elite politik di Jakarta," ujar Gus Dur.
Ketua umum PB NU itu mengingatkan, hendaknya para penguasa memetik pelajaran dari peristiwa Ambon. Pesan itu menyuarakan agar janganlah pihak yang merasa menang mengambil semua ke dalam tangannya. __ Belajarlah berbagi kekuasaan dan tanggung jawab dengan seluruh komponen masyarakat. Jika timbul masalah, pasti akan ada tanggung jawab bersama untuk mengatasinya," tandasnya.
Di hadapan sejumlah wartawan di rumahnya itu, Gus Dur berkali-kali mengingatkan bahwa pencampuradukkan agama dengan kekuasaan bisa memberikan peluang kepada kekuatan antireformasi untuk membikin ulah dan menjalankan agenda politik mereka. Sebab, lanjut dia, jika isu agama yang dipakai, siapa pun bisa merasa terpanggil untuk terlibat dalam semua jenis pertikaian.
__Agama itu masalah yang sangat sensitif. Biarkanlah agama hidup dan berkembang dengan aman dan damai. Jangan dicampuradukkan dengan politik, pangkat, jabatan, atau apa pun. Itu bisa mengundang konflik," ujar Gus Dur.
Apa target kerusuhan Ambon? Menurut Gus Dur, peristiwa Ambon terkait dengan target kekuasaan. Pada tahap awal, tujuannya adalah merusak opini umum bagi berlangsungnya pemilu yang jurdil dan luber.
__Ini yang mesti diwaspadai. Makanya, dari dulu, saya berkata, biarlah pemilu berjalan dan menentukan siapa yang menang. Lho, ini maunya nggak pakai pemilu dan langsung menang saja. Kalau keadaannya begini, semua bakalan marah sama orang yang suka bikin ulah seperti ini. ABRI saja sudah nggak setuju dengan cara-cara begini," tutur Gus Dur dengan mimik serius.
Sementara itu, dalam wawancara dengan pers kemarin, Gus Dur menuturkan dirinya akan berobat ke Jerman pada minggu pertama Februari nanti. Pemilihan Jerman sebagai tempat berobat, menurut Gus Dur, tidak dilandasi pertimbangan khusus. Menurut dia, penyembuhan di Jerman amat diperlukan karena di negara itu banyak tenaga medis yang mampu menangani penyakit Gus Dur.
Saat ini, meski kondisi fisiknya berangsur-angsur membaik, Gus Dur mengaku badannya terus terasa panas. Sesekali suhu badannya berubah menjadi tinggi. Akibatnya, kata Gus Dur, seluruh tubuh terasa seperti semutan dan kepala pusing-pusing.
__Memang masih banyak pekerjaan yang belum rampung, termasuk pembentukan
Komisi Internasional untuk Kebenaran dan Rekonsiliasi. Tapi, insya
Allah, usai Lebaran ini, komisi yang akan saya ketuai itu secara infomal
mulai disempurnakan bentuknya," ujar Gus Dur yang sebelum wawancara
kemarin kedatangan tamu khusus dari IMF Khadim E.A., pengamat ekonomi
Hartojo Wignjowijoto, dan Menteri Transmigrasi dan PPH Letjen Abdullah
Mahmud Hendropriyono.***
