On Sat, 23 Jan 1999, Mochamad Hadiyana wrote:
|o|Faktor-faktor lain (supply, demand, dan lease backbone internet) sudah
|o|ditransformasi kedalam output yang berupa tarif Rp. 400.000 / bulan.
Perhitungan tsb kan kalo custumer ada berapa ratus, dan dollar berapa
rupiah. Kalo trend yg ada customer turun, dan dollar naik?
|o|Saya sampai sekarang tetap merasa bahwa tarif sebesar Rp. 400.000
|o|yang diterapkan oleh banyak ISP di INA (Indosat Net bahkan menetapkan
|o|tarif sebesar Rp. 1.200.000 untuk unlimited dial up mulai 1 Februari
|o|1999) dengan alasan bahwa tarif itu terlalu mahal dibandingkan dengan
|o|tarif kebanyakan ISP di USA ($ 19.5 / month). Sebenarnya tarif ISP
|o|di USA bukan suatu hal yng mustahil untuk diterapkan di INA. Buktinya
|o|salah satu ISP di INA, yaitu InfoAsia Indonesia Online telah
|o|menetapkan tarif sebesar Rp. 150.000 / bulan untuk Gold Unlimited dn
|o|Rp. 90.000 untuk Silver Unlimited; kenapa ISP-ISP lainnya tidak bisa?
|o|Hal itulah yang memaksa saya menulis "�.. (ISP) di INA untuk menarik
|o|keuntungan sebesar-besarnya".
Kalo ada yg nawarin ISP di Amerika per bulanya $5, apakah artinya hampir
semua ISP Amerika menarik keuntungan sebesar2nya?.
(ISP saya $10 per bulan
FYI: ISP Indonesia sekarang sudah banyak yg bangkrut. Hanya dedikasi
mereka ke Internet yg membuat mereka bertahan. *katanya* :)
Bisnis ISP adalah bisnis yg rugi sekarang di Indonesia
|o|Mengenai perbandingan dengan Malaysia, dengan asumsi bahwa kondisi
|o|INA sama dengan Malaysia (misalnya jarak kedua negara ini dari USA
|o|hampir sama dan dengan asumsi cost ISP sensitif terhadap jarak),
|o|boleh juga. Apakah anda punya data tarif internet untuk Malaysia?
|o|Saya akan membandingkannya; siapa tahu tarif di INA lebih murah
|o|dibanding Malaysia.
Tarif ISP diMalaysia kalau tidak salah hampir sama dgn Indonesia, tetapi
mereka punya no telp khusus buat ISP (1-800 number).
Kalau di Thailand, keadaanya sama saja dgn Indonesia. ;(
salam,
Alex
nb: Boleh kita liat samapai kapan InfoAsia berani ngasi harga segitu
terus.