Naskah ini diketik ulang dari print-out dan diusahakan seperti naskah ahlinya. Untuk tidak mempersulit pengambilan filenya, naskah ini dibagi menjadi 3 bagian. Semoga informasi ini bermanfaat

Salam
Adri Amiruddin

Kerusuhan di Maluku (Informasi dari Baileo-Maluku)


Kronologis Peristiwa

Peristiwa ini dipicu dengan adanya pemerasan oleh sekelompok pemuda Batu Merah-Bawah (Suku Bugis Makasar, beragama Islam) terhadap seorang sopir angkutan umum jurusan Batu Merah, bernama Jopy (warga Batu Merah, Suku Ambon, beragama Kristen). Perlakuan tersebut tidak diterima oleh Jopy sehingga membuatnya naik pitam (marah). Karena itulah Jopy pulang ke rumahnya lalu mengambil alat tajam (berupa parang) kemudian mengejar kelompok pemuda tersebut sampai ke pemukiman mereka. Tindakan Jopy tersebut tidak diterima oleh warga di pemukiman itu (sebagian besar suku Bugis-Makasar), sehingga mengakibatkan serangan balik terhadap Jopy yang dilakukan oleh warga pemukiman itu dalam jumlah yang cukup besar. Jopy berusaha menyelamatkan diri dengan berlari ke arah Mardika dan bertemu dengan sekelompok pemuda (sedang duduk) yang merupakan teman-temannya. Karena melihat temannya dikejar, kelompok pemuda tadi (teman0temannya Jopy) berusaha menghadang kelompok orang (warga Batu Merah Bawah) yang mengejar Jopy. Dari sinilah timbul perkelahian dari kedua kelompok warga tersebut (Batu Merah Bawah dengan Mardika) tanpa mengetahui siapa yang memulai. Saat itu juga terjadi perkelahian antara dua pemukiman tersebut (Batu Merah Bawah vs Mardika) dan semuanya sudah dilengkapi diri dengan senjata tajam berupa parang, tombak, panah-panah, bambu runcing, pipa besi, dll. Hal ini terjadi secara spontan.

Karena dipicu dengan isu SARA (perkelahian antar Agama), sehingga perkelahian tersebut merambat ke seluruh desa di Pulau Ambon. Perkelahian tersebut meningkat ke tindakan pembakaran dan pengrusakan terhadap rumah penduduk, tempat ibadah, kendaraan bermotor (becak, sepeda motor, mobil) beserta fasilitas umum lainnya (pasar, pertokoan, gedung-gedung milik pemerintah, bank, hotel. Peristiwa ini keesokan harinya (tanggal 20 Januari 1999) secara spontan terjadi di Pulau Seram (Maluku Tengah) dan Pulau Sanana (Maluku Utara). Menyangkut dua pulau terakhir (Seram dan Sanana) belum diperoleh data-data lengkap, jadi masih dalam proses pengumpulan data. Namun sampai informasi ini dikirim, secara umum tiap wilayah di Propinsi Maluku dalam suasana mencekam.

Situasi (sementara) Kota Ambon

Situasi kota Ambon dan sekitarnya, sejak mencuatnya peristiwa ini sampai berita ini dibuat (Jumat, 22 Januari 1999) bagaikan kota mati. Ini disebabkan karena masih ada saja kegiatan-kegiatan perkelahian dan pembakaran hampir di segala tempat. Peristiwa ini terjadi yaitu saling serang antara desa Kristen dan desa Islam atau sebaliknya. Penyerangan tidak tangung-tanggung karena diwarnai dengan pembunuhan, pembakaran, perusakan dan kegiatan lainnya. Pokoknya suasana ini seperti perang. Walaupun pihak keamanan sudah dikerahkan namun masih sulit untuk mengendalikan dan mengatasi keadaan. Hal ini disebabkan karena personil keamanan tidak mencukup walaupun sudah ada tambahan bantuan keamanan dari luar Maluku, diantaranya KOSTRAD dan AL dari Ujung Pandang serta POLRI (BRIMOB) dari Bali yang diperkirakan berjumlah sekitar 2500 personil. Hal ini diperburuk dengan meluasnya titik kerusuhan di berbagai tempat. Jadi tidak ada keseimbangan antara jumlah personil keamanan dan masyarakat yang bertikai.

Adri Amiruddin
[EMAIL PROTECTED]

Kirim email ke