Bung Ridwan dan Bung Panut,
Saya baru hari ini subscibe mailing list di PERMIAS ini, dan saya tertarik oleh bahasan2 yang di sampaikan oleh rekan-rekan (setidaknya yang sudah saya baca sejak sejam yang lalu). Lebih tertarik lagi setelah membaca bahasan anda berdua tentang sikap demokratis dan non-demokratis.
Saya sependapat dengan anda bahwa selama ini kita gencar teriak-teriak tentang demokrasi, dan segala embel-embelnya tanpa mengetahui makna sebenarnya dari demokrasi itu sendiri.
Kalau saya boleh menambahkan, pengertian kita terhadap demokrasi selama ini adalah sangat dangkal karena memang pendidikan politik masyarakat kita masih sangat kurang. Kalau kita ditanya tentang definisi dari demokrasi, sebagian besar orang akan memberikan respons dengan pernyataan bahwa demokrasi berarti pemerintahan oleh rakyat. Definisi ini adalah benar, tapi kita tidak boleh menelannya begitu saja, karena definisi itu sendiri tidak cukup untuk menjabarkan sebuah sistem pemerintahan yang demokratis.
Ada dua pengertian dasar dari demokrasi yang harus dipahami oleh kita yang memang benar2 ingin berbicara tentang demokrasi itu sendiri. Yang pertama adalah "principle democracy" atau demokrasi yang secara prinsip dianut oleh negara2 liberal, yaitu mengutamakan kebebasan, dan keadilan. Mungkin kita juga menghendaki kebebasan dan keadilan di masyarakat kita, tetapi kita juga sering menyalah artikan kebebasan itu sendiri. Kebebasan dalam demokrasi bukan berarti kebebasan tanpa batas yang efeknya bisa merugikan hak orang lain, seperti yang selama ini sering kita lihat di masyarakat kita. John Stuart Mill, yang membahas masalah "liberty" secara panjang lebar, menyatakan bahwa kebebasan kita tidak boleh menyebabkan kerugian pada orang lain, dan menyebabkan kebebasan orang lain terganggu. Hal senada juga telah banyak di kemukakan oleh para tokoh politik dari jamannya Plato sampai dengan para pemikir politik modern seperti John Locke.
Kalau ternyata tokoh-tokoh politik kita, masih suka bertindak menurutkan ambisi pribadi, dengan memaksakan kehendak, dan menggerakkan massa yang mengakibatkan kerugian pada orang lain, maka sebenarnyalah mereka belum memahami arti dari sebuah kata demokrasi. Atau mungkin karena sudah terlalu pintar, sehingga memanipulasi makna demokrasi itu sendiri untuk melegitimasi segala tindakannya. Saya sering merasa aneh melihat para tokoh politik kita, yang sebagian adalah lulusan ilmu poiltik dari negara sumbernya demokrasi, bertingkah seolah2 tidak mengerti makna demokrasi.
Pengertian dasar kedua dari demokrasi adalah "procedure democracy" yang mengutamakan sistem pemilihan umum, dan pemilihan wakil2 rakyat yang akan menjadi decision makers. Saya rasa anda berdua sudah membahasnya, dan saya setuju dengan pendapat Bung Ridwan dan Bung Panut, bahwa apapun hasilnya nanti, selama itu di lakukan dengan jujur dan adil, harus kita dukung. Kita tidak boleh memaksakan kehendak.
Wassalam
---bRidWaN <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Bung Panut,
> Terima kasih atas tanggapannya.
> Bolehkah saya menambahkannya dengan betapa pentingnya
> RUU POLITIK yang kini tengah 'dimainkan' oleh para
> anggota Dewan yang terhormat ?
> Kita tahu tageted datenya adalah 2 hari lagi, dan
> kita juga tahu bahwa UU Politik ini yang akan memegang
> kunci keberhasilan Pemilu nanti. Oleh sebab itu
> marilah kita doakan agar anggota Dewan (meskipun hasil
> Pemilu-pemiluan) dapat dibukakan pintu hatinya untuk
> memperjuangkan UU Politik yang aspiratif dan jurdil.
>
> UU Politik ini yang akan sangat menentukan apakah
> Pemilu nanti akan berhasil dan diakui serta didukung
> oleh seluruh rakyat Indonesia.
>
> Salam,
> bRidWaN
>
> ---------
> At 16:43 25/01/99 -0800, Panut Wirata wrote:
> >Saudara sekalian:
> >
> > " Yang penting, siapapun yang menang nanti, asalkan melalui
> > Pemilu yang 'jurdil', haruslah kita dukung. Tidak perduli
> > siapa yang kalah, atau yang menang. Salam, bRidWaN"
> ----
> >Pernyataan Bung Bridwan di atas adalah ungkapan dari pemahaman
> >sikap demokratis. Konsekuensi dari proses demokrasi, yaitu
> >hasil dari voting, balot,pemungutan suara, dsb dalam peristiwa
> >apapun baik rapat RT, rapat organisasi, atau bahkan Pemilu
> >harus didukung oleh segenap pengikut proses tersebut.
> >Tidak perduli kalah atau menang harus mendukung hasil dari
> >proses demokrasi tersebut.
> > Seringkali kita mendengar pernyataan demi pernyataan bahwa
> >si A tidak reformatif, si B tidak demokratis dsb tapi kita tidak
> >benar-benar tahu bagaimana sikap yang demikratis itu. Pejabat A
> >bilang bahwa si B tidak etis sebab berkata cuap-cuap-cuap.
> >Namun tidak jelas etika mana yang dipakai. Pemuka agama
> >menasihati supaya umatnya berbuat baik, tidak berbuat dosa,
> >namun tidak jelas perbuatan yang bagaimana yang baik dan
> >bagaimana yang dosa itu. Presiden menyarankan agar masyarakat
> >tetap menjaga kesatuan dan persatuan, tapi bagi seorang
> >individu bagaimana caranya menjaga kesatuan dan persatuan.
> >Seringkali pesan diberikan tanpa kejelasan dan karena itu
> >tidak efektif. Mungkin kita perlu lebih jelas dengan memberikan
> >contoh dan definisinya dalam memberikan penjelasan. Seruan dari
> >Ciganjur sangat bagus sebab seruan itu jelas dan orang dapat
> >mempraktekkannya.
> >Berkaitan dengan reformasi dan demokrasi, mungkin perlu dipikirkan
> >untuk membuat daftar dari sikap/praktek demokratis versus sikap
> >tidak demokratis, sikap reformatis dan sikap tidak reformatif.
> >Untuk memulainya, sikap demokratis adalah seperti yang diungkapkan
> >oleh Bung Bridwan, yaitu mendukung hasil pemilu (bila dilaksanakan
> >dengan jujur, adil, umum, langsung, bebas, rahasia dari orang
> >yang mempunyai hak pilih dan mau menggunakan hak pilihnya, dll).
> >Sedangkan sikap yang tidak demokrasi adalah tidak mengakui hasil
> >pemilu bila partainya tidak menang, lalu mengancam dan membuat
> >kerusuhan.
> >
> >Wassalam,
> >PPWW
>
DO YOU YAHOO!?
Get your free @yahoo.com address at Yahoo! Mail.
- Re: PARTAI KARBITAN DODO DOLITET
- Re: PARTAI KARBITAN bRidWaN
