Bung Dodo Dolitet,
Kita sama-sama belajar pemahaman demokratis.
Jangan seperti beberapa Tokoh, yang mengaku
seorang Demokrat, tapi kelakuannya 'agak'
berbeda dengan yang di-omongkan.

Itulah gunanya sumbang-saran atau 'KRITIK',
agar supaya kita dapat lebih maju lagi....:)
Salam,

bRidWaN
===========================================
At 19:48 25/01/99 -0800, DODO DOLITET wrote:

Bung Ridwan dan Bung Panut,
Saya baru hari ini subscibe mailing list di PERMIAS ini, dan
saya tertarik oleh bahasan2 yang di sampaikan oleh rekan-rekan
(setidaknya yang sudah saya baca sejak sejam yang lalu).
Lebih tertarik lagi setelah membaca bahasan anda berdua tentang
sikap demokratis dan non-demokratis. Saya sependapat dengan anda
bahwa selama ini kita gencar teriak-teriak tentang demokrasi,
dan segala embel-embelnya tanpa mengetahui makna sebenarnya dari
demokrasi itu sendiri. Kalau saya boleh menambahkan, pengertian
kita terhadap demokrasi selama ini adalah sangat dangkal karena
memang pendidikan politik masyarakat kita masih sangat kurang.

Kalau kita ditanya tentang definisi dari demokrasi, sebagian
besar orang akan memberikan respons dengan pernyataan bahwa
demokrasi berarti pemerintahan oleh rakyat. Definisi ini adalah
benar, tapi kita tidak boleh menelannya begitu saja, karena
definisi itu sendiri tidak cukup untuk menjabarkan sebuah sistem
pemerintahan yang demokratis. Ada dua pengertian dasar dari
demokrasi yang harus dipahami oleh kita yang memang benar2 ingin
berbicara tentang demokrasi itu sendiri.
Yang pertama adalah "principle democracy" atau demokrasi yang
secara prinsip dianut oleh negara2 liberal, yaitu mengutamakan
kebebasan, dan keadilan. Mungkin kita juga menghendaki kebebasan
dan keadilan di masyarakat kita, tetapi kita juga sering menyalah
artikan kebebasan itu sendiri. Kebebasan dalam demokrasi bukan
berarti kebebasan tanpa batas yang efeknya bisa merugikan hak
orang lain, seperti yang selama ini sering kita lihat di
masyarakat kita. John Stuart Mill, yang membahas masalah
"liberty" secara panjang lebar, menyatakan bahwa kebebasan kita
tidak boleh menyebabkan kerugian pada orang lain, dan menyebabkan
kebebasan orang lain terganggu. Hal senada juga telah banyak di
kemukakan oleh para tokoh politik dari jamannya Plato sampai
dengan para pemikir politik modern seperti John Locke.
Kalau ternyata tokoh-tokoh politik kita, masih suka bertindak
menurutkan ambisi pribadi, dengan memaksakan kehendak, dan
menggerakkan massa yang mengakibatkan kerugian pada orang lain,
maka sebenarnyalah mereka belum memahami arti dari sebuah kata
demokrasi. Atau mungkin karena sudah terlalu pintar, sehingga
memanipulasi makna demokrasi itu sendiri untuk melegitimasi
segala tindakannya. Saya sering merasa aneh melihat para tokoh
politik kita, yang sebagian adalah lulusan ilmu poiltik dari
negara sumbernya demokrasi, bertingkah seolah2 tidak mengerti
makna demokrasi.
Pengertian dasar kedua dari demokrasi adalah "procedure-
democracy" yang mengutamakan sistem pemilihan umum, dan
pemilihan wakil2 rakyat yang akan menjadi decision makers.

Saya rasa anda berdua sudah membahasnya, dan saya setuju
dengan pendapat Bung Ridwan dan Bung Panut, bahwa apapun
hasilnya nanti, selama itu di lakukan dengan jujur dan adil,
harus kita dukung. Kita tidak boleh memaksakan kehendak.

Wassalam
---bRidWaN wrote:
> Bung Panut,
> Terima kasih atas tanggapannya.
> Bolehkah saya menambahkannya dengan betapa pentingnya
> RUU POLITIK yang kini tengah 'dimainkan' oleh para
> anggota Dewan yang terhormat ?
> Kita tahu tageted datenya adalah 2 hari lagi, dan
> kita juga tahu bahwa UU Politik ini yang akan memegang
> kunci keberhasilan Pemilu nanti. Oleh sebab itu
> marilah kita doakan agar anggota Dewan (meskipun hasil
> Pemilu-pemiluan) dapat dibukakan pintu hatinya untuk
> memperjuangkan UU Politik yang aspiratif dan jurdil.
> UU Politik ini yang akan sangat menentukan apakah
> Pemilu nanti akan berhasil dan diakui serta didukung
> oleh seluruh rakyat Indonesia.
>
> Salam,
> bRidWaN

> --------- > At 16:43 25/01/99 -0800, Panut Wirata wrote:
>Saudara sekalian:
>"Yang penting, siapapun yang menang nanti, asalkan melalui
>Pemilu yang 'jurdil', haruslah kita dukung. Tidak perduli
>siapa yang kalah, atau yang menang.
>Salam, bRidWaN"
>
>Pernyataan Bung Bridwan di atas adalah ungkapan dari pemahaman
>sikap demokratis. Konsekuensi dari proses demokrasi, yaitu
>hasil dari voting, balot,pemungutan suara, dsb dalam peristiwa
>apapun baik rapat RT, rapat organisasi, atau bahkan Pemilu
>harus didukung oleh segenap pengikut proses tersebut.
>Tidak perduli kalah atau menang harus mendukung hasil dari
>proses demokrasi tersebut.
>Seringkali kita mendengar pernyataan demi pernyataan bahwa
>si A tidak reformatif, si B tidak demokratis dsb tapi kita tidak
>benar-benar tahu bagaimana sikap yang demikratis itu.Pejabat A
>bilang bahwa si B tidak etis sebab berkata cuap-cuap-cuap.
>Namun tidak jelas etika mana yang dipakai. Pemuka agama
>menasihati supaya umatnya berbuat baik, tidak berbuat dosa,
>namun tidak jelas perbuatan yang bagaimana yang baik dan
>bagaimana yang dosa itu. Presiden menyarankan agar masyarakat
>tetap menjaga kesatuan dan persatuan, tapi bagi seorang
>individu bagaimana caranya menjaga kesatuan dan persatuan.
>Seringkali pesan diberikan tanpa kejelasan dan karena itu
>tidak efektif. Mungkin kita perlu lebih jelas dengan memberikan
>contoh dan definisinya dalam memberikan penjelasan. Seruan dari
>Ciganjur sangat bagus sebab seruan itu jelas dan orang dapat
>mempraktekkannya.
>Berkaitan dengan reformasi dan demokrasi, mungkin perlu dipikirkan
>untuk membuat daftar dari sikap/praktek demokratis versus sikap
>tidak demokratis, sikap reformatis dan sikap tidak reformatif.
>Untuk memulainya, sikap demokratis adalah seperti yang diungkapkan
>oleh Bung Bridwan, yaitu mendukung hasil pemilu (bila dilaksanakan
>dengan jujur, adil, umum, langsung, bebas, rahasia dari orang
>yang mempunyai hak pilih dan mau menggunakan hak pilihnya, dll).
>Sedangkan sikap yang tidak demokrasi adalah tidak mengakui hasil
>pemilu bila partainya tidak menang, lalu mengancam dan membuat
>kerusuhan.
>Wassalam,
>PPWW

Kirim email ke