Saya ucapkan terima kasih banyak atas 'dongeng'-nya..:)
Izinkan saya membaca dan merenungkannya dengan baik,
sehingga permasalahan Aceh yang justru diangkat oleh
saya sendiri menjadi jelas bagi saya. Mungkin juga bagi
teman-teman yang lain.
Salam,
bRidWaN
-----------------
At 04:20 29/01/99 -0500, Y. Y. Alim wrote:
Bung bRidwan,
bahan ini mudah-mudahan bisa membantu mohon maaf kalau
kurang berkenan. Ijinkanlah saya mendongeng sedikit.
Kolonialisme per definisi adalah penguasaan dan eksploitasi
negara kuat ke negara lemah. Perlu diingat faktor eksploitasi
adalah salah satu ukuran kolonialisme, contohnya adalah pajak
yang dipungut Belanda, perdagangan secara paksa, dan "Kultuur
stelsel" jaman Deandles dulu.
Pada waktu perusahaan dagang Belanda yaitu VOC datang tahun
1596 ke tanah Jawa (pada waktu itu belum ada negara RI),
Kesultanan Aceh adalah negara yang merdeka dan berdaulat.
Hubungan yang ada dengan Inggris dan Portugis semata-mata
berlandaskan perjanjian dagang bukan kolonialisme. Negara
Aceh yang dalam bentuk monarki bahkan pernah membuat perjanjian
keamanan dengan Kesultanan Turki, Portugis, dan Inggris.
Mereka bahkan sudah menyewa tentara bayaran dari negara tersebut.
Kesultanan Aceh baru turun pamornya setelah Tahun 1641.
Turunnya pamor kesultananan Aceh tidak otomatis menjadikan
daerah Aceh sebagai jajahan Belanda.
Seluruh negara (monarki) yang berlokasi di tanah Jawa praktis
menyerah ke tangan perusahaan dagang Belanda (VOC) sejak
tahun 1609, tepatnya setelah Sultan Agung dikalahkan oleh
Belanda dengan bantuan penghianatan dari Amangkurat I.
VOC Belanda sebenarnya banyak menghabiskan energinya di daerah
sumber komoditi pertanian yaitu di tanah Jawa dan Maluku.
Perang besar seperti Perlawanan P. Diponegoro (1825-1850),
Perlawanan Imam Bonjol (Sumbar 1830-1850), Perlawanan Hasanuddin
(Sulawesi), dan Perlawanan Pattimura (Maluku) menyita resources
Belanda secara besar-besaran. Boro-boro mau pergi ke Aceh yang
pada waktu itu sedang kuat-kuatnya, urusan di Jawa saja belum
selesai. Mungkin kalau mereka tau ada sumber gas Alam di Arun
mereka langsung minggat dari tanah Jawa (just kidding).
Begitu besarnya resources VOC yang tersita sehingga pada Tahun
1850 pemerintah Kerajaan Belanda turun tangan langsung meneruskan
penjajahan tersebut. Pada saat itu gengsi negara terjajah naik
dari yang cuma dijajah perusahaan dagang menjadi dijajah oleh
negara (teasing).
Inggris dan Belanda Tahun 1824 menyepakati daerah konsesi
dagang, yang intinya menyerahkan daerah dagang Inggris di Sumatera
ke Belanda. Perang melawan Kesultanan Aceh dimulai tahun 1873
karena Belanda memang ingin menguasai secara penuh kesultanan
tersebut (negara ini tidak puas dengan perjanjian dagang doang).
Perang tersebut baru berakhir pada Tahun 1942. Perlu diingat
pada waktu itu yang menjajah wilayah yang kemudian disebut
negara RI adalah Jepang, bukan Belanda! Definisi wilayah bekas
jajahan Belanda yang dicetuskan oleh M Yamin adalah simplifikasi
politis saja, kalau tidak mau disebut kesalahan sejarah. Maksud
dari simplifikasi politis adalah karena Aceh termasuk dalam
wilayah Sumatra dan pada waktu itu ditetapkan bahwa seluruh
wilayah Sumatra sudah terjajah belanda, maka sudah seharusnya
Aceh termasuk dalam kedaulatan RI.
Padahal daerah Aceh belum sempat diekploitasi karena 70 tahun
berperang. Fakta lain gagalnya belanda mengeksploitasi Aceh
adalah kemampuan mereka urunan/udunan uang untuk membelikan
negara baru RI pesawat terbang yang dinamai Seulawah.
Cerita bergabungnya Aceh ke dalam wilayah RI adalah hasil
pendekatan Soekarno ke pada Rakyat Aceh yang pada waktu itu
dipimpin oleh Tk. Daud Beureuh.
Hancurnya Aceh akibat kegigihan mereka melawan Belanda (kurang
lebih bertempur selama 70 tahun) punya dampak jangka panjang.
Contohnya adalah sumber daya manusia. Tahun 1960an Selo
Soemardjan, Umar Khayam dan lainnya yang berasal dari etnik Jawa
sudah menyelesaikan studinya di Cornell University.
Tahun 2001, kalau Allah mengijinkan baru satu putra Aceh yang
akan tamat dari universitas tersebut (selisih waktu 40 tahun??).
Kehancuran sumber daya manusia dan alam ini kelihatannya sudah
menjadi masalah yang melekat di propinsi Aceh.
Penggabungan Aceh dengan Sumut, Penggabungan Kodam, dan
terlebih lagi pemberlakuan DOM di propinsi Aceh adalah salah
satu fakta nyata bahwa penguasa yang berlokasi di Jakarta memang
tidak pernah memperlakukan propinsi ini secara adil.
Kegigihan bertempur melawan Belanda di balas dengan kegigihan
ABRI menindas Aceh. Kebaikan rakyat Aceh membelikan pesawat
terbang dibalas dengan perampokan sumber daya alam secara
sistematis.
Tulisan ini untuk meluruskan logika yang salah misalnya kalau
ada tokoh perlawanan Belanda di satu daerah, hal tersebut
berarti daerah tersebut adalah taklukan Belanda.
Mudah-mudahan bisa membantu meluruskan.
Apabila ada rekan-rekan yang mau mengetahui sedikit informasi
sejarah dan segudang masalah penindasan ABRI di Aceh
silahkan kunjungi <http://www.aceh.org/>http://www.aceh.org/,
mudah-mudahan ada yang berminat memberi saran pemecahan
yang adil bagi rakyat Aceh.
Salam.
---------------------------
At 09:32 AM 1/29/99 +0700, bRidWaN wrote:
>Bung DODO,
>Saya ingat dengan pelajaran Sejarah...:)
>Thanks anyway sudah mengingatkan....
>Tetapi para pahlawan kita tersebut berjuang
>menentang Belanda. Jadi ada kemungkinan
>Belanda belum menjajah Aceh.
>Mungkin ada fakta lain yang saya belum ketahui ?
>Tolonglah saya diingatkan, supaya saya tidak
>mangkin salah lagi...
>Salam,
>bRidWaN
>------- >At 09:17 28/01/99 -0800, DODO DOLITET wrote:
>> Bung Ridwan,
>> Saya rasa tidak ada sejarah yang mengatakan bahwa Aceh
>> tidak pernah dijajah Belanda. Teuku Umar, Cut Nya'Dien
>> adalah tokoh2 pergerakan Aceh yang menentang Belanda.
------ bRidWaN <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>>> Bung Adri,
>>> Saya juga pernah mendengar bahwa wilayah Republik
>>> Indonesia adalah yang 'bekas jajahan Belanda".
>>> Artinya Tim-Tim tidak termasuk, bukan begitu maksudnya ?
>>> Bagaimana dengan Aceh ? Aceh setahu saya merupakan
>>> daerah yang tidak pernah dijajah Belanda.
>>> Ada yang bisa mengatakan saya salah ? Tolong ya, thanks !
>>> Salam,
>>> bRidWaN
----------------------
Y.Y. Alim
Regional Science
Cornell University
Ithaca - NY USA
