Assalamualaikum Wr.Wb

Berikut ini saya teruskan email yang saya terima dari seorang rekan..,
tentang wawancara wartawan majalah Ummat dengan Bapak Nurcolish Majid..,
seorang tokoh yang dianggap cukup moderat oleh berbagai kalangan dan
tidak disangsikan lagi intelektualitasnya.

Selamat Membaca...:-)


Wassalam
Mohamad Rosadi




>Majalah UMMAT: EDISI No.29 Thn. IV/ 1 Feb 99
>
>Nurcholish Madjid:
>DIBANDING KELOMPOK LAIN, UMMAT ISLAM LEBIH SIAP
>BERDEMOKRASI
>
>Prof Dr Nurcholish Madjid memang tak punya partai. Tidak pula tercatat
>sebagai anggota atau simpatisan partai mana pun, termasuk partai Islam.
>Apakah itu ada hubungannya dengan doktrin "Islam yes, Partai Islam No"
>seperti yang dicetuskannya pada 1970-an? Tidak juga. Sebab, ketika
banyak
>orang mulai risau dengan menjamurnya partai-partai sekarang ini, Cak
>Nur-demikian panggilan akrabnya-justru merasa gembira. "Itu cermin dari
>berkembangnya demokrasi,
>apalagi sebagian pengurus partai-partai itu kan alumni HMI," katanya.
>
>Di manakah posisi Nurcholish dalam setting sosial politik dan "kapal
>besar" bernama Indonesia? Mungkin tak berlebihan kalau cendekiawan
Muslim
>dan Rektor
>Universitas Paramadina Mulya ini disebut sebagai "guru bangsa".
>Pengetahuannya yang luas, pembawaannya yang santun, dan sikapnya yang
>moderat membuat ia dihormati dan dicintai banyak kalangan.
>Meskipun demikian, tak semua pendapatnya diterima. Tak jarang ia
menerima
>kritik, bahkan pernah juga hujatan, dari orang-orang yang tak setuju
>dengannya. Toh, sebagai cendekiawan bebas, ia tetap bersuara kritis dan
>hampir
>tanpa pamrih terhadap persoalan-persoalan besar yang dihadapi umat dan
>bangsanya.
>Semangat itu pula yang mendorongnya menjadi mediator rekonsiliasi
antara
>Ketua Umum PAN Amien Rais dan Ketua PBNU Abdurrahman Wahid belum lama
ini.
>"Karena khawatir Mas Amien tidak hadir dalam dialog itu, saya mengirim
>faks dari Surabaya. Sengaja saya tulis dalam bahasa Arab karena isinya
>sangat politis, supaya tidak terlalu menarik perhatian orang.
>Alhamdulillah, akhirnya Mas
>Amien dan Gus Dur, yang sempat dikabarkan 'retak' itu, akhirnya
bertemu,"
>tuturnya.
>
>Kalau kedua tokoh besar ini rukun, Indonesia masa depan akan sangat
>promising, sangat menjanjikan bagi perkembangan demokrasi," tuturnya
>merendah. Kepada M.
>Syafi'i Anwar, Asep S. Sambodja, dan fotografer Alfian dari UMMAT, Cak
Nur
>bicara panjang tentang persoalan-persoalan besar yang menghadang bangsa
>ini di
>kantor Yayasan Wakaf Paramadina, Pondok Indah, Jakarta, dua pekan lalu.
>
>T= Tanya, J=Jawab
>
>(T) Di tengah era reformasi sekarang, Indonesia tampaknya berada di
>persimpangan jalan. Sepanjang 1998, reformasi tidak saja melahirkan
>masyarakat yang lebih bebas, tapi  juga memunculkan kekerasan sosial
>politik di sana-sini.
>Komentar Anda?
>(J) Saya kira di masyarakat sudah beredar ide tentang perlunya dialog
>nasional, atau yang lebih positif lagi  rekonsiliasi. Itu kan dalam
ukuran
>maksimalnya melakukan  kesepakatan atau transaksi baru. Artinya, kita
>harus bisa
>melupakan masa lalu, dalam arti sentimen-sentimen dan tuduhan saling
tidak
>percaya satu sama lain.
>Yang jelas, sejarah sudah berjalan. Artinya, kita tidak boleh terlalu
>banyak menyesali masa lalu. Tapi kita harus mengertinya begitu rupa,
>sehingga kalau sifat kerusakan atau obstruktifnya terhadap
proses-proses
>demokratisasi,
>sebaiknya ditinggalkan.
>
>(T)Tapi banyak yang memperkirakan, di tahun 1999 ini  kekerasan sosial
>politik semakin meningkat...
>(J) Memang agak mudah diramalkan karena taruhannya menjadi sangat
>complicated, yakni berkaitan dengan pelaksanaan  pemilu. Sedangkan
pemilu
>1997, yang hanya diikuti tiga  kontestan saja, sudah seperti itu. Dua
>tahun lalu,  seorang ahli arkeologi mengatakan potensi bangsa
Indonesia
>untuk bersikap tribalistik besar sekali.
>Sebenarnya, yang terjadi sekarang ini masih kelanjutan tribalisme.
Jadi,
>sebanding dengan sulitnya meyakinkan  orang-orang di tengah Kalimantan
dan
>lain-lain supaya  tidak melakukan pertanian berpindah-pindah. Itu
>merupakan
>kelanjutannya. Kita harus ingat, di atas muka bumi ini  daerah yang
paling
>banyak kelompok etnis dan suku terasingnya adalah Afrika hitam, dan
yang
>kedua di  Indonesia.
>
>(T) Anda dipandang punya kontribusi penting dalam proses
"rekonsiliasi"
>Amien Rais-Gus Dur. Hikmah apa yang dapat  diambil dari pertemuan kedua
>tokoh itu?
>(J) Saya senang sekali, meskipun saya nggak bisa ikut karena  ada
kegiatan
>lain di luar kota. Bagi saya, pertemuan itu  punya arti penting.
Soalnya,
>kalau kedua tokoh itu  meninggalkan celah, ini akan dimasuki orang.
Lalu,
>bisa  menjadi semacam dorongan untuk terjadinya proses-proses  yang
>obstruktif terhadap proses pemilu.
>
>(T) Tapi ada protes dari sejumlah kalangan, dialog antara Gus
Dur-Amien
>Rais tidak mengikutsertakan Megawati dan Sultan  Hamengkubuwono...
>(J) Itu dia. Saya sudah bilang kepada panitianya untuk  memperluas
forum
>dan pesertanya. Yang jelas, dialog yang  diperluas itu perlu
dilaksanakan.
>Rencananya, sih, nanti  minggu depan (13 Januari --Red.). Tapi
seandainya
>tidak
>jadi, tak usah dijelaskan, karena persoalannya  semata-mata teknis,
>menyangkut persiapan yang matang.
>Jadi, ada hikmahnya juga saya tak datang dalam dialog  pertama itu.
Sebab,
>nanti kesannya yang kumpul cuma Islam  saja. Ini bisa memberikan
>sinyal-sinyal yang salah kepada  yang lain, dan bisa memperkeras
>perasaan-perasaan  curiga-seperti yang diwakili oleh tulisan Wimar
>Witoelar  yang kemudian diberi reaksi oleh Gus Dur itu.
>
>(T) Jadi, perlu juga menjaga perasaan kelompok minoritas?
>(J) Ya. Mereka sendiri sebenarnya nggak mau disebut  minoritas. Sebab,
>katanya di Indonesia nggak ada mayoritas-minoritas. Itu betul kalau
>mayoritas-minoritas  itu dalam pengertian politik. Kalau dalam artian
>politik, mayoritas-minoritas itu punya agregat lain. Kalau pemilu  1955
>dijadikan patokan, waktu itu kan PNI, Masyumi, NU,  PKI mayoritas, dan
>yang lain minoritas.
> Tapi kalau dalam pengertian kultur, tidak bisa dihindari  bahwa orang
>Indonesia itu kompleks. Oleh karena itu,  mayoritas-minoritas itu riil,
>tak bisa pura-pura tidak  tahu. Jadi, harus dihindarkan munculnya
perasaan
>terancam  dan sebagainya.
>
>Kita tidak boleh membiarkan minoritas terus-menerus  merasa terancam.
>Semuanya harus ditangani secara adil.  Dalam arti, kalau perasaan
terancam
>itu sebagai rentetan  aksi-reaksi yang dimulai dari pihak mereka, tentu
>saja  kita harus mengurusnya. Artinya, tidak lantas dibiarkan  begitu
>saja.
>
>(T) Anda melihat ada kecenderungan ke arah yang lebih destruktif?
>(J)  Soalnya, obstruksi terhadap proses-proses demokrasi itu  bisa
datang
>dari mereka kalau mereka merasa tidak aman.  Seperti artikel tentang
Gus
>Dur yang ditulis Wimar  Witoelar, itu kan suatu tuduhan pada Gus Dur:
>bahwa  orang-orang itu yang paling tidak berkepentingan terhadap
pemilu.
>Karena, kalau pemilu betul-betul fair, jujur dan  adil, kira-kira Gus
Dur
>mau mengatakan mereka nggak punya  tempat. Oleh karena itu, mereka
tidak
>mau pemilu dengan  (mencoba) menggagalkan pemilu.
>
>Nah, itu jangan sampai terjadi. Tapi Gus Dur kan bereaksi  terhadap
>pernyataan Wimar. Ini semuanya adalah akibat  mekanisme-mekanisme
hubungan
>psikologis politik yang  sangat banyak diwarnai oleh rasa saling curiga
>dan tidak
> percaya. Nah, karena itu, ada ide dialog atau  rekonsiliasi nasional.
>
>(T) Namun Presiden Habibie juga menolak ide dialog seperti  yang
>dilontarkan Gus Dur...
>(J) Itulah sayangnya. Habibie menanggapi dialog kepada  persoalan
>formalitas sama sekali-konstitusional dan  legalitas. Sayangnya di
situ.
>Jadi, masalahnya bukan  dialog sebagai suatu kebutuhan
sosial-psikologis
>masyarakat, tapi dilihatnya sebagai peristiwa yang harus  dikasih
bingkai,
>apakah konstitusionalitas atau  legalitas, sehingga menjadi terbatas.
>Lalu,
> ujung-ujungnya dikatakan, toh sudah dilakukan dialog  lewat Sidang
>Istimewa MPR. Itu kan naif sekali.
>
>(T) Sebelum dialog dengan Amien, Gus Dur juga berdialog  dengan mantan
>Presiden Soeharto. Kesan yang muncul di  media massa saat itu, Anda
>termasuk yang menolak adanya  dialog semacam itu...
>(J) Saya tidak pernah mengatakan bahwa pertemuan Gus Dur  dengan Pak
Harto
>ditolak secara frontal. Menurut saya,  itu baik sebagai satu permulaan,
>baik sebagai starter.  Kalau mau menghidupkan mobil, kan kita pakai aki
>dulu  sebelum menghidupkan dinamonya. Makanya saya bilang, kita  harus
>mengerti apa yang dilakukan Gus Dur. Karena, memang  ada suatu
>kepentingan. Antara lain, soal upaya  mengamankan Banyuwangi dan
>tempat-tempat lain dari  "gangguan" orang-orang yang masih setia pada
Pak
>Harto.
>
>(T) Jadi, adanya dialog itu akan bisa mengurangi ketegangan  yang ada?
>(J) Dalam konteks ini, terus terang ICMI itu progresif.  Sebab, dalam
ICMI
>perbedaan pendapat itu sangat dihargai.  Di ICMI ada orang seperti
Amien
>Rais atau Sri-Bintang  Pamungkas. Kalau saya bandingkan dengan PDI,
>misalnya, di
>sana adalah sekumpulan orang yang tidak berani kalah.  Tidak tahan
kalah.
>Setiap terjadi kekalahan, selalu ada  friksi. Oleh karena itu, sekarang
>kita harus lebih  agresif dalam mengetengahkan Islam. Orang Islam jauh
>lebih terlatih berdemokrasi dibandingkan dengan non-Islam.
>Lihat HKBP, sudah sama Kristen-nya, Protestan-nya,  Batak-nya, pecah
>rebutan gereja sampai bunuh-bunuhan.  Mana ada orang Islam yang begitu.
NU
>itu pecah dari  dalam. Selebihnya, ya.. biasa saja. Biarpun Abu Hasan
>mendirikan PB tandingan, tapi kan tidak apa-apa. Artinya,  tetap damai.
>Muhammadiyah juga begitu. Apalagi PPP. AM  Saefuddin itu luar biasa
karena
>secara ikhlas menerima
>kekalahannya dari Hamzah Haz.
>
>(T) Kalau begitu, umat Islam lebih toleran...
>(J) Dibandingkan dengan kelompok lain, umat Islam lebih siap
>berdemokrasi. Kalau hanya tergantung pada orang-orang  Islam, Indonesia
>itu mudah sekali menjadi negara  demokrasi. Dan Masyumi dulu sudah
>memberikan suatu bukti.
> Tapi, karena tidak hanya orang Islam di Indonesia ini dan  masih ada
>kelompok lain, maka harus ada saling  pengertian. Agar pemilu akan
>menghasilkan orang yang  menang dan orang yang kalah. Bagaimana yang
>menang itu  tidak mentang-mentang menang, dan bagaimana yang kalah  itu
>bisa menerima kekalahannya dengan besar hati.
>
>(T) Berkenaan dengan kesiapan berdemokrasi itu, saran Anda  agar
Habibie
>tidak mencalonkan diri lagi dalam pemilihan  presiden mendatang banyak
>dikritik karena dipandang  kurang mencerminkan sikap seorang
demokrat...
>(J) Titik tolak pemikiran saya adalah pemilu 1999, yang akan  menjadi
>sangat lancar kalau dalam masyarakat berhasil  dihilangkan kecurigaan.
>Terutama adanya kecurigaan bahwa  pemilu yang kita inginkan itu adalah
>akal-akalan
> pemerintah agar Habibie bisa menjabat terus. Ada  anggapan,
pemerintahan
>sekarang merupakan sumber problem.
> Kalau Habibie menyatakan diri tidak mau lagi dicalonkan,  itu menjadi
>clear. Ibaratnya, dia mendahului kecurigaan  itu. Dengan begitu, pemilu
>akan menjadi sangat lancar.
> Habibie bisa membuat alternatif, yakni dia bukan bicara  tentang siap
dan
>tidaknya dicalonkan, tapi bisa  menjalankan pemerintahan secara
objektif,
>dengan jalan  memberikan jaminan-jaminan bahwa pemilu ini betul-betul
>jujur, adil, bersih, dan sebagainya.
>
> Tapi, itu secara simbolik. Tentu akan lebih mudah kalau  dia
mengatakan
>tidak bersedia lagi dicalonkan menjadi  presiden. Biar jelas maksudnya.
>Karena, memang Habibie  itu tidak berdiri sendiri. Artinya, kalau dia
>ingin lagi,
> itu artinya bukan dia sendiri yang mau, tapi orang-orang  yang berada
di
>lingkungannya. Orang-orang itu mendukung  Habibie sebetulnya untuk
>kepentingannya sendiri.
>
>(T) Tapi ada yang mengatakan, itu merupakan hak asasinya  Habibie untuk
>mencalonkan diri lagi?
>(J) Kalau misalnya kita melarang Habibie, itu jelas melanggar  HAM.
Tapi,
>ini menganjurkan untuk mempertimbangkan  kemungkinannya tidak
mencalonkan
>dan kemungkinannya tidak  bersedia dicalonkan. Jadi, sangat tidak
>langsung. Sama
> sekali tidak ada urusannya dengan hak asasi. Masak orang
> menganjurkan melanggar hak asasi. Kalau kita ikat dia
> dalam suatu perjanjian di atas segel bahwa dia tidak
> boleh jadi presiden, itu baru melanggar. Apalagi kalau
> kita tetapkan dia tidak boleh jadi calon.
>
>(T) Anda pernah mengatakan, pengaruh Pak Harto masih ada,  tetapi akan
>habis ditelan waktu. Apakah ini ada  korelasinya dengan pernyataan Gus
Dur
>yang menengarai  kasus-kasus Ketapang, Kupang, Banyuwangi itu
digerakkan
> oleh para pengikut Soeharto?
>(J) Memang begitu. Kelihatannya memang ada indikasi-meskipun
> kita tidak bisa konfirmasi-besar kemungkinannya hal itu
> dilakukan oleh orang-orang yang masih setia kepada Pak
> Harto. Tapi belum tentu Pak Harto sendiri tahu.
> Orang-orang itu bertindak atas nama Pak Harto, tapi Pak
> Harto sendiri belum tentu tahu. Juga belum tentu dimintai
> persetujuan atau menginstruksikan. Itu belum tentu.
>
> Pak Harto kan punya pengikut. Dia berkuasa selama 30
> tahun lebih. Kalau kita menganggap dia tidak punya
> pengikut, itu keterlaluan. Dia kan banyak sekali
> memberikan keuntungan kepada banyak orang. Makanya Pak
> Harto sangat sakit hati ketika Ginandjar cs itu mundur
> menjelang 21 Mei 1998 lalu. Soalnya, bagaimana itu bisa
> terjadi. Sebab, selama 20 tahun bersama Pak Harto, tapi
> di saat-saat terakhir dan mau tenggelam, mereka
> sepertinya tinggal glanggang colong playu (meninggalkan
> gelanggang dan lari --Red.).
>
>(T) Apa itu ada kaitannya dengan reaksi mereka terhadap  maraknya
hujatan
>terhadap Pak Harto?
>(J) Kita bisa membayangkan bagaimana hujatan yang ditujukan
> dan dialami Pak Harto itu. Tidak kurang orang seperti
> Hasnan Habib, yang sangat intelek, sangat bebas
> berpikirnya, sehingga dia tidak mau bergabung dengan
> Pepabri. Dalam salah satu seminar, ketika harus
> memberikan reaksi atas hujatan kepada Soeharto yang
> nadanya keras, Hasnan Habib bilang, "Apa yang Anda
> harapkan dari kami-kami tentara ini untuk bertindak
> kepada Pak Harto. Tidak ada. Karena, bagi kami Pak Harto
> itu adalah hero model."
>
> Jadi, kita bisa ambil kesimpulan, kalau Hasnan Habib saja
> bilang begitu, apalagi yang memang garisnya adalah garis
> militer murni seperti yang lain. Dan dia itu adalah
> jenderal besar. Dan jenderal besar itu bisa berbuat
> sesuatu. Oleh karena itu, ini perlu dinetralisasi melalui
> dialog. Apakah dialog itu melibatkan orang seperti Pak
> Harto langsung, itu persoalan teknis.
>
> Tapi apa relevansinya menyertakan Soeharto dalam dialog?
> Menurut saya, kalau secara khusus, biar seperti yang
> dilakukan sendiri oleh Gus Dur itu. Tapi, yang secara
> umum, nggak perlu. Jadi, memang harus ada pembicaraan
> sedemikian rupa, agar Pak Harto sendiri bisa merasa aman.
> Namun itu tidak berarti merasa aman terhadap hukum. Kalau
> terhadap hukum, itu tetap. Cuma, kita harus lihat bahwa
> dia mantan presiden. Paling tidak, kita harus
> mempertimbangkan bagaimana Pak Harto memperlakukan Bung
> Karno. Lepas dari yang ditulis-tulis segala macam itu,
> yang jelas, Pak Harto waktu itu menghadapi
> tuntutan-tuntutan mahasiswa yang saat itu meminta supaya
> Bung Karno itu dibawa ke pengadilan, dengan kata-kata,
> "Adili Soekarno. Seret Soekarno."
>
> Tapi, Soeharto kan tetap nggak mau, dengan argumen,
> Soekarno mantan presiden. Lalu ada istilah mikul duwur
> mendhem jero. Nah, memang ironis kalau pernyataan Pak
> Harto itu tidak berlaku bagi dirinya sendiri. Jadi, di
> sini ada satu persoalan yang dilematis. Pak Harto itu
> mantan presiden, bekas bapak bangsa. Padahal, untuk
> kesehatan psikologi politik, suatu bangsa itu harus bisa
> mengukir pahlawannya dengan penuh kebanggaan. Seperti
> orang Amerika kalau merujuk George Washington, Thomas
> Jefferson, dan lain-lain, itu kan dengan penuh
> kebanggaan.
>
> Di sisi lain, dilemanya adalah kita harus mengajarkan
> kepada bangsa ini bahwa konsep seperti yang dilakukan Pak
> Harto kemarin tidak boleh terulang. Itu berarti kita
> harus menghukum dia. Dilemanya di situ. Karena itu, Amien
> Rais memberikan solusi bahwa Soeharto harus diadili, tapi
> nanti presiden yang akan datang memberikan grasi,
> dimaafkan. Tapi, harus pernah diadili dulu. Jadi ada
> stempel bahwa yang dilakukan itu salah. Praktik seperti
> itu juga salah.
>
>(T) Kita beralih ke soal politik Islam. Sejak zaman Orde Baru
> sampai era reformasi sekarang, politik Islam tampaknya
> selalu terkait dengan ketegangan dan konvergensi antara
> Islam dan negara. Menurut Anda?
>(J)  Kebenaran sederhana yang pertama adalah karena kita  bangsa yang
>besar sekali, maka segala macam aliran bisa  dibayangkan tumbuh. Jadi,
>jika ada kelompok masyarakat  yang ekstrem sekali, dalam masyarakat
>seperti ini sangat
> mungkin. Jangankan dalam masyarakat yang demikian besar  dan longgar,
>masyarakat yang relatif homogen seperti  Libanon saja masih ada yang
>ekstrem.
>
> Sekarang, ekstremitas ini tentu saja ibaratnya sebuah  benih. Selama
dia
>ada di tanah, agar dia tumbuh kan perlu  ada pupuk, ada air, dan segala
>macam. Nah, pupuknya itu  antara lain ada rasa kekecewaan. Kekecewaan
>sejak masa
> lampau-yang tidak terlalu jauh-yaitu sejak Bung Karno  bertengkar
dengan
>Masyumi. Masyumi dilarang, kemudian  ekonomi dihancurkan oleh PKI
dengan
>pertolongan Bung  Karno. Dulu, yang disebut konglomerat itu orang-orang
> Masyumi. Ada Hasyim Ning, Asaad, Ki Agus, Rahman Tamim,  Yusuf Muda
>Dalam, dan sebagainya. Itu orang-orang Masyumi  dan dari Sumatera
semua.
>
> Kemudian, waktu Pak Harto naik, memang ada alasan bagi
> umat Islam, terutama bagi Masyumi, untuk gembira. Karena,
> Pak Harto jelas anti-PKI. Dan memang kemudian dibuktikan
> dengan sikapnya itu menghancurkan PKI betul, baik secara
> psikologis maupun fisik. Tapi, ternyata kebijakan dalam
> soal ekonomi dan sosial-politik terhadap Islam, Pak Harto
> melanjutkan Bung Karno.
>
>(T) Misalnya, langkah destruktif apa saja yang sudah
> dilakukan Soeharto terhadap kelompok Islam?
>(J) Di saat Masyumi mau berdiri, dihalangi dengan cara-cara  yang
keras.
>Dan, yang lebih menyakitkan lagi, ekonominya  makin dihancurkan. Lebih
>menyakitkan lagi, kemudian Pak  Harto memberikannya kepada Cina. Kalau
>Bung Karno dulu
> tidak. Ada hal yang menarik membandingkan Soekarno dengan  Soeharto.
Bung
>Karno tidak memberikan fasilitas ekonomi  kepada Cina, tapi mengakui
>eksistensi sosial-politik  Cina. Karena itu, di tangan Bung Karno,
banyak
>Cina jadi
> menteri. Di zaman Pak Harto tidak. Dia memberikan  fasilitas ekonomi
>besar-besaran kepada Cina, tapi hak  sipil dan politiknya tidak diakui.
>Maka, gambarannya  seperti memelihara sapi gemuk, tapi dicincang,
supaya
> bisa dijadikan perahan.
>
> Karena itu, tak heran kalau akhirnya Cina pun bersuara
> pahit kepada Pak Harto. Karena, hak sipil dan politiknya
> tidak diakui. Orang seperti Lim Bian Koen (Sofyan
> Wanandi) itu kan membayangkan suatu saat jadi menteri.
> Tapi, ditutup rapat oleh Pak Harto.
>
> Itulah kepahitan yang dialami umat Islam: ekonominya
> dihancurkan dan dikasihkan pada "lawan"-nya. Karena itu,
> tahun-tahun pertama sampai belasan, Pak Harto itu dilawan
> terus oleh umat Islam. Peristiwa-peristiwa semacam
> Cicendo, Woyla, Tanjung Priok, Lampung, pengeboman BCA
> itu kan sebenarnya bentuk perlawanan kepada Pak Harto.
> Dan Pak Harto reaksinya nggak tanggung-tanggung, semuanya
> dibabat habis. Karena itu, Benny Moerdani berani
> menantang. Sebab, kalau memang kasus Tanjung Priok harus
> dibuka, larinya ya ke Pak Harto lagi.
>
>(T) Apa hubungannya keterangan Anda ini dengan kejatuhan
> pemerintahan Soeharto?
>(J) Kepahitan umat Islam itu terus menggelinding. Sampai  belasan
tahun,
>Pak Harto itu kan nggak mau sembahyang  Jumat. Itu simbolik sekali.
Karena
>waktu itu kalau  presiden sembahyang Jumat, itu punya makna simbolik.
Ini
>kontras sekali dengan yang dilakukan Bung Karno, yang  selalu shalat
>Jumat. Bahkan, dia yang mendirikan mesjid  Baiturrahim di kompleks
Istana
>Merdeka.
>
>Rupa-rupanya Pak Harto melihat, kalau dia melakukan  sembahyang Jumat,
itu
>seperti memberikan konsesi kepada  Islam politik. Hingga sekitar
>pertengahan tahun 1980-an,  Pak Harto melihat secara mengejutkan
>bangkitnya kaum
> terdidik Islam itu. Lulusan universitas-universitas  tertentu kemudian
>mensponsori kegiatan Islam di  mana-mana, yang kemudian disebut
>kebangkitan Islam.
> Apalagi waktu itu Islam telah menjadi wacana nasional.  Banyak
>profesional yang sembahyang di kantor, di pabrik,  kampus-kampus, dan
>sebagainya.
> Pak Harto secara tergesa-gesa atau terlambat akhirnya  menyesuaikan
diri.
>Proses penyesuaian dirinya itu  disudahi dengan naik haji. Tapi
semuanya
>terlambat.   Kalaupun Pak Harto mau berubah, sudah terlambat sekali.
> Akhirnya, reformasi pun meledak.
>
> Ketika Pak Harto lengser dan kemudian digantikan oleh  Habibie,
kelompok
>Islam toh dianggap tetap menikmati  "kue" kekuasaan oleh kelompok
>non-Muslim...
> Dari segi psikologi politik, itu logis sekali. Ini memang  jadi faktor
>dilematis bagi Islam. Karena, di akhir  kekuasaan Pak Harto pun Islam
>sedang mesra dengan Pak  Harto. Tapi, sebetulnya umat Islam dulu punya
>agenda.
> Boleh saja orang mengatakan agenda itu salah. Kalau Pak
> Harto terus berkuasa lebih lama, orang Islam ini kan
> maunya mengubah agenda itu. Salah satunya, ya seperti
> yang dilakukan oleh Adi Sasono sekarang ini, yakni dengan
> cara-cara yang pasti mengubah sistem pembagian kue
> nasional yang tidak seimbang ini menjadi lebih seimbang.
>
>(T) Apakah itu ada kaitannya dengan merebaknya kembali sikap
> fobi atau ketakutan terhadap Islam akhir-akhir ini?
>(J) Itu jelas. Sebetulnya, perasaan anti-Islam sekarang ini
> sudah mulai muncul bibit-bibitnya. Jadi, tidak
> semata-mata karena Islam itu naik, tapi karena melihat
> Islam itu punya agenda. Kalaulah tidak semua, sebagian
> dari kelompok-kelompok Cina dan non-Muslim lainnya ada
> yang tak suka pada Islam. Sebab, dulu merekalah yang
> menikmati kue nasional sebagai kelompok yang paling
> menikmati hak-hak istimewa.
>
> Jadi, itu suatu perlawanan yang tidak adil. Sebab, Pak
> Harto mulai meniti karier dengan dukungan penuh
> mereka-mereka itu. Kemarahan umat Islam kan tidak tertuju
> kepada mereka. Tapi, ini terkait dengan sentimen lama,
> karena orang-orang Islam itu punya agenda untuk mengubah
> ketidakadilan dalam perekonomian.
>
> Oleh karena itu, semua terpusat pada Adi Sasono, karena  Adi
Sasono-lah
>yang paling jelas mengagendakan itu,  sehingga Far Eastern Economic
Review
>menyebutnya sebagai  orang yang paling berbahaya. Padahal, dia
melakukan
> sesuatu yang sangat wajar. Bagaimana tidak wajar, dia kan  ingin
mengubah
>sistem pembagian kue nasional dari  kepincangan, di mana 4% anggota
>masyarakat menguasai 70%  ekonomi nasional, menjadi lebih merata. Itu
>wajar sekali.
> Dulunya kan tidak ada yang seperti itu. Ini harus jelas  dikatakan
pada
>orang. Dan orang-orang Cina itu seharusnya  mengerti. Jangan tiba di
mata
>dipejamkan, tiba di perut  dikempiskan. Itu artinya hanya mengambil
>untungnya
> sendiri saja.
>
> (T) Jadi, apa yang dilakukan oleh Adi Sasono itu menurut Anda  sudah
>benar?
>(J) Benar. Adi Sasono ini sudah on the right track. Cuma,  yang agak
>mengganggu itu kan style pribadinya saja.  Pribadinya dikesankan orang
>sebagai angkuh. Itu yang  membikin suasana ibaratnya jadi sambal yang
>kepedasan.
> Tapi, dalam garis besar, sebenarnya dia melakukan sesuatu  yang wajar:
>mengakhiri ketidakseimbangan.
>
>(T) Anda yakin bahwa mobilitas vertikal kaum santri bakal
> terus menanjak di masa depan?
>(J) Adanya ICMI sebetulnya merupakan suatu lompatan. Tapi  sebetulnya
>untuk pergeseran yang di atas itu belum  selesai. Mereka yang berada di
>pucuk pimpinan
> gedung-gedung megah di Jalan Thamrin-Sudirman itu siapa?  Jelas masih
>orang-orang mereka. Jangan terkecoh dengan  orang-orang berdasi yang
rajin
>sembahyang Jumat. Mereka  hanya orang kedua dan ketiga. Orang pertama
>nggak ada.
> Tapi, yang ini kan pasti naik terus.
>
> Lihat saja dubes-dubes kita sekarang. Sebagian besar  orang HMI.
Padahal,
>lima-sepuluh tahun yang lalu mereka  masih eselon kedua. Kemudian naik
ke
>eselon satu, dan  sekarang banyak HMI yang jadi duta besar. Atau,
paling
> tidak Islam dalam arti santri.
>
> Nah, artinya, meskipun secara politik Islam itu  melompat-antara lain
>melalui ICMI-secara riil belum.  Mereka masih terus berjuang. Karena
itu,
>suhu tetap
> panas. Pergesekan itu akan terus ada sampai pada suatu  saat nanti
>betul-betul seimbang dalam arti kecil.  Seimbang yang lebih besar itu
yang
>menyangkut NU. Sebab,  NU sekarang ini masih di bawah. Jadi, masih
antri.
>Begitu.
>
>Jadi, yang di atas itu masih dikuasai  minoritas-minoritas. Yang di
tengah
>ICMI, yang terus  bergerak ke atas. Setelah itu, segera menyusul NU,
>melalui juru bicara para intelektual NU sekarang ini.  Nah, kalau NU
nanti
>ke atas, ICMI nanti akan berperan  seperti minoritas-minoritas yang
>berkuasa seperti
> sekarang ini. Artinya, ICMI akan defensif, akan terancam  dari bawah.
Dan
>NU dengan Gus Dur dan aparatnya itu akan  berbuat seperti ICMI yang
>sekarang, melawan Soehartoisme.
>
> Dalam analisis saya, ICMI itu gejala yang muncul melalui
> proses-proses tahun 1950-an, tapi baru lahir tahun 1990.
> Itu kan prosesnya 40 tahun. Nah, NU itu prosesnya baru
> tahun 1970, jadi terpaut 20 tahun. Jadi, ICMI dari 1950
> ke 1990, sementara NU dari 1970 ke 2010. Jadi, tahun 2010
> itu NU kira-kira akan menjadi ICMI sepuluh tahun yang
> lalu.
>
> Memang, ICMI itu suatu lompatan karena ada unsur
> "kelemahan" Pak Harto. Tapi, pada NU juga bisa terjadi
> lompatan karena punya basis massa yang besar. Ini
> berarti, melalui pemilu mereka bisa diantarkan ke depan.
> Seperti yang terjadi pada 1955. NU itu pada 1952 pisah
> dari Masyumi, hanya dihargai 17 kursi. Tapi, setelah
> pemilu 1955 hampir sama dengan Masyumi. Artinya, kan
> melompat. Sebaliknya PSI, yang sebelumnya sekitar 27
> kursi, setelah pemilu tinggal 1 kursi saja. Jadi, PSI
> jatuh, terperosok.
>
>(T) Apakah itu yang juga menjadi dasar dari optimisme Gus Dur
> dengan PKB-nya?
>(J) Saya kira itu yang menjadi dasar optimisnya Gus Dur. Gus
> Dur sekarang ini membayangkan dirinya akan menjadi  presiden. Dia akan
>melakukan operasi mata. Apa boleh  buat, seandainya dia menang, ya
sudah.
>Seandainya dia  terpilih, kita punya Presiden Gus Dur ha.. ha...
>
> Makanya saya bilang, pada tahun 2010 NU akan seperti ICMI  sepuluh
tahun
>lalu. Lalu, pada tahun 2020, NU seperti  ICMI sekarang. Setelah 2025
akan
>ada equilibrium baru.  Setelah itu, Indonesia adalah Indonesia yang
benar.
> Sekarang ini dari segi kultural masih dikuasai oleh elite  dengan
>mentalitas kolonial.
>
>(T) Bisakah itu disebut sebagai "keunggulan" kultural kaum
> santri dalam setting Indonesia masa depan?
>(J) Boleh jadi, karena kaum santri secara sosial politis dan  ekonomis
>mengalami take off. Selama ini yang disebut take  off oleh pemerintahan
>Orde Baru itu terlalu pagi, karena  struktur sosialnya belum ada. Pak
>Harto itu selalu bilang
> take off berulang kali, tapi yang mana take off-nya.  Kalau dalam
konteks
>kaum santri, dari segi antropologi  politik sudah jelas dan gejalanya
>sudah tampak, yakni  dengan tereliminasinya kaum abangan. Itu sebabnya
Ben
>Anderson mengatakan bahwa abangan itu sudah habis  ceritanya, karena
tidak
>lagi bisa dimanipulir untuk  menjadi bemper ideologi, maksudnya
komunisme
>atau yang
> lain. Bahkan, orang seperti Mega pun harus  "berislam-islam" kalau mau
>diterima oleh rakyat. Demikian  pula kaum abangan dan para nasionalis
>lainnya. Paling
> tidak, ya.. pakai assalamu'alaikum saat berpidato, atau  ada pembacaan
>Qur'an segala macam di berbagai acara PDI.
>
>(T) Apakah dengan begitu diskursus politik Indonesia juga
> didominasi oleh kaum santri?
>(J) Ya. Orang memang begitu khawatir dengan banyaknya partai.  Tapi
saya
>malah melihatnya dengan senang. Sebab, sebagian  partai itu dipimpin
oleh
>orang-orang santri ha.. ha.. ha... Dan kebanyakan mereka itu orang-ora
ng
>HMI. Sekarang
> yang bertengkar di partai-partai itu kan orang-orang HMI  semua. Amien
>Rais bertengkar dengan Akbar Tanjung. Nanti  ujung-ujungnya persoalan
>Indonesia itu adalah persoalan  HMI atau persoalan santri.
>Makanya Gus Dur itu harus didukung. Artinya, kalau tak  pernah ada Gus
>Dur, kesenjangan antara NU dan  Muhammadiyah itu jauh lebih buruk
daripada
>sekarang.
>Karena, Gus Dur itu mempunyai peranan yang lebih pada  proses perukunan
>kembali, dengan segala bentuk  kontroversi yang dilakukannya.
Ibaratnya,
>itu kan
>ongkosnya. Tapi masyarakat awam masih banyak yang sulit memahami
>manuver-manuver politik Gus Dur?  Namanya juga awam. Jadi, mereka nggak
>paham. Saya memang  kedengarannya selalu mendukung Gus Dur. Tapi,
>maksudnya  saya adalah eman-eman makronya itu. Kalau mikronya saja,
saya
>abaikan. Karena, tertutupi oleh harga makronya.
>
>
> ---0*0---
> Copyright (c) 1998 by Ummat. All rights reserved.
> WebHosting (c) 1998 by Insprint. All rights reserved.
> Revised: 26 January 1999.
>


______________________________________________________
Get Your Private, Free Email at http://www.hotmail.com

Kirim email ke