Bung Panut, bukannya saya mau memasyarakatkan bentuk-bentuk pemisahan
yang jelas kurang baik buat bangsa ini. Saya hanya meneruskan istilahnya
Cak Nur, beliau menyebut kelompok Islam tentunya ada kelompok Non Islam.
Justru saya lebih setuju jika kita tidak memisahk-misahkan kelompok
semacam itu. Karena kita satu bangsa maka kita semua sama kedudukannnya
didalam hukum, ekonomi dan pemerintahan.
Tetapi dengan menggunakan kata-kata 'kelompok' tsb, saya menganjurkan
agar kita sama-sama bersaing untuk menunjukkan teladan ajaran agama kita
yang saya yakin jauh dari kekerasan dan penganiayaan.
peace.

Panut Wirata wrote:
>
> Rekan-rekan sekalian:
> Setuju dengan Blucer, perlu lomba toleransi antar kelompok.
>      Namun, saya ingin tahu apa saja sih kelompok-kelompok (atau
> mungkin golongan) dari warga negara Indonesia, apa sih definisinya
> kelompok, apakah perlu undang-undang untuk mendirikan kelompok.
>       Lalu apakah seluruh umat Islam di Indonesia adalah satu
> kelompok. Apakah seluruh umat Islam di seluruh dunia adalah satu
> kelompok? Apakah DI/TII dahulu juga termasuk kelompok Islam, bila
> demikian, maka pasti bukan yang termasuk dalam kelompok umat Islam
> versi Cak Nur.
>
> Wasalam,
> Panut Wirata
>
> ---Blucer Rajagukguk <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> >
> > Mengutip ucapan Cak Nur bahwa Islam adalah kelompok yang paling
> toleran,
> > saya ikut menyambut gembira. Marilah semua kelompok beragama saling
> > bersaing dalam menunjukan toleransi tentunya saling bersaing
> memberikan
> > teladan bagaimana mau menghargai kelompok lain.
> > Mudah-mudahan dengan melalui teladan langsung di lapangan, segala
> macam
> > kerusuhan dapat teratasi.
> > peace.
> >
> > Mohammad Rosadi wrote:
> > >
> > > Assalamualaikum Wr.Wb
> > >
> > > Berikut ini saya teruskan email yang saya terima dari seorang
> rekan..,
> > > tentang wawancara wartawan majalah Ummat dengan Bapak Nurcolish
> Majid..,
> > > seorang tokoh yang dianggap cukup moderat oleh berbagai kalangan dan
> > > tidak disangsikan lagi intelektualitasnya.
> > >
> > > Selamat Membaca...:-)
> > >
> > > Wassalam
> > > Mohamad Rosadi
> > >
> > > >Majalah UMMAT: EDISI No.29 Thn. IV/ 1 Feb 99
> > > >
> > > >Nurcholish Madjid:
> > > >DIBANDING KELOMPOK LAIN, UMMAT ISLAM LEBIH SIAP
> > > >BERDEMOKRASI
> > > >
> > > >Prof Dr Nurcholish Madjid memang tak punya partai. Tidak pula
> tercatat
> > > >sebagai anggota atau simpatisan partai mana pun, termasuk partai
> Islam.
> > > >Apakah itu ada hubungannya dengan doktrin "Islam yes, Partai
> Islam No"
> > > >seperti yang dicetuskannya pada 1970-an? Tidak juga. Sebab, ketika
> > > banyak
> > > >orang mulai risau dengan menjamurnya partai-partai sekarang ini,
> Cak
> > > >Nur-demikian panggilan akrabnya-justru merasa gembira. "Itu
> cermin dari
> > > >berkembangnya demokrasi,
> > > >apalagi sebagian pengurus partai-partai itu kan alumni HMI,"
> katanya.
> > > >
> > > >Di manakah posisi Nurcholish dalam setting sosial politik dan
> "kapal
> > > >besar" bernama Indonesia? Mungkin tak berlebihan kalau cendekiawan
> > > Muslim
> > > >dan Rektor
> > > >Universitas Paramadina Mulya ini disebut sebagai "guru bangsa".
> > > >Pengetahuannya yang luas, pembawaannya yang santun, dan sikapnya
> yang
> > > >moderat membuat ia dihormati dan dicintai banyak kalangan.
> > > >Meskipun demikian, tak semua pendapatnya diterima. Tak jarang ia
> > > menerima
> > > >kritik, bahkan pernah juga hujatan, dari orang-orang yang tak
> setuju
> > > >dengannya. Toh, sebagai cendekiawan bebas, ia tetap bersuara
> kritis dan
> > > >hampir
> > > >tanpa pamrih terhadap persoalan-persoalan besar yang dihadapi
> umat dan
> > > >bangsanya.
> > > >Semangat itu pula yang mendorongnya menjadi mediator rekonsiliasi
> > > antara
> > > >Ketua Umum PAN Amien Rais dan Ketua PBNU Abdurrahman Wahid belum
> lama
> > > ini.
> > > >"Karena khawatir Mas Amien tidak hadir dalam dialog itu, saya
> mengirim
> > > >faks dari Surabaya. Sengaja saya tulis dalam bahasa Arab karena
> isinya
> > > >sangat politis, supaya tidak terlalu menarik perhatian orang.
> > > >Alhamdulillah, akhirnya Mas
> > > >Amien dan Gus Dur, yang sempat dikabarkan 'retak' itu, akhirnya
> > > bertemu,"
> > > >tuturnya.
> > > >
> > > >Kalau kedua tokoh besar ini rukun, Indonesia masa depan akan sangat
> > > >promising, sangat menjanjikan bagi perkembangan demokrasi,"
> tuturnya
> > > >merendah. Kepada M.
> > > >Syafi'i Anwar, Asep S. Sambodja, dan fotografer Alfian dari
> UMMAT, Cak
> > > Nur
> > > >bicara panjang tentang persoalan-persoalan besar yang menghadang
> bangsa
> > > >ini di
> > > >kantor Yayasan Wakaf Paramadina, Pondok Indah, Jakarta, dua pekan
> lalu.
> > > >
> > > >T= Tanya, J=Jawab
> > > >
> > > >(T) Di tengah era reformasi sekarang, Indonesia tampaknya berada di
> > > >persimpangan jalan. Sepanjang 1998, reformasi tidak saja melahirkan
> > > >masyarakat yang lebih bebas, tapi  juga memunculkan kekerasan
> sosial
> > > >politik di sana-sini.
> > > >Komentar Anda?
> > > >(J) Saya kira di masyarakat sudah beredar ide tentang perlunya
> dialog
> > > >nasional, atau yang lebih positif lagi  rekonsiliasi. Itu kan dalam
> > > ukuran
> > > >maksimalnya melakukan  kesepakatan atau transaksi baru. Artinya,
> kita
> > > >harus bisa
> > > >melupakan masa lalu, dalam arti sentimen-sentimen dan tuduhan
> saling
> > > tidak
> > > >percaya satu sama lain.
> > > >Yang jelas, sejarah sudah berjalan. Artinya, kita tidak boleh
> terlalu
> > > >banyak menyesali masa lalu. Tapi kita harus mengertinya begitu
> rupa,
> > > >sehingga kalau sifat kerusakan atau obstruktifnya terhadap
> > > proses-proses
> > > >demokratisasi,
> > > >sebaiknya ditinggalkan.
> > > >
> > > >(T)Tapi banyak yang memperkirakan, di tahun 1999 ini  kekerasan
> sosial
> > > >politik semakin meningkat...
> > > >(J) Memang agak mudah diramalkan karena taruhannya menjadi sangat
> > > >complicated, yakni berkaitan dengan pelaksanaan  pemilu. Sedangkan
> > > pemilu
> > > >1997, yang hanya diikuti tiga  kontestan saja, sudah seperti itu.
> Dua
> > > >tahun lalu,  seorang ahli arkeologi mengatakan potensi bangsa
> > > Indonesia
> > > >untuk bersikap tribalistik besar sekali.
> > > >Sebenarnya, yang terjadi sekarang ini masih kelanjutan tribalisme.
> > > Jadi,
> > > >sebanding dengan sulitnya meyakinkan  orang-orang di tengah
> Kalimantan
> > > dan
> > > >lain-lain supaya  tidak melakukan pertanian berpindah-pindah. Itu
> > > >merupakan
> > > >kelanjutannya. Kita harus ingat, di atas muka bumi ini  daerah yang
> > > paling
> > > >banyak kelompok etnis dan suku terasingnya adalah Afrika hitam, dan
> > > yang
> > > >kedua di  Indonesia.
> > > >
> > > >(T) Anda dipandang punya kontribusi penting dalam proses
> > > "rekonsiliasi"
> > > >Amien Rais-Gus Dur. Hikmah apa yang dapat  diambil dari pertemuan
> kedua
> > > >tokoh itu?
> > > >(J) Saya senang sekali, meskipun saya nggak bisa ikut karena  ada
> > > kegiatan
> > > >lain di luar kota. Bagi saya, pertemuan itu  punya arti penting.
> > > Soalnya,
> > > >kalau kedua tokoh itu  meninggalkan celah, ini akan dimasuki orang.
> > > Lalu,
> > > >bisa  menjadi semacam dorongan untuk terjadinya proses-proses  yang
> > > >obstruktif terhadap proses pemilu.
> > > >
> > > >(T) Tapi ada protes dari sejumlah kalangan, dialog antara Gus
> > > Dur-Amien
> > > >Rais tidak mengikutsertakan Megawati dan Sultan  Hamengkubuwono...
> > > >(J) Itu dia. Saya sudah bilang kepada panitianya untuk  memperluas
> > > forum
> > > >dan pesertanya. Yang jelas, dialog yang  diperluas itu perlu
> > > dilaksanakan.
> > > >Rencananya, sih, nanti  minggu depan (13 Januari --Red.). Tapi
> > > seandainya
> > > >tidak
> > > >jadi, tak usah dijelaskan, karena persoalannya  semata-mata teknis,
> > > >menyangkut persiapan yang matang.
> > > >Jadi, ada hikmahnya juga saya tak datang dalam dialog  pertama itu.
> > > Sebab,
> > > >nanti kesannya yang kumpul cuma Islam  saja. Ini bisa memberikan
> > > >sinyal-sinyal yang salah kepada  yang lain, dan bisa memperkeras
> > > >perasaan-perasaan  curiga-seperti yang diwakili oleh tulisan Wimar
> > > >Witoelar  yang kemudian diberi reaksi oleh Gus Dur itu.
> > > >
> > > >(T) Jadi, perlu juga menjaga perasaan kelompok minoritas?
> > > >(J) Ya. Mereka sendiri sebenarnya nggak mau disebut  minoritas.
> Sebab,
> > > >katanya di Indonesia nggak ada mayoritas-minoritas. Itu betul kalau
> > > >mayoritas-minoritas  itu dalam pengertian politik. Kalau dalam
> artian
> > > >politik, mayoritas-minoritas itu punya agregat lain. Kalau pemilu
>  1955
> > > >dijadikan patokan, waktu itu kan PNI, Masyumi, NU,  PKI
> mayoritas, dan
> > > >yang lain minoritas.
> > > > Tapi kalau dalam pengertian kultur, tidak bisa dihindari  bahwa
> orang
> > > >Indonesia itu kompleks. Oleh karena itu,  mayoritas-minoritas itu
> riil,
> > > >tak bisa pura-pura tidak  tahu. Jadi, harus dihindarkan munculnya
> > > perasaan
> > > >terancam  dan sebagainya.
> > > >
> > > >Kita tidak boleh membiarkan minoritas terus-menerus  merasa
> terancam.
> > > >Semuanya harus ditangani secara adil.  Dalam arti, kalau perasaan
> > > terancam
> > > >itu sebagai rentetan  aksi-reaksi yang dimulai dari pihak mereka,
> tentu
> > > >saja  kita harus mengurusnya. Artinya, tidak lantas dibiarkan
> begitu
> > > >saja.
> > > >
> > > >(T) Anda melihat ada kecenderungan ke arah yang lebih destruktif?
> > > >(J)  Soalnya, obstruksi terhadap proses-proses demokrasi itu  bisa
> > > datang
> > > >dari mereka kalau mereka merasa tidak aman.  Seperti artikel
> tentang
> > > Gus
> > > >Dur yang ditulis Wimar  Witoelar, itu kan suatu tuduhan pada Gus
> Dur:
> > > >bahwa  orang-orang itu yang paling tidak berkepentingan terhadap
> > > pemilu.
> > > >Karena, kalau pemilu betul-betul fair, jujur dan  adil, kira-kira
> Gus
> > > Dur
> > > >mau mengatakan mereka nggak punya  tempat. Oleh karena itu, mereka
> > > tidak
> > > >mau pemilu dengan  (mencoba) menggagalkan pemilu.
> > > >
> > > >Nah, itu jangan sampai terjadi. Tapi Gus Dur kan bereaksi  terhadap
> > > >pernyataan Wimar. Ini semuanya adalah akibat  mekanisme-mekanisme
> > > hubungan
> > > >psikologis politik yang  sangat banyak diwarnai oleh rasa saling
> curiga
> > > >dan tidak
> > > > percaya. Nah, karena itu, ada ide dialog atau  rekonsiliasi
> nasional.
> > > >
> > > >(T) Namun Presiden Habibie juga menolak ide dialog seperti  yang
> > > >dilontarkan Gus Dur...
> > > >(J) Itulah sayangnya. Habibie menanggapi dialog kepada  persoalan
> > > >formalitas sama sekali-konstitusional dan  legalitas. Sayangnya di
> > > situ.
> > > >Jadi, masalahnya bukan  dialog sebagai suatu kebutuhan
> > > sosial-psikologis
> > > >masyarakat, tapi dilihatnya sebagai peristiwa yang harus  dikasih
> > > bingkai,
> > > >apakah konstitusionalitas atau  legalitas, sehingga menjadi
> terbatas.
> >
> === message truncated ===
>
> _________________________________________________________
> DO YOU YAHOO!?
> Get your free @yahoo.com address at http://mail.yahoo.com

Kirim email ke