Assalamu'alaikum,
Rekan2 Permias sekalian,
Kelihatannya kita agak kehabisan bahan untuk di bicarakan di forum
ini. Saya coba ajak rekan2 untuk menanggapi pernyataan Amien Rais di
depan deklarasi PAN di Senayan yang mengatakan bahwa dia tidak akan
ngotot lagi untuk jadi presiden. (Jawapos, 1 Feb. 99)
Saya kira hal ini menarik untuk di cermati karena AMien Rais adalah
tokoh yang selama era reformasi ini paling banyak di sorot dan paling
banyak membuat manuver politik. Saya rasa, Amien juga merupakan orang
yang paling berpotensi untuk menduduki kursi kepresidenan bila
dibanding kandidat lainnya, (dengan catatan Nurcholis Madjid tetap
pada posisi netral).
Kalau Amien mengatakan bahwa dia tidak ngotot lagi untuk jadi
presiden, justru saya melihat kesan yang sebaliknya di belakang
pernyataan tersebut. Sejak agenda reformasi digulirkan sampai dengan
sekarang, Amien adalah tokoh yang paling berambisi untuk jadi
presiden. Dia bahkan pernah menolak untuk di jadikan menteri di
kabinet reformasi, dan tegas2 mengatakan bahwa dia mengincar kursi
kepresidenan. Kalau sekarang dia mengatakan bahwa tidak akan ngotot
lagi untuk memperebutkan kursi kepresidenan, saya rasa hal itu bukan
berarti bahwa ambisinya untuk jadi presiden menjadi kendur. Saya lebih
cenderung melihat hal itu sebagai gejala, bahwa dia mulai bersikap
hati hati dan realistis. Dia menyadari bahwa dirinya bukan satu
satunya calon kuat untuk menjadi presiden di periode mendatang. Rival2
politiknya dari kubu yang lain juga mempunyai peluang yang sama
kuatnya, dan bahkan dia melihat Megawati mempunyai posisi yang paling
kuat.
Dengan pernyataannya itu, Amien Rais terkesan menjaga dirinya agar,
"tidak berangan angan terlalu muluk, sehingga kalau nantinya jatuh
tidak akan terlalu sakit."
Pernyataannya yang lain yang mengatakan bahwa dia tidak akan menjadi
orang nomer dua kalau Mega menang, juga mengisyaratkan bahwa dia masih
punya ambisi yang besar untuk menjadi orang nomor satu, atau
setidaknya dia akan merasa "gengsi" kalao kalah terus menjadi orang
nomor dua. Bagi dia, lebih baik tidak jadi sama sekali daripada hanya
menjadi orang nomor dua. Seandainya orang lain yang menjadi presiden,
dia tentunya akan berdiri di posisi yang berlawanan atau sebagai
kelompok oposisi yang terus terusan memberikan kritik kepada
pemerintahan, seperti yang selama ini dia laksanakan. Dia juga akan
mengkonsolidasi kekuatannya, dan mungkin akan menyusun kekuatan yang
lebih besar untuk bertarung pada pemilu berikutnya.
Walaupun saya sendiri mengakui bahwa AMien Rais adalah orang yang
paling berpotensi untuk menjadi presiden, dengan latar belakang
politiknya yang mumpuni dibanding tokoh2 yang lain, tapi ada satu hal
dari pernyataannya yang mengisyaratkan bahwa dia sendiri masih suka
terbawa oleh emosinya.
Dia mengatakan bahwa dirinya adalah seorang demokrat tulen, dan akan
menghargai siapapun yang menang dalam pemilu nanti. Tapi sejenak
kemudian, dia mengeluarkan pernyataan yang bertentangan, yang justru
mencerminkan "ketidak demokratan" dirinya dengan mengatakan bahwa
apabila Golkar menang nanti, pasti ada unsur manipulasi di dalamnya.
Kecurigaan semacam ini seharusnya tidak terjadi pada seorang tokoh
seperti dia. Kalau memang dia melihat hal itu akan terjadi, seharusnya
dia mencegahnya dari sekarang, bukannya setelah Golkar menang kemudian
hal itu dianggap sebagai manipulasi.
Saya rasa itu yang bisa saya tangkap dari pernyataan Amien Rais 2 hari
yang lalu di Senayan.
Mungkin ada tanggapan dari rekan2 yang lain..???
Wassalam
_________________________________________________________
DO YOU YAHOO!?
Get your free @yahoo.com address at http://mail.yahoo.com