>Subject: cerita dari AMBON  > > > > > > > >Shalloom,
>Hai apa kabar kalian semua ? Everything goes fine ? Well, this is some
>story about chaos at Ambon. The story is a little bit "serem". Saya pun
>pernah menerima cerita yg kurang lebih seremnya ttg kerusuhan di Jakarta
>tempo hari. Jadi tolong :
>"JANGAN LANGSUNG DITELAN MENTAH-MENTAH, TP KITA HRS PRIHATIN DG ADANYA
>BERITA INI." Sekian dulu. > > > >
>Berdasarkan pembicaraan pertelpon yang saya lakukan pada hari Minggu, 24
>Januari 1999, dengan salah seorang pemimpin jemaat GKPB yang menjadi
>korban / saksi mata, peristiwa gugurnya beberapa saudara seiman kita di
>Ambon adalah seperti berikut:
>Pada tgl 17 - 20 Januari, GKPB "Rumah Doa" di Poka - Rumah Tiga
>menyelenggarakan retreat untuk anak-anak Sekolah Minggu dan Remaja.
>Jumlah peserta, para pembimbing serta orang tua anak-anak sekitar 150 >orang.
>Peserta berasal dari beberapa gereja.
>Retreat dilaksanakan di Fishery Station Fakultas Perikanan Universitas
>Pattimura, di daerah Hila, di luar kota Ambon. Karena daerah itu cukup
>terpencil, sehingga mereka tidak mengetahui bahwa pada hari Selasa,
>tanggal 19 Januari telah pecah kerusuhan di Ambon.
>Pada tanggal 20 Januari, retreat berakhir. Sementara para peserta
>bersiap-siap untuk pulang, Ir. Meiky Sainyakit, gembala jemaat GKPB
>"Rumah Doa" bersama seorang pengemudi meninggalkan tempat dengan mobil
>untuk mencari kendaraan (truk) guna mengangkut peserta pulang. Dalam
>perjalanan mobil yang ia kendarai dicegat oleh masa, bersama dengan
>pengemudi Ir. Meiky diseret turun dari mobil, kedua tangan Ir. Meiky
>dipotong, kemudian yang bersangkutan disiram dengan bensin dan dibakar.
>Pada saat yang sama ratusan masa bersenjata golok panjang menyerbu
>tempat retreat. Mereka mencari laki-laki dewasa. Beberapa orang sempat
>menyelamatkan diri dengan melarikan diri ke dalam hutan.
>Setiap orang ditanya apakah ia beragama Kristen atau bukan. Karena semua
>orang bersikukuh berkata bahwa mereka adalah orang Kristen, penyerbu
>menarik keluar seorang remaja, Roy Pontoh, siswa SMP kelas 3, keluar
>dari rombongan.
>Mereka bertanya kepada Roy: "Siapa kamu?". Roy tanpa takut menjawab:
>"Beta (saya) adalah laskar Kristus". Para penyerbu ini bertanya dua
>kali lagi, dan tetap menjawab: "Saya adalah prajurit Kristus." Dengan
>marah pemimpin para penyerbu ini membelah perut Roy dan mengeluarkan
>isinya di depan semua yang berkumpul, baik anak-anak maupun para wanita
>yang ada.
>Dan karena jemaat tetap tidak bersedia menyangkali bahwa mereka adalah
>orang Kristen, beberapa pria dewasa tangan dan kakinya di potong dan
>akhirnya lehernya dipenggal. Para wanita dan anak-anak yang dipukuli,
>ditendang dan belasan dari mereka dilukai dengan senjata tajam.
>Saksi mata yang saya hubungi, seorang dosen di Unpatti (Universitas
>Pattimura), suaminya juga seorang doktor di Unpati, lehernya ditebas
>dengan parang. Lehernya terluka menganga dan berdarah. Saat sekarang
>luka itu sudah menutup, walaupun apabila lehernya digerakkan darah masih
>merembes keluar.
>Dalam persitiwa itu, korban jiwa yang jatuh dari jemaat GKPB adalah:
>1. Ir. Meiky Sainyakit, gembala jemaat GKPB "Rumah Doa", Rumah Tiga >- >Poka
>2. Hengky Patiwael, pembina Sekolah Minggu GKPB "Cahaya Kehidupan", >Ambon
>3. Roy Pontoh, siswa SMP kelas 3, GKPB "Rumah Doa"
>4. Hermanus Kursam, staf full timer GKPB Hatusua, pulau Seram. >
>Mari kita doakan beberapa pokok di bawah:
>1. Agar Tuhan menolong para anak-anak Sekolah Minggu kita sehingga
>mereka lepas dari trauma karena menyaksikan pembunuhan dan mengalami
>siksaan fisik pada hari Rabu yang lalu.
>2. Kesaksian umat Tuhan di tengah suasana permusuhan rasial, supaya
>di masa mendatang upaya pemberitaan Injil di daerah Maluku tetap dapat
>berlangsung, bahkan hati banyak orang jadi semakin terbuka terhadap >Injil. >
>Tuhan memberkati


Get your FREE Email at http://mailcity.lycos.com
Get your PERSONALIZED START PAGE at http://personal.lycos.com

Kirim email ke