Bung Andrew yth,
bravo tulisan dan rangkuman anda dibawah ini..
Baca tulisan begini bertambah lagi jiwa nasionalis ini dan sedikit banyak bangga
juga sebetulnya dengan apa yang diraih oleh indonesia selama ini. Apalagi tulisan
ini datang dari saya anggap "ABRI" lah..Maaf jangan tersinggung. Tapi anda pasti
mengerti maksud saya.
Tetapi semua jangan di "beli" dengan segala "harga" termasuk para korban perkosaan,
pembunuhan dan perampokan rakyat jelata. Jelas pasukan2 tsb menjalankan perintah
saja, memang tugas dia.
Tapi yang penting disini, bibit2 di lubuk hati masing harus dibina sedemikian rupa
hingga tak terjadi itu semuanya. Benar apa semua yang anda uraikan di kalimat2
terakhir, bahwa kita ini yng di luar maupun yng di dalam negeri harus mampu untuk
tidak mengulangi kesalahan yg telah terbuat.
Tapi tetap harus bisa menjunjung tinggi "keadilan" sampai kapanpun, artinya jangan
sampai asal mengampuni begitu saja asal yang bersangkutan sudah minta maaf. Ini
sudah menjadi tugas kita juga untuk menguak segala kesalahan yang telah dilakukan
dan segera meluruskan "sejarah" yang sebenarnya. Ya bukan...?
Salam dari Hannover
Iwan Hannover
Andrew G Pattiwael schrieb:
> Untuk Portugal, Australia dan Amerika
> ************************************************************************
>
> Portugal Munafik
>
> Portugal tidak mempunyai hak untuk membela Timor. Setelah menjajah
> selama 350 tahun, sekarang ingin
> kembali sebagai Malaikat tak berdosa ? Sungguh munafik dan keji
> mengatakan bahwa kesengsaraan yang
> sekarang ini diderita oleh rakyat Timor adalah dikarenakan kekejaman
> pihak Indonesia saja. Portugal
> mempunyai andil dalam permasalahan ini. Kenapa Timor ditinggalkan begitu
> saja saat thn 1975, dibiarkan
> terpecah menjadi kubu-kubu yang saling bermusuhan dan saling membunuh.
> Timor telah ditinggalkan oleh
> portugal, ludah telah kering bercampur debu, apa yang telah diperbuat
> adalah konsekwensi portugal. Jangan menelan ludah sendiri. Apa
> peninggalan Portugal? Selain Agama Katolik, bahasa portugis, perpecahan
> antara kubu nasionalis dan integrationis. Tidak ada yang lain. Indonesia
> akan meninggalkan
> pembangunan yang telah berdiri selama 22 tahun Indonesia menjadi penjajah
> di propinsi termuda ini, yang antara lain adalah:
> 1. Prasarana lengkap seperti jalan raya, kota dilli, struktur fisik
> seperti bandara international, pelabuhan laut komoro, rumah ibadah,
> gedung-gedung pemerintahan, dan Patung Yesus Yang Melihat Ke Kota Dilli.
> "Tanda penghargaan kepada rakyat Tim-Tim"
> 2. Pendidikan dan pelatihan bagi orang-orang Tim-tim, terutama yang
> sekarang duduk didalam pemerintahan daerah. Cukup banyak putra-putra
> daerah yang telah dikirim ke universitas-universitas di jawa dan ujung
> pandang, dan di luar negeri.
> 3. Sturktur aparat pemerintahan daerah yang telah terlatih dan
> pengalaman dalam mengurus negara.
> 4. Universitas Timor-Timur (Untim)
> 5. Bahasa Persatuan , Bahasa Indonesia.
>
> Tidak pada tempatnya bagi Portugal untuk mengklaim balik Tim-Tim, dan
> seharusnya ini disadari oleh Ramos Horta, bahwa perjuangannya seharusnya
> tidak diidentikan dengan Portugal. Portugal adalah sama-sama penjajah.
> Apakah rakyat Timor lupa, bahwa dari semua jajahan Portugis, tidak ada
> yang pernah dapat mencapai kestabilan. Semua selalu berakhir dengan
> perang saudara. Dari Angola, Mozambique, sampai Brazil. Apakah Portugal
> mampu untuk membiyayai Timor? Walau untuk saat ini juga Indonesia juga
> masih kembang kempis untuk membiyayai APBN.
>
> Jujurlah, apakah selama Timor-Timur diduduki atau dijajah oleh Indonesia
> tidak ada perubahan yang positif?
> Indonesia tidak sejelek yang digambarkan oleh Ramos Horta dan Freetilin.
> Masih ada segi-segi positif
> dari penggabungan paksa selama 22 tahun ini. Apakah dengan berkuasanya
> Ramos Horta , Sanana dan Freetilin, Timor akan menjadi lebih baik?
>
> Jujur saja, Indonesia tidak ada untungnya mempunyai propinsi ke -27, yang
> ada adalah kecemburuan dari 26 propinsi yang lain, yang diperlakukan
> tidak seperti Timor. Lebih tepat, Timor adalah anak mas-nya Jakarta,
> tumpuan harapan Soeharto, bahwa ia juga bisa menambahkan wilayah baru
> seperti Soekarno dengan Irian-Jayanya. Bahwa Soeharto juga bisa
> membulatkan wilayah walau dengan tanah gusuran.
> Apa yang Indonesia dapat dari Timor? Matinya ribuan ABRI, demi proyek
> expansionist Orde Baru, tambahan mulut yang ke-27 untuk dikasih makan,
> beberapa ratus ribu tambahan populasi yang bertitle
> "WNI", masalah di UN, musuh eropa baru selain Belanda, Portugis.
>
> Apa sih yang Portugal berikan selama ini? Tempat pengasingan bagi Timor
> pelarian? Yang katanya sekarang malah ditelantarkan di Lisbon. Suara
> sumbang di UN? Sudah sumbang cempreng lagi.
> Mana tanggung jawab dan permintaan maaf kepada rakyat timor yang telah
> dijajahnya selama 350 tahun?
> Tidak ada. Yang ada, Portugis masih ingin menjajah.
>
> Portugal Still Bearing the Guilt For the East Timoreses Misery. Portugal
> Abandoned East Timor.
>
> END************************************************************************
>
> Australia Bermuka Dua
>
> Sungguh seorang sahabat, sahabat yang menikam kawan dari belakang.
> Dulunya selalu berkoar-koar mendukung setiap langkah RI, dari pembebasan
> Papua Barat sampai invasi ke Timor. Sekarang baru keliatan belangnya,
> Australia tidak mau mengotori tangannya dengan darah-darah penduduk
> indigenous yang menginginkan kemerdekaan sendiri. Instead, menyuruh
> Indonesia untuk melakukan perbuatan kotornya, dengan dalih stabilitas
> wilayah pasifik. Australia tidak ingin bernasib seperti Amerika dengan
> pengalaman kalah di Vietnam. Dengan penduduk yang apatis thd perkembangan
> politik,
> dalam arti tidak peduli dengan lingkungan sekitar yang masih primitif dan
> non-western, dengan tentunya
> mengirim the Royal Australian Army, Navy, and Air Force ke operasi
> Tim-tim, dapat membuang uang
> dan nyawa prajurit Australia. Sama seperti yang terjadi di Papua New
> Guinea, bekas protektorat Australia,
> akan membekas lagi dengan kematian warganya di rawa-rawa pasifik.
>
> Let the Indonesians do the dirty job, biarkan Indonesia yang mengirimkan
> pasukan dan membangun
> kembali daerah Timor. Australia just wash their hands like Pontius Pilate
>
> Indonesia sudah sedemikian percayanya dengan Australia, sehingga
> memberikan rekomendasi untuk duduk di meja peninjau dalam ASEAN. Upaya
> Australia to become more Asian didukung setengah mati oleh Indonesia di
> percaturan politik international, terutama di Asia. Pendekatan Australia
> ke Asia semakin mulus saja dengan banyaknya warga australia yang bisa
> berbahasa indonesia dengan fasihnya.
>
> Tetapi apa yang Indonesia dapat? Terutama setelah indonesia tidak dapat
> lagi menjadi mesin uang bagi investasi-investasi Canberra, Tepat seperti
> orang bilang, "Saat kau jaya dan makmur, banyak orang yang akan
> mendekatimu, menjadi sahabatmu, dan saudara., Tetapi saat engkau jatuh,
> tak kan tangannya mengulurkan bantuan untuk menarikmu".
> Begitulah dengan apa yang terjadi pada kita, kita sudah kekurangan Dollar
> untuk membeli persahabatan dengan Australia.
>
> Apa arti HAM bagi Australia, kalau Australia juga bersikap sama thd
> penduduk Aborigin-nya. Kenapa harus teriak-teriak Indonesia memperlakukan
> Rakyat Timor dengan semena-mena jikalau Australia juga memperlakukan
> penduduk Aborigin sebagai warga kelas dua di Australia.
>
> Apalagi dengan melejitnya Paula Hanson, "Australia For White Only"party.
> Yang merupakan gambaran kefrustasian Anglo Saxon Australian thd
> keberhasilan imigrant "Asian" di perekonomian Australia.
> Belum lagi upaya-upaya untuk menjelek-jelekan pelajar Asia di Australia
> yang digambarkan sebagai anak-anak orang kaya yang hanya ingin
> ugal-ugalan sambil bersekolah di Australia. (Memang kebanyakan
> adalah Kebenaran). Asian Immigrant di mata orang Australia adalah pekerja
> kasar dan murahan yang ingin merebut Australian Economic Miracle.
> Australia and Asia ? Not for this time.
>
> END***********************************************************************
>
> Amerika Memberi Pelajaran
>
> Memang benar apa yang dikatakan oleh Soeharto, bahwa ia memang digoyang
> oleh pihak asing.
> Namun sesungguhnya adalah pelajaran bagi Soeharto, karena berani melawan
> apa yang dikatakan oleh Amerika. Selama ini Soeharto dikenal sebagai
> "Best Friend of The West". Amerika merasa Soeharto,
> sebagai penyelamat Demokrasi (Western Democacy) di Asia Tenggara. Vietnam
> adalah suatu kemaluan terbesar bagi Harga Diri Amerika, Indonesia adalah
> contoh hidup dari terkuburnya cikal bakal kekuatan
> komunis terbesar ke tiga di dunia setelah Uni Soviet dan China. Pikirkan,
> jikalau Indonesia sekarang
> adalah Komunis, stabilitas Asia Tenggara pasti akan berwarna merah,
> Singapura dan Filipina akan kembang kempis mengingat nasibnya bisa jadi
> seperti negara-negara Eropa Timur. Apalagi Soekarno adalah pembenci
> Kapitalist, Malaysia sudah pasti terganyang habis, Australia sudah
> siap-siap mencorongkan
> meriamnya menghadap Selat Timor, Laut Arafura, dan Samudra Indonesia.
> Yang jelas, Cina tidak akan sendiri menjadi kekuatan Komunis di Asia.
> Indonesia dan China bisa menjadi dua sejoli Komunis sejati. Dan pasti
> ancaman perang dingin akan lebih real lagi daripada sebuah adegan
> kejar-kejaran spionase/mata-mata James Bond. Nucklir tidak akan menjadi
> senjata impoten yang hanya duduk saja di dalam kapal selam atau mengarah
> ke arah angkasa yang kosong di daerah Dakota, US.
>
> Kenapa Soeharto harus diberi pelajaran, Soeharto sudah merasa sebagai
> seorang pimpinan dunia, pemimpin dunia baru bagi gerakan Non-Block.
> Pemimpin negara yang ingin menjadi Negara Adidaya di Pasifik.
> Amerika yang dulu adalah advisernya ditentang, Pembelian pesawat Sukhoi
> adalah salah satu kekerasan kepala Soeharto. Dibilangin sama Amerika,
> Indonesia sudah cukup dengan 12 pesawat F-16, Indonesia masih juga mau
> membeli F-16 bekas Yordania. Dilarang oleh Amerika, Indonesia malah lari
> ke Russia.
> IGGI pun dibubarkan karena Indonesia merasa Mereka (Barat) sudah
> mencampuri "Terlalu Dalam"urusan
> dalam negeri yang dikaitkan dengan HAM. Dengan beraninya Indonesia
> membubarkan IGGI dan mengganti dengan CGI diusahakan lebih sopan dan
> tidak banyak tanya.
> Kepiyawaian Deplu Indonesia yang berhasil menyelesaikan konflik Kamboja
> turut mewarnai kekaguman dunia, apalagi setelah para Muslim Mindanao
> menandatangani gencatan senjata dengan Manila, yang menandai berakhirnya
> pemberontakan di Filipina Selatan. Konferensi KTT Non-Block, di awal
> 90-an di Jakarta, Indonesia mengklaim sebagai Pemimpin negara Non-Block,
> Munculnya Indonesia di gerakan Selatan-Selatan. Indonesia dipandang oleh
> negara-negara berkembang sebagai salah satu calon pemimpin dunia.
> Indonesia juga ikut berperan dalam mengubah keanggotaan tetap di dewan
> keamanan PBB agar negara-negara yang berpopulasi banyak dapat duduk
> sebagai anggota tetap. Belum lagi dengan Konferensi APEC di Jakarta,
> menempatkan Indonesia sebagai one the most important country in Asia and
> Pacific.
> Banyak yang iri, itu jelas. Apalagi yang memang mempunyai kartu mati atau
> Black Jack Indonesia.
> Disentil sedikit saja, Indonesia sudah melenceng ke kiri dan ke kanan.
> Albright bahkan mengatakan
> Krisis Moneter di beberapa kawasan Asia setidaknya membawa perubahan ke
> arah yang lebih Demokratif.
> Mungkin benar Clinton mengultimatum Soeharto, agar Lengser sebelum ke
> Geser seperti Noriega. Walau option untuk bertahan seperti Saddam mungkin
> dapat menjadi pilihan Soeharto, namun Jakarta bukanlah
> Baghdad. Tidak ada dongeng 1001 malam di Jakarta. Dan ABRI bukan lah the
> Notorious Republican Guard.
> Indonesia tidak mempunyai Nuclear Capacity selain Rencana PLTN di Muria.
>
> Setidaknya Amerika mengatakan, "tuh kan Soeharto, engkau tidak menurut,
> borok-borok mu yang biasanya
> kuperban dengan Johnson and Johnson Band Aid terbuka. Lain kali
> dengar-dengar apa yang di katakan
> Uncle Sam, Ilmu Uncle Sam lebih kuat dari Ilmu Kang Slamet"
>
> END**********************************************************************
>
> Penutup
>
> Rekan-rekan permias@, setidaknya benar kata Madeleine Albright, dapat
> kita petik hikmahnya Krisis Moneter ini, selain Soeharto bisa
> dipensiunkan dini dan tidak terhormat, ekonomi kita masih bisa kita
> benahi, walau sampai harus tombok sana, tombok sini. Tidak ada kata
> "Terlambat".
> Masih ada kesempatan, untuk Indonesia mengejar segala ketinggalan yang
> disebabkan oleh
> Revolusi Ekonomi, Sosial dan Politik ini. Kita masih harus terus
> menyempurnakan ideologi
> Pancasila yang masih belum mampu untuk mempersatukan kita sebagai suatu
> bangsa.
> Terbukanya kesempatan kita untuk berpolitik, walau berasal dari berbagai
> partai dan golongan.
> Bukan lagi dari Golkar, bukan lagi dari ABRI dan bukan lagi dari Cendana.
> Sejarah yang akan menuliskannya, apakah Indonesia dapat berdiri lagi dan
> sejajar dengan mereka-mereka yang lain. Kita yang akan menuliskannya.
> Mulai sesuatu dengan jujur dan benar. Jangan mengulangi lagi
> sejarah Generasi kita yang sebelumnya. Setidaknya jangan jatuh kedalam
> lubang yang sama.
> Rakyat akan lihat, apakah kita sekolah jauh-jauh ke LN ada manfaatnya.
> Apa yang bisa kita sumbangkan ke pada Nusa dan Bangsa. Jangan lupa akan
> adik-adik kita yang sekarang hanya makan nasi dan garam saja. Jangan lupa
> banyak kawan-kawan yang harus berhenti kuliah karena tidak mampu lagi.
> Jangan lupa banyaknya korban harta dan jiwa yang selama ini terjadi
> karena kesalah-pahaman saja. Mereka mungkin tidak tahu, tetapi kita tahu.
> Adalah menjadi tugas-tugas kita untuk memberikan informasi yang benar dan
> bisa dipertanggung jawabkan kepada mereka-mereka ini.
> Tuhan, Lindungi Bangsaku dan Jagalah Persatuan ini.
> Salam Permias@,
>
> Andrew Pattiwael
>
> END****************************************************************************