Assalamualikum wr.wb

Rekan-rekan sekalian..,

Kerusuhan-kerusuhan berbau SARA terus menerus terjadi di Indonesia. Para
provokator tiada henti-hentinya berusaha merusak dan menghancurkan
persatuan dan kesatuan bangsa kita. Salah satu cara yang digunakan oleh
para provokator ini adalah dengan menyebarkan pertentangan antar agama
di Indonesia. Berita dari majalah Gatra dibawah ini memperlihatkan
kepada kita, bahwa betapa mudahnya masyarakat kita termakan oleh hasutan
orang-orang yang tidak bertanggung jawab, sehingga meletuslah berbagai
kerusuhan yang berbau SARA yang telah menelan banyak korban jiwa dan
harta benda. Mudah-mudahan kejadian-kejadian seperti ini tidak terulang
lagi di masa mendatang. Cukuplah sudah rasanya darah dan air mata yang
tertumpah selama ini.
Semoga Allah swt selalu melindungi dan memberikan pertolonganNya kepada
bangsa Indonesia..(Amin)

Wassalam
Mohamad Rosadi
Virginia



                     Ambon Mena ngise

    Adat pela gandong atau hidup berdampingan secara damai
    mendadak jadi meleleh. Masyarakat perlu waspada terhadap
    kisikan lidah beracun untuk menghancurkan negeri sendiri.

   LANGIT di atas kota Ambon berpijar di malam hari pertama Lebaran
lalu.Bukan oleh kembang api, melainkan karena kobaran si jago
merah. Lidah api kala itu melalap apa saja. Mulai rumah, pertokoan,
mobil, masjid, hingga gereja. Lebih mengenaskan lagi, sejumlah
wanita dan anak-anak yang terjebak dalam bangunan terbakar itu ikut
terpanggang.

   Ibu kota Provinsi Maluku yang sering didendangkan sebagai Ambon
manise tersebut sekonyong-konyong bersalin rupa, tak ubahnya bagai
daerah Jalur Gaza di Palestina. Hingga akhir pekan lalu, batu-batu
berseliweran mencari sasaran. Sesekali diselingi dengan lontaran
bom molotov dan panah berapi.
   Suara senapan pemburu juga kerap membahana. Masyarakat yang
terkenal dengan adat pela gandong atau hidup berdampingan secara
damai itu mendadak seperti kerasukan untuk mengibarkan bendera
perang.

   Ambon pun menjadi kota mati. Sambungan telepon putus. Listrik
padam. Transportasi darat, laut, dan udara -baik keluar maupun
masuk- lumpuh total.
   Sementara itu, denyut kegiatan ekonomi pun praktis mandek. Hanya
air mata yang tumpah ruah di sana karena kehilangan ayah, anak,
atau kekasih. Atau karena rumahnya terbakar, serta sejumlah anak di
posko pengungsian yang menangis karena lapar. Sungguh, sebagian
besar dari mereka dicekam rasa takut.

   Wajah letih dan kengerian mencuat di wajah 10.000 warga yang
berkumpul di tempat pengungsian; di kantor-kantor pemerintah,
termasuk di Markas kepolisian Daerah Maluku serta di rumah-rumah
ibadah. Mereka bergerombol sambil menunggu datangnya bantuan
makanan. Singkatnya, kota berpenduduk 311.000 jiwa itu, hingga
akhir pekan lalu, porak-poranda.

   Kehancuran yang diakibatkan amuk masyarakat setempat tersebut,
menurut laporan wartawan Gatra di Ambon, bermula dari perkelahian
antara Jopie Saiya, 30 tahun, dengan Usman, di daerah perbatasan
wilayah Batu Merah dengan Mardika. Pada pukul 16.00 WIT, Jopie,
warga Aboru, Kelurahan Amantelu, Sirimau, Ambon, meminta uang    kepada
Usman, 30 tahun, yang sedang bersilaturahmi ke kerabatnya.    Karena
tidak punya uang, Usman tentu tidak bisa memberi. Tak jelas    minum
apa, tapi Jopie langsung saja meninju pelipis Usman.    Berdarah.

  Tampaknya, Jopie ketularan ulah tukang palak di Jakarta, malah lebih
ganas. Ketika Usman berusaha lari untuk menghindarinya, Jopie justru
memburunya seraya mengacungkan parang -entah dari mana ia mencokok
senjata tajam itu.Ia mengejar Usman yang lari ke arah perkampungan
Desa Batu Merah.Kejar-kejaran ini belum diketahui warga setempat,
yang kebanyakan sedang tidur siang.

  Ketika kehilangan jejak Usman, Jopie lalu balik ke Pasar Mardika. Di
tengah jalan, ia berpapasan dengan Rasyid Walla. Jopie yang hendak
disapa malah lari. Ba Walla, panggilan Rasyid, curiga. Ia pun
mengejar Jopie. Tapi Jopie malah berbalik dan menyabetkan
kelewangnya. Walla mengelak, lalu berusaha membalas. Ia melempar
Jopie dengan batu. Sial. Sebab, saat itu tahu-tahu muncul
kawan-kawan Jopie, yakni Fery Mual dan beberapa orang lagi.

  Kini giliran Ba Walla yang diserang. Namun, bantuan untuk Walla juga
cepat datang. Alhasil, perang batu dan sesekali diwarnai
berkelebatnya parang terjadi antara kelompok Jopie dan Ba Walla.
Sampai di sini, kejadiannya tampak serba wajar. Apalagi, tawuran
antarwarga di daerah Batu Merah dengan Mardika disebut-sebut sudah
rutin. Namun, kali ini lain. Sebab, kejadian Jopie meninju Usman
tadi rupanya telanjur menjadi bahan cerita yang  disertai
bumbu-bumbu penyulut amuk.

  Sore itu juga, kota Ambon terpanggang. Tampaknya, titik-titik didih
sudah dipatok. Sebab, bersamaan dengan perang batu kelompok Jopie
dengan Ba Walla, di Batu Gantung -4 kilometer dari Batu Merah- ada
sejumlah orang yang menyerang rumah Hasan Do'a. Mereka membakar
mobil di depan rumah Ketua Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI)
Maluku itu. Singkat cerita, keributan berlangsung serempak di
berbagai wilayah Ambon. Di Kelurahan Silale, beberapa rumah
dibumihanguskan.

  Para pemicu amuk -yang selalu raib setelah massa menjadi beringas-
lalu menyebar isu beracun lain, mirip dengan kejadian di Jalan
Ketapang, Jakarta Pusat: ada rumah ibadah dibakar. Menurut cerita
yang kemudian dihimpun,waktu itu warga muslim mendengar kabar bahwa
ada masjid dibakar. Sedangkan yang nonmuslim dibisiki bahwa ada
gereja dirobohkan. Masih belum puas melakukan usaha menghancurkan
negeri sendiri ini, si lidah setan itu tetap menabur isu akan ada
pembersihan BBMS alias warga Bugis, Buton, Makasar, dan Sumatera.
Akibatnya, penduduk saling menjaga tempat ibadah masing-masing.
Sedangkan sebagian lain takut keluar rumah.

  Sekitar pukul 19.00, Ambon sunyi. Cuma sesaat, sebab di beberapa
tempat ada warga berkumpul. Misalnya di seputar Masjid Al-Fatah,
Masjid An-Nur di Jalan A.M. Sangaji, atau di dekat Gereja Silo dan
kantor PLN di pusat kota. Jarak tempat ini hanya sekitar 30 meter.
Dini hari, sekitar pukul 01.00,adu fisik tidak terhindarkan di Jalan
Anthony Ribhok. Seorang anak muda-Ahmad- tersungkur setelah kakinya
kena peluru senapan angin. Pemuda itu akhirnya tewas dikeroyok massa
yang kesetanan. Sampai mayatnya pun tidak bisa dikenali lagi.

  Masih di seputar Jalan Anthony, Kantor Notaris Tuasikal di samping
Gereja Bethel dibakar. Begitu pula sejumlah kendaraan. Dan ketika
matahari mulai muncul di hari Rabu, api sudah merajalela melahap
Pasar Buah Pohon Pule,Pertokoan Pelita, Pasar Gambus, kawasan
Bioskop Amboina, serta kedai nasi Minangjaya.

  Menurut Haji Muhamad Idrus Nur, pemilik warung pangkep (masakan khas
  Sulawesi), aksi pembakaran dilakukan sekitar 100 orang, disertai
ancaman fisik. Mukimin yang sudah 30 tahun di Ambon itu ditodong
dengan senjata api oleh seorang berambut cepak. "Anak dan istri saya
sudah menangis sejadi-jadinya ketika sepucuk pistol menempel di
badan saya. Tapi saya tertolong berkat bantuan orang tua yang ada di
kelompok itu," tuturnya.

  Demikianlah, Ambon manise bersalin rupa menjadi menangise sepanjang
  Rabu dan Kamis pekan lalu. Di kawasan Jalan A.Y. Patty, dua kubu
  masyarakat sudah kehilangan akal sehat: mereka bukan hanya saling
lempar batu atau botol berisi bensin dan berapi, juga
membumihanguskan Pasar Cakbor yang menjual pakaian bekas, tiga
lantai pasar ikan, serta blok rumah toko di kawasan Mardika. Ikut
ludes adalah sebuah sekolah milik Yayasan Al-Hilal.

  Api yang berkobar akhirnya padam sendiri pada Jumat dini hari.
Setelah padamnya api, yang tersisa mungkin cuma penyesalan diri.
"Bentrokan terjadi karena tidak berfungsinya tokoh-tokoh agama,"
kata Yusuf Elly. Pensiunan TNI Angkatan Laut ini pernah menjadi
anggota DPRD Maluku dan menjabat Ketua Kamar Dagang dan Industri
Maluku. Ia menyatakan tak habis mengerti
  ketika massa juga membakar rumahnya di kawasan Pasar Gabus.
  Selama kerusuhan berlangsung, petugas keamanan bukannya tidak ada.
Mulai hari Rabu, sejumlah pasukan sudah berdatangan di Ambon. Yakni
satu batalyon Kostrad Ujungpandang, satu SSK (satuan setingkat
kompi)dari Kostrad 1515 Malang, dan satu SSK Brimob Bali. Bahkan,
Panglima Kodam Trikora Mayor Jenderal Amir Sembiring pun datang,
sehari setelah huru-hara itu.

  Namun, bentrokan terus saja berlanjut tanpa bisa dicegah. "Kami mau
berbuat apa. Persediaan peluru terbatas. Lagi pula, daripada konyol
ditimpuk batu, ya lebih baik menyingkir," kata salah seorang petugas
yang enggan disebutkan namanya. Memang, sebagaimana dikatakan Kepala
Kepolisian RI (Polri)Letnan Jenderal Roesmanhadi, massa yang bentrok
itu sangat banyak.Gerakan mereka juga sangat cepat. "Ini modus baru
berbagai kerusuhan sekarang. Jadi, salah besar kalau dikatakan bahwa
polisi salah mengantisipasi," kata Roesmanhadi.

  Akan halnya pejabat pemerintah setempat, seperti Gubernur Maluku M.
Saleh Latuconsina, tidak henti-hentinya menyerukan perdamaian lewat
radio. Ia juga menemui Pendeta Sammy Titaley, Ketua Sinode Gereja
Protestan Maluku,serta R.R. Hasanussy, Ketua Majelis Ulama
Indonesia, dan meminta agar kedua pemuka agama ini menenangkan
warganya.
  Bersama Komandan Korem 174 Pattimura Kolonel Hikayat dan Komandan
  Lantamal (Pangkalan Utama Angkatan Laut) Maluku dan Irian Jaya
  Laksamana Muda Franky Kayhatu, Gubernur Latuconsina juga bersafari
  menemui pihak yang bertikai di lokasi massa berkonsentrasi, Kamis
malam."Kami berjanji, Ambon aman," teriak warga yang berkumpul di
kawasan Tugu Trikora ketika diminta menenangkan diri.

  Janji serupa juga disampaikan warga di kawasan Masjid Al-Fatah
ketika dikunjungi Latuconsina, malam itu. "Semua harus kembali ke
tempat masing-masing agar kondisi bisa normal. Jangan sampai mau
diperalat orang-orang yang hendak membuat kota ini lumpuh," kata
Latuconsina,seraya menyampaikan keputusan diberlakukannya jam malam   di
kota Ambon.
  Safari damai tersebut dilanjutkan pada hari Jumat. Pendekatan adat
dan keagamaan itu rupanya cukup memberi hasil. Hari itu, keadaan
berangsur tenang, sehingga saat Menteri Pertahanan dan
Keamanan/Panglima ABRI Jenderal Wiranto mengunjungi kota Ambon,
Jumat malam, suasana tidak lagi begitu mencekam. Itu sebabnya, pada
Sabtu pagi, Gubernur Latuconsina yang didampingi Panglima Kodam Amir
Sembiring mengumumkan bahwa situasi benar-benar aman. Masyarakat
dipersilakan kembali ke rumah tanpa harus waswas. Jika ditemukan ada
yang membawa senjata tajam, akan disita. Apabila masih melawan, akan
ditembak di tempat.

  Pengumuman yang dibacakan melalui mobil penerangan itu disambut
  sorak-sorai dan tepuk tangan. "Alhamdulillah, sudah aman," kata
Syaodah,salah seorang warga. Toko-toko pun mulai buka. Tapi belum
lagi lewat setengah jam pengumuman itu berlalu, lagi-lagi terjadi
bentrokan. Sampai ada seorang anak SMP digorok di kawasan Jalan
Sangaji, ketika sedang menuju rumahnya. Nyawa remaja malang itu
sempat tertolong. "Mana janji jaminan keamanan itu?" teriak warga   yang
menolong.

  Alhasil, warga yang mengungsi pun masih enggan balik ke rumah. Lagi
pula, banyak di antara mereka yang rumahnya hancur total, senasib
dengan Yusuf Elly. Sedangkan Soleman Drahman, anggota DPRD Maluku,
merasa lebih aman bersama keluarganya di posko pengungsian. "Mau   balik
ke mana, wong
  rumah sudah habis dibakar," kata seorang pengungsi.

  Total kerugian materi akibat kerusuhan itu diduga mencapai Rp 1
trilyun. Tapi yang lebih menyedihkan adalah jatuhnya korban jiwa.
Hingga Jumat sore pekan lalu, menurut Kepala Dinas Penerangan Polri
Brigadir Jenderal Togar M. Sianipar kepada Endang Sukendar dari
Gatra, korban meninggal mencapai 32 orang. Sedangkan data di
kepolisian Ambon menyebutkan, 40 orang tewas hingga Sabtu malam   pekan
lalu.

  Sementara itu, wartawan Gatra yang berkeliling di lapangan mencatat,
tidak kurang dari 150 orang tewas. Korban terluka 300 orang. Rumah
yang dibakar dan dirusak mencapai 1.000 unit. Sembilan belas rumah
ibadah (masjid dan gereja) dan sekitar 30 mobil hancur. Sebanyak 20
sepeda motor dibakar dan 300 becak juga ludes dilalap api.

  Di tengah kebiadaban menghancurleburkan kota Ambon ini, menyelip
pula kibasan kain warna merah berbingkai garis putih. Di tengahnya
ada gambar salib. Bendera Republik Maluku Selatan (RMS) ini terlihat
melambai-lambai di kawasan Benteng Atas dan Kelurahan Kudamati. Juga
di Jalan A.Y. Patty,bendera itu diikatkan pada dua balon gas warna
merah dan kuning. Sesekali dalam tiap bentrokan terdengar juga
teriakan, "Hidup RMS."

  Soal pengibaran bendera tersebut diakui "Presiden RMS" dr. Frans
  Tutuhatunewa. Tapi dokter lulusan Universitas Indonesia yang tinggal
di Belanda itu mencoba memisahkan Tragedi Ambon dengan kegiatan RMS.
  "Peristiwa Ambon itu soal lain. Perjuangan kami sudah pasti, sampai
cita-cita RMS tercapai," katanya.

  Kabar keterlibatan RMS itu, oleh Ketua Ikatan Keluarga Maluku Freddy
  Pietersz dikatakan sebagai upaya pengalihan perhatian. "Di Ambon
itu, siapa lagi sih yang berani menyimpan bendera RMS?" katanya.

  Lantas, di mana Jopie, Ba Walla, dan Usman? Mereka seolah lenyap
ditelan bumi. Selanjutnya, tentu masih perlu ditunggu hasil perintah
Wiranto, agar petugas segera menangkap provokator alias dalang
kerusuhan tersebut. Tragedi Ambon ini niscaya menyadarkan masyarakat
agar tidak gampang kena kisikan lidah beracun, yang tujuannya hanya
bakal menghancurkan negeri sendiri.

  Setelah padamnya api, yang tersisa kini cuma penyesalan diri. Untuk
apa?

             Dwitri Waluyo, Mochtar Touwe (Ambon), dan
              A.R. Sosrosuwignyo Amsterdam)

                ARTIKEL-ARTIKEL RUBRIK LAPORAN KHUSUS

                  Ambon Menangise

______________________________________________________
Get Your Private, Free Email at http://www.hotmail.com

Kirim email ke