Membaca berita ini cukup membuat gusar. Pejabat selalu melihat segala sesuatunya dari sisi kepentingan dan nama baik kekuasaan itu sendiri. Mereka sering gagal memperoleh dan memahami fakta dari sumber pertama dan seperti dimaksud pelakunya. Terutama tentang anak jalanan.
Saya pernah membuat kliping tentang anak jalanan dari beberapa koran yang online sebanyak 3 disket. Isinya kalau komentar pejabat selalu begitu. Inginnya mereka tidak terbebani dengan persoalan yang menjadi tanggungjawabnya sebagai pejabat. Padahal mereka digaji untuk itu.
Untuk itu saya berkomentar atas beberapa alinia yang diberitakan.
Adri Amiruddin
[EMAIL PROTECTED]
----------
: From: Pungkas Bahjuri Ali <[EMAIL PROTECTED]>
: To: [EMAIL PROTECTED]
: Subject: What About Their Education (and Our Safety)?
: Date: 03 Februari 1999 9:37
:
: Ancaman keamanan 10 tahun y.a.d. Ini baru anak jalanan di Jakarta.
: Bagiamana pula dengan anak-anak kebun, anak sawah, anak selokan dll di
: daerah-daerah yang pasti jumlahnya jauh lebih besar? Mungkin dalam hal
: ini LSM-LSM bisa lebih memainkan perannya....mudah-mudahan...
:
: Pungkas B. A.
: Troy, NY
: -------------------------
:
: "Hendaknya kita belajar dari anak jalanan di kota Rio yang terabaikan
: sekitar sepuluh tahun yang lalu, dan mereka kini menjadi penguasa
: berbagai bentuk kejahatan, seperti gembong obat terlarang hingga
: pelacuran," katanya seraya meyakinkan bahwa pentingnya dipikirkan
: perspektif ke depan.
Lain Rio lain Jakarta. Di Jakarta yang saya tahu, penguasa tempat perjudian dan pelacuran sebagian adalah aparat atau paling tidak didukung (sebagai keamanan) oleh mereka yang memiliki kekuasaan.
: Keadaan yang terjadi di Rio de Janeiro itu, katanya, kini menjadi
: masalah berat bagi pemerintah Brazil untuk menanganinya. Sehingga,
: Djafar yang juga Ketua Komisi B DPRD DKI itu mengimbau pemerintah,
: terutama pemerintah daerah agar segera menangani masalah itu secara
: sistematis.
:
: Menurut pengamatannya, anak jalanan itu cenderung telah melakukan
: hal-hal yang mengarah ke tindak kejahatan, seperti minum minuman keras
: dan berjudi. Bahkan, orang yang mencari uang dengan jalan mengamen atau
: mengemis sekarang ini lebih banyak terdiri dari kelompok usia produktif.
Adri: Karena hanya itu tempat yang mau menerima mereka. Kalau ditanya kepengennya, mereka pasti pengen yang lebih baik. Persoalannya adalah pilihan yang tersedia bagi mereka dan mereka dapat menjangkaunya. Mau sekolah enggak punya uang. Mau jajan, jelas orang tua tidak mampu kasih. Gimana dong! Terpaksa cari sendiri. Kalau saya berada dalam realitas sosial mereka, mungkin akan begitu juga. Beruntung saja kita hidup dan terlahir dari keluarga yang lebih baik. Mereka lahir kan bukan atas kehendak mereka.
: Ancaman lain, katanya, adalah karena tidak tertutup kemungkinan adanya
: kelompok tertentu atau orang pintar yang memanfaatkan mereka untuk
: melakukan hal demi kepentingan kelompok itu sendiri.
Gaya berpikir dan mengembangkan opini khas Orde Baru dan Militernya. Keterlaluan. Sudah era REPOTNASI TOTAL koq berfikirnya masih kayak gini.
: Selain itu, upaya penanganan tersebut tidak hanya ditujukan kepada
: mereka yang masih anak-anak, tapi juga kelompok usia yang lain, misalkan
: dengan memberikan kesempatan berusaha.
Ngomong doang sich enak. Coba ngerjain sendiri!
: Djafar Badjeber mengakui itikad pemerintah pusat memberikan bantuan
: tersebut sangat baik, namun jika akhirnya tidak dirasakan sendiri oleh
: masyarakat yang dituju, maka upaya itu tidak ada artinya. Sehingga,
: menurut dia, seharusnya masyarakatlah yang proaktif melakukan pengawasan
: atas pengguliran dana semacam itu, selain kontrol yang dilakukan oleh
: Dewan terhadap LKMD-LKMD yang menyalurkan dana PDM-DKE tersebut,
: sebagaimana yang dijanjikan.
Adri: Cara berkomentar dan menilai seperti ini membingungkan. Menilai kerja pemerintah dalam model moral etis. Ini sama saja mencampuradukkan atau menyamakan kencing dengan tai. Mestinya penilaian terhadap kinerja pemerintah dalam ukuran yang bisa dijelaskan. Jangan pakai kriteria moral untuk menilai tindakan instrumental. Enggak tepat dong.
