Maklum? Saya maklum kok, hanya saya kecewa dengan perasaan pesimis anda.
Posting yang saya bawa adalah untuk MENGAJAK PARA PUTRA PUTRI DAERAH (
Yang termasuk juga saya) untuk berpartisipasi lebih RIIL dalam
pemerintahan dan politik Nasional
Posting saya bukan propaganda semu dan belaka yang seperti anda tuduhkan
datangnya dari mulut-mulut tukang janji di Jakarta yang hanya ASBUN.
Sekarang saya tanya, sejak orde lama, sudah berapa Tokoh Nasional
yang dari daerah berhasil menduduki jabatan tinggi di tingkat Nasional?
Dr. J.Leimena, hanyalah sekian dari segelintir tokoh Maluku yang berhasil
menjadi Wakil Perdana Menteri di jaman Soekarno. Sam Ratulangie, juga
hanya segelintir Putra Minahasa yang pernah mendapat kepercayaan memegang
jabatan tinggi.
Kalau anda menghitung Joop Ave, jelas tidak masuk donk...orang dia
sudah jadi Raden Mas. Jujur deh, selama ini kan dunia politik nasional
adalah mainan monopolynya orang yang tinggal di pulau jawa. Maaf, saya tidak
memprovokatorkan kebencian thd Suku Jawa. Namun demikianlah kenyataannya
selama orde baru ini.
Kalau tidak PUTRA-PUTRI DAERAH-nya yang merasa terpanggil untuk
menyelaraskan pembangunan, siapa lagi? mereka-mereka yang di DPR/MPR.
Setelah Ke jakarta, lupa mereka dengan sanak-saudara di daerah.
Lebih bangga sebagai orang kota, bersedan mewah, berumah di PI. dll
Inilah kita orang-orang daerah, sudah lama tinggal di Jakarta,
lupa Kampuang Halaman. Lupa, dulunya masih sering nyeker, main gundu
di tanah. Lupa dulunya sering mandi bersama kerbau setelah membajak
sawah. Mentang-mentang di jakarta semua serba mewah, pikirnya Indonesia
itu hanya Jakarta.
Bung, saya juga lama tinggal di daerah, dan pernah tinggal di kota.
Kekecewaan dan keputus asaan daerah sudah lama saya tahu. Keterbelakangan
dan kecuekan pemerintah thd Indonesia Timur juga sudah lama saya alami.
Walau saya tinggal di daerah yang tergolong paling makmur di Indonesia
Timur, dan di Indonesia.
Seperti Orang Manado bilang: "Sapa suruh datang Jakarta, sandiri
rasa, sandiri mandarita." Sapa suru ngana datang jakarta, torang di
manado so lupa.
Sekarang saya tanya, apakah anda, setelah lulus dari sini akan pulang
kembali ke daerah asal (Sulawesi) atau akan melanjutkan tradisi
lulusan-lulusan amrik yang lain untuk kerja di Jakarta?
Saya salut kalau anda bilang akan kembali ke Daerah anda..
Seperti kata anda, pembangunan yang riil.
Salam permias@,
Andrew Pattiwael
Putra Bapak dan Ibu Saya di Tembagapura
NB: Saudara Donald, saya pernah cukup lama tinggal Sul-sel, walau
bukan bagian dari Makassar (Daerah Bugis) saya tetap merasa
budaya Sulawesi adalah bagian dari Kekayaan budaya yang ada dalam
tubuh saya. Apa hak anda mengatakan saya tidak tahu? Apa anda yang
Makassarnya sendiri tahu lebih banyak dari yang lain? Gimana
Indonesia mau bersatu kalau masing-masing merasa lebih tahu.
Ngga bangga? Walau jaman serba sulit begini, saya tetap mengembangkan
rasa optimistik saya. Walau Habibie adalah presiden warisan suharto,
setidaknya saya melihat bahwa kesempatan PUTRA-PUTRI DAERAH telah terbuka
dan semoga masih terus terbuka.
On Fri, 5 Feb 1999, Donald Saluling wrote:
> Saudara Andrew Pattiwael yang saya hormati. Saya kagum atas rasa optimis
> saudara dalam mempercayai berita yang anda lampirkan. Putra-putri daerah
> memang akan pulang ke rumah, dan itu pasti. Tetapi jangan ada cap "putra-putri
> daerah" kepada kami sebab dengan demikian anda/ataupun pemerintah, telah
> mendiskriminasi kami (yang nota-bene adalah mayoritas) sebelum pembangunan ini
> dimulai. Suara putra-putra daerah sudah lama didengarkan oleh MPR/DPR dan saya
> yakin sekali mengenai ini. Yang belum terjadi adalah pelaksanaan yang riil
> tentang janji2 pemerintah kepada daerah-daerah tsb. Sakit hati ini tidak dapat
> dihapuskan dengan mudah. Mulai dari sekarang pemerintah harus benar2 menjadi
> pelayan masyarakat dan bukan tuan2 tanah yang cuma tahu beres berhubung punya
> koneksi ke "pusat." Bahasa kasarnya :" It's time for the government to kiss
> our asses and lick those spit they have thrown on us back to their own
> mouths." Mangapa saya berbicara sekasar ini ? Tanpa adanya suatu kekerasan
> pendirian dari daerah2 dalam menuntut haknya masing-masing, tak akan ada
> penyesuaian dalam pemerintah terhadap kami. Budaya 'asbun' akan trus
> berlangsung, yang lebih rendah menjilat atasannya masing-masing, yang rakyat
> harus terus tunduk kepada pegawai2 negeri yang taunya cuma ngegosip di
> instansinya masing2 dan lain lain. Perubahan secara drastis adalah mutlak.
>
> Pemerintah harus memberikan kepercayaannya kepada "daerah daerah diluar jawa"
> dalam mengatur pemerintahan masing-masing. Biarkan kami memilih gubernur kami
> masing2. Janganlah pemerintah yang menunjuk terus menerus siapa yang "berhak
> dan pantas" memimpin suatu daerah. Setelah tahap ini terlaksana, pemerintah
> seyogyanya mengadakan pembagian APBN yang merata ke semua daerah. Biarkan kita
> menulis "wish list" dan membawa proposal ini ke tangan penguasa supaya akan
> ada pemerataan. Bilamana biaya tidak cukup, runtuhkan salah satu (atau dua --
> yang mana yang adil) gedung mewah di Jakarta/pusat. Liquidasi aset2nya dan
> pakailah biaya tersebut untuk the greater good. Tahap2 diatas hanyalah mimpi-
> mimpi kami. Harapan daerah2 adalah adanya desentralisasi yang murni. Ratakan
> pemerintahan kesegala pelosok dan biarkan tiap daerah mengatur anggarannya
> masing-masing. Bila ada pemerataan, saya yakin angka2 urbanisasi di Jakarta
> akan berkurang sebab bakalan ada gedung2 indah di daerah2, facilitas2
> secanggih ibukota di kampung2 dan lain lain. Dan yang paling penting adalah,
> adakan PEMILU yang murni, bersihkan MPR/DPR dari pengaruh ABRI yang terlalu
> lama sudah mengatur segala macam kekacauan di dalam negeri kita.
>
> Saya harap reply ini cukup bermakna kepada saudara2 sekalian.Janganlah kita
> terbuai propaganda dari pusat. Belum cukupkan 3 dekade yang penuh dengan tipu
> 2 dan authoritarianism dari pusat? Jadilah individual2 yang mengikuti kata
> hati masing- masing dan tidak selalu terpukau kepada kata hati pemimpin2 kita.
> Dan bila ada isi dari e-mail ini yang menyinggung intelektual2 milis ini, mari
> kita berdiskusi dengan tangan dan hati yang terbuka.
>
> PS: Jangan anggap Habibie adalah contoh dari :
> "Berikan kesempatan kepada Putra Daerah untuk dapat memimpin Bangsa secara
> Nasional. Lihatlah Habibie, bukti dominasi satu golongan suku telah berakhir.
> Membuat hati Rakyat Makassar bangga sebagai Bangsa Indonesia, karena
> salah seorang putranya berhasil menduduki jabatan tertinggi di Republik."
> saudara Andrew, sebab anda bukan putra makassar dan anda tidak tau apa yang
> dirasakan putra2 Makassar. Habibie tidak pernah mewakili kami. Beliau (saya
> tetap menghormati individual ini) adalah penjilat pemerintah sejak awal
> karirnya. Kenaikan pangkatnya adalah bagian dari konstitusi UUD 45 dan bukan
> atas kehendak rakyat. Semoga anda maklum.
>
> MERDEKA
> dari putra makassar/manado di Portland,
> Donald
>