Saya merasakan hal yang sama bahwa selama Beni masih aktif, umat Islam
sangatlah tidak beruntung (dirugikan).
Dosa LB Moerdani terhadap ummat Islam memang besar, selain dari
kasus-kasus yang disebut dibawah, saya juga masih ingat ketika kuliah S1
dulu untuk pengajian pun harus lapor kepada pihak yang berwajib, bahkan
kami pernah digrebeg dan dibubarkan karena mengadakan kegiatan
pengajian.
Selain itu, hal yang sangat disayangkan adalah bahwa kehadiran CSIS
secara ekonomis cenderung hanya menguntungkan kelompok etnis tertentu
dan juga lebih mengutamakan kelompoknya saja.
>>Berikut ini satu tulisan tentang CSIS dan Serikat Jesuit oleh Hussein
>Umar (tokoh DDII). CSIS yang didominasi golongan Katolik macam Marie
>Elka Pangestu dan Jendral LB Murdani ini berusaha menempatkan ummat
>Islam sebagai lawan pemerintah. Selama berkolaborasi dengan rezim ORBA
>selama 25 tahun pertama rezim ORBA, banyak dilakukan rekayasa untuk
>memojokkan dan menindas ummat Islam, seperti kasus Woyla, pembantaian
di
>Lampung, Tanjung Priok, dsb.
>>
>>Sekarang mereka dengan media massanya juga berusaha membentuk opini
>sehingga tokoh2 dan Ormas2 Islam seperti DDII, MUI, KISDI, ICMI, dll
>jadi tokoh antagonis, sementara kelompok mereka (termasuk LB Murdani
>dengan CSISnya) jadi tokoh protagonis.
>>
>>Bagi mereka ummat Islam tidak pantas menguasai pemerintahan atau
>militer, karena itulah mereka berusaha menciptakan image, bahwa ummat
>Islam berusaha mempolitisasi agama, padahal mereka sendiri justru lebih
>dari itu.
>>
>>Berikut berita dari Sabili tentang tindakan diskriminatif yang
>dilakukan CSIS terhadap ummat Islam:
>>
>>Sabili: Islam Dianggap Sebagai Kendala
>>
>>Strategi melumpuhkan kekuatan-kekuatan Islam itu memang berjalan cukup
>lama. Salah satu lembaga yang memiliki grand design untuk melakukan
>proses de-Islamisasi itu adalah CSIS. Antara CSIS dengan pemerintah
Orde
>Baru, dalam hal ini pemerintahan Suharto di masa lalu sulit dipisahkan.
>Terutama dengan tokoh-tokoh seperti Ali Moertopo, Soedjono Hoemardani,
>dan beberapa tokoh lain lagi yang memang merupakan asisten pribadi
>mantan Presiden Soeharto. Mereka juga bertugas dalam pelaksanaan
>operasi-operaasi khusus. Mereka itu ada yang disebut opsus. Untuk
>beberapa dasawarsa, saya rasa selama pemerintahan Soeharto, CSIS itu
>menjadi think tank dari pemerintah. Menjadi tangki pemikiran atau dapur
>pemikiran pemerintah. Menyusun konsep-konsep mencakup berbagai bidang.
>Ipolekssbudhankam.
>>
>>Ada satu asumsi yang dibuat oleh CSIS, yang mereka kemudian berusaha
>menolak, tetapi itulah yang sebenarnya. Bahwa Indonesia ini terlambat
>untuk maju karena kendala agama Islam. Islam dianggap mengandung ajaran
>yang paradoks dengan modernisasi, ilmu pengetahuan dan teknologi.
Karena
>itu menurut mereka, kalau ingin melihat Indonesia ini maju, harus
berani
>melakukan penyesuaian. Tidak secara parsial atau artifisial, tetapi
>betul-betul mencabut dari akar penyebabnya. Jadi harus punya keberanian
>merombak sesuatu yang sangta mendasar. Ini mau tidak mau menyentuh
>kehidupan agama.
>>
>>Selain itu terjadi proses depolitisasi. Menjauhkan ummat Islam dari
>politik. Kita bsia melihat jargon-jargon ketika itu yang bertujuan
>melemahkan partai-partai politik Islam, seperti plitik no, pembangunan
>yes.
>>
>>Selain deideologisasi dan de-Islamisasi, kita mengalami proses
>sekulerisasi di semua bidang kehidupan. Pendidikan kita disekulerkan,
>sosial budaya kita disekulerkan. Media massa kita disekulerkan, begitu
>pula hukum, pendeknya semua bidang. Kebijakan-kebijakan politik,
>kenegaraan, cenderung dijauhkan dari nafas agama. Dan itu berjalan
untuk
>masa yang cukup panjang. Jadi terjadi proses sekulerisasi. Dari proses
>de-ideologisasi, depolitisasi, sekaligus di situ lahirnya konsep massa
>mengambang.
>>
>>Saya ingin mengatakan bahwa Ali Moertopo itu dibina �disupply�
>pemikiran-pemikiran literatur dan konsep-konsep dari Pater Beek. Pater
>Beek ini seorang pastur Jesuit, yang ketika Orde Lama diusir dari
>Indonesia oleh GPI-nya Subandrio, dituduh sebagai agen CIA. Lalu dia
>lari ke Hongkong, �mangkal� di Hongkong. Tapi dalam (sistem) komunikasi
>yang begitu canggih ini tentu dia membina terus kader-kader uda Katolik
>yang diskeolahkna di luar negeri. Nah ketika Orde lama jatuh, lahir
Orde
>Baru, dia pun masuk kembali ke Indonesia, dan merekrut kembali
>orang-orang yang disekolahkan di luar negeri, kader-kader muda Katolik,
>yang semua itu adalah dari Ordo Jesuit. Mereka itulah yang kemudian
>berkumpul di CSIS menjadi kekuatan yang sangat tangguh di masa lalu.
>Jadi memang kelompok Jesuit itu yang berada di CSIS. Dan kelompok
Jesuit
>merupakan kelompok yang paling militan sikapnya terhadap Islam dan
ummat
>Islam di antara Ordo Katolik.
>>
>>Lalu saya juga ingin menyatakan bahwa Frans Seda terkesan tendensius,.
>Itulah yang harus ditulis. Itu terkesan tendensius. Di saat suasana
>masih panas, dia kemudian melontarkan seperti itu. Sebenarnya kalau
kita
>mau jujur, tidak sedikit korban, lihat saja perbandingan korban
>Ketapang, umpamanya. Apalagi dilihat dari segei prosentase. Ucapan ini
>bisa menimbulkan semacam dendam, kemarahan.
>>
>>Sabili No. 12 TH VI Desember 1998
>>
>>
>>---------------------------------------------------
>>Get free personalized email at http://www.iname.com
>>
>>
>>
>>-----------------------------------------------------------------------------
>>To subscribe: send a blank email to: [EMAIL PROTECTED]
>>To unsubscribe: send a blank email to: [EMAIL PROTECTED]
>>This mailing list sponsored by http://www.webIndonesia.com
>>-----------------------------------------------------------------------------
>
>
>______________________________________________________
>Get Your Private, Free Email at http://www.hotmail.com
______________________________________________________
Get Your Private, Free Email at http://www.hotmail.com