Dear Bang Pohan, Permias and Readers,

Keganjilan itu masih berlanjut hingga malam hari.  Tak lah sang gadis
kehilangan mahkota perawannya ke perjaka pujaan, ia kehilangan kepada
negerinya, yang pernah sangat dicintainya.  Dia diperkosa dan dihinakan.
Penyair hendak menyusun kata-kata, tak pernah selesai.  Hilang
kepercayaan ia kepada negerinya.  Ingin digapainya, semakin jauh nun tak
tergapai.

Ideologi telah melacurkan diri.  Masing-masing hendak mengklaim hak yang
tak pernah diwarisinya.  Kecil jiwa dan perih darah menyaksikan
kecongkakan anak negeri yang tak pernah merasa telah kehilangan
keperjakaannya.  Mereka tidak berjamur Bang Pohan, mereka telah
mati..mati.. membawa benih harapan yang pernah mereka sebar.

Mereka tak pernah mengerti hati si perawan yang gundah.  Mungkin hujan
akan membawa subur kepada anak-anak yang baru memasuki masa akil baliq,
anak yang belum pernah mengerti arti dosa.  Anak yang tak pernah
memfitnah dan menghujat.

Sang gadis menunggu inspirasi datang menjelang. Berdoa, berpuasa,
mungkin Tuhan akan mengasihi.  Kemustahilan akan menjadi real jika
keinginan menerjang tetap bergelora. Kesucian adalah puisiku, mungkin
janji Tuhan akan datang bersamanya.

salam,

ida


>
>Dear Ida, Permias and Readers,
>
>Ini adalah pagi yang ganjil. Ada perawan kehilangan mahkota, dan
perjaka
>mendapati kejantanannya berjamur. Seorang penyair kehilangan kata-kata,
>manakala fajar tak lagi dingin mengantarkanmu mendekap dia. Adakah yang
salah
>dalam peradaban? Ketika orang-orang memburu cinta untuk kemudian
>mendustakannya. Tidak. Barusan filosof mengotbahiku di halaman 133:
semakin
>kau buru ia maka semakin khianatlah kau. Biarkan milan kundera
menyadari
>kebingungannya setelah perjakanya hilang kendati tak tahu apa
sebenarnya inti
>lelaki dan tetek bengek masa subur, mens, akil-balikh, rumah tangga
apalagi
>ketika komunisme tidak berdaya menghadapi kapitalisme gerobak sayur.
>
>Biarkan dia mencari penyusuan di balik malam pekat. Ia kan kembali
dengan
>kemeja cokelat, pada sebuah musim, tatkala tanah mengeluarkan bau segar
sisa
>hujan, dan ia mengatakan pada mereka: Kita tak akan pernah sampai.
>
>Salam,
>ramadhan pohan
>


______________________________________________________
Get Your Private, Free Email at http://www.hotmail.com

Kirim email ke