Senin, 15 Februari 1998

Pembiasan Dosa Soeharto Bisa Jadi Benih Revolusi Sosial

Bandung, Kompas

Kecenderungan sowan dan membiaskan kesalahan-kesalahan rezim Soeharto bisa membuat potensi kerusuhan sosial terus berkepanjangan. Secara sosiologis, segala jenis amuk sosial tidak mustahil bermuara pada situasi yang makin chaos (kacau) dan menimbulkan revolusi sosial.

Demikian Ketua Ikatan Sosiologi Indonesia (ISI) Jawa Barat Dr Barita E Siregar MS dalam jumpa pers di Bandung, Sabtu (13/2), dalam rangka Seminar Nasional "Antisipasi Kerusuhan Sosial dalam Membangun Masyarakat Indonesia Baru" yang direncanakan 20 Februari 1999. Selain sosiolog Dr Harkristuti Harkrisnowo, sejumlah tokoh luar kampus akan berbicara di antaranya, Gubernur Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas) Letjen TNI Agum Gumelar dan Ketua Komnas HAM Marzuki Darusman.

Barita menegaskan, seyogianya disadari bahwa tindakan sowan kepada Soeharto dan kemudian mengeliminasi kesalahan mantan presiden era Orde Baru tersebut, dengan sendirinya akan membingungkan masyarakat. Secara sosiologis, masyarakat akan semakin sulit menentukan sikap dalam era reformasi ini, terlebih dalam situasi ekonomi yang makin sulit.

"Ketika harga barang-barang kian mencekik, sementara kesalahan Soeharto ditutup-tutupi, maka dengan sendirinya masyarakat akan bingung mengambil sikap. Mereka akan mengatakan, kalau situasi sekarang tak menjanjikan, lebih baik kita kembali ke era Soeharto di mana harga barang-barang cenderung stabil," kata Barita.

Masyarakat kelas menengah ke bawah yang memiliki kebingungan seperti itu, lanjut Barita, akan mudah terprovokasi untuk melampiaskan ketidakpuasan hatinya. Mereka akan kesal melihat sistem sosial ekonomi yang melingkupinya saat ini. "Padahal, pernak-pernik sistem sosial ekonomi yang ada saat ini adalah warisan dari era pemerintahan Soeharto," kata Barita. Kegagalan berbudaya

Pengarah seminar Drs Munandar MS menambahkan, rezim Soeharto telah menimbulkan kerusakan dan ketegangan struktural, baik pada skala suprastruktur maupun infrastruktur. Salah satu indikasi menonjol adalah, kesenjangan sosial ekonomi yang berujung pada munculnya sentimen etnis dan kesukuan. Kecemburuan antarsuku semakin mudah mencuat dan menimbulkan kerusuhan berbau suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA), seperti yang terjadi di Ketapang, Kupang, dan Ambon.

Dalam konteks sentimen itu, Barita bahkan mensinyalir bangsa Indonesia selama lebih 50 tahun merdeka, gagal membangun kesadaran berbudaya, berbangsa, dan bernegara. Persamaan nasib dan kepentingan yang menjadi alasan utama untuk bernegara sudah cenderung meluntur. "Kita sepertinya mundur, ke era sebelum tahun 1928. (nar)

Kirim email ke