Date: Mon, 15 Feb 1999 08:34:27 -0500
To: [EMAIL PROTECTED]
From: Ben Abel <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: IND: Wawancara GM ttg sikon terkini (2/3)

Agenda gerakan mahasiswa dan partai-partai.
Wawancara Goenawan Mohamad (2/3)

Anarki dan Gerakan Sosial

T: Sesaat sebelum Soeharto jatuh, kita mengharapkan bahwa akan ada
gerakan yang bisa mengorganisir diri, melakukan perubahan tahap demi
tahap dan menyeluruh. Namun searah dengan itu juga muncul kegamangan,
apakah kita mampu? Bagaimana mengorganisir sekian ratus ribu orang tanpa
pertumpahan darah? Belum lagi kita berhadapan dengan provokasi,
kekerasan, dan lain sebagainya. Semuanya ini membuat gamang terutama
dalam menghadapi apa yang akan terjadi selanjutnya. Bagaimana Anda
melihat semua ini?
GM: Memang ada ketakutan pada anarki yang meluas. Ketakutan itu
sesungguhnya lahir karena oposisi di Indonesia tidak terorganisir.
Kembali saya memberi contoh, bandingkan saja dengan Afrika Selatan. ANC
itu
sangat terorganisir. Bahkan mereka punya gerakan clandestine, sayap
militer, dan pemimpin-pemimpin yang sangat ahli dalam berpolitik. Di
Indonesia semua hal itu tidak ada. Sehingga tiap kali ada gerakan pasti
juga akan terjadi chaos dan anarki. Ini saya bandingkan juga dengan Orde
Lama. Dulu ada pembakaran yang diorganisir oleh Pemuda Rakyat dan PKI
terhadap Perpustakaan USIS dan Kedutaan Besar Inggris. Begitu selesai
membakar, mereka langsung pulang. Bahkan tahun 1966, ketika giliran PKI
yang jadi sasaran, cuma Gedung PKI saja yang dihancurkan. Ini karena
massa yang melakukan terorganisir dan karena tidak ada ide
floating-mass.
Contoh terbaik ketika ide floating-mass sudah diterapkan adalah ketika
terjadi Peristiwa Malari di tahun 1974. Mahasiswa bergerak, kemudian
masuk unsur-unsur yang tidak dikenal, akhirnya keadaan tidak bisa
dikendalikan. Sekali lagi, semua ini terjadi karena tidak ada organisasi
di
tingkat massa. Floating mass itu menyebabkan kampung-kampung itu tidak
mempunyai cabang-cabang organisasi dari sebuah kekuatan politik. Nah,
jadi
memang sangat rentan. Apalagi pada bulan Mei itu terjadi suatu hal yang
menakutkan. Orang mengatakan bahwa peristiwa Mei itu digerakkan dari
belakang. Itu tidak sepenuhnya bisa dipercaya. Memang ada yang
digerakkan
oleh militer atau dalam arti mereka yang mau mendapatkan keuntungan dari
protection money. Akan tetapi ada yang memang iseng terutama mereka yang
dari kampung-kampung. Saya kan keliling waktu itu.

Aksi Pemuda dan Mahasiswa: Pasukan Pendobrak dan Pendudukan

T: Ya bisa jadi karena memang tidak ada organisasi. Selama 32 tahun kita
diapungkan sehingga masyarakat tidak terbiasa untuk berorganisasi, tidak
biasa untuk bicara atau omong dengan orang lain. Sehingga kalau itu
semua
meluap terjadilah chaos ...
GM: Kalau di Philippines kan ada gereja yang cukup punya kaitan dengan
lapisan yang paling bawah. Di Korea Selatan industrialisasi berlangsung
cukup luas sehingga buruh terbiasa untuk berorganisasi. Di Indonesia kan
hanya ada informal sector dan kaum miskin di kampung-kampung. Ini yang
memang sangat memungkinkan kalau terjadi anarki yang meluas. Di lain
pihak para pemimpin sebagaimana biasa lebih takut. Bung Karno kan tidak
berani memproklamasikan kemerdekaan kalau tidak diculik oleh para
pemuda.
Nah, kita harus melihat sejarah Indonesia jangan dari para pemimpinya
tetapi dari pemudanya. Kalau kita mengemukakan kok pemimpinnya tidak
begini atau tidak begitu, dari dulu juga para pemimpin itu tidak begini
atau tidak begitu. Tetapi pemudanya kan kualitasnya harus lain. Dari
sejarah yang dibuat oleh pemuda seharusnya mereka mengambil peran,
jangan
menggantungkan atau menyalahkan para pemimpin.
T: Jadi pemuda harus militan?
GM: Bukan hanya militan tapi juga memikirkan secara baik strategi
perjuangan. Kalau di satu pihak mereka harus mempunyai strategi
perjuangan, di lain pihak mereka juga jangan hanya terjebak pada
aktivisme. Hanya terjebak pada aksi-aksi belaka tanpa berpikir untuk
kemana dan setelah itu mau apa. Kalau mereka hanya menyalahkan para
pemimpinnya memang hasilnya akan selalu ragu-ragu. Ya, artinya salahlah
mereka itu. Memang sekarang ini kita tidak boleh hanya menyalahkan para
mahasiswa. Namun faktanya, mereka adalah juga korban dari suatu keadaan
yang tidak memungkinkan untuk memperjuangkan sesuatu secara terorganisir
sehingga tidak bertahan lama, tidak sistematis, dan tidak konsisten.Dan
mereka tidak terbiasa untuk membikin basis yang luas. Gerakan mahasiswa
sekarang ini kan terfragmentasi. Ini sebenarnya tidak apa-apa. Itu biasa
dan terjadi dimana-mana. Akan tetapi ada kecenderungan untuk menutup
diri.
Hubungan mereka satu sama lain selalu diliputi oleh
kecurigaan. Jadi, karena represi di jaman Orde Baru maka orang harus
berahasia. Saya kalau bergerak saya akan berahasia. Saya belum tentu
akan
percaya pada satu orang sebelum saya cek berkali-kali. Jadi sistem sel
dan
sejenisnya menjadi penting. Sistem tertutup menjadi penting dan
kecurigaan menjadi umum. Ini juga yang terjadi di Rusia pada jaman Tsar
sehingga Partai Komunis masih meneruskan gerakan-gerakan konspiratorrial
yang dilakukan pada masa sebelum partai Komunis muncul. Akibatnya,
terjadi
suatu sentralisme yang akibatnya kelak akan menjadi kediktatroran
central
committee dan politburo. Di Indonesia juga begitu. Karena biasa
konspirasi
dan curiga maka hubungan satu sama lain menjadi saling curiga dan sangat
hati-hati. Akibatnya, tidak punya basis yang luas. Apalagi ada anggapan
bahwa Orde Baru itu lahir dari suatu kekuatan mahasiswa yang digunakan
atau
diitunggangi tentara. Sehingga mereka menutup diri sepenuhnya dari
pengaruh
luar. Dari satu sisi, ini memang bagus. Mei itu suatu revolusi bagi
saya.
Apa yang bagus dari Mei ini adalah kita bisa membuktikan bahwa tanpa
tentara toh terjadi juga perubahan. Hanya setelah itu memang harus
dipikirkan bisa terus menerus apakah mahasiswa hanya mengambil peran
seperti ini. Arief Budiman menulis bagus sekali di Tempo. Ketika
mahasiswa
ditembaki di Semanggi ia mencoba menemui Megawati. Sialnya, Mega saat
itu
sedang tidur dan tidak bisa dibangunkan. Ini yang membuat Arief marah
sekali. Dia menggambarkan bahwa para pemimpin-pemimpin ini memang tidak
biasa diajak untuk berpolitik secara straight politics. Sebaliknya
mahasiswa sesungguhnya tidak menyadari bahwa peran mereka sebetulnya
hanyalah pendobrak. Mereka pasukan pendobrak tetapi masih juga ingin
berperan sebagai pasukan pendudukan. Ya jelas tidak akan mampu. Pasukan
pendudukan memerlukan logistik yang luas, sumber daya yang cukup banyak,
dan bisa bertahan katakanlah bila perlu selama 10 tahun di satu tempat.
Jelas mereka tidak punya kapasitas ini. Bahwa mahasiswa berpersepsi
dirinya
sebagai pendobrak, ini sudah benar. Akan tetapi kalau pendobrak
sekaligus
sebagai tentara pendudukan, itu salah.

Aksi dan Aliansi Mahasiswa - Rakyat

T: Dalam sejarah Indonesia, sepanjang pengetahuan Anda, apakah ada
aksi-aksi damai yang bertujuan politis tapi kemudian sukses?
GM: Yang disebut damai itu apa? Saya kira kebanyakan demonstrasi di masa
Orde Baru kan damai karena tidak pernah bersenjata. Yang bersenjata kan
hanya tentara? Jadi, kan sebenarnya itu damai? Kalau itu menghasilkan,
itu
berarti bahwa gerakan yang damai berhasil melakukan sesuatu. Contoh yang
paling bagus adalah di Yogya (tanggal 21 Mei 1998, red.) ketika seluruh
kota bergerak tanpa ada satu kacapun pecah dan tanpa ada satu tentara
pun
yang menjaga. Itu menurut saya suatu aksi non-violence yang paling besar
dalam sejarah Indonesia, dan mungkin dalam sejarah Asia atau Asia
Tenggara.
T: Kekerasan memang menjadi momok di balik aksi-aksi yang melibatkan
massa-rakyat dan mahasiswa. Apakah anda melihat kemungkinan terjadinya
aksi-aksi yang melibatkan rakyat dan sekaligus menghindarkan kekerasan?
GM: Saya melihat itu mungkin. Hanya saja, justru itu yang belum
dilakukan. Dan memang sayang bahwa itu belum dilakukan. Mahasiswa juga
tidak mencoba melakukan itu. Misalnya, mereka tidak mencoba
menggabungkan
aksi mereka dengan massa PDI atau massa PKB yang secara faktual memang
kuat. Ya, karena itu tadi, mahasiswa mencoba untuk bergerak secara murni
dan ada kecenderungan untuk tidak percaya pada partai-partai atau orang
yang ada diluar mereka. Dilain pihak, partai-partai ini juga belum punya
suatu tekad untuk melakukan hal itu. Mereka masih sibuk melakukan
konsolidasi. Saya harapkan mahasiswa dan partai-partai ini mampu
mendesak
parlemen untuk membikin suatu undang-undang Pemilu dan kepartaian yang
demokratis. Ini yang belum terjadi.
T: Ada anggapan bahwa perjuangan mahasiswa sekarang ini tidak jelas.
Apakah ini karena mereka tidak merumuskan tuntutan-tuntutan mereka
dengan
jelas atau karena program mereka sendiri juga tidak jelas?
GM: Saya kira tuntutan mereka sangat jelas misalnya mita Soeharto
diadili, Dwifungsi tidak diteruskan, dan sebagainya. Itu kan jelas.
Problemnya adalah menjadi seperti tidak jelas karena tidak ada
representasi dari mahasiswa yang memperhatikan keinginan mahasiswa. Itu
disampaikan di jalan bukan dalam suatu konferensi pers atau dalam suatu
negosiasi politik.
T: Karena hal-hal tersebut sesungguhnya mengandaikan adanya suatu
kepemimpinan yang agak jelas. Sekarang ini seakan-akan di-justified
bahwa
perbedaan antara gerakan mahasiswa sekarang ini dengan yang di tahun
1965
karena tidak ada pemimpinnya. Dengan demikian, mereka tidak mudah
dipukul.
Apakah ini merupakan consolation (hiburan?) dari suatu yang ...
GM: Saya kira dalam setiap suasana revolusioner itu ada
kecenderungan-kecenderungan anarki. Saya pribadi lebih cenderung ke
anarkis daripada menjadi seorang revolusioner. Jadi, saya suka pada
keadaan dimana tidak ada pemimpin. Tapi, untuk perjuangan yang cukup
lama
hal ini tidak bisa. Untuk menggebug suatu kantor itu mungkin bisa tanpa
pemimpin. Tapi untuk mengartikulasikan tujuan-tujuan sambil mengajak
rakyat
untuk mendukung itu yang memerlukan representasi, representant. Who will
represent these students? Nah sekarang itu tidak ada kelihatan. Ada
suatu
representative sehingga semacam bagian propaganda atau public relations
yang mengatakan: "Ini tujuan kami, mari ikut!"

T: Soal mengajak rakyat, entah itu dari kelompok kelas lain seperti
misalnya kelas buruh. Ini bagaimana?
GM: Ini juga belum berhasil. Kalau buruh memang sudah diusahakan dan
pernah dicoba oleh teman-teman di PRD. Masalahnya adalah buruh dalam
keadaan yang tidak stabil juga. Didalam suatu masyarakat yang ekonominya
surplus labor maka kekuatan buruhnya kan lemah. Kalau kaum miskin kota,
ya,
kembali ke masalah organisasi. Itu yang belum sempat dibina. Sehingga
sekarang, akan lebih bagus kalau ada cukup kerja propaganda ke kalangan
masyarakat dari kalangan mahasiswa. Nampaknya ini yang setahu saya belum
dikerjakan. Mungkin karena tidak ada persepsi bahwa ini penting.Didalam
sejarah gerakan mahasiswa ada yang disebut gerakan moral. Pelopornya
adalah
Arief Budiman. Dalam hal ini, Arief Budiman memang punya konsepsi yang
jelas tentang apa itu gerakan moral. Pertama gerakan moral itu harus
kecil
karena hanya dengan demikian kemurnian betul-betul bisa dijaga. Yang
ikut
adalah mereka yang benar-benar tidak memiliki kepentingan politik
kecuali
untuk menghimbau hati nurani. Nah kalau banyak kan susah untuk
mengontrolnya. Kedua, setelah selesai gerakan ini bubar. Arief Budiman
memakai metafor film Sheine, sebuah film koboi dimana pahlawannya
setelah
menolong lalu pergi. Menurut dia gerakan moral harus begitu.
Kekuatan dari gerakan ini adalah pada kemurniannya. Dalam hal ini the
ethos of purity memang bisa dipelihara. Namun kelemahannya adalah bahwa
ini
gerakan ini bukan self-sustaining movement. Karena untuk jangka waktu
panjang dan untuk menggoncang suatu kekuasaan perlu banyak orang kan?
Nah
kalau banyak orang bagaimana harus mengontrol apakah ini murni atau atau
tidak. Jadi kalau melibatkan begitu banyak orang, menurut saya, format
gerakannya haruslah menjadi gerakan politik. Kalau gerakan politik perlu
ada platform, propaganda, dan lain sebagainya. Mungkin tidak begitu
memerlukan pemimpin tetapi platform dan propaganda merupakan suatu
keharusan. Gerakan politik itu memerlukan banyak pendukung kan? Ini yang
tidak dikerjakan karena menurut saya ada suatu kekacauan antara gerakan
politik dan gerakan moral. Sekarang gerakan mahasiswa menamakan dirinya
gerakan moral. Akan tetapi, kalau mau menjadi gerakan moral, saya kira
metode Arief Budiman yang paling tepat. Hanya dengan satu asumsi bahwa
pemerintah mau mendengarkan gerakan moral itu, kalau hati nurani mereka
masih bisa diketuk. Kalau pemerintah hatinuraninya tidak bisa diketuk ya
mau tidak mau harus dijatuhkan lewat gerakan politik.

T: Ada nggak contoh di negara lain dimana represi politiknya tinggi dan
gabungan antara gerakan mahasiswa dan gerakan buruh dalam satu kesatuan
gerakan menjadi efektif?
GM: Ada. Di Polandia, di Czekoslovakia, serta di gerakan hak-hak sipil
di
Amerika ini. Gerakan Martin Luther King bisa jadi satu contoh.

T: Ya seperti dikatakan tadi organisasi mutlak perlu ...
GM: Ya benar. Karena bisa luas. Nanggap wayang saja perlu organisasi.
Bikin pesta perlu organisasi. Memang orgnaisasi itu tidak menarik,
terutama
bagi orang seperti saya. Tapi, kalau bukan bukan evil, organisasi itu
merupakan unpleasant necessity.

T: Mengenai gerakan mahasiswa itu sendiri. Tadi anda bilang bahwa mereka
itu tertutup karena takut satu sama lain. Sekarang kita ada kesan bahwa
yang turun ke jalan itu adalah mahasiswa-mahasiswa dari
universitas-universitas yang tidak terkenal. Sebelumnya yang aktif
adalah
mahasiswa dari UI, ITB, Gama, dan sebagainya. Sekarang kelihatannya
mereka
ini justru loyo dan tidak ada suaranya. Yang turun itu justru dari
Atmajaya, UKI, Trisakti, atau kampus-kampus yang tidak pernah kedengaran
namanya. Padahal dulunya kampus-kampus dianggap sangat apolitis.
Bagaimana
Anda melihat hal ini?
GM: Ini ada beberapa faktor. Pertama, mungkin faktor persaingan
antar-kampus. Namun sebenarnya hal ini sudah sangat berkurang. Seperti
terlihat kemarin di Semanggi, UI dan berbagai universitas lain ikut
masuk
juga. Kedua, masalah musim ujian. Kan mereka harus ikut ujian juga.
Ketiga, kembali kepada masalah organisasi. Misalnya, waktu pendudukan
parlemen. Seandainya pendudukan itu berlangsung lebih lama pasti akan
muncul problem. Pasti mereka akan kecapaian. Sementara tentara memiliki
organisasi yang solid. Mereka bisa mengatur adanya pasukan baru, pasukan
cadangan. Kalau ada organisasi suatu pasukan yang sama besarnya bisa
disiapkan diluar untuk menggantikan yang didalam. Organisasi inilah yang
belum terbentuk saat itu karena buru-buru Soeharto jatuh. Sebetulnya
sudah
mulai terbentuk secara embrional. Sebenarnya pada waktu itu kami juga
sudah
menyiapkan radio untuk dibawa ke Senayan. Ini untuk menantang radio yang
resmi. Kan kalau ada dua
center, kan bagus. Tapi belum apa-apa Soeharto sudah jatuh. Kalau ada
radio kan bisa propaganda, ada penyiaran, dan ada penyebaran ide-ide
sehingga semua program bisa disatukan. Satu hal yang memang penting
dalam
gerakan politik adalah apa yang disebut di kalangan Partai Komunis
sebagai "kerja propaganda", winning the hearts of other people. Nama
propaganda memang jelek, tetapi itulah politik. Kalau nggak begitu ya
jadi penyair saja!

T: Kalau sekarang ini rakyat yang lain itu bagaimana? Apakah mereka
hanya
menonton saja atau bagaimana? Apakah mahasiswa merasa bahwa belum mampu
menjangkau mereka ataukah karena ada faktor lain?
GM: Pada hakekatnya massa itu masih menonton. Saya kira ada juga
ketakutan bahwa akan diprovokasi dan dimasukin unsur lain. Perasaan ini
kuat sekali. Ada gunanya juga mahasiswa menjaga diri. Misalnya kemarin,
mahasiswa berhasil untuk tidak mengulangi Peristiwa Mei. Sehingga begitu
ada penyerangan terhadap Markas Polisi di Jatinegara mahasiswa ikut
melerai. Sebab begitu markas polisi diserang bisa merembet kemana-mana,
ke toko-toko, dan siapa tahu? Jadi dalam hal itu, baguslah. Dilemanya
adalah bagaimana mengajak rakyat banyak. Problemnya lagi-lagi karena
rakyat banyak tidak terorganisir juga. Nah disini sebetulnya pentingnya
partai yang sudah mapan kayak PDI misalnya. Kerjasama dan bikin gerakan.
Kalau partai yang lain seperti PAN dan PKB, itu kan baru. Daftar
anggotanya pun belum ada barangkali, belum sempat bikin.

T: Sekarang kita melihat sejarah. Tadi Anda katakan bahwa kalau mau
melihat sejarah tidak usah melihat sejarah para pemimpin tetapi lihatlah
sejarah pemuda. Dalam disertasinya, Ben Anderson mengamati bahwa
Pemudalah motor penggerak revolusi. Tapi, sekarang ini mahasiswa yang
bergerak bukan pemuda. Pemuda dalam pengertian sosiologis dan demografis
kan ada juga. Kemana mereka? Dan apa peranannya? Apakah Anda melihat
bahwa
mereka berperanan?
GM: Tidak banyak. Dalam arti, karena mereka selama ini juga
didepolitisasi. Namun mereka mendukung partai. Dukungan terhadap
Megawati
kan berasal dari kalangan bawah dan generasi muda. Makin lama akan
kembali
ke politisasi dan ini gejala yang baik. Asal kemudian dengan
organisasi yang baik sehingga efektif, tidak anarkis, dan dengan
kesadaran.
Kalau mau memperbaiki Indonesia kan harus dengan sedikit pemikiran kan?
Agenda Bersama: Pemilu!

T: Kalau saya memperhatikan sesungguhnya sudah ada pilar-pilar untuk
itu. Ada mahasiswa, ada partai-partai. Namun kok ya tidak bergabung?
GM: Ya inilah problem bagi kita. Sebelum saya berangkat ke Amerika ini,
di Tempo juga akan ditulis bahwa seharusnya sekarang inilah waktunya
bagi
partai-partai untuk bergerak. Jangan membiarkan mahasiswa sendirian.
Problemnya adalah partai ini kan masih konsolidasi. Kedua, ada yang
memikirkan Pemilu. Sialnya lagi, mahasiswa itu agendanya bukan Pemilu.
Mahasiswa agendanya menjatuhkan Habibie. Nah sekaranglah saatnya
menyatukan agenda: Pemilu! - Pemilu bisa menjatuhkan Habibie dengan
mudah.
Namun masalahnya, demikian argumen para mahasiswa, bagaimana bisa
menjatuhkan Habibie kalau Undang-undang Pemilunya menguntungkan Habibie?
Jadi Habibie dan DPR-nya harus dijatuhkan dulu. Itu memang argumentasi
yang
benar dan cukup kuat. Akan tetapi alternatifnya, untuk membubarkan MPR,
DPR
dan Pemerintah dibutuhkan kekuatan raksasa. Ini yang tidak dimiliki
organisasi mahasiswa sekarang. Mereka memang melakukan tekanan yang
cukup
efektif ke Parlemen yang ada dan dengan segala cacatnya.

T: Tadi Anda bilang bahwa mahasiswa terfragmentasi. Kita juga melihat
bahwa di sisi yang lain ada kualitas yang menonjol. Mereka mulai
bergerak
ke arah yang sama. Sebetulnya apakah benar bahwa network mereka sudah
kuat,
daya analisis mereka sudah semakin tajam, kemampuan berorganisasi
semakin
solid. Apakah memang benar semua ini?
GM: Berangsur-angsur saya kira itu akan terjadi. Tentu nantinya akan ada
kritik, otokritik, dan belajar dari kesalahan-kesalahan. Saya percaya
bahwa itu akan terjadi. Nanti akan sampai pada suatu bentuk yang lebih
efektif untuk menjadi daya pendobrak.

(Bersambung ke 3/3)

Kirim email ke