Dear Indi,

Saya rasa fakta anda kurang akurat. Kerusuhan terjadi tgl. 13-14 Mei 1998.
Sementara Habibie dilantik tgl. 21 Mei 1998. Setelah dilantik tidak ada
kerusuhan berarti di Jakarta, kecuali menjelang Sidang Istimewa. Kalau tidak
salah kerusuhan di daerah-pun baru terjadi, dimulai dari Banyuwangi,
menjelang Kongres PDI Perjuangan di Bali.

Jadi anda mencampur-adukkan time-frame ketika Prabowo "menggertak" Habibie
dengan kerusuhan Mei. Kerusuhan Mei, dimana ABRI "menghilang" terjadi
sebelum Prabowo "menggertak" Habibie.

Bahwa komando ABRI saat itu terasa pecah, saya rasa betul.

salam,


-----Original Message-----
From: Indi Soemardjan <[EMAIL PROTECTED]>
To: [EMAIL PROTECTED] <[EMAIL PROTECTED]>
Date: 16 Februari 1999 21:14
Subject: Re: Sedikit Mengenai ABRI


>Berita tersebut btul sekali!
>
>Saya sudah dengar berita ini sejak hari pertama kerusuhan besar di JKT
>tahun lalu. Sumber di Jakarta, yang bisa dipercaya, mengatakan bahwa
>pada saat malam sebelum kerusuhan besar terjadi, Prabowo berhasil
>menghadap BJH di Istana sambil mngenakan seragam komando tempur (sungguh
>tidak biasa!) dan dia memaksa BJH untuk menandatangani pengangkatan
>Prabowo sebagai Pangab. Namun karena tidak terbiasa dengan intimidasi
>secara militer oleh Prabowo, BJH terpaksa "bersembunyi" di belakang
>Wiranto yang pada malam itu juga sedang mencoba mencari "back up" yang
>bisa dipercaya; yaitu pasukan dari Semarang. Keinginan Prabowo ditolak
>oleh BJH dan kemudian Prabowo segera keluar dari Istana dan pergi entah
>kemana.
>
>Bebrapa jam kemudian, seperti yang sudah Anda saksikan di Jakarta,
>kerusuhan besar dan pembakaran terjadi secara serempak dimana2 dan telah
>terbukti bahwa Prabowo dan Kopassus adalah pelakunya. Pada malam itu,
>WIranto sungguh tidak mampu untuk mengehentikan kerusuhan karena pasukan
>dari Semarang masih dalam perjalanan, dan juga Wiranto tidak tahub
>persis pasukan mana yang betul2 bisa dipercaya untuk "restore order".
>Inilah sebab tidak adanya pasukan manapun yang turun ke lapangan berapi
>selama kerusuhan terjadi karena Wiranto tidak berhasil memberi komando
>yang tepat kepada pasukan2 lokal di Jakarta; sistim radio komando ABRI
>tidak berfungsi karena telah di "jammed" oleh sebuah tim tak dikenal.
>(Kopassus adalah satu2nya tim yang mempunyai kemampuan untuk men-"jam"
>radio komando ABRI).
>
>Sayang sekali inti dari artikel di koran ini terlalu bersikap hati2 dan
>tidak bercerita banyak ttg. apa yang saya ceritakan diatas mengenai
>"pressure" yang dilakukan oleh Prabowo kepada BJH.
>
>Apabila dari Anda sekalian ada yang bisa memberikan masukkan lebih
>banyak, kami persilakan.
>
>INDI
>
>
>
>Andrew G Pattiwael wrote:
>>
>> Sistim Hirarkis ABRI harus dibenahi, Perintah Komando harus selalu turun
>> sesui dengan sistimatik yang telah ditetapkan. Jangan pernah lagi ada
>> pasukan-pasukan luar atau "tidak dikenal". Ini namanya DESERSI.
>>
>> Andrew
>>
>> ********************************************************************
>> Habibie Ungkapkan Prabowo
>>
>> Konsentrasikan Pasukan
>>
>> Jakarta, Pembaruan
>>
>> Presiden BJ Habibie mengungkapkan bahwa pada waktu memberikan
>> brifing kepada semua anggota Kabinet Reformasi Pembangunan
>> sebelum pengumuman nama-nama anggota kabinet, Jenderal TNI
>> Wiranto tidak ikut dipanggil untuk mengikuti brifing yang dilakukan
>> sekitar dini hari 22 Mei 1998.
>>
>> ''Saya memberitahu dia sebelum mengumumkan kabinet di Istana
>> Merdeka,'' kata BJ Habibie, ketika menyampaikan sambutannya di
>> hadapan peserta Forum Editor Asia-Jerman ke-2 di Istana Negara
>> Jakarta, Senin (15/2).
>>
>> Presiden Habibie yang berbicara dalam bahasa Inggris tanpa teks
>> mengakui pada waktu itu, semua orang bikin spekulasi. ''Saya sadar,
>> saat itu semua orang berspekulasi apa yang dilakukan presiden. Saya
>> katakan, saya sudah memutuskan bahwa Anda (Jenderal TNI
>> Wiranto-Red) tetap di posisi Anda.'' Maksudnya sama seperti
>> posisinya seperti pada Kabinet Pembangunan VII, yaitu sebagai
>> Menhankam/ Pangab.
>>
>> ''Terima kasih Bapak Presiden,'' begitu jawaban Jenderal TNI Wiranto
>> ketika itu dan menambahkan, '' Bapak Presiden, bolehkah saya bicara
>> sebentar.'' Dia bilang, bahwa pasukan di bawah komando seseorang,
>> yang saya kira namanya tidak perlu saya sembunyikan lagi, Jenderal
>> Prabowo, sedang mengkonsentrasikan pasukannya di beberapa
>> tempat, termasuk sekitar rumah saya.
>>
>> Karena Presiden adalah Panglima Tertinggi, dia (Jenderal Wiranto)
>> tanyakan apa yang harus dia lakukan. ''Lalu saya perintahkan, tarik
>> seluruh pasukan kembali ke barak. Apa benar yang saya lakukan?
>> Ternyata benar,'' ujar Presiden BJ Habibie.
>>
>> Letjen TNI Prabowo Subianto waktu itu menjabat sebagai Panglima
>> Kostrad yang mempunyai pasukan-pasukan dibawah kendalinya.
>> Pada malam itu seperti diberitakan Pembaruan, tank-tank dan
>> pasukan penuh truk berseliweran di jalan-jalan utama Jakarta yang
>> tidak jelas dibawah siapa komandonya.
>>
>> Keesokan harinya ada berita bahwa Panglima Kostrad diganti
>> mendadak, mula-mula dari Letjen Prabowo kepada Mayjen TNI
>> Johnny Lumintang (Asops Kasum ABRI), tetapi 17 jam kemudian
>> dialihkan kepada Mayjen TNI Djamari Chaniago yang ditarik
>> mendadak dari posisinya sebagai Pangdam III/Siliwangi.
>>
>> Letjen Prabowo yang semula Danjen Kopassus sebelum Pangkostrad,
>> lalu ditugaskan untuk sementara waktu sebagai Komandan Sesko
>> ABRI di Bandung, dan setelah itu non-aktif karena diperiksa oleh
>> Dewan Kehormatan Perwira (DKP).
>>
>> Setelah rekomendasi dari DKP diberikan kepada Pangab, ia dipensiun
>> pada bulan November 1998. Kini ada sejumlah 11 orang anggota
>> Kopassus sedang diperiksa oleh Mahmil dalam kaitan kasus
>> penculikan sejumlah aktivis pro-demokrasi. (M-5)
>
>-
>

Kirim email ke