Assalamualaikum wr.wb
Sedih sekali membaca berita dibawah ini. Benar-benar suatu perjuangan
berat untuk mempertahankan hidup di tengah-tengah kesulitan ekonomi,
sementara beratus bahkan beribu orang seolah tak peduli dan malah sibuk
ber-"Valentine's Day" dan mengadakan acara-acara yang kurang bermanfaat
lainnya, dengan menghambur- hamburkan begitu banyak uang.
Ah...., andai saja uangnya dibelikan sembako dan dibagikan kepada
saudara-saudara kita yang sudah tidak mampu lagi membeli makanan..,
andai saja berbagai hidangan berlebihan yang tersaji di meja pesta bisa
juga dinikmati oleh para fakir miskin.., andai saja para anak muda dan
orang-orang yang "kelebihan uang" itu mau mengeluarkan sedikit saja
uangnya untuk sedekah, andai saja..andai saja...dan andai saja yang
lainnya, Insya Allah akan banyak saudara-saudara kita yang dapat kembali
"tersenyum ceria" menatap hari esok.
Semoga berita dibawah ini dapat menjadi bahan renungan bagi kita
semua....
Wassalam
Mohamad Rosadi
======================================================================
Demi Sekilo Beras, Anak-anak Jadi Pembantu
''Saya terpaksa meninggalkan bapak dan kakak saya, karena
saya harus bekerja untuk membantu mereka,'' kata Canih (11),
dengan nada getir. ''Saya juga tak bisa sekolah lagi, tak ada
biaya.''
Dijumpai di rumahnya, di Kampung Kaceot, Desa Tunggakjati,
Karawang, Kamis (18/2), gadis berkulit hitam ini bercerita
sambil menunduk dan menelan ludah, mencoba
menyembunyikan beban kesedihannya. ''Saya terpaksa bekerja
di warung nasi,'' katanya.
Nasib Canih memang cukup menyedihkan. Orangtuanya yang
hanya buruh kasar tak mampu lagi menanggung beban hidupnya,
kibat tekanan ekonomi dan terus meroketnya harga sembako.
Canih harus menjadi pekerja cilik -- sesuatu yang sesungguhnya
melanggar Undang-Undang Ketenagakerjaan.
Tapi, Canih tidak sendiri. Di Indonesia sekarang ini ada ribuan,
bahkan jutaan Canih -- anak-anak yang terpaksa mencari
nafkah akibat krisis ekonomi. Dengan berbagai cara, mereka
terpaksa menanggung hidup sendiri atau mencari tambahan
penghasilan untuk keluarganya. Yang memilih menjadi anak
jalanan saja, menurut Sekjen Departemen Sosial H Murwanto,
saat ini sedikitnya ada 12.000 anak.
Di kampungnya, Canih juga tidak sendiri. Di dekat rumahnya,
misalnya, ada Eti (10), juga terpaksa menjadi pebantu rumah
tangga. Dan, jangan kaget, gaji mereka sebagai pembantu, baik
di warung nasi maupun di rumah tangga, sangat kecil, jauh di
bawah upah minimun regional (UMR). Canih maupun Eti
mengaku hanya mendapatkan gaji Rp 30.000 per bulan atau Rp
1.000 per hari. ''Gaji itu saya berikan pada ibu untuk membeli
beras,'' kata Canih.
Namun, di tengah perjalanannya, Eti tersandung. Gadis yang
tampak masih sangat kanak-kanak ini bernasib sama seperti
ayahnya yang mantan sopir. Ia diberhentikan dari pekerjaannya
karena majikannya sudah tidak mampu menggajinya.
''Warungnya bangkrut,'' cerita Eti.
Jadilah Eti, dua kakak, dua adik, dan ayahnya, menjadi beban
ibunya, Ny Iin (35), yang sehari-hari berjualan makanan kecil.
Keuntungan kecil dari berjualan terpaksa dicukup-cukupkan
untuk makan sehari-hari tujuh anggota keluarga. ''Untuk membeli
beras saja sering tidak cukup. Ya, kadang-kadang terpaksa
hanya makan sekali dalam sehari,'' kata Ny Iin.
Namun, Canih masih harus bertahan menjadi pembantu. Sebab,
di gubuknya yang berlantai tanah, di pinggir Sungai Citarum, ada
ayah yang sering sakit-sakitan sejak ibunya meninggal dua tahun
lalu, dan seorang kakaknya yang menderita gangguan jiwa.
''Kalau saya tidak bekerja, bagaimana dengan bapak dan kakak
saya?'' katanya.
Tidak jauh dari rumah Canih dan Eti, ada juga seorang nenek
yang harus bertahan dengan uang hasil belas kasihan. Dia, Ny
Anah (60), saat ditemui di gubuknya malah sempat bersembunyi,
dan menolak difoto karena takut harus bayar. Nenek dua cucu
ini sehari-harinya mengasuh dua cucu yang masih balita,
sementara ibunya sedang pergi mencari jariah.
Telapak kaki kanan Ny Anah tampak membusuk. Ia
menderita sakit sejak lama, namun belum bisa berobat
karena tidak ada uang. ''Jangankan untuk berobat, untuk
makan pun tidak ada,'' katanya sambil membujuk cucunya
yang bersembunyi di bawah tempat tidur karena takut
difoto.
Canih dan Eti juga hanya sebagian kecil dari ribuan anak
Karawang yang terpaksa meninggalkan bangku sekolah
dan mencari nafkah untuk keluarganya. Dengan gaji Rp
1.000 per hari, mereka menyambung hidupnya sendiri dan
keluarganya. Dengan uang itu pula mereka tiap hari
membeli satu kilogram beras operasi khusus Dolog yang
harganya memang hanya Rp 1.000 per kg yang memang
dikhususkan bagi keluarga miskin.
Canih dan Eti tentu masih terlalu muda untuk memikul
beban hidup keluarganya. Tapi, hidup tidak memberikan
pilihan pada anak usia sekolah dasar ini, kecuali menjadi
pembantu. ''Daripada lapar,'' kata Canih. Sebelumnya gadis
ini ditemukan lemas karena sejak dua hari makannya hanya
satu kali. ''Itu pun hanya nasi dan air putih,'' akunya.
Kepahitan hidup seperti Canih, Eti, dan Ny Anah banyak
ditemukan di Karawang, sejak jauh sebelum krisis ekonomi,
dan jumlahnya membengkak setelah krismon. Tercatat di
kantor BKKBN setempat ada 121.817 kepala keluarga (KK)
miskin pada Januari l999. Sebelumnya, pada Desember l998
ada 117.735 KK miskin -- dalam satu bulan bertambah
4.082 KK. Jika dalam satu KK ada lima jiwa, maka di
Karawang ada 609.085 jiwa yang miskin. Ini berarti hampir
separo penduduk Karawang yang berjumlah l,5 juta jiwa.
Jumlah itu, kata Kepala Kantor BKKBN Karawang, Dedi
Suwesdi, Kamis (18/2), akan terus bertambah jika kondisi
ekonomi masih tetap seperti sekarang. Posyandu hampir 50
persen tidak melakukan kegiatan. Dan, tekanan mengikuti
pola makan sehat pun tidak didukung oleh gizi yang
berimbang. Jangankan bisa minum susu, makan ikan atau
telor pun hanya mimpi.
Bagaimana dengan dana Jaring Pengaman Sosial (JPS)?
Dana JPS tampaknya belum dapat menyantuni semua
keluarga miskin. Di Kampung Kaceot, misalnya, menurut
Ketua RT-nya (05/13), Acim, dari sekitar 20 KK miskin di
wilayahnya, yang menerima dana JPS hanya lima KK.
'Satu KK menerima Rp 100.000. Namun uang tersebut
harus dikembalikan dan umumnya dipergunakan untuk
membeli beras. Maklum warga di sini umumnya buruh tani
dan sekarang belum panen,'' kata Acim.
Karena rata-rata buruh tani, wargga Kampung Kaceot, 15
KM dari kota Karawang, hanya bekerja pada musim tanam
dan musim panen. Itu pun mereka harus berebut dengan
yang lain. ''Musim peceklik tahun ini dirasakan sangat berat
oleh warga, karena harga kebutuhan pokok meningkat dan
kerja serabutan di tempat lain nyaris tidak ada,'' keluh
Acim.
Karena itu, lanjut Acim, banyak keluarga yang terpaksa
memberhentikan anaknya dari sekolah dan merelakan
mereka untuk bekerja seadanya, termasuk menjadi
pembantu, buruh pasar, atau bahkan anak jalanan.
[HOME ] [INDEX LENGKAP] [BERITA UTAMA]
[NASIONAL] [EKBIS]
[NUSANTARA] [METRO] [INTERNASIONAL]
[HIBURAN] [OPINI]
[IPTEK-KESH] [SUPLEMEN] [OLAHRAGA] [KONTAK KAMI]
[BERITA LALU] [TELUSUR]
Diterbitkan oleh Republika Online
Hak Cipta � PT Abdi Bangsa 1999
______________________________________________________
Get Your Private, Free Email at http://www.hotmail.com