Dalam kehidupan berdemokrasi, kita harus juga mendengarkan pendapat atau
keterangan berbagai pihak. Salah satunya adalah keterangan pembelaan diri
Bapak Prabowo, mantan Pangkostrad, Letnan Jendral TNI Angkatan Darat,
Purnawirawan, yang dikirim oleh Beliau dari tempat sementaranya di Amman,
Jordania. Text diambil dari Detik.com
************************************************************************
detikcon, Jakarta - Letjen (purn) Prabowo
Subianto yang saat ini berada di
Amman,
Yordania, mengeluarkan
keterangan pers.
Dalam keterangan pers ini Prabowo
membantah tuduhan yang
dilontarkan oleh
presiden Habibie. Keterangan
pers ini
dibacakan di ruang Voyage,
Ballroom Hotel
Regent Jakarta Jumat sore
(19/2/1999).
Jumpa pers ini tak pelak lagi mengundang
perhatian wartawan.
Tak kurang dari seratus wartawan hadir pada
acara ini. Memang
Prabowo tentu saja tidak hadir sendiri. Ia
diwakili oleh ketua
KISDI Achmad Soemargono, Direktur IPS Fadli
Zon, Farid
Prawira Negara dan Yanus Hutapea. Mereka
berempat hadir
sebagai sahabat Prabowo dan juga sahabat
keluarga Soemitro
Djojohadikusumo.
Menurut Yanus Hutapea, saat ini Hasyim S.
Djojohadikusumo,
adik kandung Prabowo saat ini sedang berada di
Australia.
Sedangkan ayah Prabowo, Prof. Dr. Sumitro
Djojohadikusumo,
sejak 12 Mei 1999 sedang berada di Eropa.
Yanus mengungkapkan bahwa Sumitro dan Hasyim
merasa
sangat prihatin dan terpukul atas pemberitaan
dan persepsi salah
terhadap Letjen TNI Prabowo Subianto. Mereka
mengharapkan Habibie akan mengetahui hal yang
sebenarnya
dari pernyataan tertulis Prabowo. Kalau perlu
Prabowo
dipanggil lansung untuk klarifikasi.
Keterangan Prabowo untuk menjawab tuduhan
Presiden BJ
Habibie bahwa ia mengepung rumah Habibie,
terdiri dari 4
halaman. Di situ Prabowi bicara panjang lebar.
Di bawah ini
penjelasan lengkap dari Prabowo tersebut:
Saya ingin menyampaikan tanggapan saya atas
berbagai
pernyataan akhir-akhir ini, terutama yang
menyangkut
tentang peranan saya dalam pengerahan pasukan
pada
rangkaian kejadian antara 12 Mei 1998 sampai
dengan 22
Mei 1998 di Ibukota, sebagai berikut:
1. Semua pengerahan dan penempatan pasukan yang
berada di bawah komando saya pada saat yang
dimaksud
(tanggal 12 Mei 1998 sampai dengan 22 Mei 1998)
telah
dilaksanakan sesuai dengan prosedur yang
berlaku,
dilaksanakan sepenuhuya dibawah kendali Panglima
Komando Operasi Jaya, yaitu Pangdam Jaya,
Komandan
Garnisun Ibukota.
Semua pengerahan pasukan dilaporkan kepada
komando
atas. Laporan situasi di laporkan terus-menerus
kepada
komando atas, dan pengendalian pengerahan
pasukan
dilaksanakan melalui sebuah Posko yang
diselenggarakan
oleh Komando Operasi Jaya, dimana semua Asisten
Operasi
dari seluruh Komando Utama Operasi yang berada
di
jajaran Garnisun Ibukota hadir sendiri atau
mengirim
wakilnya.
2. Saya selaku Panglima Kostrad tidak memiliki
wewenang
komando operasional atas apapun. Terhadap
pasukan
Kostrad pun saya tidak memiliki wewenang komando
operasional. Tugas Panglima Kostrad hanya
menyiapkan
dan menyediakan pasukan secepat mungkin kepada
komando pengguna dalam hal ini adalah Komando
Operasi
Jaya, sesuai dengan petunjuk dari pimpinan
ABRI. Hal ini
sudah menjadi sistem komando dan pengendalian
di jajaran
ABRI sejak belasan tahun.
3.Pada rapat yang dipimpin oleh Bapak Panglima
ABRI
Jenderal TNI Wiranto pada 14 Mei 1998 sekitar
jam 21.30
di Markas Komando Garnisun Ibukota, telah
diberikan
tugas pengawasan kepada beberapa Panglima KOTAMA
OPS ABRI yang ada di Ibukota dalam rangka
mendukung
tugas PANGKOOPS JAYA. Antara lain Panglima
Kostrad
diberi tugas membantu pasukan yang mengamankan
obyek-obyek vital di Ibukota. Komandan Korps
Marinir
membantu pasukan yang mengamankan
kedutaan-kedutaan besar asing, serta Komandan
Jenderal
Kopassus membantu pasukan yang mengamankan
Presiden
dan Wakil Presiden.
4.Sesuai dengan prosedur tetap pengamanan
Ibukota yang
selama ini berlaku dan juga sesuai dengan
berbagai
perintah-perintah operasi yang dikeluarkan pada
saat itu,
dalam keadaan genting pasukan Kopassus
bertanggung
jawab atas keamanan dan keselamatan Presiden
dan Wakil
Presiden. Hal ini telah berkali-kali dilakukan
sebelum
kejadian bulan Mei 1998, yaitu sebagai contoh
pada
Peristiwa 27 Juli 1996, pasukan Kopassus
ditempatkan
mengamankan Istana, kediaman Presiden dan Wakil
Presiden. Dalam rangka pengamanan, posisi
pasukan selalu
mengelilingi obyek yang diamankan, di luar
lingkaran yang
pertama yang dilakukan oleh Pasukan Pengamanan
Presiden.
5. Jadi jelas bahwa semua penempatan dan
pengerahan
pasukan pada saat-saat yang dimaksud adalah
justru untuk
mengamankan semua obyek vital dan terutama
keselamatan Presiden dan Wakil Presiden.
6. Menjelang tanggal 20 Mei 1998, telah tersiar
berita
bahwa akan ada gerakan massa sebanyak 1 juta
orang ke
arah Lapangan Monas. Juga terbetik berita bahwa
akan
ada gerakan ke arah kediaman Presiden Soeharto
di
Cendana. Secara logispun terdapat ancaman
terhadap
keselamatan Wakil Presiden di Kuningan. Pada
rapat
malam hari tanggal 19 Mei 1998 jam 21.00 di
Markas
Besar ABRI di Medan Merdeka Barat, oleh Bapak
Pangab
Jenderal TNI Wiranto yang memimpin rapat
tersebut,
ditegaskan dengan sangat jelas dan
berkali-kali, bahwa
tidak boleh satu orang pun massa yang masuk ke
Lapangan
Monas ataupun kediaman Presiden Soeharto di
Jalan
Cendana. Karena itu, saya telah mengusulkan
kepada
rapat, juga kepada Bapak Pangab langsung
penggunaan
kawat-kawat berduri sehingga seandainya memang
ada
gerakan massa, dapat dihindari kontak langsung
antara
aparat dan massa.
7. Tidak pemah terlintas dalam pikiran dan hati
saya untak
melakukan tindakan yang tidak sesuai dengan
konstitusi.
Ratusan perwira dan ribuan prajurit yang pernah
saya
pimpin di berbagai satuan menjadi saksi bahwa
saya selalu
mengajarkan pada setiap kesempatan santi aji,
ceramah,
briefing, maupun pada apel-apel dan
parade-parade, serta
dalam setiap jam-jam komandan, untuk
selalu-menjunjung
tinggi Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara
Kesatuan Republik Indonesia 1945. Saya selalu
mengajarkan untuk menegakkan Sapta Marga dan
Sumpah
Prajurit. Sesungguhnya perwira-perwira dan
prajurit-prajurit ABRI yang pernah saya pimpin
hampir
semuanya adalah pribadi-pribadi yang dewasa,
patriotik,
selalu rela berkorban demi bangsa dan rakyat
kita. Sangat
sulit bagi mereka untuk diajak melakukan
tindakan yang
tidak sesuai dengan Sapta Marga dan Sumpah
Prajurit,
terutama untuk melanggar konstitusi yang sah.
8.Untuk menjernihkan keadaan, mungkin perlu
dilakukan
pengecekan langsung kepada puluhan perwira dan
ratusan
prajurit yang ditempatkan di titik-titik
penting di Ibukota,
terutama yang mengamankan Presiden dan Wakil
Presiden
(yang kemudian pada tanggal 21 Mei 1998 menjadi
Presiden). Mungkin perlu ditanyakan kepada
mereka, apa
perintah yang telah mereka terima, siapa yang
memberikan
dan sebagainya. Saya yakin akan jelas bahwa
semua
penempatan tersebut adalah justru untuk
mengamankan
dan menjaga keselamatan Presiden dan Wakil
Presiden
(yang kemudian menjadi Presiden pada tanggal 21
Mei
1998).
9.Saya justru sangat sedih dengan munculnya
persepsi
bahwa saya berbuat mengancam keselamatan
Presiden B.J.
Habibie, seorang yang sejak lama saya kagumi
dan seorang
tokoh yang selalu saya junjung tinggi dan saya
bela di
banyak kesempatan umum maupun tertutup, di
hadapan
ratusan perwira maupun kalangan sipil.
Rasanya sulit membayangkan bagi saya untuk
berbuat
negatif terhadap seorang yang telah lama saya
kagumi, dan
yang telah saya anggap seperti orang tua saya
sendiri. Pada
tanggal 21 Mei 1998 dinihari, kurang lebih jam
02.00,
puluhan tokoh dari kurang lebih 44 ormas,
menanyakan
kepada saya tentang sikap saya atas terbetiknya
berita
bahwa Presiden Soeharto akan mengundurkan diri.
Di hadapan puluhan tokoh tersebut saya
menyampaikan
bahwa saya mendukung proses konstitusional, dan
secara
konstitusional Bapak Wakil Presiden B.J. Habibie
seharusnya menggantikan Bapak Presiden Soeharto,
apabila Bapak Presiden Soeharto berhenti atau
berhalangan. Jadi sungguh menyedihkan bagi diri
saya
bahwa telah muncul persepsi yang sangat
berlawanan
dengan kenyataan yang sebenarnya. Saya sungguh
berharap bahwa dapat muncul sikap yang arif dan
bijaksana agar dapat diluruskan
persepsi-persepsi yang
menurut keyakinan dan hati nurani sangat
keliru.
10.Seluruh hidup saya sebagai prajurit ABRI
telah saya
curahkan untuk kepentingan dan kehormatan
bangsa dan
negara, serta keselamatan seluruh rakyat
Indonesia.
Ratusan perwira dan ribuan prajurit ABRI yang
pernah
bertugas bersama saya selama 24 tahun, serta
ribuan
pejuang-pejuang sipil yang telah berjuang dan
berkorban
demi Merah Putih bersama saya di berbagai
tempat saya
yakin akan menjadi saksi bagi saya.
Demikian keterangan yang saya buat. Semoga dapat
menjelaskan berbagai masalah yang dipersoalkan.
Amman, 19 Februari 1999
PRABOWO SUBIANTO
Leman Jenderal TNI Purn.