Assalamualaikum wr.wb Sungguh mengerikan dampak yang ditimbulkan akibat "kecerobohan" dalam menyampaikan berita. Mudah-mudahan tidak terulang lagi. Wassalamualaikum wr.wb Mohamad Rosadi Virginia ====================================================================== >From [EMAIL PROTECTED] Mon Feb 22 05:57:36 1999 >Received: (qmail 10361 invoked by uid 1053); 22 Feb 1999 13:57:29 -0000 >Mailing-List: contact [EMAIL PROTECTED]; run by ezmlm >Delivered-To: mailing list [EMAIL PROTECTED] >Received: (qmail 10356 invoked from network); 22 Feb 1999 13:57:28 -0000 >Received: from rmx07.iname.net (HELO rmx07.globecomm.net) (165.251.8.75) > by permias.org with SMTP; 22 Feb 1999 13:57:28 -0000 >Received: from weba1.iname.net by rmx07.globecomm.net (8.9.1/8.8.0) with ESMTP id IAA24812 >From: [EMAIL PROTECTED] >Received: (from root@localhost) > by weba1.iname.net (8.9.1a/8.9.2.Alpha2) id IAA09218; > Mon, 22 Feb 1999 08:56:57 -0500 (EST) >MIME-Version: 1.0 >Message-Id: <[EMAIL PROTECTED]> >Date: Mon, 22 Feb 1999 08:56:56 -0500 (EST) >Content-Type: Text/Plain >Content-Transfer-Encoding: 7bit >To: [EMAIL PROTECTED], > [EMAIL PROTECTED] >Subject: Re: [bincang] RCTI FITNAH UMMAT ISLAM AMBON > >Akibat pemberitaan yang tidak benar alias fitnah dari RCTI, maka sekitar 30 warga Muslim desa Pelauw harus mati terbantai karena dikira menyerang ummat Kristen di desa Kariu. > >RCTI memberitakan bahwa warga Muslim desa Pelauw menyerbu desa Kariu yang beragama Kristen, padahal fakta sebenarnya malah warga Muslim desa Pelauw yang diserang oleh kelompok tak dikenal. Karena �pemberitaan� (kalau fitnah masih bisa disebut berita) RCTI itu, warga Kristen di Ambon akhirnya marah kepada warga Muslim desa Pelauw dan membantai 30 warga Muslim. > >Jelas fitnah yang merenggut korban jiwa yang dilakukan RCTI harus dibawa ke pengadilan. Apalagi fitnah atau paling tidak pemberitaan sepihak itu bukan yang pertama kali dilakukan RCTI tentang kasus Ambon ini. >Pemerintah jelas harus berani menindak RCTI yang jelas terbukti sebagai provokator kerusuhan yang merenggut 30 nyawa warga desa Pelauw. Ummat Islam sebaiknya mendemo RCTI (secara damai dan intelek) agar saudara Muslim kita di Ambon tidak menjadi sasaran fitnah mereka lagi, sehingga korban jiwa juga bisa ditekan. > >Berikut berita dari Republika 16 Februari tentang �berita� (baca: fitnah) RCTI yang mengakibatkan puluhan nyawa warga Muslim Pelauw melayang: > >Menyoal Kerusuhan Ambon >Kami sangat kaget menyaksikan tayangan Seputar Indonesia RCTI edisi hari Ahad (14/2) yang menyiarkan kerusuhan di Pulau Haruku. Dalam tayangan itu disebutkan kerusuhan di Pulau Haruku terjadi karena warga Islam Desa Pelauw menyerbu Desa Kariu yang mayoritas beragama Kristen. >Sebagai warga Desa Pelauw, kami menyesalkan pemberitaan tersebut. Pemberitaan ini sungguh merupakan pemutarbalikan fakta. Fakta yang sebenarnya terjadi justru Desa Pelauw yang diserang oleh orang-orang yang tak dikenal. Yang kami tahu mereka bukan warga asli Desa Kariu. >Selama ini, hubungan warga Desau Pelauw yang penduduknya muslim dengan Desa Kariu sangatlah harmonis. Warga Desa Kariu pun sangat baik dengan warga Desa Pelauw. Ketika terjadi kerusuhan di Ambon, hubungan kami tetap tidak berubah. Kami justru mempereratnya, karena tahu Desa Kariu adalah desa kecil dan warganya dihinggapi kekhawatiran. >Dan akibat pemberitaan RCTI yang memutarbalikkan fakta itu, hari Senin (15/2) di kota Ambon terjadi pembakaran rumah-rumah warga asal Desa Pelauw. Sebuah peristiwa yang sama-sama tidak kita inginkan. >Kesalahan dalam pemberitaan itu bukanlah kejadian pertama. Dalam memberitakan pemicu kerusuhan Ambon, RCTI juga salah. Dalam berita RCTI pernah disebutkan bahwa pemicu kerusuhan Ambon adalah Yopie dipalak warga Batu Merah. Berita ini juga suatu pemutarbalikan fakta. Yang benar justru warga Batu Merah yang dipalak Yopie. >Untuk itu, kami meminta RCTI agar berhati-hati dalam menurunkan pemberitaan. Semestinya RCTI tidak menyajikan pemberitaan berdasarkan informasi yang sepihak semata tanpa cek dan ricek. Untuk itu, agar RCTI tetap oke, maka semestinya pemberitaan-pemberitaan RCTI -- khususnya mengani kerusuhan Maluku -- tak hanya menggunakan sumber-sumber sepihak saja. >Nama dan Alamat Ada pada Redaksi > > >Ambon Mencekam, Penjarahan dan Pembakaran Kembali Terjadi > > >AMBON -- Kerusuhan di Pulau Haruku yang menewaskan belasan orang Ahad (14/2) lalu berimbas ke Ambon. Suasana kota Ambon kemarin kembali mencekam. Menurut keterangan Satgas Majelis Ulama Indonesia (MUI) Tingkat I Maluku, masyarakat Ambon benar-benar ketakutan untuk keluar rumah. Toko-toko yang berada di jalan protokol Ambon banyak yang tutup. Kalau mereka buka hanya sampai pukul 17.00 waktu setempat. > >''Kota Ambon benar-benar mencekam, akibat kerusuhan yang terjadi di Pulau Haruku, pada Ahad lalu. Padahal Pulau Haruku sendiri, mulai kemarin sudah reda tidak ada aksi kerusuhan,'' ungkap Sekretaris Satgas MUI Maluku, Thamrin Ely ketika dihubungi Republika, tadi malam. > >Thamrin memaparkan suasana mencekam dan lengangnya kendaraan yang lalu-lalang di jalan-jalan Kota Ambon tersebut semakin diperkuat dengan terjadinya pembakaran dan penjarahan rumah milik warga Muslim yang dilakukan oleh kelompok yang tidak dikenal. > >''Kemarin (Senin -- Red) satu rumah dibakar dan satu rumah lagi dijarah oleh kelompok yang tak dikenal,'' terang Thamrin tanpa merinci rumah dan berapa kerugian yang dialami. Namun, ia menambahkan kejadian itu tidak mengakibatkan korban jiwa. > >Selain itu, menurut Thamrin, kemarin banyak tokoh Islam yang diteror dan diancam oleh kelompok yang tak dikenal itu. ''Para penggerak kerusuhan itu sepertinya lebih lihai. Pola gerakannya berubah-ubah serta sangat sistematis. Mereka melakukan tindakan provokasi dengan cara sporadis,'' tukasnya lagi. > >Adanya pembakaran dan penjarahan rumah itu, diduga Thamrin, tersulut akibat pemberitaan yang salah tentang kerusuhan di Pulau Haruku oleh sebuah televisi swasta. > >Seperti diketahui, Pulau Haruku Ahad (14/2) dilanda kerusuhan. Beberapa orang tak dikenal dari Desa Kariu menyerang Desa Pelauw, setelah sebuah rumah di Kariu terbakar. Menurut MUI Maluku yang tewas mencapai 13 orang. Mereka tertembak di bagian punggung dan pantat. Sementara menurut DPW Partai Keadilan yang menurunkan satgasnya, jumlah tewas mencapai 30 orang. > >Televisi swasta tadi menyebutkan kerusuhan di Desa Pelauw itu bermula karena warga Desa Pelauw menyerang Desa Kariu -- desa kecil yang berbatasan dengan Desa Pelauw. Menurut Thamrin, berita itulah yang membuat sekelompok warga di Ambon melakukan pembakaran dan penjarahan rumah, sebagai upaya balas dendam. > >''Kami menyesalkan pemutarbalikan fakta terjadinya kerusuhan. Media massa memberitakan bahwa penyerangan dilakukan oleh penduduk Pelauw yang beragama Islam itu. Padahal faktanya tidak seperti itu. Akibat pemberitaan yang tendensius ini rumah-rumah milik warga asal Pelauw yang ada di Ambon dibakar,'' ungkap Thamrin. > >Menurut Thamrin, salah satu bukti bahwa warga Pelauw yang diserang, 13 orang yang tewas tertembak di bagian belakang, saat mereka menyelamatkan diri. Mereka tertembak di punggung dan pantat. > >Warga Desa Pelauw sendiri mengaku sebenarnya selama ini tak punya masalah dengan warga Desa Kariu. Menurut Thamrin, hubungan mereka harmonis. Namun, tiba-tiba ada orang tak dikenal menyerang Desa Pelauw setelah sebuah rumah di Desa Kariu terbakar. > >Melihat kondisi yang cukup memprihatinkan itu, Thamrin mengatakan bahwa upaya menindaklanjuti kesepakatan damai antartokoh agama yang diprakarsai Gubernur Maluku, Dr M Saleh Latuconsina pada 22 Januari lalu bisa menjadi terhambat. ''Kita disuruh damai, sementara kita masih terus diserang,'' paparnya dengan nada tinggi. > >Ia juga memberi contoh terjadinya pembakaran rumah Ketua Yayasan Masjid Al Fatah, H Abdullah Soulisa oleh kelompok tak dikenal belum lama. ''Padahal rumah tokoh agama itu hanya 100 meter dari rumah Kapolda Maluku Kolonel Pol Drs Karyono,'' katanya mengisahkan. > >Sementara itu, Wakil Ketua DPR/MPR, Hari Sabarno, meminta ABRI yang bertugas di Ambon dapat melindungi dan mengayomi semua pihak yang bertikai. Ini agar permasalah tidak menjadi rumit. > >Caranya, kata Hari, antara lain dengan membangun pos pengamanan secara bersama-sama untuk semua kepentingan pihak. Bukan membangun pos untuk kelompok tertentu. > >Menurutnya, di Ambon saat ini terdapat ketegangan antarwarga yang dipicu oleh munculnya pos-pos keamanan milik kelompok tertentu. ''Pos-pos tersebut sangat tidak positif. Keberadaannya sangat bertolak belakang dengan upaya meredam situasi. Sebaiknya dia (ABRI) menempatkan posisinya sebagai aparat yang bisa melindungi, mengayomi seluruh warga,'' tandasnya pada wartawan usai menerima Forum Komunikasi Mahasiswa Makasar (FKMM), Senin (15/2). > >Peliknya persoalan di Maluku itu, juga membuat Presiden BJ Habibie membentuk Tim Khusus Pencari Fakta dan Solusi Kerusuhan Ambon, sejak pertengahan Januari lalu dan kini merembes ke daerah lainnya. > >Tim yang telah dikirim ke Ambon, Ahad (14/2) diketuai Mayjen TNI (Pur) Jos Muskitta dengan anggota Des Alwi dan Drs K Kaplale. > >Menurut Muskitta, timnya ditugaskan secara khusus oleh Kepala Negara dengan tujuan mencari solusi untuk perbaikan Maluku karena permasalahannya besar sekali sehingga tidak bisa diungkapkan hanya dengan beberapa kata. > >''Masalahnya terlalu kompleksitas untuk dijelaskan terlalu dini. Jadi belum bisa dijelaskan, apalagi tim ini baru berada di Ambon dua hari sehingga perlu mengumpulkan informasi akurat,'' katanya. > >Mantan anggota DPA bidang Polkam ini menegaskan Maluku harus dibangun kembali. Tapi, bukan hanya intern orang Maluku, di mana perlu juga orang Maluku dan pendatang yang sebagian besar telah beranak-pinak di sini. > >Oleh karena itu, menurutnya, tim yang berada di Ambon dalam kurun waktu relatif lama ini harus mengumpulkan informasi dan data secara objektif dan aktual sehingga bisa menjadi masukan konstruktif bagi upaya rehabilitasi kembali Maluku dalam berbagai aspek kehidupan. > >''Yang jelasnya ada titik terang untuk penyelesaian kerusuhan dengan korban jiwa ratusan orang. Hanya saja masih ada dendam atau saling curiga karena dilatarbelakangi korban jiwa dan harta benda yang tidak terbayangkan sebelumnya,'' tandas mantan Sekretaris Wapres. > >Ia juga melihat, titik terang penyelesaian tidak bisa mengandalkan budaya ''Pela-Gandong'' semata dengan menekan para generasi muda untuk mengikuti keinginan para orangtua. > >Dalam kesempatan terpisah anggota DPR Hadimulyo MSc meminta pemerintah -- khususnya aparat keamanan -- lebih serius menangani kasus kerusuhan di Ambon yang masih berlanjut. ''Janganlah main-main dengan nyawa orang. Kalau main politik, lakukan dengan 'fair' dan tak perlu mengumbarnya dalam bentuk kekerasan,'' kata Hadimulyo, anggota FPP DPR di Jakarta, Senin. > >Menurutnya, kasus Ambon adalah wujud di mana budaya ketidakterusterangan masih terjadi di Indonesia, karena sejak meletus peristiwa di Maluku, hingga kini belum ada penjelasan akurat mengenai pelakunya. ''Jika ada pernyataan aparat keamanan bahwa sejumlah provokator sudah ditangkap, itu sebenarnya hanyalah di tingkat 'teri'. Sedangkan 'provokator agung'-nya belum tersentuh,'' katanya. > >Aliansi Muslim Maluku (Almuluk), Drs Faisal Salempessy SH, kemarin dalam jumpa pernya juga meminta ABRI mulai mewaspadai kecenderungan bangkitanya keberadaan Republik Maluku Selatan (RMS). Selama kerusuhan di Ambon, bendera RMS memang ditemukan berkibar di sejumlah tempat. > >http://www.republika.co.id/9902/16/6992.htm > > > > >--------------------------------------------------- >Get free personalized email at http://www.iname.com > > > >----------------------------------------------------------------------------- >To subscribe: send a blank email to: [EMAIL PROTECTED] >To unsubscribe: send a blank email to: [EMAIL PROTECTED] >This mailing list sponsored by http://www.webIndonesia.com >----------------------------------------------------------------------------- > ______________________________________________________ Get Your Private, Free Email at http://www.hotmail.com
