...

>Sebelumnya minta maaf krn emailnya sangat panjang dan tidak sistematis.

    Sebelumnya disclaimer dulu: ini bukan buat mbelain siapa-siapa,
    dan bukan atas nama siapa-siapa. Cuma mencoba mengangkat benang
    kusut yg saat ini nggak seluruhnya kelihatan.

>Ada beberapa point yg dapat diambil dari artikel di bawah ini.
>1. Komisi IV bergerak setelah seorang anggata DPR mengkritik lewat pers
>   (baca berita kemarin).
>2. Kesalahan para manajer Telkom boleh ditimpakan/dibebankan kepada
>   masyarakat.

    Dalam kerangka tarif itu maksudnya? Tarif itu bukan buat nutupin
    kesalahan, tapi buat persiapan (pemerintah) karena mau jual
    barang (berupa BUMN, Telkom). Supaya dagangannya laku tinggi.
    Itu menurut saya. Jadi interest pemerintah lebih tinggi dari pada
    interest Telkom. Sedangkan interest top-level mgm Telkom, malah
    nggak begitu tinggi (karena menurut perkiraan saya: bentar lagi
    juga diganti). Sekarang ini, interest mereka adalah mempersiapkan
    'perpisahan yg manis'; kalo toh akhirnya kayak gini (caught in
    the middle), ya itu pinter-pinternya yg minterin aja... ;-)

    Soal kesalahan para manajer Telkom, dalam hal hedging kalo boleh lebih
    spesifik, itu bukan kesalahan PARA manajer. Tanggung jawabnya 100% ada
    di top-level doang (cq. Dirut dan Dir-keuangan). Anda tahulah dari
    tipe blundernya. Iya nggak? Kalo soal kabel putus atau penyadapan,
    itu jelas bukan kesalahan direksi, tapi ini kan nggak bau-bau operasional
    barang sedikit pun. Dan lagian: prajurit nggak ada yg salah,
    yg salah jendralnya. ;-)

    Andaikan ini di US, sejak lama dua posisi itu pasti sudah digeser.
    Tapi maaf aja, ini Indonesia. Sorry about that. Tanri Abeng yg
    americanized dulu pernah 'berusaha menggeser', tapi anda tahu sendiri
    hasilnya, dulu dia malah ditentang keras oleh (sebagian) rakyat juga,
    dan usahanya 'mental'. Ya, orang juga banyak yg nggak suka sama
    Pak Tanri oleh karena berbagai alasan.

>    Eh, siapa yg kemarin bilang utangnya nggak di-hedge ya?

    Di hedge, tapi less than 20% (sesuai rekomendasi depkeu). Tapi ini
    juga bukan Telkom doang yg ketipu.

    Saat orde baru itu. Depkeu selalu sesumbar bahwa dolar menguatnya
    nggak akan lebih dari 12%. Fundamental Indonesia kuat! Remember?
    Dan dir.keuangannya Telkom ini drop-dropan depkeu (jadi logis sekali
    kalo mempercayai sesumbar konco-konconya itu). Nggak tahunya, sesumbar
    itu cuma auman macan ompong. Kenapa depkeu yg dulu sumbarannya
    (hampir) semuanya sekarang terbukti cap telek itu didiemin aja? Ini
    juga bikin resah banyak orang. (Soal kenapa kok sampe ada direktur
    drop-dropan, itu cerita lain lagi. Klasiklah jaman orde baru).

>    Kok ane mesti ikut menanggung beban sih...?

    Sorry about that, tapi yg begini selalu terjadi. Penumpang
    Titanic yg nggak punya salah apa-apa, toh juga ikut nyungsep
    ke laut. Kenapa mereka (penumpang titanic) mesti ikut
    menanggung beban sih? Sama aja.

>3. Kontrol sosial dari masyarakat makin efektif. Suatu perkembangan yg
>   menarik dan menguntungkan.

    Setuju.

Kirim email ke