Hai!
Wah, mas Yusuf, saya tidak ingin berdebat apakah kebijakan "price ceiling"
ini ada atau tidak, saya yakin ada. Buktinya dengan artikel di Kompas yang
menyatakan bahwa tarif telepon lokal akan ditinjau kembali:
http://www.kompas.com/kompas-cetak/9902/25/UTAMA/tari01.htm
Namun, yang paling penting sekarang adalah "setting the price-right" dan itu
adalah tugas yudikatif bersama dengan eksekutif. Kalau mas mengatakan bahwa
dari indikator-indikator "investasi" tidak ada yang wah, well saya memang
setuju. Namun sayang, saya bukan pemilik saham TELKOM, dan perspektif yg
saya anut sekarang (saya akui idealis) adalah membantu menggerakkan
pertumbuhan ekonomi Indonesia, dan mahalnya ongkos telekomunikasi akan
menghambat proses "recovery" ekonomi nasional (referring to the dead weight
loss to society's well being, and the ripple cost effect of an unregulated
or minimally regulated utilities pricing)
Henry
P.S. Mungkin judul buku-buku dibawah ini dapat membantu teman-teman yang
sedang melakukan riset atau berminat untuk menyelidiki lebih lanjut tentang
kebijakan-kebijakan ekonomi dalam bidang "pricing" dalam sektor "public
utilities," i.e. TELKOM
1. Pricing and Price Regulation: An Economic Theory for Public Enterprises
and Public Utilities by Dieter BFos
2. Electricity Transmission Pricing and Technology by Michael A. Einhorn
3. New Dimension in Public Utility Pricing by Noel D. Uri
4. Assessing New Pricing Concepts in Public Utilities: Proceedings of the
Institute of Public Utilities Ninth Annual Conference by Harry M. Trebing
5. Electricity Pricing: Theory and Case Studies by Mohan Munasinghe and
Jeremy J. Warford
>Yw: Bukannya sekarang ini udah ada?
>
> Dan lagi, banyak orang melihat keuntungan dari nilai duit
> nominalnya. Begitu bunyi trilyun, orang langsung merasa wah.
> Padahal kalo dilihat secara presentase (ROA, ROCE, ROI, atau
> apapun namanya,...) tidak ada tanda-tanda wah menurut saya.